
Lexa mengikuti Leon yang menariknya masuk ke emergency room. Lexa tidak bisa menghelanya karna pegangan tangan Leon begitu kuat. Solane sedikit melirik ke belakang dan ada guratan kekesalan di dahinya. Leon yang sempat menyadarinya tidak perduli akan perasaan bekas kekasihnya itu.
Reynald melihat kedatangan Solane dan Leon lalu ia memicingkan matanya melihat sosok wanita yang digandeng Leon. Pria tua itu mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Solane.
"Tuan, tenanglah, Dokter segera menyembuhkanmu," ucap Leon lirih.
"So-lane," panggil Reynald tertatih.
"Ya dad, kau akan sembuh dad, aku tidak bisa hidup tanpamu!" Solane menggenggam tangan ayahnya dan menangis sesenggukan.
"Le-Le-on," panggil Reynald kemudian.
"Dengarkan aku, aku tidak akan memaksakan kau menikah dengan anakku, aku merasa kau akan jauh lebih bahagia bersama wanita di belakangmu itu," kata Reynald terbata yabg kemudian membuat Solane semakin tersedu.
Entah mengapa, kali ini Lexa merasakan keanehan dari tangisan Solane. Tangisannya seperti dibuat buat. Dan lagi jantung Lexa terasa berhenti ketika Reynald mengatakan tidak akan memaksakan Leon menikah dengan anaknya. Jadi, Reynald hendak menikahkan mereka? Mengapa Leon tidak memberitahuku? Pikir Lexa dalam hati.
"Maafkan aku Tuan, aku sudah tidak mencintai anakmu lagi," kata Leon menundukan kepalanya.
"Dan, mengapa kau berkata demikian? Kesehatanmu jauh lebih penting, diamlah dan beristirahatlah dulu," ujar Solane semakin menggenggam erat tangan ayahnya.
"Solane, dad sudah tidak kuat lagi, kau harus bisa menjalani kehidupanmu dengan kuat, jangan terus merajuk padaku. Leon, aku hanya meminta kau memanfaatkan harta warisan yang telah ku atas namakan padamu, namun ketika kau menjadi suami Solane. Jika keadaannya seperti ini, pengacara akan menyerahkan semua keputusan ada di tanganmu. Aku hanya mau menitip Solane. Ingatkan dia jika dia melakukan kesalahan. Jadilah temannya dan jangan memusihi dia. Sebentar lagi dia akan menjadi orang hebat dan tidak membutuhkan harta warisanku. Jaga diri kalian baik baik. Dan, kau wanita yang di belakang Leon, dia mencintaimu, jagalah jangan sampai mengulang kesalahan yang ditorehkan oleh anakku. Leon, aku minta maaf," kata Reynald lagi membuat air mata Lexa menetes. Dia seperti mendengar kalimat keluar dari ayahnya sendiri, bahkan dia seperti mengingat semua pesan ibunya sebelum meninggalkannya.
"Dad, jangan tinggalkan aku, aku janji aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, dan lagi Leon pasti tidak akan bisa di sampingku. Dia sudah memiliki Lexa, jadi aku harus bersama siapa lagi?" Solane masih sesenggukan.
"Tuan Reynald, tenanglah dulu, masih ada serangkaian perawatan yang akan kau jalani, tenanglah," kini Leon menghampiri Reynald dan melepas gandengan tangan Lexa.
"Dan Tuan, sepertinya aku tidak bisa menerima harta warisanmu, sebaiknya kau berikan saja pada anakmu Solane dan melepaskan semua beban ini," kata Leon kemudian.
"Tidak, aku mau kau saja yang memutuskannya. Pengacaraku akan datang kepadamu. Sekarang keluarlah, aku akan beristirahat, aku sudah senang melihatmu, Solane kau juga keluarlah!" Reynald tidak mengubah keputusannya.
__ADS_1
Solane, Leon dan Lexa keluar dari ruangan. Entah mengapa Lexa memikirkan semua pesan Reynald yang mengandung banyak makna.
Ketika mereka di luar ruangan, Solane menangis lagi. Di duduk di kursi tunggu dan menangis sambil menundukan wajahnya. Lexa merasa harus menenangkannya. Dia menghampiri Solane. Menepuk kecil bahu yang menunduk itu.
"Tenanglah Solane, dad mu pasti akan kembali pulih,"
"Bagaimana jika tidak? Semuanya sudah menghilang, aku sudah tidak punya siapa siapa dan apa apa lagi, sementara kau bersama dengan pria baik itu, dan mengapa dad ku memberikan hartanya padanya bukan padaku," Solane kembali menangis. Perasaan Lexa benar. Ada yang salah dengan semua alasan Solane. Kalau Lexa berpikiran kasar, Solane sepertu mengkhawatirkan semua harta warisan ayahnya, bukan kesehatan ayahnya.
Belum sempat Lexa menimpali perkataan Solane, seorang suster keluar memanggil dokter dengan sangat panik. Sontak, Solane bangkit dari duduknya begitu juga dengan Lexa.
"Tenang Solane, tunggulah dulu disini," Leon menahan tubuh Solane yang hendak menyeruak masuk ke emergency room. Solane malah bersandar di dada Leon. Karna kepanikan yang menggandrungi mereka, Leon malah merangkul Solane. Lexa hanya terdiam menyaksikan semua pemandangan yang menyesakan pikirannya.
Dokter lalu datang dan melakukan tindakan. Namun, kenyataannya Reynald tidak bisa diselamatkan. Penyakit jantungnya sudah sangat akut. Dan lagi, sepertinya ketika Reynald berbicara pada Leon, dia melepas selang oksigennya sehingga udara yang dibutuhkan Reynald tidak tersampaikan dengan baik.
Solane makin menangis menjadi jadi. Dia memeluk jasad ayahnya. Leon merasa sangat kasihan padanya. Lexa dan Leon menunggui dan membantu Solane mengurus keperluan pemakaman Reynald. Tak berapa lama seorang pengacara mendatangi Leon.
Sang pengacara menjelaskan secara detil isi surat warisan Reynald. Leon menatap Lexa yang ada di sampingnya. Dia menggenggam tangan wanita incarannya itu hendak mengisyaratjan sesuatu.
"Begini Tuan, kalau harta warisan ini bisa jatuh di tangan Solane jika aku menikah dengannya, jawabannya aku tidak bisa," kata Leon membuka keputusannya. Sesaat hati Lexa tercengang. Wajahnya sedikit tenang dan sumringah ringan.
"Namun, aku dengan senang hati memberikan semua hak yang Tuan Reynald berikan padaku kepada Solane anaknya, karna sesungguhnya dia yang pantas memilikinya, aku rela, begitu saja sudah jelas Tuan?" Lanjut Leon kepada Tuan pengacara yang disewa oleh Reynald.
"Baiklah Tuan Leon, kalau itu sudah menjadi keputusan anda. Saya akan mengurus berkas berkasnya. Saya pastikan besok sudah selesai dan saya akan menemui Tuan, bisa saya meminta nomor ponsel anda?" Kata pengacara menyudahi percakapan mereka.
Pengacara itu akhirnya undur diri untuk membantu acara pemakaman Tuan Reynald.
"Leon, hatimu sungguh besar, kau tidak mementingkan dirimu sendiri," kata Lexa memuji keputusan Leon yang mau memberikan semua warisan yang dipertunjukan untuknya kepada orang yang lebih berhak.
"Ya, karna aku juga mementingkan perasaanmu kan?" Goda Leon menundukan badannya dan menatap nakal Lexa.
__ADS_1
"Hem, menikah saja kau dengan Solane aku tidak perduli!" Lexa merasa tertuduh dan menjadi salah tingkah. Dia lalu melangkah ke luar ruangan administrasi rumah sakit hendak ke cafe untuk makan malam.
Sementara Solane masih menunggui ayahnya. Ketika mereka telah sampai lift, Lexa melupakan kalau tas nya tadi ia letakan di meja dekat sofa di ruangan emergency. Dia hendak mengambilnya dan menyuruh Leon untuk lebih dulu ke kantin agar memesan lebih dulu agar tidak terlalu lama. Awalnya Leon menolak namun Lexa mengatakan sudah sangat lapar, jadi ketika Lexa datang, makanan yang dipesan juga sudah datang. Leon menyutujuinya karna dirinya juga sudah lapar.
Ketika Lexa berbelok, dia melihat Solane hendak menelpon dengan wajah yang sangat senang, padahal ia baru saja kehilangan ayahnya. Benar dugaan Lexa kalau Solane menyembunyikan sesuatu.
"Benar, aku berhasil mengelabui mereka. Dan kini dad sudah meninggal. Dia sangat menyusahkan. Tidak menyetujui hubungan kita dan lagi dia memberikan warisan itu kepada si gembel Leon. Ya, betapa naifnya si Leon itu memberikan semuanya padaku hanya melihat air mataku yang bercucuran. Aku curiga dia masih ada rasa denganku. Mana bisa dia membandingkanku dengan si kumuh Lexa. Iya sayang, kau tenang saja. Setelah aku mendapatkan warisan itu, kita pergi jauh dari negara ini, aku sudah muak! Tidak ada lagi yang menghalangiku, si tua Reynald itu sudah pergi!" Semua diucapkan Solane dengan sangat jelas.
Lexa dengan sangat cepat mencari aplikasi recordingnya dan merekam semua perkataan Solane.
"Warisan itu tidak pantas untuknya! Banyak yang lebih membutuhkan! Dasar jalang!" Gumam Lexa pelan. Dia lalu berbalik hendak memberi tahu Leon. Urusan tas nya belakangan, bisa diambil kapanpun, lagipula hanya berisi berkas kantor dan beberapa barang kecilnya.
Namun naasnya, ketika ia berbalik, Lexa menabrak seorang suster yang sedang membawa peralatan operasi. Semua peralatan itu jatuh menimbulkan suara yang sangat nyaring. Solane lalu melihat keberadaan Lexa. Dia sedikit cemas kalau Lexa mendengar semua perkataannya.
"Lexa?!" Panggil Solane bengis.
Lexa melihatnya dan wajah yang berapi api. Wanita itu merasa harus pergi secepatnya menemui Leon. Dia salah, seharusnya dia bersama Leon tadi.
...
salam Leon .. ikutin terus ya 😘
Next part 30
Mo crazy up tunggu aja ya
Hehe 😁
__ADS_1
Yuhuuu Solane, skak mat!!!