
"Beres!! Tuan Dion sudah aman. Untuk sementara dia tidak akan mengangguku selama bersama Nyonya Viena, ketimbang bersama Nyonya Pevi. Dia selalu menghubungiku. Menyusahkan!! Dan, Ternyata Nyonya Viena tidak memarahiku, ya memang Nyonya Jovanca itu yang terbaik. Kalau tidak, mana mungkin aku menyukai asistennya. Si kelinci rabies, hihi, kalau marah manakutkan!!" Gumam Leon cekikikan di depan apartemen Viena. Leon sudah mengantarkan tuannya ke tempat mantannya.
Hari minggunya akan aman sampai malam ini, dan sepertinya sampai besok, karna kalau tuannya itu bersama Viena, Dion jarang meminta macam macam padanya. Sekarang, dia harus mengurus wanitanya yang saat ini pasti sedang merajuk atau sedang melakukan hal tidak jelas karna kesal dengan pesan Leon.
Leon sudah menghubunginya namun tidak ada jawaban. Akhirnya ketika malam mulai muncul, Leon menuju rumah Lexa. Leon sudah menggedor pintu flat Lexa ataupun bel flat nya namun jawabannya tetap sama:
"Pergi! Aku tidak menerima tamu!" Teriak Lexa menyuruh Leon pulang.
"Lexa, aku tidak sengaja. Sebegitunya kau marah hanya karna pesan itu!!" Decak Leon membela diri.
"Ya, kau tidak pernah salah. Kau selalu benar. Ya sudah, untuk apa kau kemari? Aku tidak menerima tamu!!" Kata Lexa lagi dari dalam.
"Kau kekanak kanakan sekali, kita sudah sering berciuman, masa aku hanya memberi pesan seperti itu kau marah! Cepat bukan pintunya!" Leon terus berusaha sambil mengetuk pintu flat Lexa.
"Hah! Dalam keadaan salah pun kau masih mengataiku! Sudah kau pergi saja, sudah kubilang kan jangan menghubungi aku dulu!"
"Baiklah baiklah, kalau kau tidak mengijinkan aku masuk!" Akhirnya Leon mengalah namun tidak semudah itu kelinci itu terbebas dari jeratan mudang cerdik seperti Leon. Leon memiliki seribu cara untuk bertemu dengan Lexa. Leon lalu menyeringai. Sesaat dia berdehem.
"Aku terpaksa akan mengatakan hal ini pada Nyonya Viena. Kalau Lexa, asistennya tidak mau menerima berkas penting darinya. Tadi aku mengantar Tuan Dion ke apartemennya, lalu dia meminta tolong padaku untuk memberikan berkas penting ini padamu. Ya, tapi kurasa kau tidak membutuhkan pekerjaan ini lagi ya. Aku akan membantumu mengatakannya pada nyonya mu. Aku baik kan. Aku permisi ya.. bye.." kata Leon lagi kemudian.
Lalu dia menunggu di samping pintu flat Lexa dan menghitung 1, 2,
"Leon, apa yang Nyonya Viena berikan padaku?"
Belum sampai hitungan ke Tiga Leon yang pelan, Lexa sudah membuka pintunya. Dengan cepat Leon lalu menyeruak masuk ke dalam flat Lexa melalui samping Lexa yang bercelah.
"Yes! I did it! Aku memang pria yang smart dan charming!!" Gumam Leon yang sudah menduduki sofa Lexa dan menyandarkan punggungnya.
Sementara Lexa yang merasa dikerjai tetap diam di daun pintu. Aura aura kemarahan di tambah dinginnya malam melingkupinya.
"Leon, aku sedang tidak ingin berdebat. Sebaiknya kau pergi dari sini!" Kata Lexa pelan.
"Siapa yang mau mengajakmu berdebat? Aku hanya ingin bermain. Kemarin kan kau juga yang mengajakku bermain ke flatmu. Ini aku sedang main. Cepat masakan aku sesuatu. Aku lapar!!" Perintah Leon sedikit seenaknya.
"LEOOONNNN!!!! KAU MENYEBALKAN!!!!" Akhirnya Lexa hanya berteriak dan menuju ke dapur.
Leon merasa terkejut. Tidak biasanya Lexa semarah ini. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi.
"Aku sangat yakin, dia belum memakan wortelnya. Biasanya akhir minggu begini banyak diskon sayur mayur. Aku akan mengajaknya supaya dia tidak marah lagi, hihi!!" Leon cekikikan.
Sekitar sudah tiga puluh menitan setelah Leon sesaat tertidur menunggu Lexa memasak, ia terbangun. Tidak ada suara Lexa maupun ribut ribut di dapur. Dia lalu hendak ke dapur namun tertahan ketika melewati kamar Lexa. Tampak Lexa sedang duduk di sisi kasur dan menunduk, ketika Leon perlahan menghampiri, Lexa sedang terisak menangis.
"Lexa?" Panggil Leon. Lexa terkesiap dan langsung menghapus air matanya.
"Ah Leon? Kau sudah bangun. Ayo makan, aku sudah memasak untukmu." Kata Lexa beranjak dari duduknya dan hendak keluar kamar namun Leon menahannya.
"Kau kenapa?" Tanya Leon pelan.
Lexa tidak menoleh. Dia hanya menghapus air matanya lagi. Akhirnya Leon berinisiatif menariknya dan masuk dalam pelukannya.
"Ada apa?!" Tanya Leon lagi. Lexa menggeleng. Leon mendongakan kepalanya dengan memegang dagunya.
"Kau kenapa? Ceritakan!" Leon menatap mata Lexa yang berkaca kaca.
"Aku merindukan ibuku. Hari ini sudah berapa tahun lamanya dia meninggalkanku Leon." Kata Lexa dan air matanya menderai.
__ADS_1
Seketika hati Leon ikut meringis merasakan kesedihan wanita kesayangannya. Leon lalu mengelus punggung Lexa. Dia juga membelai pipi Lexa untuk menghapus air matanya.
"Kau ingin menangis?" Tanya Leon lirih. Lexa mengangguk. Leon lalu menarik tubuh Lexa lagi lebih dekat agar dapat memeluknya.
"Menangislah!" Kata Leon lagi pelan dan pecahlah tangisan Lexa. Leon terus mengelus punggung Lexa. Dia lalu berjalan mundur sesaat ke sisi tempat tidur dan duduk di sana. Dia memangku Lexa dan Lexa menyandarkan kepalanya di dada Leon. Sampai Lexa sudah merasa puas, diamlah dia walau masih sesenggukan.
"Sudah?" Tanya Leon singkat. Lexa mengangguk masih berusaha menghapus seluruh air matanya.
"Hem, dimana makam ibumu, Lexa?" Tanya Leon lagi.
"Mereka membakarnya, karna aku takut tidak bisa mengurus pemakamannya." Jawab Lexa masih sesenggukan.
"Hemm, kalau kau membakarnya kau membuang abunya kemana?" Tanya Leon kemudian.
"Laut."
"Baiklah, besok kita ke laut lagi dan kita akan menyebar bunga di sana. Setauku kalau kita membakar jenasah seseorang dan abunya disebarkan di laut, abunya akan menyebar ke segala penjuru air. Jadi kau tenang saja. Besok kuantar. Oke?" Leon mencoba menghibur Lexa dan terus mengelus punggungnya. Lexa mengangguk lalu mendongakan kepalanya. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke bibir Leon dan mengecup bibir Leon untuk pertama kalinya, Lexa yang berinisiatif.
Leon tidak melewati kesempatan ini. Dia lalu merengkuh wajah Lexa dan ikut menciumnya. Mereka berciuman layaknya kekasih. Lexa memasukan tangannya ke jas Leon dan mencengkram pinggang Leon erat erat.
Lalu tanpa sadar tangan Leon sudah berada di pinggang Lexa, mendorongnya sesaat dan membuat Lexa berhadapan dengannya sehingga kedua kakinya sudah terbuka lebar di atas paha Leon. Leon masih memangkunya. Leon lalu mengelus paha Lexa yang kebetulan hanya mengenakan hotpants namun hanya di atas lutut.
Ciuman Leon kini berpindah menciumi dan menyinggahi leher Lexa dengan lidahnya. Lexa melenguh dan dia mencengkram rambut Leon. Namun, ketika Leon merasa sesuatu yang sangat sedak di bawah sana, perutnya ikut sesak meronta karna lapar. Lexa yang menyadari getaran dari perut Leon membelalakan matanya. Dia lalu tersenyum dan mengelus rambut Leon.
"Leon, kau lapar! Dan lagi pula, kau hendak berbuat apa hah?!" Kata Lexa lalu menarik dirinya. Masih dalam pangkuan Leon. Dia memegang kedua lengan Leon dan menatapnya tajam.
"Sampai kita belum menikah, aku tidak mau melakukannya! Musang mesum!!!!!" Decak Lexa tajam dan menarik dirinya dari pangkuan Leon keluar kamarnya menuju meja makan.
"Cih! Begitulah kalau kelinci sudah menjadi seekor soang. Menyosor tanpa tahu tujuan. Dia yang lebih dahulu jadi aku yang dikatai! Untung cinta, kalau tidak sudah kuhempaskan!" Gumam Leon yang agak terdengar keluar.
"Tidak Lexa, aku sangat lapar hendak menghabisi masakanmu.." jawab Leon ditengah kekesalannya.
"Ya, cepatlah kemari musang manjaku.." balas Lexa lagi yang membuat Leon menekuk wajahnya.
...
Keesokannya Leon menjemput Lexa untuk pergi ke laut pesiar yang biasa Leon datangi bersama Lexa. Ketika sampai di pintu flat Lexa, Dion menghubunginya, menyuruhnya membawakan salinan baju untuknya.
"Alamak! Mengapa baru sekarang memintanya? Dia pasti tidak meminta pada calon istrinya, benar benar kau Tuan Dion!! Menyusahkann!!!" Decak Leon membaca pesan dari tuannya dan bersamaan dengan itu Lexa keluar dari flatnya.
"Ada apa? Mengapa wajahnya cemberut seperti itu?" Tanya Lexa yang melihat wajah Leon tertekuk bagai pakaian kusam.
"Kita ke apartemen nyonyamu dulu ya Lexa? Aku harus membawakan salinan untuk Tuan Dion."
"Kau benar Leon, Tuan Dion ke apartemen Nyonya Viena? Dan apa? Salinan? Jadi benar mereka melakukannya lagi? Setelah Tuanmu memarahi habis habisan Nyonyaku? Benar benar tidak tahu malu!!!!" Lexa terperangah mendengar perkataan Leon. Dia jadi merasa iba dengan majikannya yang entahlah, benar benar mencintai tuannya Leon itu atau benar benar baik atau agak bodoh? Pikirnya.
"Begitulah cinta Lexa. Kau mau apa kalau nyonya mu akhirnya mau menerima tuanku? Bukankah kau juga ingin nyonyamu bersama tuanku?" Kata Leon di depan wajah Lexa dengan sedikit menunduk karna tinggi Lexa hanya sedagu Leon.
"Ya ya, itu toleransi. Tapi kalau aku, aku tidak akan mau. Lebih baik kau bersama Solane saja, aku tidak peduli Leon!
"Berarti kau menganggap ku serius ya? Ayolah Lexa, nyatakan perasaanmu padaku. Aku akan menjawab yes i do. Ayolaaahhh..." Leon merajuk menggoda Lexa dengan senyum khasnya.
"Tidak waras! Seharusnya kau yang mengatakan! Dasar musang tengik, kalau sudah mau jam makan siang ya begini, otakknya suka menyempit seperti kubik!" Decak Lexa melangkahkan kakinya ke mobil Leon setelah mengunci flatnya, sementara Leon hanya terkekeh menyusul Lexa.
Setelah mengantar salinan Dion ke apartemen Viena, Leon lalu mengantar Lexa ke laut yang sering ia kunjungi. Leon sudah bertanya tanya dengan petugas pantai, di mana dia dan Lexa bisa menyebar bunga untuk mengenang seorang alamrhum. Sang petugas lalu menunjukan ke sebuah tebing pinggir laut dan di sana juga sering orang orang menebar bunga untuk mengenang orang sudah meninggal.
__ADS_1
Leon menggandeng tangan Lexa menuju tebing pinggir laut tersebut. Lexa sudah membawa satu keranjang bunga untuk di sebar mengenang mendiang ibunya. Ketika mereka berdua sampai ke tebing, mereka malihat seorang pria paruh baya tiba tiba terjatuh dan berguling ke arah mereka. Leon sangat terkejut dan dengan sigap menahan pria tersebut. Pria tersebut tampak pucat.
"Tuan, Tuan!!" Panggil Leon menampar kecil pria tersebut. Lexa juga panik.
"Bagaimana ini Leon? Siapa pria tua ini?!" Lexa bertanya tanya namun ada siratan hati Lexa yang begitu mengena ketika melihat pria paruh baya tersebut.
"Aku akan membawanya ke bawah, kau sebarkan saja dulu bunga itu ya?" Perintah Leon cekatan.
"Kau bisa Leon?"
"Ditambah kau kugendong di belakang, juga aku bisa! Sudah kau urus dulu ibumu. Kabari aku kalau sudah selesai ya?" Kata Leon lagi. Lexa lalu berdiri dan mengangguk.
Dia terus melihat Leon lebih dulu menggendong pria paruh baya itu sampai menghilang. Ada sebuah getaran dalam hatinya, padahal dia baru melihat pria tua itu.
...
...
...
Jeng jeng jeng
Leon pasti ganteng banget deh pas gendong laki laki tua itu 😝😝😎😎
.
Next part 45
Siapa pria tua itu yaaa?
Apakah apakah?
.
Eh eh GIVEAWAY TIME jangan dianggurin dong ikutan yuk.. jawab aja sesuai hati ga usah teori bangeett masih kaku aja sama vii haha 😍😍
.
Jangan lupa reader tercintaku kasih dukungannya untuk LeLe inii kasih LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, TIP dan di SHARE novel ini juga boleh 😁😁
.
Btw Novel aku resmi menjadi Series ya, Lexa Leon ini merupakan seri novel aku yang kedua dari novel #MantanTerindahSeries..
Seri yang pertama Mantan Terindah menceritakan tentang majikan Leon Lexa (Viena dan Dion)
Seri yang kedua Assistant Love Assistant
Seri yang ketiga Satu Satunya yang Kuinginkan menceritakan tentang ayah angkatnya Lexa dan kakaknya Viena (Egnor dan Claudia)
Bagi yang penasaran silahkan klik fotoku aja terus ke karya ya 😍
.
Terimakasihhh I LOVE YOUU 💕💕
__ADS_1