
Semua yang disembunyikan hanya melihat waktu yang tepat maka akan terealisasi kan tapi jika mengundur waktu terlalu lama akan menjadi bumerang yang meyulitkan kita. Semampu kita bisa menghalaunya agar tidak menjadi berbahaya. Sedikit demi sedikit kebohongan harus terungkap. Lalu bagaimana Xelino menyikapi pada akhirnya? Apa masih akan terjadi konflik?
...
"Aku tahu kesedihanmu, pap," kata Xelino lagi masih menangkap aura muram dari wajah ayah nya.
"Begitu juga denganmu kan? Hem, aku harap kau bisa sebaik grandpa mu," saut Leon berharap.
"Kurasa sulit pap," gumam Xelino menundukan kepalanya.
"Apa kau tahu, kalau grandpa mu adalah pria terjujur di dunia ini?" Kata Leon kemudian.
"Hem, kau menyindiriku pap," gumam Xelino lagi.
Leon menarik napas dan kembali tersenyum.
"Xelino, di belakang rumah ini dulu aku dan mamimu duduk di sini. Kami memandang bintang di langit malam sana sama indahnya dengan sekarang. Begitu bercahaya," ujar Leon mulai menceritakan pengalamannya.
Xelino memperhatikan ayahnya berkata kata. Sepertinya hendak memberikan nasihat tapi dengan sebuah pengalaman yang sudah melingkupi kisah cintanya dengan ibunya.
"Waktu itu, kami belum menjadi sepasang kekasih," gumam Leon menoleh ke arah Xelino.
Xelino agak tercengang.
"Benar! Waktu itu aku belum berani menyatakan cinta pada mamimu. Aku terlalu takut dan terjebak pada masa lalu. Aku takut kalau mamimu sama seperti wanita lainnya walau saat itu aku sudah tahu kalau mamimu ternyata berbeda dengan wanita lainnya. Namun, aku masih mengulur waktu. Aku hendak menyiapkan sesuatu yang tidak bisa ia lupakan. Nyatanya aku terlalu terlarut dengan semua persiapan yang akhirnya aku sempat hampir kehilangan mamimu. Dia hendak bertunangan dan menikah dengan Uncle Jerry," cerita Leon menoleh menatap anaknya.
Mata Xelino terbelalak lebar sekali.
"Siapa kau bilang pap? Uncle Jerry? Suami Bibi Angel? Daddy Kak Jessie dan Allegra?" Selidik Xelino memastikan.
"Ya, lalu siapa?"
"Cih, lucu sekali kalian! Mengapa aku baru mengetahuinya?" Decak Xelino masih tidak percaya urusan mereka lebih rumit dari urusannya.
"Begitu kenyataannya. Kalau aku terlambat sedikit saja, kau pasti tidak ada Xelino. Mungkin ada tapi aku membawa lari mamimu!" Saut Leon tersenyum kecut.
Xelino masih memperhatikan ayahnya berkata kata.
"Jadi, aku hanya ingin menasihatimu, kau harus secepatnya memberitahu Carolyn siapa kau yang sebenarnya. Kalau kau tulus dan dengan niat hati, dia tidak akan membencimu, apalagi kalau dia sudah mencintaimu. Dari mimikmu, kau sangat mencintai wanita itu, nak," kata Leon memberi nasihat.
"Hem," gumam Xelino menundukan kepalanya. Dia masih bingung dari mana dia harus memberitahukan identitas nya yang sebenarnya.
"Jadilah seperti grandpa mu kalau kau menyayanginya. Lakukan untuk grandpa mu. Grandpa mu hanya pria sederhana tapi dia begitu jujur sehingga semua orang sangat percaya padanya sampai grandma mu menyukainya. Sementara Grandma mu adalah anak kepala desa di desa ini waktu itu," tambah Leon lagi yang tidak mau anaknya dirundung penyesalan.
"Aku tahu pap, aku sudah salah dengan wanita itu. Aku akan mencari waktu untuk mengatakan siapa diriku sekaligus menyatakan perasaanku," kata Xelino mempertimbangkan nasihat ayahnya.
"Kau memang Marxelino Alexio Janson, bukan Juan. Kau tahu kan dia agak pemalu dan dingin?" Leon merangkul punggung anaknya.
"Tapi aku ada keinginan menjadi seperti dia pap," saut Xelino menggoda ayahnya.
"Jadi kau menyesal menjadi anakku?" decak Leon menatap tajam Xelino.
"Hahahaha, kau jangan terlalu banyak berpikir pap, biar bagaimanapun paman Juan juga Juan Hansen Janson kan?" sela Xelino membela diri dan ternyata Juan sudah ada di belakang mereka.
"Hey kalian, kalian membicarakan ku ya?" selidik Juan mengernyitkan dahinya.
"Hahaha, kau panjang umur paman, kemarilah," Xelino menoleh.
"Seharusnya kalian berdua masih berduka," decak Juan tidak terima namun dia hanya bergurau.
"Daddy sudah bahagia di surga, Juan, mungkin beliau pun sedang di sini di antara kita," saut Leon yang sebenarnya harus merelakan ayahnya agar tenang sampai ke surga.
"Kau benar kak, ini kubawakan Wine agar tetap hangat menunggui Daddy. Apa besok akan dimakamkan kak?" kata Juan ikut bergabung dengan mereka.
"Sepertinya. Kau sudah menghubungi pengrajin peti di bukit atas kan?" selidik Leon.
__ADS_1
"Sudah kak,"
Dan mereka bertiga masih berbincang bincang di sana sebentar lalu kembali ke ruang tengah untuk bergabung dengan semuanya.
...
Keesokan harinya,
James terperangah membelalakan matanya melihat suasana di rumah itu. Xelino bercakap cakap dengan Dion dan Leon juga Dior. Bukan hanya itu, Xelino juga terlihat akrab dengan Willy yang diutus ayahnya untuk mewakili kelurga mereka menghormati keluarga Janson.
"Aku memang sudah curiga kalau dia adalah anak Tuan Janson," gumam James yang disuruh Gilbert mengantarkan sebuket bunga dan menunjukan jalan untuk mengirim rangkaian bunga untuk keluarga Xelino. Rangkaian bunga turut berduka cita.
"James oppa, ada apa?" Tanya Grizel sudah turun dari mobil.
"Lihat itu Grizel! Setelah ini pria itu pasti menyuruh kita menutup mulut. Kita harus meminta uang suapan, ini tidak bisa dibiarkan!" jawab James menunjukan tangannya ke arah Xelino.
"Oh my God! Willy Jovanca! Mengapa dia sangat tampaaannnn sekaallliiiii, James oppa," saut Grizel malah fokus ke Willy .
"Heemmm, kau tidak bisa lihat pria tampan sedikit, kau memang tidak menyadari ku, beruang kutub!" sungut James agak cemburu.
"Haiz, biar bagaimanapun aku tidak mau dengan pria pria seperti dia, dia playboy!" balas Grizel merengut.
"Tapi kau memujinya!"
"Memang kenyataan! Jadi mengapa dia ada disana?" akhirnya Grizel bertanya.
"Mari kita buktikan sesuatu!" Ajak James menarik tangan Grizel yang menemaninya.
James menarik tangan Grizel pelan sampai ke depan rumah Xelino.
"Selamat siang, maaf menganggu, kami ingin bertemu dengan pria bernama Xelino Juan," kata James melirik ke arah Xelino yang sedang membelakanginya.
Xelino tentu langsung berbalik dan sedikit tercengang. Leon yang sudah mengetahuinya tersenyum tipis. Dia pun menghampiri James.
"Papi? Hehe, James, beruang kecil , selamat siang!" saut Xelino sudah menghampiri mereka.
James dan Grizel tentu memandang Xelino dengan tatatapan memburu.
...
"Maafkan aku James, Grizel. Aku tidak bermaksud apapun, aku berani bersumpah," kata Xelino mencoba menjelaskan.
"Lalu apa? Kau jahat sekali Xeli oppa, bagaimana kalau Carolyn mengetahuinya? Kau akan dianggap meremehkannya!" decak Grizel sudah melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Jadi aku salah mencari sebuah ketulusan seorang wanita? Aku hanya ingin wanita itu menerimaku apa adanya bukan karena jabatan dan hartaku. Lagipula itu harta keluarga Janson bukan hartaku. Aku ingin membiayai kehidupan dan keluargaku dengan pehasilanku, apa itu salah? Dan selain itu, aku ingin orang orang menghargai ku dengan apa yang kumiliki bukan dari latar belakang," ujar Xelino menjelaskan pada Grizel dan James. James mengangguk dan mencoba mengerti.
"Grizel, alasan Xelino benar, kau jangan menghakiminya!" saut James mencoba memahami sahabatnya itu.
"Kau memang mengerti James. Jadi Grizel kau tenang saja, aku akan segera memberitahu sahabatmu tapi dengan syarat kalian berdua harus tutup mulut! Serahkan semuanya pada ku, ini masalahku, kalian tidak perlu terlibat, oke?" pinta Xelino.
"Oke, kami percaya padamu! Baiklah kembalilah ke keluargamu, kami juga akan ikut upacara pemakamannya. Grizel, kau tidak marah lagi kan?" balas James menepuk pundak Xelino.
"Tidak! Tapi janji Xeli oppa, kau tidak boleh menyakiti Carolyn lagi. Dia, dia sebenarnya sangat menyukaimu," kata Grizel akhirnya mau mengerti Xelino.
"Cih, aku tahu Grizel, tapi biarkan aku yang menyatakan lebih dulu padanya. Aku yang sebenarnya membuat dirinya tidak mengatakan lebih dulu. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk nya. Kau tenang saja," saut Xelino berdecih.
"Oke! Awas ya kalau kau menipu lagi!"
"Tidak akan, Ting!" Xelino mengedipkan matanya ke Grizel yang masih cemberut.
Mereka bertiga pun mengikuti acara pemakaman Larry Janson
...
Keesokan harinya Carolyn agak tidak berselera lama lama di kantor bibinya itu. Dia sudah mendengarkan beberapa pertemuan untuk beberapa proyek yang belum selesai termasuk proyek kedua Carolyn dan Deborah yang masih dalam tahap pembangunan.
__ADS_1
Entah mengapa sejak kemarin dan hari ini dia tidak bersemangat padahal ini merupakan keinginannya menjadi direktur perusahaan walau hanya menggantikan. Pada akhirnya perusahaan ini mungkin akan diturunkan padanya kalau bibinya tidak mau mau menikah, pikirnya.
"Lila, bagaimana bibiku akan menikah jika usianya sudah menginjak 45 tahun. Memang masih ada yang mau?" decak Carolyn yang memang membincangkan Rietha.
"Entahlah, Nyonya Rietha masih terlihat muda dan cantik, Carolyn," gumam Lila.
"Ya, bisa saja! Em, baiklah di mana rumahmu, aku akan mengantarmu?" tanya Carolyn mengajak Lila untuk pulang bersama.
"Bisakah kau mengantarku ke plaza pusat kota? Aku ingin ke butik ibuku," kata Lila memberitahu.
"Oh, ibumu membuka butik? Baiklah, let's go!"
"Ya Olyn, butik pakaian kantor. Kalau kau tidak keberatan silahkan ikut bersamaku untuk mampir," ajak Lila.
"Boleh boleh, kebetulan aku sedang suntuk sekali,"
"Hem, pasti karena Xelino sedang di desa kan? Mengapa tidak kau saja yang ikut bersama James?" saut Lila menerka.
"Memang kau tidak tahu kalau James sedang mendekati Grizel," kata Carolyn terus memandang ke depan jalan.
"Kau kan bisa ikut,"
"Lalu bagaimana perusahaan bibiku? Nyonya Deborah mana mau menggantikannya," decak Carolyn yang sebenarnya ingin menemui Xelino.
"Hem, kau benar Carolyn, kau memang bertanggung jawab. Aku yakin suatu saat nanti kau akan memiliki perusahaan sendiri," kata Lila mendoakan Carolyn.
"Oh God! Doamu sungguh luar biasa. Terimakasih Lila," ucap Carolyn.
"Sama sama Olyn," saut Lila tersenyum dan mereka menuju ke plaza pusat kota.
Ketika sudah sampai di pusat kota, Carolyn terpaku pada sebuah gedung kecil dengan tinggi dua lantai di pinggir jalan berwarna merah dan putih. Gedung tersebut tampak minimalis dan bertuliskan GG Gallery. Carolyn jadi teringat dengan galeri lukisan yang pernah dikatakan Gladys teman Xelino.
'Ah, kebetulan sekali. Sepertinya masih buka, ini masih pukul 4 sore. Aku akan menemui Gladys, sekalian bertanya tanya tentang Xelino, hihi!' gumam Carolyn dalam hati dan tersenyum bersemangat.
"Lila, sepertinya nanti saja aku ke butik ibumu, aku harus menemui seseorang di galeri itu," kata Carolyn menyesal.
"Galeri hitam merah itu?" selidik Lila.
"Iya, kau tahu?" tanya Carolyn.
"Ya, pemiliknya anak dari si motivator terkenal itu," jawab Lila.
"Ya, dia sahabat Xelino," kata Carolyn memberitahu.
"Yang benar? Tak heran sih karena sepertinya Xelino orang hebat," Lila agak terkejut.
"Hem, pemikiran mu sama sepertiku," balas Carolyn.
"Baiklah Carolyn, kalau begitu aku turun di depan jalan itu saja, kau bisa langsung berbelok ke galeri itu," kata Lila akhirnya.
"Oke Lila, tenang saja nanti aku akan mengajak mommy ku ke butik ibumu, siapa tahu kami bisa memborong,"
"Terimakasih, Carolyn,"
Carolyn pun menurunkan Lila di depan jalan sejalur dengan plaza sementara Carolyn menemui Gladys. Dia harus mengetahui siapa Xelino sebenarnya. Apakah kecurigaannya benar selama ini atau tidak?
...
Nah lho xel 😁
next part 53
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕
__ADS_1