Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 66


__ADS_3

Leon bergidik merasakan sebuah tangan memegang sepatunya. Namun, dia merasa mengenal tangan itu. Dia lalu menoleh ke belakang dan melihat tubuh Lexa yang basah kuyup tersungkur di tanah tanah berumput liar ini. Dia tengkurap dengan tubuh yang sangat lemah dan sesekali bergetar karna kedinginan.


"Lexa? Ya Tuhan akhirnya aku menemukanmu!"


Dengan sigap, Leon lalu berdiri dan meraih tubuh mungil langsing itu. Dia mendudukan Lexa. Sebenarnya Lexa hanya setengah sadar. Kondisinya sungguh kacau balau. Pahanya sudah mengalir darah yang cukup menyesakan hati Leon.


Leon lalu membuka jaketnya dan mengikatkan jaketnya pada paha Lexa agar darahnya tidak keluar terlalu banyak. Napas Lexa sudah tersenggal tak menentu dan mendesah karna seluruh tubuhnya sakit tak karuan.


"Leon, aku lapar!" Kata Lexa terbata dan dia akhirnya benar benar tak sadarkan diri. Dari sisi pikirannya, dia sudah lega karna Leon sudah menemukannya.


"Lexa? Bertahanlah! Kita akan pulang!" Kata Leon lalu menggendong wanitanya itu. Leon hanya mengharapkan cahaya dari penerangan jembatan.


"Lexa ku sudah ketemu! Kembalilah ke atas!" Kata Leon berteriak sekencang kencangnya agar mendengung sehingga orang orang yang membantu mencarinya mendengarnya.


Pria tua yang mencari disekitar bawah jembatan mengetahui dan melihat Leon sudah mulai menaiki bukit untuk naik ke atas permukaan. Akhirnya orang orang yang mencari Lexa segera naik ke atas.


Leon menggendong Lexa dengan sangat erat seperti menggendong pengantinnya. Dia hendak menjaganya sampai Lexa merasakan kenyamanan. Lexa meringkup pada gendongan Leon karna semua tubuhnya lemah tak sanggup mengalungkan tangannya pada leher Leon.


Leon dengan cepat menuju ke rumahnya. Dia berjalan sangat cepat dan tidak memikirkan beban tubuh Lexa. Di dalam pikirannya hanyalah sampai ke rumah lalu membuat kehangatan pada tubuh Lexa yang mana, ia merasakan Lexa sesekali bergetar dan bergidik.


Leon mencoba menjaga langkahnya agar tetap kuat dan tidak terjatuh karna jalan agak licin setelah hujan. Akhirnya Leon sampai di depan rumahnya. Ia dengan segera mendobrak pintu rumahnya dengan punggungnya.


"Mom! Cepat buatkan sup hangat dan teh hangat, Angel, cepat gantikan baju Lexa, cepaaattt!!!" Perintah Leon dengan cepat dan sigap dia membawa Lexa ke dalam kamar. Jane dan Angel memang masih menunggu berita dan tak bergeming di ruang tamu. Sementara Larry sudah menyusul Leon tadi namun tidak bertemu. Larry mungkin bergabung dengan orang orang yang tadi ikut membantu mencari Lexa.


Angel dan Jane yang lega melihat Leon yang datang membawa Lexa langsung menjalankan perintah Leon. Jane dengan segera menuju ke dapur dan Angel mengikuti kakaknya. Leon sudah meletakan Lexa di tempat tidurnya. Kalau saja ini apartemennya, dia sendiri yang akan menggantikan baju Lexa pikirnya sesaat.


"Ini baju Lexa dan celananya atau apalagi yang harus dikenakan ini kopernya Angel, cepat kau gantikan, dia sudah sangat kedinginan!" Kata Leon lalu Angel dengan cepat mengambil posisi kakaknya.


"Kak Leon, ada apa dengan pahanya?" Tanya Angel melihat kondisi Lexa yang pahanya terikat jaket kakaknya.


"Ah iya, tadi seperti berdarah, sepertinya terkena ranting tajam. Sebentar ku ambil perban dan obat luka." Jawab Leon dan segera keluar dari kamar menuju dapur.


"Mom, aku membutuhkan perban dan obat luka. Paha Lexa tergores ranting tajam!" Pinta Leon menyeruak ke dapur. Ibunya sedang menggodok sup jagung dan menyeduh teh.


"Ada di kotak p3k di atas kulkas Leon! Bagaimana, Lexa digantikan baju?" Kata Jane dan bertanya kondisi Lexa.


"Sedang digantikan Angel mom!" Jawab Leon dan hendak kembali ke kemar. Ibunya menahannya.


"Aku sangat senang kau menemukan Lexa. Hatimu pasti sudah kacau ya?" Tanya ibunya yang merasakan kecemasan Leon yang sungguh mendalam. Dia juga melihat guratan takut kehilangan pada garis wajah anak tertuanya itu. Dia lalu mengelus pipi Leon.


"Iya mom! Aku takut sekali! Aku takut aku tidak bisa menemukannya! Namun, sepertinya Lexa memanggil manggil namaku sehingga aku tidak menyerah. Ternyata dia sudah menepi dan masuk sedikit ke hutan mam. Dia sendirian di sana tersungkur dan pahanya terluka mom. Dia benar benar -- " Leon mengatakan semuanya pada ibunya dengan menitikan air mata.


"Sssttt, sudah Leon, kau sudah menemukannya, sudah jangan menangis!!" Ibunya memotong cerita anaknya yang memilukan menceritakan keadaan yang terjadi pada wanita yang sangat anaknya cintai. Jane memeluk Leon sambil mengelus elus punggung anaknya.


"Kau juga harus mengganti bajumu agar tidak sakit dan bisa merawat Lexa ya, sudah jangan menangis!!" Tambah Jane lagi.


"Aku sangat mencintainya mom, aku tidak bisa kehilangan malaikat wanita tak bersayap itu mom. Aku tidak bisa menemukannya lagi pada wanita lain. Aku hanya ingin Lexa mom!" Kata Leon menghapus air matanya.


"Iya aku mengerti, setelah ini kau harus menjadikannya kekasihmu, dan segera nikahi dia!" Ujar sang ibu dan Leon mengangguk.


Dia lalu kembali ke kamar. Angel sudah menggantikan baju Lexa dan mengenakan celana pendek.


"Kak, lukanya agak besar, bagaimana ini?" Tanya Angel yang sudah menyadari kedatangan kakaknya.


"Coba aku lihat!" Kata Leon lalu duduk di samping paha Leon.

__ADS_1


"Kau sudah membersihkannya?" Tanya Leon karna dia melihat baskom kecil dan air hangat yang mungkin di ambil Angel di kamar mandinya.


"Ya kak, tapi belum kuobati karna menunggu kotak p3k mu." Jawab Angel.


Leon lalu mengambil kotak p3k dan meraih perban juga obat antiseptik untuk membunuh kuman pada luka Lexa dan menyembuhkannya. Setelah Leon memberikan obat luka tersebut, Leon memperbannya dengan pelan dan lembut.


Angel memperhatikan kakaknya yang begitu memperhatikan luka wanitanya. Angel merasa kakaknya pasti sangat mencintai Lexa. Angel jadi sangat merasa bersalah dengan sikap dinginnya pada Lexa. Dia juga sudah menjahatu Lexa namun wanita yang dicintai kakaknya itu tidak pernah membalas bahkan tidak pernah menyuruh kakaknya untuk memarahinya. Malah sebaliknya, dia menyuruh kakaknya membantunya agar hatinya dapat menerimanya.


Angel lalu memegang bahu Leon.


"Kak?" Panggil Angel masih agak takut.


Leon menoleh tanpa mengatakan apapun.


"Aku minta maaf!" Tiba tiba Angel berlutut di belakang Leon.


Leon lalu membalikan badannya setelah menyelimuti Lexa yang pahanya sudah berbalut perban


"Dengar Angel. Aku ingin memberitahukanmu sebuah kenyataan yang tidak ku buat buat hanya karna membantu Lexa memenangkan hatimu. Aku hanya mengatakan yang terjadi. Lexa sungguh ingin menjadi temanmu. Lexa melihat flower crown yang kau buat di tempat sampah kan? Dia tidak marah sama sekali, dia hanya bertanya kenapa kau sampai hati membencinya? Karna dia dekat denganku iya? Dia tidak mendekatiku lebih dulu tapi aku Angel! Aku yang mendekatinya! Kau tahu, dia malah menuduhku menceritakan hal buruk tentangnya padamu. Dia tidak menyalahkanmu! Dia malah memperbaiki flower crown itu yang kau tahu tidak bagaimana dia mendapatkannya? Dia bertengkar dengan seorang anak kecil hanya karna ingin memberikan flower crown itu, untukmu!!! Sesuatu yang konyol tapi dia melakukannya. Dan dia sebenarnya menceritakan padaku kalau kau meninggalkannya. Tapi dia melarangku menghukummu. Dia mau terlihat baik di matamu walaupun aku yakin kau merasa wanita yang menyelamatkanmu ini munafik kan? Aku sudah tahu pemikiranmu, karna kau adikku! Jadi begitu yang mau ku katakan padamu, agar otakmu itu terbuka. Kau tenang saja Angel, ketika aku kembali ke Legacy, aku dan Lexa, dengar ya dan Lexa! Sudah membelikanmu lahan untuk membangun toko bungamu! Dan iya, Seharusnya kau meminta maaf pada Lexa bukan denganku. Setelah dia sadar, kau harus meminta maaf padanya!" Leon berkata kata dengan sangat serius tanpa melepaskan pandangannya pada adiknya.


Angel benar benar tersentak dengan semua penuturan kakaknya tentang Lexa, wanita yang sangat ia benci selama ini. Ternyata Lexa tidak ada maksud buruk dengan kakaknya. Dia memang sudah termakan omongan Solane yang katanya memanfaatkan pekerjaan kakaknya yang sekarang sedang meroket. Angel benar benar menyesal. Dia menangis. Dia menangis di depan kakaknya. Entah harus seperti apa lagi dia meminta maaf pada kakaknya. Pada pilihan kakaknya yang yang sangat tulus bersama kakaknya. Lexa sama sekali tidak memikirkan status kakanya malah Lexa takut akan keluarga lengkap yang Leon miliki. Lexa hanya memikirkab kebahagiaan keluarga Leon jika dirinya ikut masuk di dalamnya. Angel sudah mengerti sekarang..


"Iya kak, aku akan meminta maaf padanya dan aku akan merestui kalian. Dia juga membutuhkan restuku kak. Dia sangat menghargaiku padahal aku adalah adikmu tapi dia menghormatiku sama seperti dia menghormati mom and dad, huhuhu.." Jawab Angel menundukan kepalanya dan terus menangis.


"Hah, sudah mengerti kan? Jadi jangan lagi kau anggap rendah kakak Lexa mu ini, dia sekarang kakak Lexa mu, kakak perempuanmu. Paham?!" Sekali lagi Leon meyakinkan adiknya.


"Paham kak, sekali lagi aku minta maaf kak.." jawab Angel masih tersedu dalam tangisnya.


"Yasudah, Keluarlah, aku hendak berganti pakaian. Kau juga, sejak tadi kau belum menggantinya kan?" Kata Leon kemudian. Dia menyadari sejak tadi sudah hampir beberapa jam dalam pencarian Leon yang memakan waktu panjang malam ini, adik perempuannya itu masih menggunakan dress yang diberikan Lexa. Leon mengetahui dress itu karna Lexa memohon untuk mengantarnya ke butik temannya yang letaknya di perbatasan Legacy. Daerah itu sangat jauh menurut Leon. Lexa kekeh ingin kesana karna temannya hanya memproduksi dress atau pakaian bermotif bunga.


"Kalau sudah begini, kau sudah menyadarinya kan?" Decak Leon pelan.


"Iya kak, maafkan aku, ternyata kak Lexa memang melebihi kak Solane. Keteguhan hatinya sungguh memenangkan hatiku untuk merestui dirimu dan dia kak. Aku harap kau tidak menyia nyiakannya kak." Tutur Angel dan dia keluar dari kamar kakaknya menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian karna sejak tadi ibunya menyuruhnya dia tidak mau. Katanya berdoa dan memikirkan Lexa jauh lebih penting ketimbang pakaiannya yang basah meskipun pada akhirnya pakaian itu sudah mengering.


Setelah Angel keluar dari kamar, Leon dengan segera mengganti pakaiannya yang basah. Dia lalu kembali duduk di samping Lexa berbaring. Lexa tampak pucat dan ketika Leon memegang keningnya, tubuh Lexa menghangat. Leon agak panik. Dia lalu keluar kamar dan dia menemukan semua keluarganya sudah menunggu di ruang tamu hendak mengetahui apakah Lexa sudah sadar atau belum. Ada juga Lizzie dan beberapa teman Jane dan Larry yang mencemaskan calon istri Leon, mereka pikir.


"Bagaimana Lexa nak?" Tanya ibunya.


"Sekarang tubuhnya hangat mom!" Jawab Leon muram.


"Dikompres saja terlebih dahulu, jika besok tidak membaik, bawa dia ke kota, nak!" Kata Lizzie memberikan saran


"Benar bi, kalau besok kondisinya makin parah dan dia belum sadarkan diri, aku akan membawanya ke rumah sakit." Jawab Leon. Lalu ibunya sudah membawakan baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil untuk meng-kompres Lexa.


Leon lalu kembali ke kamar bersama Lizzie, ibunya dan juga Angel. Jane lalu dengan penuh perhatian meng kompres dahi Lexa. Dia juga mengelus pipi calon menantunya itu. Kulit Lexa memang sangat putih dan bersih, sehingga terlihat pucat jika dalam kondisi sakit seperti ini.


Leon merebahkan dirinya di sofa kecil di dalam kamarnya. Dia sungguh menantikan Lexa sadar. Entah apa yang harus ia katakan pada Tuan dan Nyonya majikan barunya jika tiba tiba Tuannya meminta dirinya untuk menjemputnya datang kesini sementara kondisi Lexa seperti ini. Tujuan utama Viena sebenarnya ingin ke kampung halaman Leon. Sebenarnya juta kemarin ketika landing, mereka berempat akan langsung ke rumah Leon, namun karna tanda tanda kehamilan Viena, jadi Dion berputar haluan akan memeriksakan kondisi istrinya terlebih dahulu.


Leon mengusap dahinya dan terus menarik napas. Mengapa semuanya harus dialami wanitanya? Ada rasa penyesalan seharusnya Leon bersama sama tuannya saja datang kesini sehingga Lexa memiliki teman meskipun dia tidak bisa berlama lama dengan keluarganya.


"Leon, kita hanya menunggu kesadaran Lexa karna tampaknya dia hanya lelah dan butuh istirahat. Sesekali panggilah namanya agar cepat tersadar ya? Bibi pulang dulu dan akan datang lagi besok. Ini sudah pukul satu pagi." Kata Lizzie melihat Leon yang tampak sangat bersedih.


"Iya bibi terimakasih atas perhatiannya." Jawab Leon dan dia kembali beranjak untuk menyalami teman dekat ibunya itu.


Lizzie lalu diantar oleh Jane sementara Angel masih di samping Lexa. Angel yang sudah berganti pakaian memegang tangan Lexa sambil memanjatkan doa dalam hatinya.

__ADS_1


"Angel, tidurlah, biar aku yang menjaganya." Leon menepuk bahu adiknya.


"Tapi kak?"


"Tidak apa, besok dia pasti sudah sehat, percayalah." Leon meyakinkan adiknya yang merasa sangat menyesal.


"Baiklah, aku ke kamar." Akhirnya Angel menuruti kakaknya.


Leon menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia hendak memeluk wanitanya itu. Dia merasa kalau Lexa pasti sangat menderita saat itu. Untung saja Lexa masih dilindungi dan tidak langsung meninggal di tempat. Leon masih sangat mensyukuri hal ini. Dia lalu menyelinap tidur di samping Lexa. Dia memandangi wajah Lexa dan sesekali mengelus pelipis Lexa.


"Lexaaaa, mau kah kau menjadi kekasihku? Eng, bukan begitu!! Eng, Lexa, aku mencintaimu, sungguh mencintaimu, mau kah kau menjadi kekasihku? Ah berlebihan! Lexa, kalau kau mau menjadi kekasihku, ambilah mawar merah ini! Ah dia tidak suka aku memberinya mawar!! Lalu bagaimana aku akan menyatakan cintaku ini Lexa?! Bangunlah hey kelinci cintaku! Ayo bangun!" Leon yang memanggil Lexa dengan berlatih latih pernyataan cinta akhirnya kesal sendiri dan menyentil kecil dahi Lexa.


"Eh?? Mengapa aku menyakitinya? Maafkan aku Lexa sayang. Lexa ayo bangun atau aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menerkammu. Lexa bangunlah, aku apa tanpamu Lexa? Lexa bangunlah, aku seperti butiran padi yang tidak memiliki selimut Lexa..." Leon akhirnya menempelkan dahinya ke pelipis Lexa sambil terus memanggil nama Lexa sampai Leon mengantuk dan tertidur.


Hingga sampai sekitar pukul 3 pagi, Lexa mencoba membuka matanya. Dia seperti tertidur dalam jangka waktu yang lama padahal baru sekitar 3-4 jam dia tak sadarkan diri. Lexa merasa berat di bagian dadanya dan dia menyadari, tangan Leon sedang memegang salah satu buah dadanya. Dalam sekejap, matanya terbelalak. Dia hendak berteriak namun tenggorokannya sakit. Dia tetap berusaha.


"Leeooonnn!!!! Lepaskan tanganmuu!!" Kata Lexa dengan suara yang serak.


"Leonnn!!!" Panggil Lexa lagi mencoba mengangkat tangan Leon. Dia akhirnya agak beranjak dan terasalah sakit pada pahanya yang membuatnya akhirnya dapat berteriak agak nyaring.


"Aarrgghhh kakiikuuu sakkiiitt sekalii!!!!" Kata Lexa dan akhirnya membuat Leon terbangun.


...


...


...


Baru gek luka ya sakit neng Lexa!! 😂😂


.


Next part 67 yuk


Adududuu kira kira ngapa tuh pahanya Lexa?


Semoga ga ngapa ngapa y neng, takut itu nyonyamu kan uda mau datang tuh sama bapak dion hehe 😁😁


.


Baiklah, mari kita obrak abrik lagi mantan terindah pada bagian ini hihi apakah Leon akan benar menyatakan cintanya setelah Lexa sadar?


Hehe nantikan saja yukkss 😍😍


.


Dukung terus diriku dengan memberikan LIKE dan KOMEN di setiap episode dan join grup yuk bagi kalian yang agak penasaran kalau aku up nya lama, di sana aku suka kasih spoiler dan info terbaru novel novel ku 😁😁


Di sana juga bisa bahas karakter dan berhalu ria dengan tokoh yang kalian suka di novelku karna hiburan itu perlu lhoo 😍😍


Caranya gimana vii? Cantumin aja no wa kalian di kolom komentar ini nanti vii invite ya? 😊😊


.


Oke terimakasih smuanya

__ADS_1


I love you 💕


__ADS_2