Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 50. Accident


__ADS_3

lanjutan part 49,


Xelino pun meletakan ponselnya di atas meja makan yang ada di dalam ruang pantry. Casey sontak membelalakan matanya. Siapa yang berani beraninya merekam dirinya dan apa yang dilakukan si Ansel sialan padanya. Juga gerakan mobil itu yang pasti akan membawa kecurigaan. Casey harus menghilangkan video tersebut. Jangan sampai tersebar apalagi sampai terlihat ayah dan ibunya. Khusus nya Jennifer. Jennifer pasti akan langsung mendepaknya dan benar benar tidak akan memberikan barang setengah saja harta warisan Gilbert Delinsky.


Casey hendak mengambil ponsel Xelino tapi Xelino lebih dulu mengambilnya. Xelino tahu apa yang hendak Casey lakukan. Sejatinya Xelino sudah sering bertemu orang orang seperti Ansel dan Casey di sekolahnya dulu atau kampusnya. Karena menjadi seorang jahat lebih mudah ketimbang menjadi orang baik.


"Cih, apa yang mau kau lakukan? Kau mau menghapusnya? Sekalipun kau hapus, aku sudah mempunyai salinannya. Aku hanya tidak rela saja, kalau ponselku yang mahal ini disentuh wanita rendahan sepertimu!" Xelino berdecih.


"XELINO! KURANG AJAR KAU! AAAAHHHH ...." Pekik Casey menghampiri Xelino dan memukul mukul Xelino.


"Hey, apa apaan kau!" Dengan cepat Xelino memegang kedua pergelangan tangan Casey dan menghempaskan tubuh kakak angkat Carolyn itu ke meja makan.


"Aku tidak memukul wanita. Hem, sebaiknya kau jangan mempunyai maksud dengan keluarga Delinsky, khususnya pada Carolyn! Karena kau akan berurusan denganku! Aku hanya memberimu satu peringatan! Aku tidak mengambil resiko jika aku bertindak ke jalur hukum. Heng, kalau kau memang sudah tahu siapa aku sebenarnya, sepertinya hal tersebut malah menguntungkan bagi ayah angkatmu!" decak Xelino menajam.


Casey setengah menoleh dan menatap Xelino dengan sangat tajam.


"Kalau video ini tidak mau tersebar, sebaiknya tutup mulutmu akan identitas ku yang sesungguhnya. Aku mempunyai alasan yang tidak akan merugikan siapapun malah membuat seorang tuan putri yang arogan menjadi mempunyai tata Krama. Bukan sepertimu yang mencari keuntungan! Aku akan mengatakan siapa diriku di saat waktunya tiba, jadi terima saja kesepakatan ini!" Ancam Xelino berdesis.


"Seharusnya kau berbuat baik pada Carolyn dan mengurus perusahaan ayahmu dengan baik, bukan malah mau merebutnya! " Tambah Xelino lagi kali ini sudah sangat membuta Casey kesal.


"Apa kau masih terus menasihatiku!" Decak Casey meraih satu gelas berisi setengh air putih yang sudah ada di sana lalu menyiramkannya ke wajah Xelino lalu pergi dari sana. Dia muak dengan perkatan Xelino


"Sekali ular akan tetap menjadi ular. Biarkan saja dulu, kita lihat apa yang hendak ia lakukan. Sedikit saja menyentuh Carolyn maka aku tidak peduli lagi dia wanita atau bukan!" Gumam Xelino tersenyum kecut.


Dia mengambil kedua gelas kopi yang sudah ia buat dan membawanya pada James.


...


Keesokan harinya, Casey berpura pura sakit. Dia harus mencari tahu berapa perbandingan harta yang hendak Gilbert dan Jennifer berikan padanya. Casey merasa dirinya hanya mendapat perusahaan di Nederland saja. Sementara perusahaan di negara itu sudah hendak bengrut. Akan sulit baginya memajukannya. Jangan jangan perusahaan itu malah mau diberikan pada Carolyn dan di ubah sesuai kesukaan adik angkatnya itu. Casey tidak terima. Dia harus mengetahui surat warisan itu dan mungkin bisa mengubahnya tanpa diketahui ayah dan ibunya.


Casey sudah memastikan Gilbert pergi ke kantor sementara Jennifer pasti sibuk di dapur atau di taman belakang mengurusi tanamannya. Dia hanya perlu ke ruang kerja Gilbert, mematikan sistem cctv di sana lalu mencari surat penting tersebut. Casey bisa masuk dengan mudah karena Gilbert tidak pernah mengunci ruang kerjanya. Di sana memang tidak ada apa apa yang penting tapi memang surat surat kekeluargaan ada di sana. Gilbert tidak berpikir kalau anak anaknya atau para pegawai akan berbuat macam macam karena menurutnya hanya surat surat. Namun, tetap kalau surat resmi perusahaan dan surat tempat tinggal ada di kamarnya.


Sekitar satu jam Casey mencari dan memang benar, Jennifer sudah pergi ke taman. Dia hendak melakukan penelitian. Casey merasa putus asa tidak mendapatkan surat tersebut. Namun, dia akhirnya mencari di kemari kaca yang hanya terdapat beberapa map dan buku buku tebal. Casey mendekatinya dan ternyata Gilbert memang menaruhnya di sana. Casey segera mengambil dan membawanya ke kamarnya agar lebih leluasa membacanya. Sepertinya Gilbert lupa memindahkannya ke kamar karena waktu itu Gilbert kembali harus ke kantor dan sang notaris cepat cepat pergi.


"Kak Casey? Apa yang kau lakukan dari ruang kerja Daddy?" Tiba tiba Carolyn yang ternyata terlambat bangun memergoki Casey yang keluar dari ruang kerja Gilbert dan membuka buka map.


Casey reflek menyembunyikan map tersebut ke belakang tubuhnya. Dia lalai. Dia tidak memastikan Carolyn.


"Tidak, tidak apa apa, ini hanya laporan yang harus dipelajari. Daddy menyuruhku mengambilnya di ruang kerja," jawab Casey tampak gugup.


"Bukankah kau sedang sakit? Mengapa kau tetap bekerja?" selidik Carolyn mulai curiga dengan memicingkan matanya.


"Ya benar, jadi aku hanya mengambilnya dan sekarang aku harus beristirahat, permisi," saut Casey harus menghindar dari Carolyn. carolyn makin curiga.


"Tunggu dulu! Bisakah aku melihat laporannya?" pinta Carolyn menengadahkan tangannya.

__ADS_1


"Bukan laporan yang terlalu penting, Olyn! Sudah dulu ya?" saut Casey lagi hendak masuk ke kamar


Carolyn tak tinggal diam. Dia tetap ingin tahu isi map tersebut. Dia agak mencurigai Casey mengingat sebelumnya ibunya berdebat dengan kakak angkatnya itu.


"Aku lihat dulu Casey! Aku hanya melihat!" Decak Carolyn menarik lengan Casey.


"Jangan Carolyn! Kau ini memaksa sekali!" tolak Casey mencoba melepaskan diri dari Carolyn.


"Kalau hanya laporan penting seharusnya kau boleh memperlihatkannya padaku, lihat Casey!" pinta Carolyn terus memaksa.


"Tidak!"


"Lihat Casey!"


"Carolyn, kau keterlaluan, lepaskan tanganmu!" Bentak Casey lagi dan mendorong Carolyn agar mau melepaskan tangannya tapi Carolyn tetap memegang lengan Casey. Casey tidak menyadari kalau dirinya mendorong Carolyn sampai ke arah tangga.


Karena Carolyn merasa hendak terjatuh, dia menahan dirinya dengan malah memegang lengan Casey dengan sangat erat.


"Lepaskan Carolyn!" bentak Casey tidak sadar mereka sudah di dekat tangga ke bawah.


"Noooo!!!" Pekik Carolyn malah menarik tangan Casey dan mereka berdua berada di sisi tangga yang menurun. Casey masih belum menyadari dan ketika Carolyn menarik diri menjauh dari anak tangga, Casey malah terdorong dan jatuhlah ia dari tangga dengan berguling guling.


"Aaaahhhh !!" Teriak Casey.


Carolyn tidak bisa menahannya karena dia pun hendak menyelamatkan dirinya. Carolyn menutup mulutnya menyaksikan Casey terjatuh ke bawah. Tepat sekali Xelino datang hendak memanggil Carolyn ke atas. Casey tergeletak di bawah kaki Xelino yang dia juga tidak sempat menahannya.


"Xelino, bagaimana ini?" kata Carolyn dengan sangat panik.


Dan tak lama para pelayan sampai Laela dan Cole juga menyaksikan Casey yang sudah terbujur tak berdaya.


"Xelino, aku tidak mendorongnya. Dia yang malah terdorong ke bawah, benar Xelino," kata Carolyn lagi merasa bersalah.


"Tenang Carolyn," saut Xelino memegang lengan Carolyn.


"Cepat bawa ke rumah sakit tuan Xelino, Nona Carolyn!" pinta para pegawainya.


"Aku akan memberitahu Nyonya di belakang," kata Cole segera ke belakang mansion.


Xelino segera menggendong Casey tetapi Xelino memberi kode pada Carolyn untuk mengambil surat surat itu. Xelino melihat sekilas tentang surat tersebut. Setelah Carolyn mengambil lembaran lembaran itu, mereka berdua langsung ke mobil dan membawa Casey ke rumah sakit.


Jennifer yang temani Cole dan Laila segera menyusul Carolyn dan Xelino. Jennifer juga sedang berusaha menghubungi Gilbert.


Casey sudah dilarikan ke unit gawat darurat. Dia masih belum sadarkan diri. Karena benturan yang kerasa dan kehilangan kesadaran serta denyut nadi yang melemah, Casey harus dirawat di ruang ICU.


"Sepertinya Nona Casey mengalami gegar otak karena benturan keras dan berkali kali. Namun, saya belum tahu gegar otak ringan atau parah. Kita akan mengetahuinya besok. Selain itu aku curiga kalau kaki Nona Casey mengalami patah tulang di bagian lututnya karena terlihat bengkak pada salah satu lututnya itu. Saya akan terus mengobervasi dan memberikan kabar pada kalian," kata sang dokter pada Jennifer.

__ADS_1


"Terimakasih dok, lakukan yang terbaik untuk anakku dok, aku mohon," kata Jennifer memohon.


"Tenang saja Nyonya, Kami akan melakukan yang terbaik. Kalau ada yang mau menengok silahkan secara bergantian maksimal 2 orang. Saya permisi," tambah sang dokter meninggalkan mereka semua.


Jennifer membungkukan tubuhnya. Dia menoleh ke arah Carolyn yang sedang menutup wajahnya merasa menyesal dengan perbuatannya. Xelino masih di sana menenangkan Carolyn.


"Semua salahku Xelino! Kalau aku tidak memaksa melihat map itu tidak akan seperti ini!" sungut Carolyn dengan tangis terisak.


"Carolyn, dengan begini kau sudah tahu bagaimana kakakmu kan? Dia hendak mengambil hakmu!" Bisik Xelino saat nya memberi tahu Carolyn. Carolyn langsung menoleh menatap tajam Xelino.


"Ada apa Xelino? Mengapa sampai ada kejadian ini?" Tanya Jennifer yang sudah berada di hadapan mereka.


"Mom ..." panggil Carolyn pelan.


"Nyonya, lihat ini! Nona Carolyn hendak melihat isi dalam map ini yang dibawa oleh nona Casey. Dan sepertinya aku harus menunjukan sebuah video pada kalian. Aku merasa, kecelakaan ini, Nona Casey sedang mendapat ganjarannya," kata Xelino berdiri dan menyerahkan isi map tersebut.


Jennifer melihatnya dan memang sudah menduga dengan hal ini. Xelino sudah menunjukan video Casey dan Ansel pada Jennifer dan Carolyn. Carolyn sungguh tidak menyangk dan shock. Dia sudah terduduk lemas.


"Xelino, jangan katakan apapun dulu pada suamiku, biar aku saja yang mengatakannya. Suamiku memiliki penyakit jantung sementara dia sangat percaya pada anak angkatnya itu!" pinta Jennifer mengkhawatirkan suaminya.


"Baik nyonya, aku mengerti," balas Xelino dan kembali duduk di samping Carolyn. Dia terus menenangkan Carolyn walau agak sulit. Carolyn terlalu shock dengan perkara yang sama sekali tidak ia curigai.


Sampai sore dan Gilbert sudah datang, Carolyn masih terdiam. Xelino menyuruhnya makan tetapi dia tidak berselera. Xelino memakluminya. Gilbert belum curiga. Dia hanya merasa Carolyn sedang merasa bersalah.


Tak lama kemudian ponsel Xelino berbunyi. Panggilan dari Angel, bibinya dan sebelumnya Allegra dan Leon, ayahnya juga sudah menghubunginya. Xelino mengernyitkan dahi.


Dia merasa ada yang tidak beres. Xelino meminta ijin pada Jennifer karena Carolyn masih tak bergeming. Xelino mengangkat panggilan bibinya.


"Ada apa bi?" tanya Xelino mengangkat panggilan.


"Xelino, kau di mana? Mengapa sulit sekali menghubungimu?" Kata Angel dalam tangisnya.


"Kenapa kau menangis? Ada apa?" tanya Xelino makin cemas.


"Your Granpa it's gone!" kata Angel makin menangis.


"Gone? What do you mean? Katakan yang benar bi!" pinta Xelino sudah sangat penasaran juga jantungnya berdebar.


"Grandpa mu meninggal!" Kata Angel lagi membuat sekujur tubuh Xelino bergidik dan jantungnya berdetak tak karuan.


...


next part 51


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊

__ADS_1


Thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2