
Lexa menunggu nunggu kehadiran suaminya yang tak kunjung tampak. Dia cemas. Apakah Leon benar benar marah padanya. Dia tampak gelisah dan Jane terus mengusap tangannya yang bertaut. Tangan Lexa dingin karna takut dan khawatir.
"Kau tenang saja, Leon pasti akan kembali!" Kata Jane menenangkan dan Lexa mengangguk mendengar penuturan ibu mertuanya. Sejatinya dia tidak akan tenang sampai melihat sendiri batang hidung suaminya di depannya. Lexa tidak menyadari bahwa Leon memperhatikan setiap perubahan yang menyerang Lexa.
Tak berapa lama Jerry masuk kembali setelah beberapa saat menghampiri Leon tadi. Jerry sudah berbicara pada Leon. Jerry mengatakan kondisi yang memang harus dirasakan saudara kembarnya. Lexa akan merasakan frustasi dan trauma. Namun, jika tidak ada dukungan, apalagi dukungan yang ia perlukan, ia akan terlampau lama merasakannya. Sejatinya dukungan yang Lexa perlukan adalah suaminya namun memang agak sulit. Jerry juga menyarankan agar Leon mencari tahu keadaan sesungguhnya seorang wanita yang baru saja keguguran. Mereka masing masing tidak boleh egois dan harus saling melengkapi. Sebisa mungkin Jerry memberi pengertian pada Leon.
"Tuan Jerry? Dimana suamiku?" Tanya Lexa sendu pada saudara angkatnya itu.
"Dia sedang beristirahat Lexa. Dia tampak lelah. Biarkan dia beristirahat. Kau tenang saja, dia tidak marah besar padamu. Dia hanya bingung bagaimana lagi membuatmu mengerti dan tidak menangis lagi." Jawab Jerry tersenyum tipis lalu menghampiri istrinya yang duduk di pojok sofa.
Keadaannya agak menegang ketika Leon terbawa emosi tadi. Ayah nya, Larry saja sampai tidak bisa melakukan apa apa. Dia tahu perasaan Leon yang hanya ingin ketenangan dan kenyamanan bagi istrinya. Kenyataannya, hanya Leon yang sebenarnya sangat dibutuhkan Lexa namun Lexa terlampau bersedih jadi dia terus menekuk wajahnya dan tampak masam. Hal ini sungguh membuat Leon merasa gagal dengan apa yang sudah ia usahakan.
Beberapa jam kemudian Lexa masih menunggu dan merasa gelisah. Rasanya dia sangat bersalah pada suaminya. Ya, seharusnya dia tidak terus terusan bersedih begini. Toh, Leon tahu alasan dirinya keguguran karna apa.
Lima belas menit kemudian rasanya sudah tidak sabar Lexa menanti. Dia ingin suaminya. Tampak di sana Jane tertidur bersama Juan di sofa penunggu sementara Jerry, Angel dan Larry tengah mencari udara segar. Lexa tampak diam sepeninggal Leon jadi mereka yang menunggu tidak enak menanyai Lexa. Mereka mencoba mengerti perasaan Lexa dengan membiarkan wanita itu berdiam diri mungkin untuk ketenangannya.
Lexa berusaha memijakan kakinya di lantai. Dia tidak mengenakan infus lagi karna Lexa tampak berselera makan meskipun sedikit. Dan darah dalam perutnya itu sudah sepenuhnya bersih. Namun memang kondisi tubuhnya masih lemah. Dia berjalan perlahan hendak keluar ruangan. Dia harus mencari Leon dan meminta maaf. Dia tidak bisa tanpa pria itu. Seperti ada sebilah pisau menancap di hatinya yang rasanya begitu perih dan sesak yang tak ada habisnya.
Lexa membuka pintu kamar perawatannya itu dan Ketika dia membuka pintu, di sana Leon nyatanya ingin masuk ke dalam kamarnya juga. Mereka berpapasan dan saling menatap. mata Lexa telah berkaca kaca namun dia mencoba menahannya dan sejatinya dia ingin langsung memeluk pria nya itu.
Karna posisi Leon menunduk, dia sudah memperhatikan kondisi tubuh istrinya dari bawah dan menjalar ke atas. Leon menatapnya sedih. Selama ini dia tidak memperhatikan bentuk tubuh Lexa yang tampak kurus. Yang ada dipikirnya selama ini hanya Lexa terus menyantap makanan dan asupan gizi dia bisa tetap terjaga. Namun kenyataannya Lexa seperti garis lurus dengan wajahnya yang lesu dan frustasi dengan semua kesedihan ini.
Sementara Lexa menatap Leon yang juga sangat merasa frustasi. Pasti karna dirinya. Leon menatapnya sayu. Lexa lalu menaikan kedua tangannya hendak memegang wajah Leon. Leon membantunya agar lebih cepat memegang wajahnya. Lexa terharu kalau ternyata suaminya masih mengasihaninya. suaminya sudah memaafkannya bahkan sebelum ia mengatakannya. Dia meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, aku disini tidak kemana mana." Kata Leon lembut menyapukan air mata Lexa dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku Leon." ucap Lexa sedikit menunduk. hatinya perih dan menyesali perbuatan kekanak kanakannya dengan suaminya sendiri.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, kita semua bersedih, kemarilah!" Saut Leon menarik kepala Lexa dengan satu tangannya masuk ke dalam pelukannya.
"tadi Kau kemana Leon? Aku takut kau benar marah dan meninggalkanku dan kau tidak mau lagi bersanding denganku." tanya Lexa dalam sesenggukan ya. dia masih dalam pelukan suaminya.
"Aku memikirkan mu Lexa. Mana bisa semudah ini aku tidak mencintaimu. mana bisa aku tiba tiba meninggalkanmu. aku hanya sedikit tidak terima dengan prilakumu. seharusnya kau kuat seperti biasanya. tapi sepertinya aku keliru. Lexa, maafkan aku. dengarkan aku! untuk masalah kehamilan, kita Masih banyak waktu, sayang. dan Tenanglah aku baik baik saja!" Leon mencoba megatakan kata kata tepat agar Lexa tidak bersedih lagi.
"Aku akan berusaha tegar Leon dan tidak akan membuatmu terlalu banyak berpikir." kata Lexa lagi merasakan kehangatan tubuh suaminya yang selalu ia inginkan.
"Ya, kita jalani bersama sama! Tenanglah jangan menangis lagi!" Balas Leon mengelusi punggung istrinya dan menarik diri dari pelukan merek.
Leon lalu menggiring Lexa masuk ke dalam kamar perawatannya. lexa sudah kembali duduk di tempat tidurnya.
"Kau bawa apa Leon? Sepertinya kau membawa bungkusan." tanya Lexa.
"Ya aku membelikanmu bubur, biar kusiapi." Jawab Leon dan mulai menyiapkan bubur daging kesukaan Lexa. Leon menaruhnya di atas nampah. Leon juga membawakan bingkisan yang diberikan Egnor dan Claudia hari yang lalu.
"Buka bingkisan ini sayang, kau belum membuka nya. Dari Tuan Egnor dan Nyonya Claudia." kata Leon menunjukan bingkisan sebuah kotak pipih dan selembar map.
"Ah iya kau benar!" Lexa meraih bingkisan tersebut dan membukanya.
Leon sambil menyuapi Lexa. Lexa membuka bingkisan itu yang merupakan sebuah frame berisi tulisan kata kata harapan.
~Harapan. Harapan adalah sebuah kepercayaan yang diinginkan untuk Terpenuhi sehingga berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Harapan memang sesuatu yang tak tampak. Dia abstrak. Namun, jika terasa dan memiliki niat di dalam batin maka itu akan tampak dari hasil yang kita inginkan~
__ADS_1
Begitulah kata katanya. seperti pengertian harapan itu sendiri. kata kata itu dihias sangat cantik bak sebuah puisi yang dibingkai dengan sebuah frame.
Lexa menutup mulutnya membaca kata kata dalam frame ini. Dia yakin ini bukan kata kata Claudia atau Egnor namun mereka mengerti memberikan kata kata ini untuk kekuatan dirinya. Lexa lalu membaca surat pesan yang dikirimkan Claudia. Claudia yang menulisnya. Lalu masih ada surat lainnya seperti sertifikat resmi yang di taruh di map. Leon belum sempat membukanya karna dia terlalu memusingkan keadaan Lexa kemarin.
Surat Claudia
Dear My Lexa ..
Anak pertamaku ..
Sungguh sesuatu yang luar biasa ketika suamiku mengatakan, dia mempunyai seorang anak angkat yang sudah besar bahkan yang sudah memiliki pria yang disukai. Aku sempat menerka siapakah gerangan karna pasti sudah kunjung dewasa. Aku membayangkan dia adalah seorang gadis yang menakjubkan seperti ayah angkatnya. Dan ternyata benar, dia seorang asisten wanita yang sangat tangguh. Merasa kesendirian dan merantau mencari jati diri hidup. Saat itulah aku mengetahui kalau itu adalah dirimu.
Aku bangga. Aku tidak marah pada suamiku. Aku senang aku memiliki seorang anak perempuan. Lexa, jangan lagi kau bersedih mengenal kepergian ayahmu. Dia sudah sembuh. Dia sudah tenang di surga. Kau tenang saja. Suatu saat nanti kita pasti bisa bertemu lagi dengan beliau. Begini, aku tidak bisa menemuimu. Tapi salam dan cintaku pasti sampai melalui ayah angkatmu bukan? Oh tidak, aku sudah mengatakan pada suamiku kalau jangan lagi menganggapmu anak angkat melainkan anak kandung. Kau jangan memusingkan arti kata yatim piatu Lexa. Kita sama! Namun bisakah aku menjadi ibu kandungmu dan Egnor Jovanca menjadi ayahmu yang sah! Jadi aku sudah menyuruh suamiku mambuat akta keluarga dan mencantumkan namamu sebagai anak pertama kami! Lexa, kau tak sendirian, kau bukan anak yatim piatu. Kau memiliki ku dan suamiku. Kami adalah ayah dan ibumu!
Pulang lah ke Honolulu jika kau membutuhkan pelukan kasih sayang seorang ayah dan ibu yang sesungguhnya. Kami dengan tangan terbuka menerimamu. Jangan bersedih hati lagi, terus bersemangat. Jangan lupa, kau memiliki pendamping hidup yang begitu mencintaimu. Aku merasakan bagaimana rasa sedih Leon yang lebih lebih mendalam karna melihat setengah jantungnya bersedih.
Aku mencintaimu
Ibumu, Claudia ..
Dan juga salam hangat dari ayahmu, Egnor ..
(Dia marah karna tidak menyertakan namanya padahal ini surat pemikiran ku bukan dirinya, aku sebal sekali dia terus memaksaku sampai dia mengecup keningku, haha! Tidak penting! Aku hanya ingin membuatmu tersenyum #love)
"Aku minta maaf Leon, aku harus menangis .." tangis Lexa pecah sambil menutup wajahnya. Leon tidak bisa marah dalam hal ini. Lexa hanya terharu karna ia tidak sendirian. Semua kejadian ini hanya ingin mengujinya seberapa besar kekuatannya. Dia pun merasa bersalah pada Leon, suaminya. Suaminya benar, ini bukan dirinya. Dia harus kuat dan tahan tekanan. Ini hanyalah masalah waktu, itulah yang ibu kandungnya juga katakan ketika di mimpi.
Leon lalu meletakan mangkuk bubur yang ia pegang. Dia menarik Lexa untuk bisa menangis dalam pelukannya.
"Menangis lah Lexa. Aku yang salah. Aku terlalu memikirkan hatiku. Padahal kau yang benar benar paling tersakiti. Sudah berapa peluh kau rasakan. Kalau saja bisa, biar aku saja yang merasakannya. Beginilah diriku Lexa, hanya bisa di sampingmu dan semoga bisa membuat penghiburan bagi dirimu. Hanya itu yang ada di pikiran Ku. Jika aku terlalu percaya diri kau mencintaiku terlalu dalam, aku minta maaf. Aku akan berusaha keras untuk membuatmu semakin mencintaiku. Agar kehadiran ku saja bisa membuat hatimu nyaman Lexa." saut Leon ingin menangis namun ia menahannya. kalau ia ikut menangis, maka istrinya makin malah bersedih.
Lexa menggeleng dalam pelukan suaminya.
"Aku minta maaf Leon. aku yang salah. aku melupakan dirimu. Aku hanya memikirkan diriku yang ingin papiku sembuh dan memiliki anak tanpa memikirkan perjuangan yang telah kau ciptakan untukku. Leon, beri aku kesempatan untuk bisa menghadirkan mu di setiap keluh kesah ku dan suka cita ku. tapi sejatinya memang kau lah yang kubutuhkan sayang." kata Lexa masih dalam tangisnya. dia tidak bisa menahannya kalau ternyata suaminya begitu mencintainya.
"Selalu Lexa, aku selalu memberikan apa yang kau inginkan. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Hanya itu yang diinginkan setiap pria untuk wanitanya sayang." Leon mengelus pelan rambut Lexa yang terkuncir.
"Terimakasih Leon, aku mencintaimu, aku mencintaimu." ucap Lexa makin mengeratkan pelukannya.
"Aku jauh begitu mencintaimu. Jadi sekarang kau jangan sedih ya, kau sudah memiliki ayah dan ibu kandung. Bahkan mereka orang hebat sama seperti papi dan mamimu. Dan percayalah, papi dan mamimu sudah tenang meninggalkanmu di sini. Begitu juga dengan Lionel. Seperti yang dikatakan Nyonya Claudia, harapan itu akan kembali bersama kita sayang. Kau pasti akan hamil lagi. Percayalah." kata Leon menarik dirinya melepaskan pelukannya.
"Iya Leon. Kita akan terus berusaha. Ini bukanlah akhir dari semuanya. Aku masih punya harapan. Mengapa kau tidak mempertemukan ku dengan dad ku, Leon? Biarkan aku menghubunginya sekarang." Tutur Lexa mencoba tersenyum dalam tangisnya.
"Baiklah, aku akan menghubunginya tapi habiskan dulu buburmu ya? Sejak tadi pagi kau belum makan kan?" Leon meraih kembali mangkuk bubur itu.
"Aku makan!" protes Lexa.
"Tapi tidak berselera kata Tuan Jerry?" Leon menaikan satu alisnya.
"Karnamu Leon! Karna kau tak ada, aku jadi tidak berselera makan."
"Maaf. Aku tidak akan memarahimu lagi!" Leon berusaha walau mungkin akan sedikit ingkar.
__ADS_1
"Aku tidak yakin, kau jangan janji begitu!" dengus Lexa yang sangat tahu emosi Leon.
"Makanlah!" Leon tersenyum tipis dan kembali menyuapi Lexa. Leon sudah cukup puas melihat perubahan Lexa yang sungguh cepat. Semoga saja mimpi itu tidak menyerang istrinya lagi. Leon sempat memikirkan ke traumaan yang akan terjadi pada wanita yang mengalami keguguran yang tadi sempat disinggung oleh Tuan Jerry.
"aku senang sekali kalian bisa kembali berbaikan sebelum matahari kembali terbit. memang seharusnya seperti itu, Lexa, Leon!" seru Jane menghampiri kedua anaknya itu dan merangkul Leon. Juan juga menghampiri mereka. dia memegang megang tangan Lexa agar tidak bersedih lagi. Lexa menoleh pada Juan dan memberikan senyuman termanisnya.
...
Setelah Dokter menyatakan membaik, Lexa pun diijinkan untuk kembali ke Legacy. lexa senang karna dapat kembali melakukan aktivitasnya. namun, tak menutup kemungkinan terkadang Lexa masih suka melamun selama penerbangan. Leon berusaha memakluminya dan tidak pernah bosan memberikan gurauan pada istrinya itu.
Jerry dan angel kembali menjalani rutinitasnya. mereka sedikit sedih karna Lexa dan Leon kembali dan tidak ada lagi yang menjadi teman mereka bicara. Jerry berjanji mungkin suatu saat mereka akan melakukan baby moon ke Legacy.
Leon dan Lexa sudah tiba di apartemen mereka. Lexa masih dalam keadaan diam ketika memasuki apartemennya dan duduk di sofa. dia mengelus perutnya. Setelah Leon memastikan kopernya di dalam apartemennya, dia menghampiri Lexa dan duduk di sampingnya. Leon tahu kalau Lexa kembali hanyut dalam kesedihannya.
"Hem, apakah dokter mengatakan berapa ka kita tidak bisa berhubungan Lexa?" tanya Leon menyeringai, namun nampaknya Lexa tidak menghiraukannya.
Leon kembali mendekatkan dirinya. dia melingkarkan tangannya di pinggang istrinnya. perlahan lahan telapak tangannya menelusup pakaian Lexa dan mengelus perutnya dan saat itulah Lexa tersadar.
"Leon? kau menginginkannya?" selidik Lexa.
Leon mengangguk tersenyum. dia lalu mengecupi pundak Lexa.
"hem, urungkanlah, dokter bilang harus menunggu selama satu Minggu!"
Leon menarik dirinya dan membelalakkan matanya.
"baru saja aku ingin berubah!" wajah Leon agak merunduk.
"hem, musang mesum! terimakasih! mari kita memulai kembali. apakah kau akan menjadi semakin liar?" saut Lexa menghadap pada suaminya.
"heemm, kau meremehkanku Lexa!!" balas Leon menyeringai lebar dan akhirnya dia hanya mencium bibir istrinya itu.
...
...
...
...
...
gitu dong mba Lex, memulai kembali .. rasakan keganasan suamimu hahahaa 😅😅
.
next part 31
aku akan membawa pada konflik konflik ringan Lexa dan Leon tapi juga membahas teman, kerabat dan saudara Lexa dan Leon ya biar sekalian 😍😍
.
__ADS_1
Jadi akhir kata jangan lupa LIKE, KOMEN, RATE dan VOTE .. selamat membaca n i love you somuchhh much!!