Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 2. Agriculture Delins Group


__ADS_3

Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian, bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Mungkin pepatah ini yang akan menghiasi hari hari seorang Xelino. bagaimana kelanjutannya? Apa saja yang akan dihadapi Xelino?


...


Beberapa hari kemudian, Xelino sudah mempersiapkan dirinya untuk melamar pekerjaan. Sebenarnya dia sudah meng-apply curiculum vitae nya di perusahaan yang menjadi incarannya. Namun, dia tidak mau terlalu berharap. Perusahaan kecil juga tidak masalah baginya. Dia hanya ingin mempelajari segala detail dan tata cara yang benar dalam membangun sebuah perusahaan sehingga dirinya sebagai pemilik sekaligus pemimpin mengetahui setiap sudut kelebihan maupun kekurangannya.


Semua karena kepintaran serta program yang ia ikuti sehingga semua curiculum vitae yang dikirim mendapat panggilan. Tentu saja Xelino memilih mendatangi perusahaan yang menjadi incarannya. Agriculture Delins Group. Siapa yang tidak tahu perusahaan itu di Springfield. Semua orang di desa Serena maupun desa lain sekitarnya selalu mendapatkan sumbangan dari perusahaan tersebut.


"Tuan Gilbert Alvaro Delinsky. Ya, aku sudah mengingatnya. Aku harus confidence agar dia memilihku menjadi bagian dari perusahaannya," Tutur Xelino ketika membaca lagi profil singkat pemilik sekaligus pemimpin perusahaan agrobisnis tersebut.


Xelino pun sampai di perusahaan tersebut. Ternyata hari ini hanya khusus melakukan interview untuk dirinya karena Xelino langsung masuk dalam tahap wawancara dengan pemimpinya atas predikat terbaik di universitas yang bergengsi. Dan tida disangka, dari fakultas sendiri sudah merekomendasi siapa siapa saja yang berhak bekerja di perusahaan ini.


Baru saja Xelino sampai di meja resepsionis sudah terdengar berita di tayangan televisi lobby.


*SAHAM DI LEGACY SEMAKIN MELONJAK TAPI TIDAK MELEMAHKAN SEMANGAT PASANGAN PRESIDEN DIREKTUR DENGAN ASISTEN TERBAIKNYA. TUAN DIONISIUS PRIME DAN DANTELEON JANSON SEBAGAI PEMEGANG SAHAM TERTINGGI TERUS MEMBERIKAN INOVASI TERBAIK AGAR SELURUH PERUSAHAAN DAPAT MENIKMATI BUNGA SAHAM YANG MENGUNTUNGKAN. TUAN DIONISIUS YANG DIKABARKAN AKAN SEGERA MELEPASKAN KEKUASAANNYA PADA ANAK PERTAMANYA, DIOR PRIME DAN MASIH DALAM PENGAWASAN ASISTENNYA, TUAN DANTELEON JANSON. SUNGGUH PENCAPAIAN YANG LUAR BIASA.*


Xelino menundukan kepalanya agar tidak ada yang menyadari sedikit banyak kemiripan kedua matanya dengan sang ayah. Dia meraih kaca mata bening dari sakunya dan mengenakannya. Kacamata ini sudah ia siapkan kalau kalau ada mereka yang menyadarinya. Pasalnya perusahaan mana pun pasti akan membahasa mengenai saham dan semacamnya.


"Selamat pagi Marxelino Alexio? From United Springfield University?" Tanya sang resepsionis memastikan.


"Ya saya,"


"Baik, silahkan anda langsung ke lantai 3 ruangan tengah paling pinggir dengan pintu coklat yang besar. Ruang utama Presdir Gilbert Alvaro Delinsky. Kau bisa bertanya pada sekertarisnya terlebih dahulu. Kau sudah mengerti?" Sang resepsionis memastikan.


"Ya mengerti Nona, terimakasih," ucap Xelino sedikit melirik si resepsionis.


"Sama sama, em matamu seperti seseorang yang kulihat pagi ini," tutur nona itu sedikit menerka.


"Mungkin anda baru bangun tidur jadi akan salah melihat nona, permisi," kata Xelino dan Ting! Dia mengedipkan matanya pada si resepsionis. Dia segera menuju ke lantai 3 agar si resepsionis tidak menyadari tentang hubungannya dengan si Danteleon.


Xelino sudah menemui sang sekertaris dan menyuruhnya menunggu sebentar di kursi samping ruangan karena atasannya sedang kedatangan anak keduanya. Xelino menuruti apa yang dikatakan si sekertaris.


Sementara, Di dalam ruangan tersebut, Gilbert dan anaknya ternyata sedang memperdebatkan sesuatu.


"Daddy! Pokoknya aku akan mencari sebuah lahan yang strategis dan aku akan membuat perusahaanku sendiri! Aku akan mencari banyak inspirasi sehingga menciptakan rancangan interior yang lebih banyak lagi dan dapat diakui dunia bukan hanya di beberapa negara!" Kata gadis itu pada ayahnya dengan sangat memaksa.


"Tidak! Kau harus tetap bekerja sesuai jurusanmu! Aku tidak akan membantu pembangunan yang kau inginkan!" Saut ayahnya yang tidak setuju dengan cara instan yang selalu diminta ayahnya.


"Kau selalu seperti ini! Mengapa kau membuatkan perusahaan untuk kakak? Sedangkan aku harus bekerja terlebih dahulu!" Decak gadis itu tidak terima dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Karena sudah seharusnya dia mengurusi perusahaan ku di Nederland. Lagipula kakakmu meneruskan perjuanganku! Kalau saja kau mendalami teknologi pertanian ini, aku akan memberikan sekarang juga perusahaan ini!" Saut ayahnya bersih keras.


"Argh, susah sekali bicara pada mu Dad, begini saja, aku akan membuktikan sesuatu padamu! Tunggu saja!" Ancap gadis itu.


Tak lama telepon kantor berbunyi, sekertaris Gilbert memberi tahu mengenai interview Xelino. Gilbert pun mempersilahkan masuk.


"Sudah, aku harus menemui mahasiswa akselerasi dari universitasmu. Sama sepertimu ikut program ini tetapi dia melanjutkannya dengan baik bukan sepertimu yang selalu mengandalkan ku! Masih bagus kau berhasil dalam program itu! Sekarang seharusnya kau memanfaatkannya. Apply lah CV mu ke perusahaan properti bibimu, dia membutuhkan seorang asisten arsitek untuk beberapa design interior hotel bintang limanya baru baru ini!" Kata Gilbert memberi jalan pada anaknya.


"WHATTT DADDYY?!!! KAU MENYURUHKU MENJADI ASISTEN? KAU SUDAH TIDAK WARAS ATAU APA HAH?!" gertak gadis itu benar benar mengumpat ayahnya. Dia tidak menyangka ayahnya menyuruhnya menjadi seorang pembantu, pikirnya.

__ADS_1


"Kalau kau bisa melayani seseorang maka barulah kau bisa dikatakan sebagai pemimpin! Sudah sana pergi! Percuma semua kepintaranmu kalau kau terus merendahkan orang lain!" decak ayahnya tidak peduli lagi. anak gadisnya yang satu itu benar benar tidak bisa diatur karena seluruh keahlian yang ia sukai sudah ia kuasai.


"Ah, Daddy kau tidak pernah menghargai apa yang menjadi keinginanku! Aku pulang!" Gadis itu menyerah. Sepertinya dia harus jauh lebih di depan dari ayahnya agar mendapatkan apa yang ia inginkan.


Sementara Xelino siap masuk ke ruangan dan sudah menekan tuas pintu dan membukanya perlahan. Bersamaan dengan itu, anak kedua Gilbert tersebut juga membuka pintu sehingga mendorong Xelino. Mereka bertabrakan dan Xelino menjatuhkan map nya. Xelino langsung meraih map nya tanpa melihat gadis itu.


"Oh God, seharusnya pastikan dulu tidak ada yang keluar, baru masuk! Mengesalkan sekali!" Decak gadis itu dan langsung pergi meninggalkan Xelino. Xelino berdiri dan melihat punggung gadis itu.


"Maaf Marxelino, itu Nona Muda Delinsky. Dia memang agak sedikit arogan dan acuh," kata sang sekertaris merasa sedikit tidak enak dengan Xelino.


"It's oke! Aku mencari ayahnya, bukan dia." Xelino tersenyum. Xelino merapikan kembali pakaiannya dan memasuki ruangan Gilbert.


Ketika Xelino masuk, sang Presdir sedang melakukan pembicaraan pada sambungan telepon. Xelino pun menunggunya. Hanya mendengar sekilas yang sepertinya Gilbert sedang berbicara pada seorang asisten yang mengurusi seputar saham. Tak lama panggilan selesai.


"Halo selamat pagi, Mar Xe li no?" Sapa Gilbert mencoba membaca nama Xelino pada lembaran CV dan mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi Tuan, Marxelino Alexio," kata Xelino juga mengulurkan tangannya. mereka berjabat tangan.


"Iya iya, silahkan duduk. Santai saja. Anggap saja aku karyawan HRD," saut Gilbert bergurau.


Xelino hanya mengangguk dan tersenyum lalu duduk bersebrangan dengan Gilbert.


"Mohon maaf membuatmu menunggu, aku baru saja membeli sejumlah saham pada Prime Group. Saham di sana sangat menguntungkan. Aku senang bisa bekerja sama dan berkominikasi dengan asisten mereka, Tuan Leon Janson," kata Gilbert lagi menjelaskan pembicaraannya agar tidak terjadi kecanggungan.


Xelino berdehem. Mengapa semuanya terngiang hari ini? Apa tidak bisa setelah dia bergabung dengan perusahaan ini atau setelah dirinya selesai melakukan wawancara ini.


"Xelino, tuan, panggil Xelino saja. Ya, sedikit banyak aku pernah mendengar," jawab Xelino tersenyum tipis.


"Oh oke Xelino. Good name. Baik mari kita mulai apa yang bisa ku dapatkan dari semua keahlianmu," kata Gilbert mulai membaca CV Xelino perlahan. Sebenarnya Xelino merupakan rekomendasi dari istrinya. Jeniffer Oniela. Jeniffer yang merupakan tenaga ahli penelitian bioteknologi dan agronomi pernah menjadi pembicara seminar di universitas Xelino. Dia melihat potensi Xelino yang sangat percaya diri dan mendalami mengenai jurusan yang ia ambil. Jeniffer langsung berkata pada Kepala Program Studi untuk menyarankan Xelino melamar di perusahaan suaminya.


"Aku sudah membaca CV mu, sangat mengesankan dengan nilai dan beberapa seminar serta pelajaran tambahan yang kau ikuti. Aku terkesan. Namun, di sini aku hanya ingin tahu agar kita lebih dekat dan saling mengenal," ucap Gilbert merasa sedikit penasaran.


"Ya Tuan, tanyakan saja," jawab Xelino.


"Marxelino Alexio J? What is J? Family name?" tanya Gilbert.


"Begitulah tuan,"


"What's your Family name?" tanya Gilbert lagi memastikan.


"Janson," jawab Xelino spontan. dia melupakan sesuatu.


"Janson?" Gilbert sedikit menaikan alisnya.


"No! Maksudku Juan," kata Xelino menggaruk pelipisnya. Seketika dia hanya mengingat nama pamannya.


"Mengapa kau jadi menyebut nama keluarga Tuan Leon?" selidik Gilbert.


"Ya karena tadi kau mengatakan nama beliau, aku jadi terbawa. Aku juga cukup mengaguminya," jawab Xelino menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Ah benar, dia orang hebat. Jadi nama keluargamu Juan?"


"Ya Tuan, Marxelino Alexio Juan," jawab Xelino memastikan dengan tegas. Dia menghela napasnya agar lebih tenang. Gilbert mengangguk anggukan kepalanya setuju.


"Baiklah, sepertinya aku sangat tertarik denganmu. Aku menyarankan dirimu untuk bergabung dalam pengembangan teknologi pada sektor pabrik dan produksi. Tahun ini kami sedang berfokus pada umbi umbian organik yang dikemas secara modern dan juga cocoa," kata Gilbert akhirnya memutuskan.


"Wah, inovasi yang sedang menjadi bahan perbincangan, tuan. Aku menerimanya," saut Xelino tersenyum hangat.


"Ya, selamat kau diterima. Silahkan kau ke bagian personalia untuk mengetahui job desk dan upahmu," balas Gilbert memberitahu langkah selanjutnya.


"Terimakasih Tuan. Aku akan bekerja dengan baik," ucap Xelino.


"Aku menunggu kinerja baikmu." Gilbert tersenyum.


Xelino mengangguk mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan. Dia senang sekali, dia memang yakin akan masuk ke dalam ranah perusahaan ini. Dia harus segera memberitahukan pada ayah ibu kakek dan neneknya.


...


...


...


...


...


orang pinter mah gampang xel, asal Jan kebablasan aja kan jadi keder tuh nama asli sapa sama nama tipu tipu 😂😂


.


next part 3


siapa nama gadis itu?


apa Xelino akan baik baik saja?


aku ga yakin


stay tune laahh 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤

__ADS_1


__ADS_2