
Lexa meninggalkan cafe dengan wajah geram. Dia berjalan cukup cepat. Belum saja dia kesal dengan sikap Solane yang agresif, dia semakin kesal dengan omongan beberapa wanita yang melihat kejadian tadi.
"Hem, dasar si Leon itu! Waktu itu aku juga pernah dekat dengannya, tapi keesokan harinya dia menghilang, aneh! Sekarang dia diperebutkan dua wanita seperti itu!" Dengus seorang wanita bersama temannya.
"Benar, wanita yang berjalan keluar itu kasian sekali, menjadi korban sepertimu, hihi!"
Lexa semakin kesal. Suatu kesalahan dia mengikuti Leon, kalau saja dia tetap bersama bos nya. Dia tidak akan nyaris kehilangan nyawanya.
"Mengapa Leon bisa berpacaran dengan wanita gila itu!" Umpat Lexa di depan pintu cafe.
"Lexa, kau tidak apa apa?" Leon menyusulnya terlebih dahulu untuk tetap menunggunya.
"Lepaskan! Kau mau apa?! Sebaiknya kau kembali pada Solane!" Lexa menghempaskan tangan Leon.
"Tunggulah sebentar, aku akan bicara dengan Solane, kau mau?" Pinta Leon.
"Tidak! Aku akan pulang sekarang! Jangan mengikutiku lagi!" Lexa tidak menunggu jawaban Leon. Dia langsung pergi meninggalkan Leon.
Leon tidak mengejar, sepertinya Lexa membutuhkan waktu sendiri. Dia menarik napas panjang dan harus berbicara pada Solane.
"Tuan, ini pesanan anda," sang pelayan mengantarkan pesanan Lexa dan juga dirinya yang tadi sudah dipesan.
"Ah, Leon kau masih mengingat kesukaanku? Muffin blueberry?" Sanggah Solane karna Leon masih terdiam. Tatapannya kosong dan sedikit datar. Dia masih memikirkan Lexa. Seharusnya dia bersama Lexa menikmati muffin ini. Dia sengaja tidak memesan karna hendak makan bersama Lexa.
"Bukan untukmu! Pelayan, tolong muffin ini dibungkus bersama vanilla lattenya!" Pinta Leon pelan kepada pelayan.
"Tapi Leon, aku mau, aku saja yang memakannya," Solane merajuk manja.
"Kau pesan saja lagi, ini untuk Lexa!" Ujar Leon ketus. Leon melambai lambaikan tangannya pada sang pelayan agar mengemas pesanannya. Dia akan ke rumah Lexa setelah masalahnya dengan Solane.
"Jadi Solane, sedang apa kau disini?" Tanya Leon sedikit sinis.
"Aku disini? Aku juga sedang santai sejenak, lalu aku melihat Lexa sendiri. Aku hendak bergabung, itu saja," Solane mengangkat kedua tangannya ke samping sisi bahunya dan menaik turunkan bahunya seperti tidak terjadi apa apa.
"Aku tidak mau mendengar bualanmu, kau tidak menyukai Lexa, aku tahu! Kau tahu maksud pertanyaanku, cepat beritahu lalu menjauh dariku!" Ujar Leon penuh kebencian.
"Aku memang mencarimu, terserahmu percaya atau tidak. Dan lagi aku sudah tidak bersama Jimmy. Kau pun tidak mendengar penjelasanku Leon. Aku dijebak oleh Jimmy. Dia memaksaku agar dia tidak membongkar rahasia ayahku. Kau juga tahu kan masalah kecil ayahku tentang penggelapan uang itu. Kalau sampai tersebar akan membahayakan keluargaku, Leon, mengertilah. Aku tidak mencintainya sama seperti aku mencintaimu, percayalan Leon," Solane meraih tangan Leon. Leon langsung menghempaskannya tidak perduli.
"Cih! Jangan bicarakan cinta! Kau ini berbual, aku tahu! Sudahlah Solane, aku sudah tahu kau kesini hanya meneruskan sekolah modelmu dan kau mencariku karna ayahmu menyuruhmu kan?! Aku sudah tahu semua!"
Jantung Solane berdetak. Leon tahu semuanya.
~Apa ini berhubungan dengan keluarga Leon di Springfield? Angel, aku akan menghabisimu kalau kau memberi tahu semuanya!~ gumam Solane dalam hati.
"Mengapa kau tercengang? Benar kan semua perkataanku?! Sekarang begini, aku tidak mau berlama lama denganmu," kini Leon menegakan badannya hendak bicara serius.
__ADS_1
"Aku menyukai Lexa dan akan terus seperti itu! Kita sudah berpisah dan tidak akan kembali lagi! Kau serius saja dengan pelajaranmu dan jangan mengusik kehidupanku lagi! Beritahu ayahmu kalau aku TIDAK MUNGKIN KEMBALI PADAMU! Sudah jelas? Aku sudah lelah dengan sikapmu yang tidak tahu malu ini!" Kata Leon dengan wajah berapi api. Sebelumnya dia belum pernah berkata kasar dengan wanita seperti ini. Ini semua karna Solane. Solane sendiri yang menyebabkan dirinya sangat membenci wanita yang ada di depannya itu.
Leon beranjak dari kursinya.
"Leon, kau mau kemana? Apa kau tidak menerima permintaan maafku?" Lagi lagi Solane menahan lengan Leon yang hendak berlalu.
"Seharusnya kau meminta maaf pada Lexa, aku sudah melupakanmu jadi tidak ada lagi yang perlu dimaafkan. Lepaskan tanganmu atau aku tidak mau lagi melihat wajahmu!"
Solane akhirnya melepaskan Leon. Lagi lagi dia kalah. Dia mengepalkan tangannya menatap Leon yang semakin menjauh dengan penuh emosi. Dia tidak bisa tinggal diam. Dia harus menghancurkan Lexa agar Leon bisa kembali padanya.
Leon keluar dari cafe itu dengan menghapus peluh keringat di dahinya. Cafe itu tampak sejuk namun pertemuannya dengan Solane membuat seluruh tubuhnya memanas. Leon mengakui memang Solane semakin cantik dan berisi. Pakaian yang dia kenakan cukup tembus pandang, sebagai pria normal dia cukup tergoda. Namun, rasa bencinya mengalahkan apapun yang membuat Solane tampak mempesona.
Leon menarik napas panjang panjang dan kembali memikirkan Lexa. Dia segera menuju mobilnya dan menuju rumah Lexa.
...
Lexa tidak pulang, dia menuju club kecil masih dekat pusat kata. Kepalanya penat menghadapi Solane, belum lagi pekerjaannya yang sungguh penuh untuk beberapa bulan ke depan.
Dia hanya memesan segelas bir besar, setelahnya dia akan pulang. Dia memutuskan bersantai sejenak mendengarkan musik jazz yang mengalun di club tersebut. Club ini memang tidak terlalu ramai, maka dari itu Lexa cukup berani memasukinya. Lagipula, dia sering datang kesini bersama Viena atau Abby. Kali ini dia mau sendiri. Memikirkan hari hari nya bersama Leon. Apakah suatu kesalahan? Pikir Lexa. Lexa memang merasa tidak sebaik Solane dalam segi penampilan, namun tidak menutup kemungkinan Leon juga pasti menyukainya.
"Lexa? Kau Lexa kan?" Seketika ada yang memanggilnya. Itu Renzy. Sekertaris Dion dan juga teman sekerja Leon. Tampaknya Lexa sudah sedikit pusing jadi dia hanya menoleh melihat pusat suara yang memanggilnya.
"Ah, kau? Kau Nyonya Renzy?" Lexa memastikan pelan.
"Kau mabuk ya? Ada apa denganmu? Kau baik baik saja?" Renzy tampak cemas karna suara Lexa tidak seperti pertama kalia dia bertemu.
"Sebaiknya, kau kuantar pulang ya, tidak bagus terlalu malam disini, ayo?" Renzy memutuskan mengantar Lexa pulang. Lexa sudah tampak kacau.
Renzy lalu memanggil suaminya untuk membantunya, memapah Lexa masuk ke mobil. Paul menyetujuinya karna Paul tahu, meskipun club ini sepi tapi hanya di jam jam tertentu. Jika sudah agak malam akan berdatangan orang orang yang tidak karuan dan pastinya akan lebih menganggu.
"Nyonya Renzy, terimakasih ya sudah mengantarku, bersamamu Tuan?" Lexa melambaikan tangannya ketika turun. Paul hanya melambai dan tersenyum.
"Sama sama Lexa, kau bisa memanggilku Renzy, lain waktu kita bisa minum kopi bersama, sekarang beristirahatlah," ucap Renzy ramah.
"Baiklah, aku yang mentraktirmu dan ceritakan tentang temanmu yang tampan itu, sampai jumpa,"
"Ah iya, Leon maksudmu ya? Aku akan memberikan salammu, sampai jumpa." Renzy menutup kaca mobilnya dan berlalu.
Lexa menghela napas. Dia sudah terlalu banyak meminum bir seminggu ini sejak di Honolulu. Kalau saja Viena tahu, Viena pasti akan memprotektifnya.
Lexa berjalan sedikit lunglai. Dia melihat ke kanan dan ke kiri tidak ada tanda tanda Leon. Dia menghembuskan napasnya lega. Dia memutar kunci pintunya dan memasuki flatnya.
Lexa menanggalkan semua pakaiannya dan membersihkan dirinya. Dia memutuskan hanya mengenakan pakaian tanpa lengan yang sedikit ketat pada tubuhnya dan celana pendek rumahan karna hendak memanjakan tubuhnya.
Tak lama suara bel memekakan telinganya.
__ADS_1
"Siapa?" Lexa membuka pintunya. Dia lupa kalau dia mengenakan pakaian minim karna dia tidak biasa mengenakannya.
Lexa terkejut siapa yang datang, ternyata Leon yang tampak kacau.
"Kau sudah pulang? Aku menunggumu daritadi tapi kau tidak pulang pulang, jadi aku pergi sebentar ke kedai minum dekat sini dan aku kembali lagi. Dan kau sudah mengenakan pakaian minim ini. Kau sedang menunggu siapa hah?!" Tutur Leon panjang lebar dan menatap Lexa tajam.
"Apa yang kau pikirkan?! Aku hanya mau bersantai. Mau apa lagi kau kesini?!" Kata Lexa ketus.
"Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, kau sedang menunggu pria dengan pakaianmu seperti ini? Kau tidak pernah mengenakan pakaian seperti ini jika aku bersamamu?!" Leon sudah meraih dagu Lexa dan mencengkramnya pelan.
"Kalau pria itu adalah kau, kau mau apa?!" Lexa mengatakannya agar Leon melepaskan cengkaramannya, karna Lexa menikmati tatapan Leon yang sangat menawan dan seperti tersimpan rasa ketertarikan pada dirinya.
Leon tidak berkata kata lagi. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium Lexa. Pertama tama Leon menggigit bibir bawah Lexa. Lexa terperanjat dan sedikit membuka bibirnya. Lalu, Leon melahap bibir Lexa dengan lembut. Ini kali pertama Lexa berciuman. Tangan Lexa tetap diam lalu Leon mengarahkannya ke lehernya. Lexa menurut karna Leon melakukannya dengan sangat pelan dan lembut.
"Kau menyukainya, Lexa?" Tanya Leon menyudahi cumbuannya dan mengelus pipi Lexa. Wajah Lexa telah memerah. Dia tidak kuat lagi dengan wajah Leon yang sangat menawan baginya. Akhirnya dia membenamkan wajahnya di pelukan Leon.
"Leon, aku membencimu!" Katanya tersedu. Lexa terus memeluk Leon dengan erat.
"Jangan menangis, Lexa, kumohon!" Leon mengelus elus pundak Lexa.
"Kita tidak harus bersama Leon, aku tidak pantas untukmu, aku hanyalah seorang yatim piatu, menjauhlah dariku, kumohon,"
Sepertinya Lexa telah mencintai Leon namun tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Ditengah tengah pengaruh Leon yang sangat baik, meskipun dia juga seorang asisten, namun Leon asisten yang berkelas. Berbeda jauh dengannya. Selain itu, Lexa merasa selalu diusik oleh Solane yang sangat terobsesi pada Leon.
"Masuklah dulu," Leon membimbing Lexa masuk ke flatnya. Mereka masih berpelukan. Leon merasakan kehangatan tubuh Lexa. Begitu juga dengan Lexa. Lexa merasa dilindungi dan dia merasakan ibunya sedang memandangnya dan tersenyum padanya.
"Lexa, ada yang mau kukatakan," leon masih mengelus pundak Lexa yang sudah berhenti menangis.
Lexa mendongakan wajahnya menatap Leon.
"Soal apa?" Tanya Lexa lirih. Leon menatap Lexa lekat lekat. Wanita di depan matanya itu sangat cantik. Dia memang sudah terpukau ketika pertama kali melihat Lexa dari kajauhan, Leon sudah merasa wanita yang dilihat itu pasti cantik. Dan, ternyata benar semua wajah Lexa sangat sempurna bagi Leon. Perpaduan dahi, mata, hidung dan bibirnya yang membuat Leon mabuk kepayang. Meskipun Lexa tidak mengenakan riasan, namun terpancar kemurnian Lexa yang membuat dia semakin mempesona hati Leon.
"Kau cantik," ucap Leon kemudian. Leon kembali mencium bibir Lexa dan kini Lexa seperti sudah terbiasa padahal Leon baru mencium ketika datang tadi.
"Hanya itu yang mau kau katakan?" Tanya Lexa menarik diri dari ciuman Leon yang membawanya melayang. Wajah Lexa memerah semu.
"Belum saatnya Lexa, aku mau membuktikan padamu bahwa hanya kau satu satunya wanita yang pantas untukku, mau kah kau memberiku kesempatan?" Tutur Leon membuat jantung Lexa berdebar. Leon hendak menjadikan dirinya wanita satu satunya untuk dirinya.
Lexa mengangguk dan Leon kembali mencium bibir Lexa, seperti sudah menjadi candu bagi diri Leon.
...
Next part 18
Akankah Leon membuat Lexa kecewa kembali karna ulah Solane?
__ADS_1
Staytune guys 😍
Monggo like dan komennya 😘