
"apa belum cukup satu hari aku memberikanmu ijin, Lexa? Leon?" Sebuah suara yang tegas, tajam dan sangat dikenal oleh pasangan itu terdengar di kedua telinga mereka.
Leon lalu dengan cepat melepas pelukannya dari Lexa. Lexa juga terkesiap dan berbalik memastikan suara itu milik atasannya.
"Selamat pagi Nyonya Viena." Lexa membungkukan tubuhnya.
"Selamat pagi Nyonya, mohon maaf, saya hanya mengantar bekal makanan Lexa yang tertinggal di mobil. Dia lalu melihat Abby dan Ben juga bermesraan di sana, jadi saya hanya membuatnya juga merasakannya saja, hehe!" Leon berusaha menjelaskan sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Ya ya, aku mengerti, kalian memang harus selalu mesra seperti ini tapi harus tetap mengenal tempat. Ok?" Balas Viena agak dingin dan ketus. Dia pun menuju ke ruangannya. Leon dan Lexa saling berpandangan.
"Sepertinya tadi malam Tuan Dion tidak memberinya servis, Lexa!" Celetuk Leon agak terheran dengan atasan istrinya.
"Kau! Sudah sana ke kantor mu!" Decak Lexa menyikut pelan perut Leon yang berada di belakangnya.
"Sakit Lexa!" Sungut Leon memegang perutnya
"Biar saja! Kau dan tuan mu sama saja, mesum!" Balas Lexa meninggalkan Leon menuju ke ruangannya.
"Aku hanya membuatnya tidak merasa iri, bukannya berterima kasih dan memberiku kecupan, malah menyikutku!" Gumam Leon kesal sendiri.
"Makanya, lihat tempat, jangan semua tempat kau sambangi!" Tiba tiba Ben sudah ada di sampingnya mencibirnya sambil sedikit terkekeh .
"Ben! Sial, ini semua karnamu! Cepat kau juga keluar dari sini!" Leon memberi satu pukulan yang cukup kuat pada lengan sahabatnya itu.
Leon dan Ben pun menuju ke basement parkir mengambil mobil dan menuju ke kantor hotel mereka.
...
Honolulu.
"Lee ... Lee .. on .. Leon ..." Suara itu terdengar lagi di bibir seorang wanita yang saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit. Bukan satu kali ini saja, suster yang menjaga dan merawatnya setiap hari mendengarnya. Ini sudah kesekian kali dan dia harus memberitahu pada dokter dan juga Rico, orang yang menugaskannya merawat Bella, atasannya.
"Entahlah dokter, ini sudah yang keberapa kali. Tapi dia selalu menyebut nama Leon. Mungkin dia seseorang yang sangat berkesan di hatinya." Kata seorang suster yang merawat Bella. Dia yang selalu melaporkan kondisi Bella pada sang dokter.
"Ya, anggapanmu juga seperti anggapanku. Kau segera hubungi Tuan Rico untuk menanyakan hal ini agar kita bisa mengambil langkah yang tepat." Perintah sang dokter untuk penanganan dini.
"Baik dok!"
Sang suster segera menghubungi Rico yang kebetulan sedang ada di Honolulu. Rico segera datang juga bersama Athena, karna anak itu selalu menyebut ibunya. Sang suster menceritakan apa yang terjadi belakangan ini. Rico agak ngeri kalau kalau Bella kembali sadar yang mengingat semuanya. Hal ini bisa diketahui ketika dia sudah sadar nanti.
Athena sudah menghampiri ibunya. Gadis kecil berusia enam tahun itu memegang tangan ibunya sambil memanggil manggil nya.
"Mommy tidak bangun, paman, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa mengatakan apa yang ku butuhkan ketika aku memasuki sekolah dasar nanti?" Keluh Athena duduk menunduk di samping raga ibunya.
"Ya, mommy masih tidur sayang. Tunggu sebentar lagi nanti pasti bangun ya?" Balas Rico mengelus kepala Athene.
"Baiklah, aku akan menunggunya sampai ia terbangun, aku mau tetap di sini jangan menyuruhku pulang!" Pinta Athena sudah melipat tangannya dan sedikit menekuk wajahnya.
"Siap!" Rico tersenyum di depan wajah anak majikan yang ia sayangi seperti adiknya bahkan seperti anaknya.
Sementara itu Rico masih menerka nerka bagaimana kondisi Bella. Dia sudah bertanya pada dokter apa kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan ketika dia sadar nanti mungkin dia sudah kembali ingat dengan apa yang terjadi. Bisa juga Bella benar benar melupakan orang yang di panggil panggil itu karna terlalu membuatnya sampai seperti ini. Rico berharap Bella bisa melupakan Leon karna ini akan menjadi perkara besar lagi jika Bella kembali ke Legacy dan mengembangkan hotelnya di sana. Rico benar benar harus mencari cara agar Bella tidak lagi bisa ke Legacy. Tapi, dengan begini, dia pun juga harus di Honolulu. Hem, dia belum menikahi Solane dan Solane baru saja menandatangani kontrak model iklan lagi bersama Jovancy Advertising.
Tak berapa lama, baru saja dipikirkan, Solane menghubunginya. Sejak kemarin pertemuan dengan Leon, Rico langsung kesini dan belum menghubungi Solane.
"Kau sedang menggoda resepsionis mu ya?" Tanya Solane di seberang sana dengan ketus padahal Rico belum mengatakan halo.
"Menggoda apa? Aku di rumah sakit!" Dengus Rico tak terima.
"Oohh, kau sedang mengurusi tambang emas kita?!" Celetuk Solane yang mana dia sangat cepat kalau urusan harta harta warisan. Sebelumnya Rico sudah menceritakan pasal pasal bilamana hal hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Solane! Mengapa bicaramu begitu melulu?!" Rico agak menyesal menceritakan semua tentang Bella.
"Begitu kan? Kau bolak balik bolak balik mengurusi hotelnya dan sudah mulai melupakan menghubungiku!" Sejatinya Solane hanya kesal menunggu kekasihnya belum menghubunginya.
"Oh God! Baru saja aku turun dari pesawat dan menyalakan ponsel, Dokter yang mengurus Nyonya Bella menghubungiku. Kau tahu, katanya Nyonya Bella menyebut nyebut nama Leon dalam tidurnya!" Rico memberitahu permasalahan yang sedang terjadi.
"Oh my Gosh! Dia bangkit!" Decak Solane di seberang sana sudah menutup mulutnya.
"Sayang.. bisakah kita serius?" Pinta Rico yang mana dia tahu, Solane ingin mengait ngatikan mengenai kematian.
"Aku serius! Dia bangkit dari tidur panjangnya dan ini sangat berbahaya sir! Aku harus segera memberitahu Lexa! Kau tahu? Ini peringatan !!" Benar kan? Solane seperti menggoda kekasihnya. Dia tahu apa yang seharusnya dia lakukan.
"Jangan! Please! Kau jangan memberi tahunya. Masa kau tidak peka Solane! Dia Baru saja keguguran dan beberapa kali bertengkar dengan Leon. Aku harap setelah kejadian kemarin mereka bisa akur kembali. Kalau kau memberitahu, itu akan menjadi beban baginya. Biasakah kau diam dulu hah?" Pinta Rico dengan agak tegas.
__ADS_1
"Ya ya aku diam! Kalau aku diam, kau jangan memancingku atau menyuruhku bicara!" Sungut Solane malah kesal.
"Susah sekali bicara padamu kalau tidak di ranjang!" Rico mengeluarkan kata kata ampuhnya. Ya Solane menjadi penurut jika Rico terus menggerayanginya.
"Diam kau! Aku hanya memastikan dirimu meninggalkan ku atau tidak!" Wajah Solane seketika memerah dan tubuhnya menerima signal kata kata mesum kekasihnya.
"Tidak! Aku bahkan ingin cepat menikahimu dan membawamu ke sini, bagaimana?" Kata Rico lagi ingin sekali mulai membicarakan maksud hatinya sekarang. Tujuan hidupnya memang sekarang ingin menikahi Solane dan memiliki anak darinya. Dia mungkin bisa hidup di Honolulu juga bersama adik adiknya. Solane sudah bertemu mereka dan adik adiknya menyukai Solane karna Solane ceria dan banyak bicara yang membuat mereka tertawa.
Seketika Solane terdiam dan berpikir keras. Dia harus ke Honolulu? Di sana tempat Jimmy meninggal dan mengapa dirinya kembali mengingat menemukan Jimmy tak bernyawa bersama wanita lain? Dan mereka berpelukan! Ini sangat menyiksa! Namun, Solane juga ingin bersama Rico setiap saat. Dia memang menunggu Rico mengajaknya menikah meski bukan waktu waktu dekat ini.
"Jangan asal bicara kau!" Ya begitulah Solane sudah agak tidak mempan dengan hal hal romantis.
"Aku benar, kau mau kesini bersamaku sayang?" Rico meyakinkan dan tersenyum. Dia juga membayangkan wajah kekasihnya itu pasti sudah memerah.
"Nanti bicarakan lagi! Yasudah kalau kau baik baik saja, Jacklyn menangis dan aku harus ke kantor Lexa." Solane agak salah tingkah.
"Baiklah, pikirkan sayang, aku benar benar akan mengadakan pertunangan, pemberkatan dan resepsi pernikahan terbaik untukmu!" Tambah Rico mengenai maksud hatinya.
"Ya ya ya!" Solane sudah kehabisan kata kata.
"Solane?" Panggil Rico yang merasa kekasihnya pasti salah tingkah.
"Heemm?"
"I love you .." ucap Rico pelan dan dengan nada yang sangat merdu di dengar Solane.
Betapa kekesalan dan kesedihan yang tadinya menggunung menjadi satu seketika meletus dan tak berbentuk lagi hanya karna tiga kata itu. Solane tersenyum di seberang sana. Wajahnya tersipu.
"Me too!" Solane langsung mematikan panggilan.
Tit! Panggilan terputus pada ponsel Rico. Rico tersenyum dan menggenggam ponselnya. Dia harus segera melamar Solane yang merupakan misi penyelamatan rumah tangga sahabatnya.
...
"selamat pagi Renzy sayang!" Sapa Leon melintasi meja kerja Renzy yang seperti biasa sudah datang di depan meja komputernya. Renzy yang hendak menyalakan CPU sampai salah menekan tombol sehingga ia tersengat aliran listrik yang tidak seharusnya ia pegang.
"Aww!!" Renzy menarik tangannya karna tidak menyangka dengan perubahan Leon yang sekejap kembali seperti dulu lagi. Seperti pertama kali belum mengenal Lexa ataupun sedang berbunga bunga karna Lexa mungkin menyetujuinya pergi berkencan.
"Ada apa? Kau tidak usah terkejut begitu! Aku tetap Leon, Danteleon asisten Tuan Prime yang tampan!" Saut Leon masih menggoda Renzy pada daun pintu ruang kerjanya.
"Aku kembali mendapatkan kehidupan ku Renzy!! Bersama Tuan Putri Alexa , kita berdua terbang tinggi di awan!!" Kata Leon seperti membaca puisi.
"Berlebihan! Sekarang kau begini, besok begitu!" Dengus Renzy dengan wajah sebal nya melihat tingkah Leon yang kembali menyebalkan. Namun sebenarnya Renzy senang karna Leon tidak bersedih lagi. Betapa sungguh sepi kantor ini tanpa celotehan Leon.
"Tidak lagi! Tenang saja! Baiklah aku ada di ruangan ku, jangan di ganggu!!"
"Siapa juga yang mau menganggumu, ujung ujungnya kau yang meminta bantuan padaku!"
"Selalu Renzy ku!"
Leon pun memasuki ruang kerjanya namun sebelumnya dia memastikan ruang kerja atasannya yang sepertinya belum ada tanda tanda kehadiran. Sebaiknya dia membuatkan kopi untuk atasannya itu.
Tak berapa lama Dion muncul dengan menekuk wajahnya. Namun, dia cukup terkejut karna akhirnya Leon kembali membuatkannya kopi.
"Selamat pagi Tuan! Kau tidak pergi bersama Nyonya Viena?" Leon memberi sambutan dengan pertanyaan yang membuat Dion mengingat pertengkarannya dengan Viena pagi tadi.
"Tidak! Dia sedang kesal karna semalaman Dior menangis. Dia tidak bisa tidur. Begitu juga denganku!" Dion merajuk sambil menuju ke meja kerjanya.
"Tapi kau tetap tidur kan?" Tanya Leon menggoda.
"Jadi bagaimana? Dior ingin digendong dengan Viena. Aku tidur!" Jawab Dion seenaknya.
"Pantas saja Nyonya Viena tampak garang tadi." Kata Leon memberitahu kejadian pagi tadi di kantor Lexa.
"Apa yang kalian perbuat?" Tanya Dion melirik tajam Leon.
"Aku dan Ben bermesraan dengan pasangan kami masing masing dan dia muncul di belakang kami. Tapi dia memarahiku dan Lexa saja." Keluh Leon sambil memberitahu yang sebenarnya terjadi.
"Argh! Sepertinya dia sedang datang bulan! Setelah Dior diambil oleh mam ku, dia memarahiku karna tidak mau bergantian menjaga Dior. Kupingku pengang! Mau kucium saja tidak mau!" Sungut Dion memegang pelipis nya.
"Kau selalu berpikir mesum, jadi dia tidak mau!" Decak Leon sedikit terkikik.
"Diam kau! Sudah sekarang kau harus memikirkan konsep iklan Motel Prime. Harus jadi dua hari ini atau Viena tidak mau membuatkannya. Dia sedang banyak proyek iklan!" Perintah Dion namun Leon malah menyautnya dengan sekenanya.
__ADS_1
"Kita gunakan perusahaan iklan lain Tuan. Kau ini repot sekali!"
Hal ini malah membuat Dion naik pitam pada asistennya yang sudah kembali seperti semula. Banyak omong dan seenaknya.
"JADI BOS NYA AKU ATAU KAU?!" Tiba tiba Dion meledak. Dia merasa ada bagusnya kalau Leon menjadi pendiam jadi tidak banyak memberikan saran.
Leon sangat terkejut dengan teriakan Dion. Dia lalu diam dan menundukan kepalanya.
"Kau ini mau membuat Viena memecatku jadi suami? Apa jadinya kalau istrinya memiliki perusahaan iklan tapi aku menggunakan perusahaan iklan lain?! Jawab Leon!" Dion tampak geram.
"Ya mungkin Dior akan di bawa pindah ke Honolulu Tuan!" Leon kembali menjawab sekenanya namun cukup rasional.
"Pergi! Pergi! Cepat kau buat konsep itu atau suruh Manuel yang menjadi asistenku!" Bentak Dion menimpuk kepala Leon dengan pena.
"I, i, iya Tuan! Permisi!" Leon keluar dari ruangan bos nya sambil memegang kepalanya.
"Haiz, dua dua nya tidak jelas. Nyonya Viena juga tampak dingin. Sepertinya memang sedang ada pertengkaran sengit. Sudahlah! Saat nya bekerja! Kualitas Manuel memang tidak bisa diragukan. Dia bisa dengan mudah mempelajari apa yang kuberitahu. Ini bisa bahaya kalau benar Tuan Dion menggantikan ku dengannya. Sebaiknya aku segera memikirkan konse iklan itu." Leon berceloteh sambil berjalan ke arah mejanya.
Leon segera menyalakan komputer minimalisnya dan mencari cari inspirasi. Namun, ketika dia melihat artikel sebuah makanan, dia malah tertarik membacanya. Artikel itu membahas makanan khas dari Japanis yaitu Nasi Kare. Leon jadi mengingat Lexa yang suka sekali kare pedas. Dia jadi ingin mencoba membuatnya. Waktu itu ibunya juga pernah mengajarinya dan sepertinya ini sangat menarik untuk keharmonisan dirinya dengan Lexa. Dia juga berharap agar Lexa tidak terlarut dalam kesedihannya lagi dengan semua yang ia lakukan pada istrinya itu.
Menjelang makan siang, Leon masih berkutat di depan komputernya. Dion juga masih di ruangannya. Banyak laporan pemasukan dan pengeluaran yang harus ia teliti sehingga bisa ia bincangkang pada rapat bulanan.
"Leon! Kau tidak makan siang? Aku tidak bawa bekal!" Tanya Renzy yang ingin mengajak Leon makan siang. Sherry sudah lebih dulu makan siang bersama ayahnya, Manuel.
"Kau saja sana, aku sibuk!" Balas Leon masih sibuk memilih milih bahan makanan.
"Sibuk apa?" Tanya Renzy mengernyitkan dahinya.
"Belajar membuat kare, aku sedang memesan bahan bahan nya!" Jawab Leon tanpa mengalihkan pandangannya pada layar komputer.
"Hemp! Konsep iklan sudah selesai? Baru saja Tuan Dion bertanya padaku!" Tutur Renzy berbohong. Dia ingin mengetahui respon Leon.
"Oh Lord! Belum Renzy! Okok sebentar lagi aku akan mengerjakannya!" Leon sedikit terkesiap.
Namun, baru saja ia mengeluarkan aplikasi pesan antar pada komputernya, perutnya sudah keroncongan. Dia pun ke ruangan tuannya hendak menanyakan makanan apa yang diinginkan nya. Tapi sepertinya Dion tertidur di sofa. Leon menghela napas dan membelikan makanan kesukaannya saja.
"Ayo Renzy! Tuan Dion tampak lelah. Dia bersih tegang dengan Nyonya Viena karna Dior terus menangis semalaman. " Kata Leon mengajak Renzy yang memang masih menunggunya.
"Ya begitulah mempunya anak Leon! Kau nikmatilah dulu berdua dengan Lexa. Tidak usah terlalu terburu buru." Saut Renzy mengerti keadaan Tuannya karna dia juga merasakan ketika awal awal memiliki Renata.
"Ya, aku mengerti!" Balas Leon menundukan kepalanya. Seharusnya dia tidak menggoda tuannya tadi.
Leon pun menangkap sisi positif dari semua ini. Benar kata Renzy, dia tidak perlu cemas atau terlalu memikirkannya. Dia memang harus selalu menikmati masa masa berdua ini dengan tenang dan penuh keceriaan dulu dengan Lexa.
...
...
...
...
...
Sampe sini dulu gaes bersambung yak hehe 😁😁
.
Next part 36
Apa Leon berhasil membuat kare terenak untuk Lexa dan apa respon istrinya itu?
Bagaimana keadaan Bella ketika benar benar terbangun dari tidurnya?
Apa Solane akan menyetujui keputusan Rico?
.
Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟
Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍
.
__ADS_1
Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕