Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 54. Thinking 'Bout You


__ADS_3

Ketika sudah memantapkan pada satu hati, masalah yang timbul menjadi seakan akan tidak ada. Ketika sudah memulai merasakan cinta satu sama lain, biasanya akan sulit untuk mengakhirinya. semakin menjauh malah semakin sulit melupakan. walau apapun yang terjadi malahan ingin selalu bersama sama dan cepat cepat bertemu. dan tanpa disadari mereka saling mencari satu sama lain. saling memikirkan dan merindukan. Carolyn merasa bodoh dengan apa yang Xelino lakukan padanya. sementara Xelino terjebak sendiri dengan keraguan yang ia bangun. keraguan yang menjadi tombak kehancuran pada hubungan dan kenangan yang sudah ia bangun tinggi. Xelino merasa Carolyn terus ada di dalam hatinya dan tidak bisa terlepas. sementara Carolyn terus memikirkan bahkan mencintai Xelino sekalipun dia benar benar seorang asisten yang tinggal di desa dan bukan kenyataan yang baru saja ia ketahui. lalu, apa yang terjadi pada mereka selanjutnya? apakah mereka akan bersatu?


...


Akhirnya, setelah Carolyn agak tenang, mereka berdua keluar dari galery itu. Gladys harus pulang karena ibunya sudah kembali dan menanyakan dirinya. Gladys pulang bersama resepsionisnya sementara Carolyn masih terdiam di dalam mobil. Dia masih tidak habis pikir dengan perilaku Xelino yang merahasiakan identitasnya.


Carolyn memegang iPad nya, dia membuka gambar dirinya bersama Xelino. Carolyn tidak bisa membendung sakit hatinya. Dia akhirnya menangis membasahi foto dirinya bersama Xelino.


"Mengapa kau melakukan ini padaku, Xelino? Apa salahku? Kukira hanya kau yang baik padaku tapi ternyata sama saja. Semua orang menipuku! Ansel, Casey dan sekarang kau, semua menipuku! Kau jahat Xelino, kau jahat!!!! Aku kecewa! Mengapa kau begitu padaku? Apa salahku? Apa salah keluargaku dan apa salah perusahaan ayahku sementara kau bisa dengan mudah memiliki perusahaan sendiri, mengapa harus bekerja di perusahaan ayahku dan bertindak baik? Kau menyembunyikan nya dengan sangat baik sampai kau menyuruh ibumu sendiri untuk berbohong. Hem, apa kalian sedang mengujiku? Karena dulu aku begitu arogan dan sombong? Apa maksudmu Xelino, apa? Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintaimu dengan tulus! Sekarang kau begini? Kau benar benar Xelino! Bagaimana kalau Daddy ku tahu? Argh! Xelino , i hate you!!!" Tutur Carolyn dengan tangis yang terisak.


Hatinya sesak dan penuh pertanyaan. Semua kenyataan ini sebenarnya menguntungkan baginya tapi tetap menyakitkan. Carolyn hanya membutuhkan alasan dari semua itu.


Kepala Carolyn pening. Dia membutuhkan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Sudah lama sekali dia tidak ke bar. Sekali sekali tidak apa pikirnya. Dia pun menghubungi teman kuliah nya dulu yang sering mengajaknya ke bar.


"Hay Carolyn! Aku ada di Avenue Bar. Kau kemari saja. Aku bersama Kezia," kata Marine ketika Carolyn bertanya di mana keberadaan temanny itu.


"Baiklah, aku akan kesana, tunggu aku Marine!" pinta Carolyn sudah tidak tahu keman arah dia pergi. pulang pun masih tak enggan.


"Oke!" saut Marine di seberang sana.


Carolyn pun menuju ke Avenue Bar. Sesampainya di sana dia langsung menemui Kezia dan Marine. Mereka juga seorang arsitek. Namun, Kezia freelance melalui online sedangkan Marine memiliki kantor designnya sendiri di pinggir kota Springfield.


Carolyn menghabiskan waktu nya di sana. Carolyn menikmati wine itu perlahan lahan. Dia tidak boleh sampai mabuk. Dia juga sambil berbincang dengan Kezia dan Marine.


"Carolyn, bukankah kau sudah mempunyai kekasih? Mengapa kau tidak bersamanya? Di mana dia?" tanya Marine mengingat postingan Carolyn beberapa bulan lalu.


"Kakeknya meninggal!" jawab Carolyn menyesap wine dengan perlahan.


"Hem, jadi pria yang kau bilang fox itu benar kekasihmu? Bukankah dia bodyguardmu pengganti Lucas?" tanya Marine lagi.


"Bukan! Dia anak Danteleon Janson!" celetuk Carolyn memberitahu hal yang sebenarnya seperti tidak terjadi apa apa.


"Haiz, kau serius Carolyn?" pekik Kezia yang sejak tadi mendengar menjadi ingin tahu.


"Hem, jangan jangan dia hanya mau mempermainkanmu, setelah dia membuatmu jatuh cinta padany, dia akan meninggalkanmu," saut Marine merasa curiga.


"Kalau menurutku, dia sedang mengujimu Carolyn. Kau menerima pria biasa biasa saja atau tidak?" saut Kezia.


"Sudahlah, apapun alasannya, aku kecewa padanya!" balas Carolyn kembali menyesap wine.


"Ya, aku paham! Em, apa dia sudah tahu kalau dia menipumu?" selidik Kezia mencoba menjadi sahabat yang baik.


"Semoga aku tidak lagi bertemu dengannya!" kata Carolyn acuh.

__ADS_1


"Hem, hati hati Carolyn, kalau menurutku lebih baik kau tanyakan dulu apa maksud dia berbuat itu padamu," kata Kezia lagi menyarankan.


Carolyn terdiam. Sampai teman temannya saja yang lama tidak bertemu menyarankan untuk mendengar dulu penjelasan Xelino. Carolyn jadi bingung. Dia menarik napas dan beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Marine.


"Ke toilet sebentar!"


Carolyn menuju ke toilet. Di sana dia menangis lagi. Dia hendak menghubungi Xelino tapi agak ragu. Namun, ketika dia keluar toilet dia akhirnya menghubungi Xelino agar cepat pulang dan menyelesaikan masalah ini.


Satu panggilan, dua panggilan, tiga panggilan tidak terjawab dan ketika empat panggilan, akhirnya Xelino menjawab. Namun, baru saja Carolyn memanggil nama Xelino, sebuah tangan malah menutup daerah hidung sampai mulutnya dengan sapu tangan yang terdapat obat bius. Carolyn pun tak sadarkan diri di tangan orang tersebut. Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan membawa Carolyn.


"Carolyn? Ada apa? Carolyn? Carolyn? Mengapa kau diam?" Tanya Xelino masih dalam panggilan karena ponsel Carolyn terjatuh dari tangannya.


...


Xelino menoleh ke belakang merasa kepanikan dari nada suara Grizel yang mengangkat panggilan telepon dari ponselnya. Mereka masih di mobil menuju ke kota. James dan Grizel menunggui Xelino untuk kembali ke kota bersama. Hari ketujuh, Xelino akan kembali lagi kemari.


"Grizel kau kenapa? Apa itu Carolyn?" tanya Xelino yang bingung tidak bisa menghubungi Carolyn lagi sejak tadi.


"Carolyn belum pulang ke rumah Xeli oppa. Ini sudah hampir jam 12 malam. Kata temannya yang menghubungi tuan Gilbert, dia memang ke bar bersama tapi ketika Carolyn ijin ke toilet, dia tidak kembali lagi. Temannya menemukan ponselnya jatuh di lantai. Apa terjadi sesuatu padanya?" gumam Grizel memberitahu dengan wajah yang cukup panik.


"Apa? Kau serius Grizel?" Xelino berbalik menatap Grizel.


"Sial! James, biar aku yang bawa mobilnya!" pinta Xelino juga ikut panik.


"Aku saja! Kau sedang panik begini!" James menolak.


"Apa yang terjadi padamu Carolyn!" gumam Xelino berpikir dan terus berpikir.


"Bagaimana ini Xeli oppa?" Grizel makin tak karuan.


"James, langsung ke bar yang dikunjungi Carolyn! Grizel, di mana bar nya?" tanya Xelino mulai bertindak saat itu juga.


"Avenue Bar,"


"Cepat sedikit James!" Kata Xelino sudah sangat panik.


'Mengapa dia ke bar? Tidak biasanya! Mengapa aku jadi berpikir Ansel yang membawanya? Siaalll!!!' pikir Xelino dalam hati. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Allegra.


"Kak? Kau sudah tiba?" tanya Allegra di seberang sana.


"Hubungi Erina! Tanyakan padanya! Di mana tempat yang sering dikunjungi Ansel atau di mana tempat tempat yang biasa Ansel gunakan untuk berkumpul. Atau tanyakan tempat yang mencurigakan yang hanya mereka yang tahu!" perintah Xelino dengan cepat dan lugas. Kepanikan dan jantungnya berdebar tak karuan. dia yakin pasti terjadi sesuatu pada Carolyn.

__ADS_1


"Sekarang kak?"


"Sekarang Allegra, ini penting cepaatt!!!" pekik Xelino dengan kekhawatiran nya.


"Oke oke kak, sebentar!"


Panggilan dimatikan . Allegra langsung mengerjakan apa yang diperintahkan kakaknya.


Satu jam kemudian, ketika James sudah tiba di perbatasan desa dan kota. Allegra memberi pesan.


ALLEGRA


Ada dua tempat yang biasa Ansel tempati untuk pesta pesta kecil, yang pertama di motel dekat perbatasan kota dan desa Sinai. Dan yang kedua di sebuah rumah di perumahan real estate Ludwina nomor 118.


"James, ke perbatasan kota dan Sinai, sekarang!!!!" perintah Xelino dengan cepat.


"Kau yakin Xelino?"


"Yakin!"


Kini, Xelino menghubungi ayahnya.


"Ada apa denganmu nak? Ada yang bisa papi bantu? Kata Allegra kau terdengar panik?" tanya Leon mengangkat panggilan. mereka semua memang masih berada di rumah Jane.


"Pap, tolong, suruh anak buah kepala polisi Felix memeriksa rumah di perumahan real estate Ludwina nomor 118. Aku curiga ada yang menculik Carolyn dan di bawa ke sana," pinta Xelino akhirnya meminta bantuan pada ayah nya.


"Kau yakin nak?" Leon memastikan.


"Yakin pap, aku mohon pap!" pinta Xelino lagi dan lagi.


"Oke oke, aku akan menyuruh mereka, kau tenang saja! Kau hati hati jangan gegabah!" pesan Leon merasakan kepanikan anak satu satunya itu.


"Yes Pap, thankyou," ucap Xelino dan mematikan panggilan.


...


to be continued 😁


next part 55


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2