Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 79


__ADS_3

Leon masih menunggui penanganan Solane. Lexa duduk di samping Leon menemani calon suaminya itu. Jimmy sudah sangat khawatir. Tak berapa lama keluarlah suster yang menangani Solane.


"Tuan Jimmy?" Panggil sang suster.


"Ya sus saya suaminya!" Jimmy langsung menghampiri sang suster.


"Istri anda masih belum sadarkan diri. Tadi dia sempat pingsan. Namun semua kondisinya membaik. Tadi dia hanya kontraksi palsu, dia tidak dapat menahannya jadi dia tak sadarkan diri. Dia juga sempat memanggil nama anda. Setelah dia sadarkan diri, dia bisa di pindah ke ruang rawat. Sebelumnya Nyonya Solane harus bed rest di rumah sakit terlebih dahulu untuk observasi lebih lanjut karna melihat sepertinya Nyonya Solane sering mengalami flek bercak Tuan." Kata sang suster seturut dengan arahan dokter.


"Benar suster, belakangan dia selalu mengeluh mengeluarkan sedikit darah." Tambah Jimmy.


"Ya benar! Oleh sebab itu dia harus bed rest terlebih dahulu. Baiklah, kalau kalian hendak melihat. Silahkan namun perhatikan nada bicara. Permisi." Kata suster dan meninggalkan mereka.


Jimmy, Leon dan juga Lexa segera melihat kondisi Solane yang masih tak sadarkan diri. Lexa agak kasihan dengan Solane yang walaupun hamil, dia tetap kurus dan wajahnya tak semarak seperti dulu. Leon saja sampai tidak tega melihatnya. Leon memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dia tidak ingin melihat Jimmy yang sangat sangat tak berdaya melihat Solane yang berbaring lemah itu. Jimmy hanya diam memandangi wanita nya itu.


"Leon, kau mau pulang? Besok kita kembali lagi, pasti Solane sudah di ruang inap perawatan." Bisik Lexa yang melihat Leon dengan kondisi merasa bersalah.


Leon hanya mengangguk dan keluar dari ruangan. Lexa lalu meminta ijin pada Jimmy.


"Jimmy, kau jangan kemana mana! Tetap di sini, jaga istrimu, kau tidak usah lagi kembali ke kantor. Pekerjaannmu sudah beres. Besok kita bicarakan lagi. Aku pulang dulu dengan Leon. Leon tampak frustasi melihat istrimu seperti ini. Oke?"


"Oke Lexa, terimakasih ya? Sampai jumpa besok!" Kata Jimmy dengan bersuara pelan.


"Ya, selamat sore!" Lexa membungkukan tubuhnya lalu menyusul Leon.


Di luar Leon sudah memegang dahinya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan.


"Ayo pulang!" Lexa menggandeng lengan Leon menuju basement parkir rumah sakit.


"Leon, apa kau tidak ada pekerjaan di hotel?" Tanya Lexa dan Leon menggeleng.


"Jadi, kita ke apartemenmu?"


Leon mengangguk namun tak berapa lama dia menghentikan langkahnya dan menatap Lexa.


"Ada apa?"


"Katanya kita mau melihat gaun pengantinmu? Tanya Leon kemudian.


Lexa tersenyum. Ternyata Leon masih mengingatnya. Mereka sudah memiliki janji malam ini bersama designer gaun pengantin pada butik langganan Viena. Viena yang sudah menjadwalkan pertemuan mereka.


"Kau masih ingat?" Tanya Lexa yang merasa Leon hanya memikirkan Solane.


"Tentu! Kau ini bagaimana? Sekarang pukul lima sore, perjalanan sekitar satu jam ke pusat kota masih ada waktu untuk makan dulu. Aku lapar Lexa!" Pekik Leon.


"Kau sudah tidak mencemaskan Solane?" Lexa memastikan.


"Katamu besok kita kesini lagi?" Leon ikut memastikan. Karna Leon tetap bertanggung jawab dengan kondisi Solane dan suaminya.


"Iya baiklah, ayo!"


Lexa kembali menggandeng lengan Leon namun Leon malah merangkul pundak Lexa. Leon sangat beruntung memiliki kekasih dan calon istri baik hati seperti Lexa. Leon tidak ada niatan untuk sedikitpun menyakiti asisten cintanya itu.


...


Mereka sudah sampai di restoran. Lexa agak mengernyitkan dahinya. Dia seperti mengenal sosok wanita yang sedang duduk di pinggir jendel dengan ipad dan beberapa map. Wanita tersebut seperti menunggu seseorang dan benar saja. Tak lama Lexa duduk dan masih menyipitkan matanya menerka nerka, seorang pria datang menemui wanita tersebut.


"Kau melihat apa Lexa?" Tanya Leon menyerahkan buku menu pada Lexa.


"Itu seperti Abby, Leon!" Kata Lexa. Leon lalu juga melihat ke arah tatapan Lexa dan benar di sana Abby.


"Dia sedang apa? Tidak bersama Ben?" Selidik Leon.


"Entahlah, aku tidak tahu jadwal dia hari ini. Sebentar aku akan menghubungi Lucy."


Lexa lalu menghubungi Lucy dan bertanya apa yang Abby kerjakan hari ini. Lucy mengatakan kalau Abby menemui klient yang hendak membuat iklan. Karna ini perusahaan kecil jadi Lucy bertemu di restoran. Sedangkan Viena sedang rapat dengan perusahaan iklan berskala besar bersama kru lainnya. Viena tidak mau memberitahu Lexa karna Viena tahu, Lexa sedang mengurus Angel dan gaun pengantinnya.


Lexa : "Baiklah Lucy terimakasih!"


Lucy : "Sama sama! Jangan lupa fotokan design gaun pengantinnya."


Lexa : "Untuk apa? Rahasia!"


Lucy : "Sombong sekali kau!


Lexa : "Sekali kali aku ingin sombong dengan wanita yang bertunangan namun tidak menikah menikah! Sudah ya, bye!"

__ADS_1


Lexa menutup panggilan dan memperhatikan Abby.


"Aku belum pernah mendengar nama perusahaan ini, Leon. Perusahaan Elektronik Greenlight Station. Sepertinya perusahaan baru ya?" Lexa menerka nerka.


"Lexa, sepertinya gelagat orang itu tidak baik. Lihat lah cara dia melihat Abby! Si Ben kemana sih? Kenapa dia tidak menemani?!" Leon terus memicingkan mata lancipnya itu memperhatikan gelagat klien Abby itu.


"Bukankah dia sudah menjadi asisten Tuan Jeremy?" Jawab Lexa.


"Memang sih! Cepat pesan makanan Lexa, biar aku yang memperhatikan pria hidung belang itu!" Perintah Leon mengetuk ngetuk buku menu tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Begitukah? Aku jadi khawatir! Tidak biasanya Abby mau mengurusi hal kecil ini. Aku pikir dia akan ikut dengan Nyonya Viena." Gumam Lexa.


Lexa lalu memesan makanan. Sore menjelang malam itu restoran yang Lexa dan Leon tuju tidak begitu ramai. Dan, nampaknya Abby terlalu serius menjelaskan sesuatu jadi dia tidak sadar akan keberadaan Lexa dan Leon. Lexa hanya bingung saja. Mengapa ada klient yang minta bertemu di sore menjelang malam ini. Dan benar apa yang dikatakan Leon, pria di depan Abby itu terkadang mencuri curi menyentuh tangan Abby.


Ketika makanan Lexa dan Leon tiba, mereka makan sambil terus memperhatikan Abby bersama yang katanya klien perusahaan iklan Viena. Sampai Leon sudah tampak kesal, begitu juga dengan Lexa. Lexa ikut berdiri setelah Leon juga berdiri. Leon menyeruput minuman dinginnya lalu menghampiri pria yang bersama Abby itu. Leon sudah sangat kesal karna beberapa kali pria itu memegang tangan Abby secara paksa karna Abby menolaknya. Dan yang membuat dirinya bahkan Lexa juga kesal, mereka melihat kaki pria tersebut mengelus betis Abby sampai hendak menyibakan rok yang Abby kenakan.


Leon mendatangi pria tersebut dan menarik sisi bahu jas nya.


"Kau ini sedang apa hah?!" Kata Leon menantang pria tersebut.


"Leon, Lexa? Kalian?" Abby tersentak dan beranjak dari duduknya


"Ya Abby! Kau sedang apa?! Mengapa pria ini genit sekali?" Tanya Lexa mengintrogasi.


"Dimana Ben?" Tambah Leon.


"Di dia klien kita Lexa! Aku juga tidak tahu mengapa Tuan Reno seperti itu?! Ben mengurusi Tuan Jeremy Leon!" Jawab Abby seperti takut.


"Kalian ini kenapa?! Aku sedang membicarakan iklan dengan gadis ini! Dia asisten Nyonya Viena kan?" Pria itu berusaha melepaskan lilitan tangan Leon pada lehernya.


"Oh, jadi kalau calon istriku yang datang, kau akan melecehkannya iya?!!" Leon makin mengencangkan tangannya pada leher pria bernama Reno itu.


"Leon Leon, lepaskan dulu! Ini salah paham!" Abby berusaha menjelaskan.


"Salah paham bagaimana Abby?! Kau tidak merasa dia seperti akan melecehkanmu?! Mengapa kau mengadakan pembicaraan bersama klien di luar kantor? Memangnya tidak bisa dia yang ke kantor kita atau kau yang ke kantor dia?! Ini hampir malam, aku tidak pernah mengadakan pertemuan pribadi seperti ini ketika malam hari!" Bantah Lexa sudah kesal ke ubun ubun.


"Eng, maafkan aku Lexa, eng aku bisa jelaskan! Tapi iklan yang akan kita buat dengan perusahaan Tuan Reno sangat banyak dan pasti sangat menguntungkan!" Kata Abby meyakinkan.


"Memang iklan seperti apa? Aku yang tahu dan menentukan! Leon, lepaskan dia dulu!" Selidik Lexa.


"Huft! Kalian ini semua siapa hah? Aku akan membuat iklan lini bawah. Semua billboard di pusat kota Legacy harus terpampang produk perusahaan kami!" Sela Reno sambil membenarkan jas nya.


"Apa kau bilang? Lini bawah? Ah sudah lah Tuan Reno, aku yang membatalkan! Kau membuang buang waktu, dari gelagatmu saja, kau tidak serius! Perusahaan kalian perusahaan baru kan?" Lexa menolak pinggang.


"Iya Lexa." Saut Abby


"Kau saja tahu! Sudahlah Tuan Reno, saya asisten resmi Nyonya Viena Jovanca, Alexa Luxurio. Saya bisa melaporkan anda karna hendak melecehkan teman saya. Saya sudah mengambil gambar kalian. Lebih baik anda pergi, kerjasama dibatalkan!" Lexa memberi keputusan karna gelagat Reno yang seperti ada udang di balik batu.


"Berarti Abby menipuku? Dia bilang dia asisten Nyonya Viena dan mengapa dibatalkan? Bos ku bisa marah!" Bantah Reno lagi membuat Abby mengernyitkan dahinya. Dia juga seperti ditipu.


"Bos kau bilang? Bukannya kau bos nya?" Bantah Abby. Sebenarnya Abby hendak bertemu karna akan langsung berurusan dengan pemilik perusahaan ini karna akan cepat kontrak kerjasamannya tapi ternyata Abby yang juga tertipu.


"Aku sudah sangat sabar!" Decak Leon dan Buk!


Leon membalikan Reno dan memberikan satu tinju pada pipi Reno.


"Sekali kau menampilkan batang hidungmu di hadapan Abby atau Lexa lagi, bukan hanya pipimu yang membiru, tapi semua! Cepat pergi kau! Gadungan!" Ancam Leon dan Reno pun lari tunggang langgang karna sudah gagal melaksanakan aksinya.


Abby lalu duduk tersungkur di kursi makan restoran itu. Lexa menatapnya.


"Kau ini kenapa Abby? Mengapa kau melakukan hal seceroboh ini? Bagaimana kalau kau di apa apakan oleh orang itu? Bukan masalah perasaan Ben, tapi juga harga dirimu!" Lexa memegang bahu Abby.


"Maafkan aku Lexa!" Abby menunduk.


"Memang ada apa?" Lexa mencoba mengetahui masalah Abby sehingga Abby melakukan hal ini.


"Aku hanya ingin mendapatkan uang lebih Lexa. Aku kasihan dengan Ben. Dia berjuang untuk mengumpulkan biaya kami menikah! Jadi aku juga ingin menabung. Aku memgambil semua proyek iklan yang masuk. Kata Nyonya Viena, kalau aku bisa mengurusnya sebaik dirimu, dia malah akan memberiku bonus." Abby menjelaskan dan hendak menangis.


"Ya Tuhan! Hanya itu?!"


"Iya Lexa, Leon pasti tahu bagaimana keluarga Ben yang sangat tertata rapi. Ben anak satu satunya dan tidak boleh asal asalan memilih wanita, sementara Bem memilihku. Ben ingin segera menikah denganku Lexa." Abby mendongakan kepalanya dan Lexa teramat tidaj tega.


"Sudah Abby, kau tenang saja, sebentar lagi Ben pasti melamarmu, aku yakin! Dia sudah bekerja bersama Tuan Jeremy. Pekerjaannya lebih sulit ketimbang diriku." Leon menimpali.


"Ya benar Abby. Pekerjaan iklan yang seharusnya pekerjaanku, jangan lagi kau kerjakan. Kalau harus kau kerjakan, kita harus bersama. Biasanya juga seperti itu kan. Lebih baik kau pulang beristirahatlah." Kata Lexa menenangkan Abby.

__ADS_1


"Iya Lexa, aku hendak ke apartemen Ben. Aku merindukannya. Satu minggu ini kami tidak bertemu karna mengurusi Leon juga." Tutur Abby dan mulai merapikan perlengkapannya.


"Haha, maafkan aku Abby, hanya Ben yang bisa membantuku!" Leon menggaruk garukan kepalanya.


"Baiklah, kalian selamat ya? Semoga rencana kalian lancar. Aku pasti akan membantumu Lexa." Abby kini beranjak dan memegang bahu Lexa.


"Pasti Abby. Hati hati dijalan!"


"Sampai jumpa besok di kantor!" Abby lalu memeluk Lexa dan mengucapkan terimakasih pada Leon lalu dia pergi ke apartemen Ben.


"Hem, mengapa hari ini hanyak sekali masalah Leon. Aku jadi sangat lelah. Sepertinya aku ingin bertemu papiku. Bisakah setelah melihat gaun kita, kita kesana?" Kini Lexa terduduk.


"Tentu sayang! Kau memang harus bertemu dengan beliau. Kau akan lebih tenang bertemu dengannya." Leon mengelus puncak kepala Lexa.


"Terimakasih Leon, kau selalu mendukungku!" Lexa sedikit mendongakan kepalanya.


"Begitu juga denganmu. Kita kan pasangan asisten yang serasi Lexa." Leon tersenyum manis sekali membuat Lexa selalu hanyut.


"Heng, musang gombal!" Lexa berdecih.


"Apalagi yang kau umpatkan padaku?! Banyak sekali kamus katamu!"


"Tentu, aku kan calon istri Danteleon Janson yang sangat pandai berbicara layaknya bos!" Lexa terkekeh.


"Hahaha, hanya mengikuti gestur Tuan Dion! Sudah Lexa, ayo kita ke butik itu." Leon mengulurkan tangannya untuk diraih Lexa.


"Ya!"


Lexa beranjak dan menuju ke mobil bersama Leon. Mereka bertemu dengan designer gaun pengantin butik itu. Lexa senang karna sang designer adalah seorang wanita dewasa yang sangat friendly. Dia memberitahu Lexa bentuk gaun yang sesuai dengan tubuh Lexa.


Akhirnya mereka memilih model shoulder di bagian dada nya dan bagian bawahnya model bowl gown. Namun, Lexa tidak ingin menggunakan kerangka gaun. Itu sangat membuatnya repot. Dia ingin gaun seperti seorang ratu namun tidak ingin terlalu membuatnya sulit bergerak. Leon yang mendengar keinginan Lexa menyuruh sang designer manambahkan beberapa kain saja agar tetap megah dan sang perancang menyetujuinya. Sang perancang cukup terkesima dengan Leon yang ikut memperhatikan gaun sang calon karna tak banyak pria yang memperhatikannya.


"Tuan Janson sangat memperhatikan keinginan calon istri anda. Sangat jarang pria yang melakukannya." Puji sang designer.


"Aku hanya ingin membuat calon istriku ini nyaman dan terus tersenyum ketika acara nanti." Jawab Leon merangkul dan memandang Lexa.


"Leon, tidak perlu menggombal disini!" Lexa memalingkan pipi Leon.


"Itu hanya bentuk ungkapan Nona Luxurio." Saut sang designer.


"Dia memang tidak mengerti rasa cintaku ini, Nyonya designer." Tambah Leon tetap memberikan kata kata manisnya.


Lexa menepuk pelan dada Leon dan mereka tertawa kecil. Sang designer lalu melanjutkan dengan bahan yang diinginkan lainnya mengenai gaun itu. Setelah itu Lexa dan Leon menuju ke rumah Jerry.


Lexa dan Leon masih tinggal di flat dan apartemen mereka masing masing, namun tak ayal sesekali mereka menginap. Leon dan Lexa belum melakukan hubungan intim itu. Leon masih menjaganya karna menghargai Lexa yang sepertinya hanya ingin ketika mereka sudah menikah. Mereka saling mendukung satu sama lain. Selama tiga bulan mereka mengalami banyak tantangan dalam berhubungan namun tidak menggoyahkan perasaan mereka.


Hem, karna beberapa kejadian dan masalah masalah yang terdapat pada pekerjaan mereka masing masing, Lexa dan Leon harus mengalah karna pernikahan mereka harus tertunda sampai Viena dan Dion melahirkan anak mereka. Selang satu minggu kelahiran anak majikan mereka, barulah mereka melangsungkan pernikahan yang sudah mereka nantikan.


...


...


...


...


...


Oke dahhh akhirnya ya pak Leon bu Lexa .. maafkan ya masalah majikan kalian itu yang mengurusi si ibu pepitoo haha 😝😝


.


Next part 80


Akhirnya ya nona lexa akan menjadi nyonya


Yok yok kondangan 😁😁


.


Jangan lupa LIKE KOMEN VOTE RATE pkoknya sesuatu yang mendukung aku, aku suka sangaat!!! Love you pokoknya!!


..


Thanks for read 💕

__ADS_1


__ADS_2