Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 15. Comfort


__ADS_3

VII MINTA LIKE NYA DULU YA BIAR GA LUPA ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


...


Cara membuka hati yang paling mudah adalah melupakan masa lalu dan menanti masa depan. Ketika harus melihat masa lalu yang masih berkeliaran kita menjadi terlena dan penyesalan kembali mengerubungi. Namun, bagaimana jika masa depan malah membuat hati tenang, nyaman dan merasa kembali jatuh cinta? Permainan hati siapa yang tahu ketika setiap hari Carolyn harus bertemu dengan Xelino atau bahkan setiap saat. Apa mereka akan merasa satu sama lain? Dan apakah mereka mulai menyadarinya?


...


Xelino melajukan mobilnya menuju ke toko buku terlengkap di pusat kota Springfield yang juga merupakan langganan Carolyn dan Xelino. Beberapa kali Xelino ke tempat ini untuk membeli buku buku pertanian juga menemani Allegra. Bukan hanya buku dan alat tulis yang disediakan. Ada juga perlengkapan untuk membuat prakarya atau karya seni lainnya. Oleh sebab itu Carolyn menyuruh Xelino mengantarnya ke tempat ini untuk membeli perlengkapan Maket nya. Carolyn harus membuat simulasi bangunan yang diinginkan Ansel.


Namun, keganjalan lagi lagi menyerang Xelino untuk mengetahui masa lalu dan perasaan seorang Carolyn. Tampak Carolyn murung mengingat wajah Ansel karena dia terjebak untuk kembali memikirkan Aciel. Xelino meliriknya sesaat. Xelino benar benar jadi sangat penasaran.


"Nona Carolyn!" Panggil Xelino agak berteriak. Carolyn tersentak.


"Xelino! Apa apaan kau ini aku terkejut?!" Bentak Carolyn lagi.


"Kau ini, setiap bertemu si tuan Gellarmo itu kau pasti murung, kau pasti muram, bersedih tidak jelas, kau ini sebenarnya kenapa? Kau suka pada Ansel itu?" Decak Xelino tidak tahan lagi mengeluarkan semua unek uneknya.


Carolyn kembali tersentak karena Xelino menyadari prilakunya.


"Tidak," saut Carolyn melemah dan menyampingkan kepalanya menatap ke luar jalan. Xelino kembali dibuat bingung.


"Kalau tidak kenapa kau muram? Bagaimana besok kau presentasi di depannya? Kalau kau begini, kau akan dianggap tidak kompeten dan profesional. Membawa bawa perasaan dalam pekerjaan. Tunjukan kalau dirimu confident and sexy!" Decak Xelino lagi memberi semangat.


Carolyn membelalakan matanya mendengar kata terakhir yang dikatakan Xelino. Dia menoleh kearah asistennya itu dan memicingkan matanya.


"Apa maksudnya dengan sexy?" Selidik Carolyn dengan nada yang cukup sinis.


"Kalau kau confident maka kau akan terlihat cantik, juga menguasai permainan! Kau tidak akan diremehkan dan tidak akan mudah untuk dimanfaatkan. Malah sebaliknya kau akan disanjung karena kekuatan dirimu yang bisa menunjukan dengan begitu menakjubkan. Kau mengerti tidak?" Kata Xelino masih dengan ketegasan.


Carolyn berpikir. Semua yang dikatakan Xelino benar. Dia tidak boleh lemah. Semua sudah terjadi. Aciel meninggal dengan tenang dan dirinya sudah minta maaf pada keluarganya. Tidak seharusnya Carolyn terus terjebak pada masa lalu.


"Nona! Melamun lagi! Kalau kau tidak bersemangat maka aku juga tidak mau mengantarmu membeli perlengkapan pekerjaannmu, nanti kau masuk saja sendiri!" Ancam Xelino yang masih merasakan kesedihan pada majikannya.


"Aahh kau ini bawel sekali Xelino, melebihi ibuku dan bibiku! Iya iya aku memikirkan apapun urusanku! Kau mengemudi saja dan kau tetap harus mengantar ku ke toko buku. Kalau ada seseorang yang hendak menyakitiku bagaimana?!" Balas Carolyn menjunjung ego nya.


"Kalau sampai toko buku kau masih cemberut, aku tidak peduli kau disakiti atau menghilang sekalipun!" dengus Xelino tidak peduli.


"Hem, berisik!" Decak Carolyn tidak mau berdebat lagi.


'Pria ini kasar sekali berani beraninya mengancam ku dan membiarkanku tersakit, rubah sial!' dengus Carolyn dalam hati dan dia kembali mengingat hal yang membuat dirinya senang sebelum bertemu Ansel.


Carolyn meraih ipadnya dari tas dan membuka lagi gambar diri Lionel. Dia pun mengetik pesan untuk pria yang sedang ia dekati itu.


๐Ÿ“carolyn@delinsgroup.com


Thanks for your photo. Tidak terlihat jelas tapi aku yakin kau tampan. Em, jadi apa Minggu ini kau jadi ke Springfield?


Carolyn mengirim pesan dan mereka masih mengirim melalui email karena belum sempat menyimpan nomor ponsel. Sesaat terasa getaran pada paha Xelino menandakan ada sebuah pesan email. Xelino tersenyum dan melirik kembali nonanya. Carolyn sudah tersenyum dan dia ikut senang melihatnya.


Sekitar lima belas menit kemudian mereka pun sampai di toko buku besar itu. Xelino menuruni Carolyn di depan pintu utama toko buku tersebut. Ada yang aneh dari Xelino, pikir Carolyn. Dia mengernyitkan dahinya.


"Kau tidak turun?" tanya Carolyn dengan nada sebal.


"Kau sudah cemberut dan menentangku, aku tidak mau, aku tunggu saja di mobil, be la jar!" kata Xelino dengan mengeja pada kata belajar.


"Xelino! Tapi aku sudah tersenyum melihat foto Lionel Janson. Kau tahu dia kan? Kami sering mengirim pesan dan baru saja dia memberikanku gambar dirinya," saut Carolyn berbangga diri. dalam hati Xelino senang tapi bukan saatnya dia mengakuinya.


"Ah, kau tersenyum karna laki laki lain, aku tidak mau!" dengus Xelino menatap tajam Carolyn.


"Memangnya kau lelakiku?" saut Carolyn asal. Carolyn bingung mengapa Xelino jadi seperti cemburu padanya.


"Boleh, aku setuju," gumam Xelino malah membuat Carolyn kesal tapi juga berbunga bunga dalam hatinya.


"Sudah gila! Terserahmu, kalau kau tidak mau turun aku tidak peduli! Tapi lihat saja, aku akan mengadukanmu pada Daddy ku!" ancam Carolyn siap keluar dari mobil.


"Adukan saja, aku juga tidak peduli, sudah cepat sana turun!" Kata Xelino lagi tidak sabar. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada Carolyn agar dia tidak sedih terjebak dalam masa lalunya terus menerus.


Carolyn akhirnya turun dari mobil dengan mengerucutkan bibirnya sebal. setelah Carolyn turun, Xelino langsung melajukan mobilnya menuju ke basement parkir.


"Itu bahkan mobilku tapi dia seenaknya! Awas saja kau rubah gila, rubah tengik, busuk, i hate you!" Pekik Carolyn dan memasuki toko buku dengan wajah geram bercampur masam.


Carolyn melihat lihat sekita terelebih dahulu. Tidak begitu ramai tapi tetap cukup banyak orang. Carolyn mengingat ini hari Jumat. Masih ada hari Sabtu dan Minggu dia membuat maket dan Senin dia akan kembali bertemu dengan Ansel. Carolyn menghela napas tiap memikirkan Ansel. Rasanya begitu menyakitkan tetapi juga merindukan Aciel. Carolyn jadi agak linglung hendak kemana. Seketika kepalanya pening. Dia lupa kalau tadi siang dia hanya memakan roti kecil pemberian Deborah. Dia hendak ke cafe terlebih dahulu. Dia menuju sebuah cafe kecil di sudut toko buku tersebut. Di sana menyediakan Japanis Cheesecake juga Lemon Cake terenak menurut Carolyn. Ada juga Ice Thai Tea kesukaan Carolyn.


"Mungkin perut yang kenyang akan membuat mood ku bagus kembali," gumam Carolyn dan mulai berjalan ke arah cafe dengan perlahan karena dia tidak mau bersentuhan dengan orang lain. Dia harus memperhatikan jalannya. Jangan sampai menabrak seseorang lagi.


Namun, baru saja Carolyn hampir tiba di cafe tersebut seseorang berlari dan menabrak sisi lengan Carolyn dengan sangat kencang sehingga Carolyn kehilangan keseimbangan. Ditambah sepatu hak tinggi yang ia kenakan. Kakinya seperti terkilir. Dia merasa kakinya sangat sakit dan dia tak mampu berdiri. Carolyn hendak terjatuh namun tiba tiba seseorang menarik tangannya sehingga dia memeluk orang tersebut yang ternyata Xelino.


Carolyn dan Xelino saling berpandangan dan saling memperhatikan lekuk wajah mereka masing masing.


'Carolyn memang sangat cantik,' gumam Xelino dalam hati.


'Xelino? Aku tidak menyangka dia memiliki mata yang tajam dan sangat mempesona,' gumam Carolyn juga dalam hati. Mereka masih berpelukan sampai akhirnya Carolyn tersadar kalau mata kakinya berdenyut nyeri.


"Aaarrgghhh!!! Kakiku Xelino!" Carolyn merintih hendak meraih kakinya. Xelino juga sontak melihat ke bawah. Terlihat mata kaki Carolyn agak memerah. Xelino dengan sigap malah menggendong Carolyn ke kursi di cafe yang hendak Carolyn datangi. Xelino mendudukan Carolyn di kursi tersebut dan berjongkok di depannya. Dia lalu meraih kaki Carolyn dan membuka heels tinggi itu. Xelino memeriksa lebam merah pada kaki itu tanpa berkata kata.


Dari kejauhan tampak seseorang menggunakan ponselnya.


"aku sudah menabraknya dan kakinya sepertinya terkilir," katanya melapor.

__ADS_1


"bagus! thanks! dengan begini besok tuan Ansel bisa mempunyai alasan dekat dengan wanita itu!" balas sesorang disebrang sana.


Seketika Carolyn merasakan kelembutan Xelino yang begitu peka terhadap sakitnya. Xelino terlihat begitu manly atas prilakunya. Jantung Carolyn jadi berdebar tak karuan. Memperhatikan rambutnya yang menegak serta guratan dahinya yang tampak cemas terhadapnya.


"Sakit sekali?" Tanya Xelino mendongakan kepalanya. Hati Carolyn malah makin bergetar tak menentu. Carolyn hanya mengangguk.


"Kau ini ceroboh sekali tidak melihat ada seorang berlari ke arah mu?!" Decak Xelino kemudian lalu beranjak dari sana menuju ke meja counter menu tersebut.


Tak lama Xelino kembali dengan es batu di dalam serbet lalu menempel nempelkannya di memar kaki Carolyn. Carolyn merintih namun dia menahannya agar Xelino tidak ragu menghilangkan rasa sakitnya.


"Xelino," panggil Carolyn.


"Hemm..." Saut Xelino masih mengerjakan tugasnya.


"Katanya kau menungguku di mobil, kenapa tiba tiba menolongku?" Tanya Carolyn polos.


"Ternyata aku bosan, aku mau mencari buku irigasi, tapi aku malah menyaksikan sebuah kecerobohan lulusan arsitektur yang tidak menggunakan matanya untuk berjalan. Bagaimana kalau nanti kau mengawasi pembangunan? Kau akan tertimpa beton kalau kau tidak menggunakan matanya dengan benar!" Decak Xelino kini sudah berdiri. Sejatinya dia cemas pada Carolyn. Dia juga mengingat pertemuannya dengan Ansel dan asistennya yang bermata tajam itu.


Carolyn terkejut mendengar Xelino memarahinya seperti ayahnya saja. Dia jadi malas dan terdiam. Carolyn menunduk dan memijat pijat pahanya karena mata kakinya masih terasa nyeri. Dia juga tidak mau berdebat lagi dengan Xelino.


Tak berapa lama Xelino meliriknya dan sedikit kasihan karena Carolyn tidak membantahnya lagi.


"Kau ingin makan apa? Biar kupesankan!" Kata Xelino kemudian. Carolyn menggeleng. Dia jadi tidak berselera makan. Xelino melihatnya lagi dan akhirnya menghela napas. Ya, tidak seharusnya dia memarahi Carolyn yang kakinya sudah kesakitan begitu. Xelino berjongkok di depan Carolyn lagi. Dia memegang tangan Carolyn. Carolyn terkejut tapi diam saja.


"I'm sorry," ucap Xelino menatap Carolyn. Carolyn masih terdiam.


"Aku hanya cemas, aku, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Daddy mu nanti. Padahal aku asisten sekaligus bodyguard mu. Jadi, maafkan aku," kata Xelino lagi dan entah mengapa jadi tesentuh bagi Carolyn.


"Iya sudah tidak apa apa, aku tidak marah," balas Carolyn dengan lembut.


"Jadi, kau mau makan apa? Aku yang traktir,"


"Memang kau punya uang?" tanya Carolyn menggoda Xelino.


"Kalau hanya satu slice Japanis Cheesecake atau lemon cake aku bisa membelikannya," saut Xelino tersenyum masih memandangi Carolyn.


"Cih," Carolyn berdecih sambil tersenyum.


"Kalau tambah dengan 1 ice Thai Tea, bisa?" tanya Carolyn tersenyum menunjukan lesung pipinya.


Xelino tersenyum lebar.


'Bahkan satu cafe ini bisa kubeli asal dapat melihat senyummu, Carolyn,' tutur Xelino dalam hati dan mengangguk kepada Carolyn.


"Belilah cepat, aku lapar," decak Carolyn tak sabar karena perutnya ikut bergetar bersama hatinya.


"Oke, tunggu di sini!" Kata Xelino dan kembali ke counter menu untuk memesan.


"Makanlah, setelah itu biar aku saja yang membeli semua perlengkapan maket mu. Kau tidak bisa berjalan dengan kaki seperti itu. Kecuali kau harus menggandeng lenganku,' kata Xelino menyodorkan satu nyampah berisi dua slice kue dan dua ice Thai Tea.


"Modus! Kau saja yang membeli, kau kan asistenku!" dengus Carolyn.


"Ya, baiklah," kata Xelino meraih garpu dan mulai memotong lemon cake nya.


Carolyn cukup memperhatikan ternyata Xelino tidak memesan kue keju yang sama dengannya.


"Mengapa kau tidak memesan Japanis Cheesecake??" tanya Carolyn.


"Tidak suka!"


"Baru kali ini aku tahu ada yang tidak suka kue terenak ini," saut Carolyn juga memotong sedikit kuenya.


"Entahlah, rasanya seperti belum matang, padahal kedua orang tuaku menyukainya. Aku lebih suka lemon cake, mengingatkan ku pada pacarku," gumam Xelino dan seketika Carolyn menjadi sedikit kesal mendengar Xelino memiliki pacar.


"Pacar pacar! Kau bicara yang benar!" decak Carolyn dan Xelino makin menjadi jadi.


"Aku mana pernah berbohong! Pacarku menyukai kue ini, ibunya sangat pandai membuatnya, kapan kapan aku suruh dia main kemari bersama ibunya ya. Aku akan mengenalkannya padamu," tutur Xelino sekenanya sambil tersenyum lebar.


"Tidak mau! aku tidak mau berkenalan dengan pacar halusinasimu itu!" decak Carolyn sedikit membentak


"Tapi nona, kau coba saja lemon cake ini, enak sekali!" Kata Xelino mulai memotong bagian kecil untuk disuap pada Carolyn.


"Tidak mau! Aku tidak mau! Kau suapi saja pacar halusinasimu! Orang sepertimu tidak mungkin memiliki pacar!" dengus Carolyn menolak suapan Xelino.


"Lalu kenapa? Apa kau yang mau menjadi pacarku!" saut Xelino lagi makin puas menggoda Carolyn.


"Gila! Rubah gila, sudah diam kau! Merusak mood ku saja memakan kue keju ini!!" decak Carolyn akhirnya.


Uhuk! Uhuk!


Xelino terbatuk mendengar Carolyn mengatainya rubah.


"Apa kau bilang? Aku rubah?" selidik Xelino tidak terima.


"Ya, kau rubah tertengik terbusuk teraneh dan tergila! Semua sifat rubah buruk ada padamu!" umpat Carolyn tidak peduli jika beberapa orang mulai memperhatikan mereka.


"Kau benar benar harimau gila! Aku jadi tidak selera makan dan kau saja yang membayarnya! Dasar harimau betina tidak tahu diri!" umpat Xelino tidak mau kalah.


"Kau bilang apa? Harimau? Ya memang aku lebih ganas daripadamu! Hem!" Carolyn menghempaskan wajahnya menatap Xelino.

__ADS_1


Xelino mengerutkan bibirnya dan hendak membalas perkataan Carolyn lagi kalau sebuah panggilan tidak masuk pada ponselnya. Telepon dari ibunya. Xelino menyeringai. Dia bisa membuat Carolyn lebih cemburu lagi.


"Halo mam!" sapa Xelino bersemangat.


Carolyn melirik Xelino tapi tetap memakan kuenya.


"Xelino? Kau sedang di mana nak?" tanya Lexa di seberang sana.


"Memberi makan harimau," jawab Xelino sekenanya dan masih meledek Carolyn.


Carolyn melebarkan matanya dan melotot ke arah Xelino. Xelino juga memandangnya sebal. Carolyn hanya bisa mengacungkan jari tengahnya.


"Memberi makan harimau? Kau sedang ada di kebun binatang?" tanya Lexa menanggapi.


"Begitulah mam, menemani atasanku. Harimaunya suka sekali dengan Cheesecake sama sepertimu," saut Xelino menyeringai. Carolyn sudah menatapnya dengan wajah kes sedikit bengis.


"Kau keterlaluan, masa kau menyamakan ku dengan harimau," keluh Lexa.


"Oh tentu tidak mam, hanya makanannya saja. Ada apa kau menghubungiku?" tanya Xelino akhirnya.


"Oh tidak, aku hanya mau memastikan apa uang yang kukirim sebagian untuk grandpa dan grandma mu di Desa sudah kau terima?" tanya Lexa.


Seketika Xekino mengingat dengan jumlah uang di rekeningnya yang seketika menjadi banyak. Dia melupakan tujuan uang tersebut. Sementara uangnya sudah ia belikan iPad Carolyn.


"Xelino! Sudah kan?" tanya Lexa kembali memastikan.


"Ah iya sudah mam sudah kau tenang saja. Besok Minggu aku akan mengantarkannya," saut Xelino berdalih.


"Bagus!"


Xelino menarik napas lega. Terpaksa dia harus menggunakan tabungannya selama kuliah untuk diberikan pada kakek dan neneknya. Tidak masalah sebentar lagi dia akan gajian dari dua bos. Hahaha, Xelino tertawa jahat dalam hatinya.


"Satu lagi sayang, sekitar Minggu depan Granny Clau mu dan Grandad Egnor akan mendatangi peresmian restoran Tuan Muda Wilson di Legacy. Jadi Granny Clau mengajakku ke Springfield untuk berjalan jalan. Jadi persiapkan dirimu ya?" kata Lexa lagi memberi tahu.


"Apa?!!!" Xelino terkejut. Dengan begini dia harus menjelaskannya pada ibunya. Entahlah ibunya akan menyetujuinya atau malah memarahinya. Kalau dia tidak bilang, waktunya akan digunakan untuk menemani ibu dan nenek angkatnya itu.


Carolyn menatap nya bingung.


"Xelino! Kau kenapa? Kau tidak senang kami berkunjung?" selidik Lexa terheran.


"Bukan begitu mam, tapi sepertinya aku akan banyak sekali pekerjaan. Apa tidak bulan depan saja?" Xelino memberi penawaran.


"Tidak bisa! Kau hanya perlu mengantar kami malam hari. Kau sudah selesai bekerja kan? Apa ternyata benar dengan yang dikatakan papimu kalau kau mempunyai pekerjaan lain ketika malam? Uncle Jerrymu juga bertanya tanya padaku! Katanya kau bersama seorang wanita! Siapa dia Xelino?!" selidik Lexa yang belum mengetahui pekerjaan asisten ini.


"Oh God! Nanti kujelaskan mam, jadi yasudala, kabari aku jika sudah sampai di bandara," kata Xelino akhirnya menyerah.


"Ya tenang saja. Baiklah sampai jumpa, kalau aku di sana kau harus mengajakku ke kebun binatang juga ya menemui harimau mu," gumam Lexa lagi menanggapi cerita anaknya.


"Cih, sampai jumpa mam,"


"I love you my little boy, muach!" Saut Lexa lagu memberikan suara kecupan untuk anak yang akan selalu ia anggap bayi kecilnya.


...


...


...


...


...


nah lho xel wkakakak hati hati ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.


next part 16


apakah Carolyn akan tetap diam menunggu Xelino Atau ikut mencari tugas kerjanya?


lalu bagaimana Xelino akan selalu ada untuk Carolyn?


siapa orang yang berlari dan mendorong Carolyn?


.


rekomen novel baper dari seorang wanita yang sempurna dengan alur menarik dan beda dari lainnya, mampir yaa ::


- KEHIDUPAN SEORANG PUTRI TUNGGAL -


dijamin ketagihan deh, banyak pesan moral kehidupan dan nilai nilai berharga, bukan hanya percintaan ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.


pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again โคโค


__ADS_2