
Lexa telah selesai mengisi biodata dirinya untuk dapat mengirimkan hasil transfusi darahnya ke Springfield. Dia juga sudah mengurus adminitrasinya. Kini Lexa menunggu Leon di restoran yang terdapat di rumah sakit. Dia agak lapar. Entah mengapa dirinya menjadi sering lapar dan agak lelah. Dia pun memesan makanan kesukaannya seperti chilli dog dan kentang goreng.
Lexa melirik jam tangannya, mengapa Leon belum juga sampai menjemputnya. Dia sudah memberi pesan kalau dia menunggunya di restoran dalam rumah sakit. Lexa menyantap makanannya sambil melihat lihat ponselnya dan sesekali melihat ke arah pintu masuk rumah sakit. Belum ada tanda tanda kedatangan Leon. Dia pun hendak menghubungi namun dia takut kalau Leon sedang dijalan dan mengemudi. Lexa tidak boleh menganggunya.
Tak lama muncul sebuah pesan. Sepertinya nomor Rico karna pesannya mengarah pada apa yang sudah mereka lakukan bersama siang ini.
π+838379399***
Lexa, apa kau sudah dijemput suamimu? Aku tidak menjadi menjemput Nyonya Bella karna dia sudah ke hotel lebih dulu. Em, kau jangan lupa menambah asupan tubuhmu karna transfusi darah tadi karna kata suster kondisimu agak lemah. Entahlah mengapa. Oke? Supaya besok kau tidak sakit dan kita bisa pengesahan kerja sama kita. Nyonya Bella sudah menanyakan kapan bisa selesai.
πLEXA
yayayaa kau bawel sekali speerti perempuan! Aku masih di rumah sakit, suamiku belum menjemput! Sudah kau tenang saja. Aku ini wanita kuat!!
π+838379399***
Ya aku tahu karna itu aku menyukaimu. Eh fans! Haha !! Kau save nomor ku ya? RICO
Begitu balasan Rico dan Lexa malah menekuk bibirnya agak sebal karna kecentilan pria itu. Lexa malah tidak menyimpan nomornya karna sudah terlanjur sebal. Dia juga menjadi tidak selera karna Leon benar benar lama sekali. Lexa sudah menghabiskan semua makanannya juga sampai minumnya.
"Kemana musang sialan itu?!! Kalau memang tidak bisa, untuk apa mengatakan akan menjemputku?!! Sampai ice lychee tea berukuran big size ini sudah habis! Aku benci sekali menunggu!" Decak Lexa merutuki suaminya.
Akhirnya Lexa menghubunginya. Dia sangat terpaksa karna dia merasa Leon seperti tidak akan jadi menjemputnya. Tak berapa lama panggilan tersambung dan seorang wanita yang mengangkatnya.
"Halo."
"Siapa ini?!" Tanya Lexa yang sangat tahu kalau itu suara wanita.
"Cari Leon ya?" Wanita itu malah bertanya kembali membuat Lexa semakin penuh amarah.
"Jelas! Ini ponsel suamiku! Dimana dia?! Kenapa kau? Wanita yang mengangkatnya?" Selidik Lexa mengintrogasi.
"Ah iya, dia sedang ke toilet, ponselnya tertinggal bersamaku!" Kata wanita itu santai.
"Tertinggal? Kau siapa?" Lexa semakin menjadi jadi.
"Kau ingin aku siapa?" Wanita itu kembali bertanya dan membuat Lexa geram bercampur sedih.
Jantung Lexa dua kali lipat berdetak kencang dan sangat menyakitkan. Dia tidak sanggup dan mematikan panggilan. Lexa benar benar kalut. Mengapa ponsel Leon ada pada wanita? Tidak! Leon tidak mungkin menyelingkuhinya!
"Awas saja kau Leon! Itu pasti koleganya. Kudengar koleganya wanita. Iya. Mungkin wanita itu ingin mengerjaiku! Ah sialan! Dia pasti menyukai Leon! Argh musang! Sudahlah, aku pulang sendiri saja! MENYEBALKAN KAU LEON!" decak Lexa dan matanya agak berkaca kaca. Sampai hati kalau Leon sampai menyelingkuhinya.
...
Leon memarkirkan mobil nya di basement rumah sakit dan berlari menuju ke resto dalam rumah sakit. Dia benar benar sudah terlambat. Lexa pasti menunggunya lama pikirnya. Sesampainya di sama tidak ada siapapun. Tidak ada batang hidung istrinya. Ah! Leon menepuk dahinya dan meraih ponselnya. Dia hendak menghubungi Lexa dan melihat pada panggilan ponselnya kalau ternyata Lexa telah menghubunginya.
Leon segera menghubunginya, menanyakan keberadaan istirnya itu namun tak ada jawaban. Dia mencoba lagi bahkan ponsel Lexa tak aktif. Dia lalu menghubungi kantor Lexa dan Lucy mengatakan kalau Lexa tidak lagi kembali ke kantor.
"Katanya dia mau pulang saja, tubuhnya mendadak tidak enak, Leon." Kata Lucy di sebrang sana.
Leon mengusap dahinya frustasi! Dia benar sudah melakukan kesalahan. Lexa pasti sangat marah padanya.
"Oke baiklah Lucy, terimakasih!"
"Sama sama Leon, kau harus lebih memperhatikan dia. Akhir akhir ini aku melihatnya sangat pucat."
"Benar Lucy! Bye!"
"Bye!"
Leon segera kembali ke mobilnya untuk langsung pulang ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen, Leon merasa apartemennya agak sepi seperti tidak ada orang. Namun kenyataannya Lexa sedang tertidur di sofa besar itu. Dia tertidur telentang sambil menautkan tangannya. Leon tersenyum hangat melihatnya. Dia lalu menghampirinya dan memeganh dahi istrinya itu. Agak hangat. Dia suangguh menyesal karna hari ini benar benar tidak ada untuk istrinya ini. Dia jadi mengingat sepenggal cerita Bella yang sempat wanita itu utarakan tadi. Betapa dia merasa kesepian. Namun, bukannya Leon merasa iba dengan Bella, melainkan dia jadi benar benar ingin bersama Lexa selalu. Agar Lexa tidak merasa kesepian seperti hari ini.
Leon lalu tidak mau menganggu istirahat istrinya. Dia lalu ke dapur. Mungkin bisa memasakan sesuatu kesukaan istrinya. Akhirnya dia memilih memasak ramen instant namun dengan tambahan beberapa toping yang ada di kulkas. Leon menambahkan kaldu ayam, miso (tahu lembut), daun bawang dan beberapa irisan daging sapi. Hem, Leon pun membuat dua porsi yang satu untuknya karna aroma nya begitu menggiurkan.
__ADS_1
Lexa nampaknya juga merasakan aroma itu sehingga dirinya terbangun. Dia mengendusi dan menyadari kalau suaminya telah kembali. Lexa beranjak dan menuju ke dapur. Dia mengambil air putih dan tentu saja Leon melihat kedatangannya.
"Sayang? Kau sudah bangun?" Tanya Leon setengah menoleh karna masih memasak ramennya.
"Sudah lihat, untuk apa bertanya lagi?" Jawab Lexa ketus. Leon mengerti, Lexa pasti marah padanya. Dia lalu menghampiri Lexa. Memegang bahunya dan membimbingnya duduk di meja makan. Dia lalu berjongkok hendak mengatakan sesuatu.
"Lexa, aku minta maaf untuk semua kelalaian yang aku lakukan hari ini. Aku sangat menyesal!"
"Hemm!" Saut Lexa yang menopang tangannya pada meja makan.
"Baiklah, kau pasti terbangun karna mencium aroma ramen ini kan Lexa? Aku spesialnya membuatnya untukmu. Ini. Makanlah! Aku menambahkan kaldu, daun bawang, dan daging sapi kesukaan kita. Hehe." Kata Leon beranjak dan menyajikan apa yang telah ia buat.
"Tidak mau! Aku sudah kenyang!" Saut Lexa berbohong.
"Masa? Tidak mungkin kau tidak tergiur dengan ramen ini. Sini, biar kusuapi." Kata Leon lagi tidak menyerah. Dia mengambil sumpit dan meraih ramen tersebut, meniupinya dan menyuapinya pada Lexa.
"Ayolah Lexa, buka mulutmu!" Pinta Leon dengan senyum manisnya.
"Tidak mau! Kau ini tidak dengar ya?" Bentak Lexa membuat Leon sangat terkejut. Leon tahu kalau dirinya benar benar salah, namun tidak biasanya Lexa jadi segalak dan semarah ini. Leon menggelengkan kepalanya agar tetap tenang dan tidak kembali marah.
"Satu suapan saja Lexa, kalau kau tidak mau tidak apa apa! Bukalah, sayang!" Ujar Leon yang kini nada memohonnya melemah. Lexa jadi sedikit tak tega sehingga ia akhirnya mengalah dan membuka mulutnya.
Leon menyuapinya dan ketika helai ramen itu sampai di mulut Lexa, Leon menyeringai karna dia mengarahkan sumpit yang masih terdapat juntaian ramen itu ke mulutnya. Sehingga Lexa dan Leon yang sedang menueruput mie tersebut bertemu pada satu titik dan bibir mereka saling menempel. Leon tersenyum lalu mengunyah ramen tersebut begitu juga dengan Lexa. Namun, Lexa masih geram, dia hendak menarik dirinya namun Leon menahannya.
"Kenapa kau sangat marah? Aku sudah meminta maaf dan membuatkanmu ramen sebagai permohonan maafku. Ada apa Lexa?" Tanya Leon memegang tangan Lexa.
"Em, Leon? Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?" Tanya Lexa akhirnya melemah. Dia mengingat wanita yang tadi mengangkat ponselnya.
"Besar dan mendalam. Lebih tinggi dari langit biru. Lebih indah dari pelangi dan lebih luas dari samudra. Apa sudah jelas?" Jawab Leon mengecupi punggung tangan Lexa.
"Kau tidak menyukai wanita lain kan?" Selidik Lexa tanpa membicarakan wanita itu. Dia ingin Leon yang mengatakannya sendiri.
"Hah? Wanita lain? For what? Untuk apa aku menyukai wanita lain sementara aku memiliki wanita sempurna, cantik dan seksi sepertimu. Untuk apa? Sekarang, aku yang bertanya padamu untuk apa?" Kata Leon dengan wajahnya yang seribu kali sangat serius.
"Aku hanya takut, karna kau sudah mendapatkanku jadi kau tidak menyukaiku lagi dan kau tidak bisa ada untuk ku." Sungut Lexa muram.
"Aku mencintaimu Leon." Ucap Lexa masih menundukan kepalanya.
"Sama! Aku juga! Lalu, bagaimana ketika transfusi darah tadi?" Kini Leon yang bertanya dengan suasana transfusi tadi.
"Hem, sebenarnya aku tidak terlalu sendiri." Kata Lexa kemudian yang hendak mengatakan semuanya. Karna semuanya butuh kejujuran. Mungkin Lexa tidak bisa membuat Leon mengatakan yang sebenarnya, namun dirinya harus. Lexa lalu membuat tubuhnya menghadap ke ramennya. Dia menyeruputnya perlahan.
"Apa Abby menemanimu?" Selidik Leon.
"Tidak."
"Lalu?"
"Asisten klien ku yang menemaniku." Jawab Lexa santai dan kembali ke ramennya.
"Siapa? Pria yang sering menggodamu?" Tanya Leon dengan nada agak meninggi.
Lexa mengangguk dan melanjutkan menyeruput ramennya.
Brak! Leon menggebrak meja.
"Kenapa kau bersama dia? Kenapa kau tidak bersama Abby atau Lucy atau Susan? Pasti dia memegang tanganmu sama seperti yang kulakukan kan?" Kata Leon sambil menunjuk nunjuk Lexa membuat Lexa merasa terintimidasi dan seperti melakukan kesalahan yang sangat fatal. Hal ini membuat Lexa menjadi kembali marah dan tidak perlu lagi menyembunyikan atau menunggu Leon yang jujur padanya.
Lexa menarik napas dan menegak habis air putinya.
"Dia yang memaksa! Dia ingin menemaniku. Tidak lebih, setelah itu dia pulang menjemput majikannya dan aku menunggumu yang ternyata kau sedang bersama wanita kan?!! Oleh sebab itu aku menanyakan perasaanmu padaku! Kau tidak jujur padaku aku tidak marah! Sedangkan aku jujur kau marah seperti ini! Argh, aku jadi tambah kesal! Kau makan saja ramen ini! Ramen ini TIDAK ENAK!" Decak Lexa ikut menggebrak meja dan berdiri lalu meninggalkan suaminya yang masih terheran heran.
"Dia ternyata dengan pria lain, tapi dia yang menuduhku bersama wanita lain, apa mungkin? Nooo!! Seharusnya aku memang mengatakan kalau aku mengantar nyonya Bella dulu. Leon bodohhh!!!"
Leon merutuki dirinya. Dia memutuskan akan kembali berbicara pada Lexa nanti lagi agar keduanya dapat lebih tenang dan berkepala dingin.
__ADS_1
...
Flashback ketika Leon mengantar Bella.
Leon melajukan mobilnya menuju ke jalan Belleza Hotel. Benar dugannya kalau ternyata jalanan sungguh padat merayap. Mau sampai kapan dia sampai ke hotel Bella lalu menjemput Lexa. Dia benar benar bingung sampai dia tidak berkata apapun. Bella duduk di sampingnya dengan pakaian yang mempertontonkan belahan buah dadanya. Sungguh membuat Leon risih. Leon bukannya ingin melainkan tidak habis pikir mengapa sudah setua ini masih mengenakan pakaian seperti itu. Leon sama sekali tidak berminat dan terus melihat pandangannya ke jalanan.
"Istrimu sakit apa Leon?" Tanya Bella kemudian.
"Bukan sakit nyonya. Dia sedang transfusi darah untuk ayahnya yang sedang sakit." Jawab Leon terus memandang jalanan.
"Oohh, baik sekali istri anda."
"Oleh sebab itu aku mencintainya." Saut Leon tersenyum.
"Beruntung sekali istrimu memiliki suami yang begitu perhatian berusaha selalu ada untuknya." Kata Bella kemudian dengan wajah masam.
"Memang begitu tugas seorang suami, nyonya." Saut Leon lagi sekenanya.
"Ya, aku jadi merindukan suamiku. Dia sudah meninggal Leon. Hem, aku dan Athena, anak perempuanku sungguh kehilangan dia. Kami begitu kesepian, khususnya diriku. Beberapa pria yang mendekatiku hanya ingin hartaku saja. Aku tidak bisa bersama lelaki yang tidak tulus." Sungut Bella seketika dan menundukan kepalanya.
"Aku turut berduka nyonya. Kau tenang lah, pasti ada seorang pria yang bertanggung jawab dan serius padamu." Kata Leon berusaha memberi semangat.
"Andai orang itu adalah kau Leon." Gumam Bella seperti sengaja namun terdengar tidak menyadarinya.
"Ehem, maaf, apa maksudmu Nyonya?" Tanya Leon mendelikan alisnya aneh.
"Oh, maaf, maksudku andai ada lelaki lain yang seperti mu. Itu maksudku. Maaf, maaf!" Sela Bella berusaha tidak terlihat memang sedang memancing.
"Tidak masalah nyonya!" Saut Leon dan Leon kembali diam. Dia tidak mau membahasnya lebih lanjut. Dia harus ingat akan pesan bosnya. Dia harus berjaga jaga. Sesaat dia melirik tangki bahan bakar mobilnya yang hampir habis.
Akhirnya jalan kembali lancar dan Leon segera melajukan mobilnya terlebih dulu ke tempat pengisian bahan bakar. Leon lalu menaruh ponselnya di sela sela antara bangku mobil depan karna dia yang hendak mengisi bahan bakarnya sendiri dan tidak boleh mengantungi ponsel.
Disitulah Lexa menghubungi Leon. Leon sudah keluar mengisi bahan karanya dulu. Bella melihat ponsel Leon dan melihat di sana tertera my rabbit wife calling. Bella menyeringai. Rasanya dia harus membuat sebuah permain sehingga dirinya bisa lebih dekat dengan Leon dan menyingkirkan Lexa.
Bella pun mengangkat panggilan tersebut sementara Leon masih mengisi bahan bakar di belakang mobil.
"Heng! Aku sangat sulit mencari pria seperti Leon. Mungkin hanya satu di kota sebesar ini. Aku harus mendapatkan mu Leon dan kau harus menggantikan almarhum suamiku!"
...
...
...
...
Bells tobat bells biniknya kelinci rabies lhoo ππ
.
Next part 6
Wow wow wow dia semakin nekat!!!
Apakah Lexa dan Leon dapat menghadapi ujian rumah tangga ini?? ππ
.
Jangan lupa dukung vii yang cantik seperti lexa ini hahahahaa #ngarep, mirip viena aja uda untung, jiiiaahhh sama aja vii ngarep wakakak ywd mirip istrinya bapak dio ginting aja deh ππ
Baeklah cukup gurauannya, map virus musang menyerang ππ
Oke baeklah jangan lupa ya gaes LIKE DAN KOMEN KISAH LEXA LEON ini dan kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel yaa ππ
.
__ADS_1
Oke thanks for read and i love youu π