
"Lexa, bos mu memang sangat seperti itu ya? Diam, masa bodo, dingin, eemmm aku jadi berpikir," tanya Leon yang sedikit aneh melihat sikap Viena yang benar benar dingin terhadap sesama khususnya bosnya.
Mereka sedang dalam penerbangan menuju Honolulu untuk melakukan shooting iklan Hotel Prime. Leon jelas sangat antusias karna dapat bersama dengan Lexa tanpa gangguan Solane yang entah sedang apa dia di Legacy. Dan, tentu saja Leon duduk di pesawat bersama Lexa.
"Berpikir apa?" Lexa memicingkan matanya ke arah Leon. Dia merasa Leon akan mengatakan hal yang tidak tidak tentang dirinya.
"Pantas saja bos mu seperti itu, kau mau tahu?" Lexa hanya mendongakan sedikit dagunya bermaksud ingin tahu.
"Ya karna memiliki asisten yang dingin juga sepertimu, jadi dia frustasi memikirkanmu," jawab Leon santai.
"Dasar kau musang liar tidak tahu bicara!! Hem!!" Lexa memukul lengan Leon berkali kali lalu memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela. Leon tertawa kecil puas menggoda Lexa.
"Ssstt!! Kalian berisik sekali, aku baru melihat orang berpacaran berisik sekali!" Decak Abby yang duduk di samping mereka. Lexa langsung menatap Abby dengan sangat tajam, Abby hanya memalingkan wajahnya tidak perduli.
"Lihatlah, pandanganmu ke temanmu saja seperti ini, semua orang jadi frustasi, Lexa!" Entah mengapa hari ini Leon sangat ingin membuat Lexa kesal, karna Lexa semakin cantik jika sedang marah.
"Ya memang benar! Dan sebentar lagi aku akan melemparmu dari pesawat ini, bagaimana?!"
"Baik dan aku akan menarikmu bersama dan akan jatuh dalam lautan cinta kita, Lexa.." kali ini Leon hendak menyenderkan badanya pada lengan Lexa. Lexa sudah sangat muak dengan gurauan Leon hari ini. Dia akhirnya terdiam dan tertidur bersandar dengan jendela pesawat.
Sesaat Leon tersadar kalau Lexa telah pulas. Dia sebentar memperhatikan wanita yang dia kagumi itu lalu memindahkan kepala Lexa ke sisi pundaknya dengan pelan.
"Tidurlah kelinci kecilku,," Leon mengelus pelan pipi Lexa yang masih terlelap.
...
Keesokannya, mereka memulai shooting iklan Hotel Prime. Leon terus saja berdekatan dengan Lexa, sampai Lexa agak merasa risih.
"Leon, seharusnya kau bersama tuanmu, jangan bersamaku," kata Lexa menjauhkan tubuh Leon sesaat.
"Kau tidak lihat dia bersama siapa? Dia juga sedang bersenang senang, masa aku tidak bisa bersenang senang bersamamu?" Leon mengarahkan pandangannya dan juga Lexa ke arah tuannya yang sedang bersama Viena sedari awal shooting dimulai.
"Ah terserahmu saja!" Decak Lexa mengalah. Dia memang sulit mengalahkan keinginan Leon
"Oke, semuanya selesai, besok kita lanjutkan lagi, emm Susan, ini minummu, spesial kubuatkan untukmu, minumlah," kata Lexa mengarah kepada Susan yang sudah lelah mengarahkan kamera. Lexa melakukannya dengan sengaja agar Leon sedikit kesal.
"Ada apa dengan kau ini Lexa?" Susan meraih ice coffee dengan sedikit bingung.
"Tidak apa apa, minumlah," Lexa mencolek dagu Susan.
"Lexa, kau menjijikan!" Decak Susan dan berlalu.
Leon bergidik melihatnya. Perempuan itu benar benar buruk melakukan aktingnya, namun Leon tetap tampak kesal.
__ADS_1
"Lexa, apa yang kau lakukan? Mengapa kau benar benar .." Leon tidak melanjutkan. Dia lalu memperhatikan Lexa dari bawah sampai atas.
"Lexa, kau begitu baik pada Susan, dan kemarin kau terus berangkulan pada Lucy, lalu apa yang kau perbuat untukku? Kau tidak akan mengabaikanku kan?" Tiba tiba Abby mendekati Lexa dan Leon dan bergelayutan pada bahu Lexa.
"Tenang saja, nanti malam ku ajak kau ke tempat kuliner di Honolulu pusat, aku akan mentraktirmu bersama Delon dan Mike, kau suka sayang?" Ujar Lexa mengelus pipi Abby, namun matanya berkedip ke arah Leon.
Leon hampir mati kesal dibuat oleh Lexa. Sebelumnya Lexa sudah bercerita sedikit dengan Abby dan Abby mau membantunya. Walaupun Abby merasa aneh dengan alasan yang dibuat Lexa. Dia tidak ingin dekat dengan Leon tapi dia juga mau menguji Leon apa dia akan menjauhi Lexa atau tidak. Dasar teman yang aneh, kata Abby dalam hati.
"Aku ikut!" Leon lalu menimpali.
"Terserah! Ayo sayang kita ke Nyonya Viena," Lexa merangkul Abby dan menuju ke arah Viena dan Dion untuk melapor kalau shooting hari ini sudah selesai. Lexa tersenyum puas melihat wajah Leon yang penuh dengan amarah.
"Hemm, lihat saja kau kelinci betina nakal!" Leon menggigit ujung bawah bibirnya dan menyeringai.
...
Suatu insiden terjadi antara Viena dan Dion, para atasan Lexa dan Leon (bisa di baca di Mantan Terindah ya) yang membuat Lexa dan Leon harus menjadi mata mata kalau Egnor, kakak Viena datang kembali. Mereka sudah berada di lobby tunggu hotel yang menjadi penginapan Viena dan rekan kerjanya.
"Lexa, apa tidak sebaiknya kita ke restoran sebelah sana, aku lapar," ajak Leon yang memegang perutnya.
"Sabarlah sebentar, dari sana kita tidak bisa melihat Tuan Egnor kalau datang lagi, aku bisa dipecat kalau dia tahu aku mengijinkan tuanmu masuk ke kamar nyonyaku, kau ini!!" Decak Lexa mengamati pintu utama hotel.
"Bicara yang benar! Bisa bicara atau tidak? Kau saja menjadi asisten, bagaimana bisa asisten mempunyai asisten lagi? Lalu aku juga bisa mempunyai asisten, sekalian saja kita buka perusahaan perkumpulan asisten! Dasar musang bodoh!" Dengus Lexa melayangkan pukulan kecil pada dahi Leon.
"Aha! Berarti kau mau menikah denganku kalau aku bukan menjadi asisten kan? Berarti kau menyukaiku, kau ini bukan penyuka sesama jenis tapi penyuka lelaki sepertiku! Haha! Kau kalah Lexa!" Suara Leon seketika membuat dirinya dan Lexa menjadi sorotan orang orang yang berlalu lalang di tempat itu. Sangkin senangnya dengan tanggapan Lexa yang tidak langsung membuatnya tidak sadar kalau mereka bukan berada di tempat yang sepi.
"Duduklah, kau membuatku malu!! Maaf ya maaf ya," Lexa menarik jas Leon untuk duduk kembali di sofa lobby dan menundukan kepalanya untuk orang orang yang memandang mereka berdua aneh.
"Lexa, aku menyukaimu, kau akan menjadi istriku!" Gumam Leon pelan dan memeluk Lexa dari belakang seperti sudah menjadi kekasihnya.
"Leon, kau bicara apa aku tidak dengar, cepat lepaskan pelukanmu, kau benar benar musang gila tidak tahu malu! Lepaskan!" Lexa berusaha melepaskan pelukan Leon.
"Sudahlah, sepertinya Tuan Egnor tidak akan kembali, ayo kita makan, kau itu kelaparan dan kehausan sampai bicara saja seperti anak bayi!! Ayo!!" Lexa tidak menunggu Leon. Dia terus berjalan menuju resto hotel.
"Aku lapar dan haus akan cintamu Lexaaa.." Leon bersenandung sambil mengikuti Lexa. Lexa merutuki dirinya mengapa dia mengenal pria seperti Leon. Hanya wajahnya yang tampan, tatapannya tajam, tapi sikapnya sangat menggelikan.
...
Malam itu tampak mendung seperti akan turun hujan. Angin semilir membuat kesejukan kota Honolulu pusat. Lampu lampu jalan telah menyala menghangatkan mereka yang hendak berjalan jalan malam. Honolulu pusat merupakn kota utama dari pulau tersebut. Honolulu merupakan pulau yang telah terbentuk seperti sebuah kota pemukiman dan beberapa gedung distrik yang mehiasi pulau tersebut. Daerah dataran rendah itu adalah daerah panas namun tetap memiliki tempat sejuk di daerah pedesaan. Jika bulan musim hujan akan sejuk seperti ini.
Orang orang memilih mengenakan pakaian hangat mereka untuk menikmati Honolulu pusat. Meskipun hari mendung tidak mematahkan semangat para muda mudi yang hendak berjalan jalan atau hanya sekedar berkumpul di suatu tempat. Seperti sekelompok para karyawan Jovancy advertising ini yang mengunjungi pusat kuliner di Honolulu.
__ADS_1
Leon tampak seperti terintimidasi karna hanya dia karyawan dari Prime. Ben temannya dari Prime menolak untuk bergabung karna merasa kelelahan dan dia butuh tidur. Leon terpaksa ikut sendiri karna hendak memantau Lexa kalau kalau ada yang berbuat jahat padanya. Namun, nyatanya Lexa yang seperti berbuat jahatnya padanya. Lexa terus berangkulan dengan Abby dan sesekali dua wanita itu berbisik bisik dekat sekali, membuat Leon jijik dan hendak memotong lidah mereka yang saling meledek.
~Kalau saja aku melihay mereka berciuman, aku tidak segan segan akan menelanjangkan Lexa.~ decak Leon geram.
"Kau ini kenapa, sir? Kau benar menyukai Lexa?" Mike tiba tiba bergelayutan akrab ke bahu Leon.
"Hay, siapa namamu?" Leon sedikit terkejut dan pertanyaan bodoh itu yang keluar dari mulutnya untuk memulai pertemanan. Padahal, Leon termasuk orang yang mudah berteman, mungkin karna dipikirannya hanya ada Lexa yang sedang berakting mesra dengan Abby.
"Mike, sir, kau Leon kan?" Mike melepaskan rangkulannya dan berjabat tangan dengan Leon. Sebelumnya mereka sudah berjabatan tapi tidak terlalu memusingkan nama.
"Ya Mike, senang bekerja sama dengan kalian, kalian semua sangat ramah kecuali kelinci licik itu! Kalian semua memang hebat mau berteman dengannya!" Sindir Leon pada orang yang tidak ada di dekatnya.
"Haha! Kau sendiri mau mendekatinya, kau tahu, kau menjadi trending gosip di kantorku. Saban hari wanita wanita itu membicarakan kedekatanmu dengan Lexa. Sementara Lexa hanya diam, tersenyum, masa bodo! Kau sungguh sabar, sir!" Mike menepuk nepuk bahu Leon. Leon menoleh ke arah Mike bertanya tanya.
"Ya ya, pasti kau bertanya tanya. Banyak pria yang mau mendekatinya asal kau tahu, termasuk aku, haha! Tapi kau tahu, dia benar benar tidak memperdulikan kita! Aku sampai hati ingin menangis, Leon!!" Mike menutup wajahnya malu ketika pernah menyatakan cinta pada Lexa.
"Ada apa denganmu, Mike?" Leon penasaran.
"Aku menyatakan cinta padanya. Aku memberikan sekuntum bunga mawar merah dan sebuah coklat tepat pada hari kasih sayang. Kau tahu apa yang dia lakukan padaku? Ya, seharunya aku tidak terlalu percaya diri melamarnya di depan banyak orang,"
"Dia melakukan apa? Sesuatu yang bodoh?" Leon mengintrogasi.
"Lebih dari kata bodoh Leon, tapi menurutku kejam. Dia mematahkan bunga itu dan membuangnya dan coklatnya? Dia membukanya dan memakannya satu bagian. Dan bagian yang lain, dia memberikannya padaku, dan pada yang lainnya sampai habis. Dan kau tahu dia hanya bicara 2 kata padaku: Jangan Mendekatiku! Dan dia pergi, selesai sudah perasaanku padanya! Silahkan tertawa Tuan, aku mengijinkan." Cerita Mike putus asa.
Leon tidak tertawa tapi dia menganga. Sekejam itu Lexa memperlakukan Mike yang baik dan tulus padanya. Bagaimana dengannya yang selalu membuatnya kesal?
"Leon, kau tidak tertawa?" Mike menghentakan singkat tubuh Leon.
"Aaarrrrggghh, aku tidak takut padanya! Dia akan terjerat pada pesonaku, Mike, kau tenang saja aku akan mendapatkannya!" Leon tersadar dan berdiri. Dia tidak boleh kalah. Tidak ada dalam kamusnya, wanita yang ia sukai menolaknya! Bahkan sekarang Solane saja mencari carinya.
"Semangat yang baik, sir, figting!!" Mike menyemangati.
"Dan Mike, bagaimana dengan pria pria lainnya, apa kau tahu?" Leon bertanya lagi.
Mike akhirnya menceritakan beberapa hal yang ia ketahui tentang Lexa. Pasalnya mereka sudah berteman selama dua tahun ini. Hal hal konyol yang Mike ceritakan tentang Lexa malah membuat Leon semakin ingin mendapatkannya. Dan dari Mike lah, Leon mengetahui kalau Lexa hanya berpura pura menyukai sesama jenis. Karna, sejatinya Lexa memang gampang bergaul dengan teman sejenisnya. Hal yang sangat wajar bagi seorang wanita.
"Lexa, kau tidak bisa lari dariku! Kau akan menjadi milikku!!" Lagi lagi Leon menyeringai menatap Lexa yang bersantap dengan yang lainnya kecuali Mike.
...
Next part 16 yookk ngebut ngebut 😁
Tolong komen n like nya ya biar author smangka wkwk 😘
__ADS_1