
Mereka bertiga sampai di bandara sore hari pukul lima sore. Rico mencoba menghubungi nyonya nya bermaksud bertanya kondisi yang terjadi, karna sejak tadi Lexa terus menangis. Bukan hanya itu, seturunnya dari pesawat, Lexa terus memuntahkan apa yang sudah ia santap di pesawat. Karna emosi dan pikirannya yang menumpuk di hatinya, ia menjadi lapar. Dia memesan semua makanan yang ada di menu pesawat. Solane sampe bingung.
"Lexa, ini sudah lima menu kau pesan, masa kau mau makan lagi?" Kata Solane mengingatkan. Lexa mengangguk dengan matanya yang berkaca kaca.
"Turuti saja Solane. Kau tidak kasihan padanya? Dia benar benar menginginkan suaminya." Sela Rico yang duduk di samping Solane. Solane berada di tengah antara Lexa dan Rico.
"Kalau benar Leon menuruti nyonya mu bagaimana Rico?" Celetuk Solane menoleh ke arah Rico dan Lexa menatapnya tajam. Rico merasakan aura kecemasan Lexa.
"Mulutmu!" Rico mengingatkan dengan sedikit melotot.
Solane menutup mulutnya dan berbalik menoleh ke arah Lexa dan benar Lexa kembali meneteskan air mata sambil menatap temannya itu.
"Haha, tidak tidak Lexa, tenanglah, Leon setia. Hem, kalau tidak, waktu dulu aku merayunya untuk merebutnya darimu, pasti dia sudah terayu. Masa kau membandingkan aku dengan Bella si singa itu, haha!!" Celetuk Solane dan Rico menyenggolnya.
"Apa lagi?? Kata kata ku salah?" Dengus Solane kembali berbalik ke Rico.
"Kau juga jangan mengingatkan Leon dulu!" Saut Rico dengan menekuk wajahnya. Solane memicingkan matanya.
"Kau cemburu yaaa?" Sindir Solane terkekeh.
"Berisik kau! Sudah diam dan pesankan apa yang Lexa mau lagi dan aku juga pesankan! Aku lapar!" Balas Rico yang seketika wajahnya sedikit memerah.
"Okeh tampan!" Kata Solane mencolek dagu Rico. Rico tampak salah tingkah melihat tingkah Solane yang sangat menggodanya.
Dan sekarang Rico masih menunggu Lexa dan Solane keluar dari toilet. Dia benar benar tidak bisa menghubungi nyonya nya. Entah mengapa, perasaannya menjadi sangat tidak enak. Tak lama Lexa dan Solane keluar. Lexa dengan wajah pucatnya dan matanya yang sedikit bengkak. Solane sudah tetap meriasnya dengan eyeliner hitam agar Lexa tetap segar dan Leon yang melihatnya tetap merasa senang.
"Lexa, kau sudah baikan?" Tanya Rico mencari cari wajah istri Leon itu karna dia masih menunduk.
"Baik, sudah ayo! Eng, apakah nyonya mu sudah mengangkat panggilanmu?" Selidik Solane.
"Belum Solane! Cepatlah kita ke kamar 1223 itu! Perasaan ku tidak enak!" Kata Rico sambil membawa koper kecilnya dan kedua tas Solane dan Lexa sementara Solane memapah Lexa. Wajah Lexa sedikit menegang ketika mengetahui Rico mengatakan tidak bisa menghubungi atasannya.
"Hubungi Leon, Rico, aku mohon! Aku mau mendengar suaranya!" Pinta Lexa seperjalanan mereka menuju luar bandara dan menaiki taxi.
"Oh iya iya. Kenapa aku tidak terpikirkan? Sebentar ya?!" Gumam Rico yang ditimpali Solane.
"Makanya kau jangan memikirkan aku terus!" Sela Solane sekenanya.
"Kuhabisi kau nanti Solane, ada saja pembendaharaan katamu!" Decak Rico dan menghubungi Leon sambil berjalan. Namun, ponsel Leon tidak aktif.
Hal ini malah membuat Lexa semakin tegang, bingung, panik dan ia kembali ingin mengeluarkan apa yang ada di perutnya.
"Fix Lexa, kau ini hamil! Cepat gunakan ini, aku mau tahu, cepat cepat!!!" Decak Solane ketika mereka harus ke toilet lagi karna Lexa yang reflek berlari mencari toilet.
Lexa menuruti Solane. Dia kembali gugup. Keringat sudah membasahi pelipisnya. Dia takut hasilnya akan negatif lagi sehingga dia tidak tahu lagi bagaimana cara membahagiakan Leon. Solane membelinya dengan bentuk panjang yang akan menunjukan garis satu atau dua bukan seperti milik Viena waktu itu. Bertanda minus dan plus. Lexa mengikuti petunjuk dan memberikannya pada Solane.
__ADS_1
"Ini! Apapun hasilnya biarkan saja! Mungkin sudah takdir ku yang sebenarnya masih harus sendiri tidak bersanding seperti ini, huhu .." kata Lexa menangis.
Solane melihatnya dengan seksama. Dia tersenyum. Benar sudah dugaannya.
"Sepertinya keren kalau kau melemparkan benda ini ke depan wajah Bella si singa itu Lexa, karna semoga Leon akan menuruti semua permintaanmu!" Kata Solane menunjukan hasil positif pada Lexa dan merangkulnya. Lexa meraihnya dan tertegun. Dia hamil.
...
Sesampainya di Belleza Hotel, Lexa masih menggenggam testpack tersebut menyeruak masuk menuju lift. Dia sudah tidak sabar, namun lagi lagi dia hendak muntah.
"Oh God! Rico! Kenapa anak Lexa itu sungguh sungguh tidak bisa diajak kerjasama hah? Ibunya terus muntah seperti itu bagaimana? Bagaimana jika nyonya mu sudah menerkam Leon?" Sungut Solane sudah menyabarkan dirinya terus sambil matanya memperhatikan sekitarnya.
"Kemana matamu? Apa yang kau cari? Kau mengkhawatirkan Lexa tapi matamu kemana mana?!" Selidik Rico yang mana ia tahu apa yang sebenarnya Solane cemaskan.
"Aku mencari Jimmy!" Jawab Solane. Hem, Rico tampak muram. Benar saja anggapannya.
"Oh, ya kau benar, kau memang harus mencarinya! Nanti aku akan membantumu! Aku tahu semua tempat ini!" Namun begitulah yang Rico katakan tetap mendukung Solane.
"Hay Tuan Rico! Sudah lama aku tidak bertemu denganmu! Minggu kemarin aku sakit Tuan jadi tidak melihat mu datang. Apa kabarmu? Kau semakin tampan saja!" Tiba tiba salah satu resepsionis yang cukup dekat dan mengagumi Rico menyapa Rico. Rico yang memang ramah langsung menoleh. Mereka berjabat tangan.
"Hey you! Ya, minggu kemarin aku juga mencarimu Sherry! Ting!" Kata Rico mengedipkan matanya. Solane melihatnya.
"Cih, sekali buaya tetap buaya! Awas kalau dia merayu rayuku!" Dengus Solane memalingkan badannya, melipat tangannya dan menunggu Lexa. Dia juga menekuk wajahnya kesal dan sedikit cemburu. Rico menoleh ke belakang dan tersenyum puas.
Sebentar lagi sampai dan dari kejauhan tampak kamar tersebut tidak tertutup rapat. Ada perasaan sedikit lega melingkupi hati Lexa. Dia mendekati kamar tersebut dengan pengawasan Rico dan Solane di belakangnya. Hati Lexa bergemuruh dan ingin lansung memberi tahu test pack tersebut. Namun, ketika dia membuka lebar pintu kamar itu. Tampak Bella dengan pakaiannya yang setengah terbuka memperlihatkan sisi sisi buah dada nya yang agak menyembul. Seketika hati Lexa panas dan sesak. Perutnya sakit dan amarah melingkupinya. Solane menepuk dahinya dan Rico benar benar tak percaya kalau majikannya sehina ini.
...
Kini Leon menahan tangan Lexa. Lexa terus berlari dan dia sejenak melupakan kandungannya. Hatinya serasa teriris. Air matanya sudah berderai bagai air terjun yang terus turun tanpa bisa dihentikan. Leon ikut berlarian sampai rasanya dia harus menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau melihat wajahmu! Lepaskan!!!" Kata Lexa memukul mukul dada Leon namun juga menghirup aroma kemeja suaminya masih dengan parfum kesukaannya. Leon tidak peduli dengan apa yang dikatakan istrinya. Dia terus mendekap Lexa di tengah tengah lorong hotel itu. Leon merasakan tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. Dia memejamkan matanya merasa kehangatan pada sisi sisi kulit Lexa. Sementara Lexa masih menangis di sana.
"Kau berbohong padaku! Kau bilang hanya aku, tapi apa yang kulihat? Ya, aku memang bukan pemilik perusahaan, aku tahu. Kau sekarang bersama dia saja, dia akan memenuhi semua kebutuhanmu tanpa kau harus bekerja. Begitu kan?" Decak Lexa sedikit berteriak dan mendorong tubuh Leon untuk melepaskan pelukannya.
Leon lalu meraih semua wajah Lexa dengan tangannya. Dia memandang istrinya. Dia sungguh merindukan Lexa. Memang sudah agak lama dia tidak berpergian seperti ini. Leon lalu menggeleng dan tanpa ia sadari air matanya terjatuh.
"Kau tidak usah meneteskan air matamu padaku! Aku tidak akan luluh, aku benar benar membencimu Leon!" Kata Lexa lagi dengan wajahnya yang nanar dan menghempaskan pegangan tangan Leon pada wajahnya. Dia lalu berbalik dan kembali berjalan cepat hendak menuju ke lift. Namun, seorang pria keluar dari kamar hotelnya. Pria itu terkejut melihat Lexa yang sontak berhenti melihat pria itu muncul tiba tiba.
"Lexa?! Kau kemari? Dan kau? Kenapa menangis? Leon? Ada apa ini?!!!!" Kata pria itu yang tak lain Dion. Kebetulan kamar nya dekat Lexa dan Leon berdebat.
"Aku pinjam kamar mu dulu, Tuan!" Pekik Leon menarik tangan Lexa masuk ke dalam kamar hotel Dion. Dion bingung dengan semua perkara ini. Dia lalu segera menghubungi Viena dan menjauh dari kamarnya.
"Aku tidak mau melakukan apa apa dan berbicara padamu!!!! AKU TIDAK MAU!!! AKU MAU KELUAR DARI SINI!" Decak Lexa menghempaskan lagi tangan suaminya yang menariknya memasuki kamar.
"Dengarkan penjelasan ku satu kali. Satu kali saja. Hanya beberapa menit setelah itu terserah apa yang mau kau lakukan!" Akhirnya Leon berkata kata dengan ketegasan dan keyakinan sambil menatap tajam Lexa. Leon menatap Lexa dengan mata lancip khasnya. Lexa terdiam dan sedikit bergidik. Dia sangat tahu kalau Leon sudah begini, suaminya benar benar akan berkata serius. Tidak! Dia tidak boleh terkecoh, dia harus memberi pelajaran pada Leon.
__ADS_1
"Penjelasan apa? Dimana aku nantinya kau suruh untuk mengerti pekerjaanmu, jabatanmu dan keuntungan, iya kan?" Saut Lexa ketus sambil mengusap air matanya.
"Tidak! Aku ingin menjalaskan dengan apa yang terjadi SEBENARNYA! Selanjutnya aku akan menuruti apa keinginan dan keputusanmu!" Kata Leon lagi sangat sangat tegas.
"Cih, sekalipun aku menyuruh mu berhenti dari pekerjaan? Apa kau sanggup hah? Tidak kan? Bullshit! Lupakan semua penjelasan yang mau kau suguhkan, aku mau pulang!" Decak Lexa menuju ke pintu kamar, namun..
"IYA! AKU MAU BERHENTI DARI PEKERJAANKU KALAU ITU BISA MEMBUATKU BERSAMAMU MERAWAT KANDUNGAN DAN ANAK KITA!!" Kata Leon sedikit berteriak dan penuh dengan keyakinan sontak membuat Lexa menghentikan langkahnya. Dia setengah menoleh.
"Lexa, dengarkan kata kataku. Seseorang yg membuatku ingin menghembuskan napasku setiap pagi. Seseorang yang membuatku ingin hidup setiap hari. Seseorang yg lebih berharga dari diriku sendiri. Seseorang itu adalah kau!
Aku tak bisa menghapusmu dari ingatanku. Meski suatu saat aku terluka karnamu aku tidak apa apa. Karna ada cinta untukmu Lexa. Hanya untukmu! Bahkan jika aku berbalik, aku ya melupakan sepertinya itu tidak akan bisa
Hatiku pasti akan terus mencarimu. Meski aku menangis karnamu, meski terluka aku akan menunggu cinta ku yang adalah dirimu. Dirimu Lexa! AKU TIDAK MAU YANG LAIN! Jadi bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak berada di depanmu, bagaimana? Kalau kau melakukan itu, ya sudah sebaiknya aku mati saja! Tidak ada gunanya aku bekerja, menghembuskan napas, melakukan kesukaan ku, tidak ada gunanya jika kau tidak ada!" Kata Leon lagi tampak menunduk menunggu respon Lexa.
...
...
...
...
...
Oohh, come on mba Lexa, maafkan lah, ini salah paham doangg .. eleehh, kalau dirimu ga balik terus meluk, yasudah relakan babang leon buat eke atau buat fans klean aja yaakk? 😝😝😁😁
.
Next part 15
Apa yang akan terjadi slanjutnya gaess?
Bagaimana keadaan Bella, Jimmy, Solane dan Rico?
.
Stay tune gaes 😍😍
.
Mohon like dan komennya 😍😍
Rate dan vote di depan profil novel jangan lupa juga hehe
Thanks for read and i love youu 💕💕
__ADS_1