Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 36. Please, Forgive me!


__ADS_3

Lanjutan part 35,


Benar saja, ketika akhirnya Carolyn, Grizel dan Lila harus mencari taxi, Ansel muncul sendirian menawarkan tumpangan. Carolyn terpaksa menerima karena juga tidak mau merepotkan Xelino. Namun, di mobil Carolyn terus melamun. Grizel dan Lila duduk di belakang sudah beberapa kali menyadarkan Carolyn karena tidak enak dengan Ansel yang mengajak bicara tapi Carolyn tidak menanggapi.


"Tuan Ansel, maaf mungkin Carolyn sedang banyak pikiran, tidak usah diajak bicara lagi," celetuk Grizel yang serba salah tapi bosan juga mendengar Ansel yang terus bicara merayu.


"Apa dia ada masalah?" selidik Ansel.


"Entahlah," saut Grizel tidak mau juga berlama lama bicara dengan Ansel.


Sekitar satu jam mereka berempat sampai di sana tapi Ansel harus pergi karena Casey mengatakan sudah tiba di Springfield.


Carolyn tidak peduli kemana Ansel pergi, pikirannya saja masih kacau. Sekarang saja sebenarnya dia sedang merasa Deborah akan memarahinya.


"Carolyn, mana daftar list perlengkapan pembangunan ruang dalam yang sudah kuminta siapkan tadi malam?" Tanya Deborah melihat kedatangan Carolyn dan yang lainnya.


Carolyn menepuk dahinya. Dia lupa untuk mencetaknya.


"Maaf nyonya, aku lupa mencetaknya. Apa di sini ada percetakan?" kata Carolyn malah mau mencari percetakan.


"Mana ada! Kau ini jangan mentang mentang baru pulih sakit ya jadi seenaknya!" bentak Deborah tak habis pikir Carolyn bisa kembali ceroboh.


"Maaf nyonya!" ucap Carolyn menundukan kepalanya sambil melipat bibirnya merengut.


"Yasudah, sebagai gantinya kau dan Grizel mencatat apa saja keperluan di ruangan itu sementara aku dan Lila melihat pembungaan di luar," kata Deborah kemudian.


Carolyn menghela napas dan duduk terlebih dulu di depan ruangan yang baru setengah jadi itu. Grizel merasakan kegundahan dan kesedihan temannya itu.


"Carolyn, kalau kau masih tidak enak badan, biar aku saja yang mencatat," kata Grizel mengerti keadaan Carolyn.


Carolyn hanya mengangguk tapi juga mengikuti Grizel kedalam. Setelah semua selesai, mereka kembali bertemu dengan Deborah dan Lila. Pembangunan klien yang pertama ini adalah sebuah hotel dengan lantai kira kira 20 lantai. Lalu ada juga seperti cafe dan restoran yang tadi Grizel dan Carolyn amati karena pemilik juga ingin team Deborah yang merancangnya.


Deborah dan Lila masing mengamati mereka yang sedang memasang kaca kaca di lantai bawah tapi tetap berada di atas mereka. Hari ini sana Deborah yang melihat untuk laporan ke Rietha, selanjutnya Deborah sudah menyewa kerabatnya yang juga merupakan arsitek untuk pengawasan karena Deborah harus mengerjakan proyek lain. Tak lama Lila ijin ke toilet bersama Grizel. Carolyn tidak memperhatikan apa apa. Dia masih memikirkan Xelino. Apa nanti Xelino akan menjemputnya atau tidak. Apa Xelino masih akan menggodanya. Dan apa maksud dari perkataan Xelino pagi tadi.


Karena Carolyn melamun dan tidak fokus, Deborah yang sedang mengangkat panggilan dari Rietha sampai tidak menyadari kalau ada kaca yang lepas dari pegangan tukang dan terjatuh mengarah pada Deborah. Untung saja Lila menyadarinya dan langsung menarik Deborah juga Carolyn dari sana. Mereka bertiga terjatuh. Grizel segera membantunya.


"Maaf nyonya, kaca itu hendak mengenai kalian!" kata Lila.


"Ya Tuhan! Carolyn! Kau ini memperhatikan atau tidak? Aku sedang menerima panggilan dari bibimu, aku sudah mengatakan padamu agar melihat pengerjaannya. Tapi kau malah diam saja! Kau sungguh membuatku kesal hari ini! Hukumannya kau tetap di sini melihat kontruksi ini sampai jam 2 siang! Jangan makan sebelum jam 2! Aku tidak peduli dengan sakitmu! Kau yang tidak bisa serius! Grizel, Lila, kalian kembali ke kantor bersamaku, aku masih harus mengurus yang lain!!" teriak Deborah benar benar kesal.


"Tidak nyonya, kau bersama Lila saja, biar aku menemani Carolyn," sela Grizel.


"Ya, benar nyonya, mungkin Carolyn masih sakit, biarkan aku bersamamu," kata Lila lagi


"Terserah Kalian! Maafkan aku jika aku harus mengatakan hal fatal ini pada bibimu!" decak Deborah pada Carolyn. mereka sudah kembali berdiri.


"Orang itu yang tidak benar bekerja mengapa aku yang disalahkan?" celetuk Carolyn yang merasa kalau Xelino sudah membuat pengaruh pada dirinya seperti Aciel dulu padanya.


"Apa kau bilang?!"


"Tidak nyonya, kata Carolyn dia merasa bersalah!" sela Grizel yang tidak mau Carolyn kena marah lagi.


Carolyn melirik tajam Grizel.


"Perhatikan yang benar dan beri peringatan pada yang mengerjakan itu, Grizel agar berhati hati!!" pesan Deborah dan pergi menuju ke Venta Property.

__ADS_1


"Pasti nyonya tenang saja!"


Akhirnya Deborah dan Lila kembali ke kantor sementara Carolyn dan Grizel harus rela berpanas panasan sampai jam 2 nanti. Grizel sangat mengerti hati Carolyn. Sepertinya ada masalah sejak mereka pulang dari Desa Selena.


"Carolyn kau duduk saja di sana, biar aku yang memantau," kata Grizel sangat mengerti Carolyn. Grizel dan Lila memang bertekad ingin menjadi teman yang baik bagi Carolyn. sebenarnya Xelino juga yang meminta mereka agar menjaga Carolyn jika dirinya tak ada. Xelino mengatakan ketika perjalanan ke perbatasan Greenville kemarin sebelum bertemu Carolyn.


"Thanks Grizel, aku akan tetap di sampingmu," saut Carolyn tidak enak dengan Grizel yang terus menemaninya.


Mereka pun mengamati pembangunan itu lagi tapi Carolyn tetap tidak fokus. Sampai waktu sudah menunjukan pukul 2 siang. Mereka menunggu taxi tapi Grizel diam diam menghubungi Xelino. Xelino tidak mengangkat karena dia sedang membahas video masalah hama kemarin. Akhirnya Grizel memberikan pesan pada Xelino juga pada James. Mereka pun kembali ke kantor dengan taxi.


Lagi lagi Carolyn tidak mau makan padahal Grizel dan Lila sudah makan bersama di depannya. Apalagi makanan kesukaan Carolyn, ayam panggang dengan saus lada hitam. Carolyn terus melamun memikirkan pernyataan Xelino pagi tadi.


Jam kerja pun berakhir tepat pukul 4 sore, Xelino sudah siap di depan gedung. Carolyn berjalan bersama Grizel dan Lila. Hati Carolyn sedikit tenang dan lebih lega karena melihat Xelino padahal dia kesal dan terus berpikir karna Xelino. Begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Walaupun orang itu yang menyakiti tapi orang itu yang hanya bisa menenangkan.


Carolyn menarik napas dan menghampiri Xelino yang sudah siap di depan mobil. Carolyn melirik ada juga James di samping mobil Xelino.


"James oppa menjemput ku dan Lila, Carolyn," saut Grizel sedikit bangga.


"I don't care!" Celetuk Carolyn memutar bola matanya malas dan masuk ke dalam mobil, menghiraukan senyuman manis Xelino yang sebenarnya sangat ia suka itu.


"Xeli oppa, ada apa dengan kalian? Carolyn terus diam dan melakukan banyak kesalahan hari ini. Dia harus memantau kontruksi siang tadi sampai telat makan, tapi sampai di kantor, dia juga tidak mau makan," bisik Grizel.


"Benar Xeli oppa, kasihan dia, coba hibur dia. Tuan Ansel tidak berhasil menghiburnya," tambah Lila dan Grizel sudah menyenggolnya agar tidak mengatakan Ansel.


"Hem, tadi Tuan Ansel kemari?" selidik Xelino mendelikan alisnya.


"Ya, mengantar kami ke tempat kontruksi," saut Lila sekenanya membuat Grizel menutup mulutnya


"Lila, mulutmu lebar sekali! Tapi dia hanya sebentar Xeli oppa, kau jangan memusingkan Tuan Ansel. Kau yang harus membuatnya tertawa, oke?" sela Grizel terkekeh.


"Tidak masalah, baiklah pergi lah, aku dan Lila akan pulang bersama James oppa,"


Xelino tersenyum dan mulai masuk ke dalam mobil.


"Nona, kau masih belum makan?" tanya Xelino.


Carolyn menggeleng berbohong padahal dia sudah memakan habis roti keju buatan Claudia.


"Kau tidak memakan roti pemberianku?" tanya Xelino lagi tanpa bosan.


Carolyn menggeleng lagi dan melihat ke arah luar.


"Kau ini terus diam seperti itu! Jangan salahkan aku hari ini aku akan membuatmu makan!" decak Xelino tegas.


"Terserah!" Celetuk Carolyn datar. Xelino jadi benar benar merasa bersalah tapi juga kesal. Xelino melajukan mobilnya ke Atkinson de Angel.


"Untuk apa kesini?" Tanya Carolyn ketika Xelino membukakan pintunya.


"Menemaniku makan barbeque set!"


Carolyn mengernyitkan alisnya.


"Menu baru, aku yang mentraktirmu!" Kata Xelino menarik pergelangan tangan Carolyn. Carolyn keluar dari mobil dan langsung melepas pegangan tangan Xelino. Xelino melihat telapak tangannya. Seketika hatinya berdesir. Carolyn ingin berjaga jarak darinya.


"Apa aku sudah benar benar tidak bisa memegangmu, nona?" tanya Xelino merendah.

__ADS_1


"Tidak!" Saut Carolyn dan memasuki resto. Xelino menarik napas dan bersabar. Dia menyusul Carolyn.


Mereka duduk berhadapan. Carolyn menundukan kepalanya dan bersandar di atas meja makan.


"Ada apa denganmu nona?" Tanya Xelino. Carolyn menggeleng.


"Kau masih marah padaku? Aku harus apa kalau gitu?" tanya Xelino memohon.


"Diam!" Jawab Carolyn mendongakan kepalanya lalu kembali menunduk.


Xelino mengalah. Dia tidak menggangu Carolyn lagi tapi dia mengirim sesuatu pada email Carolyn dengan identitas Lionel. Namun, Carolyn tidak bergeming. Dia tetap diam. Sampai barbeque set mereka datang. Carolyn masih tidak mau peduli tapi karena aroma barberque itu membuat perutnya berbunyi. Xelino tersenyum. Carolyn sudah mendongakan kepalanya melihat makanan itu. Xelino beranjak dan duduk di samping Carolyn.


"Mau apa kau dekat dekat denganku?" tanya Carolyn menoleh padahal Carolyn merasakan cinta ini semakin besar.


"Menyuapimu," jawab Xelino sekenanya.


"Tidak, aku bisa sendiri,"


"Sampai kapan kau begini padaku, nona?" tanya Xelino menatap dalam Carolyn.


"Tidak tahu!" Saut Carolyn mengambil beberapa slice dan ia bakar di atas kompor kecil khusus barberque itu.


Xelino berinisiatif membakar satu slice daging empuk dan memberinya saus kesukaan Carolyn lalu menyodorkannya di depan mulut Carolyn. Hati Carolyn tentu berdesir.


"Aku bisa sendiri, tidak perlu disuapi, aku bukan pacarmu!" sindir Carolyn.


"Anggaplah aku Aciel, buka mulutmu!" kata Xelino memaksa.


Entah mengapa Xelino seperti masih menyindirnya. Dia kesal tapi tetap melahap suapan Xelino.


"Kembali ke tempat dudukmu semula, aku tidak mau dekat dekat denganmu!" perintah Carolyn


"Aku mau di sini!" Saut Xelino tersenyum. Carolyn senang tapi dia tetap harus bisa menguasai diri. Akhirnya Carolyn mengalah.


Xelino terus berusaha membuat lelucon pada Carolyn. Kadang Carolyn tersenyum tapi juga biasa saja sampai Xelino mendapat panggilan dari ibunya. Dia harus mengangkatnya. Dia meminta ijin dan beranjak.


Namun, ketika Xelino berjalan keluar resto, Xelino menabrak seorang wanita yang tadinya diikuti oleh seorang pria. Xelino lantas menahan wanita itu agar tidak terjatuh. Pria yang tadi mengikuti wanita itu seperti terkejut melihat Xelino sehingga kembali keluar sedangkan Xelino dan wanita itu saling berpandangan.


Carolyn menoleh dan melihat Xelino saling memeluk wanita itu karena masih dalam keadaan shock. Carolyn seperti mengenal wanita itu. Dia memicingkan matanya mencoba menerka.


"Maaf nona, apa kau baik baik saja?" Tanya Xelino sudah menegakan wanita itu.


"Kau? Aku tahu siapamu!" Kata wanita itu. Xelino memasang wajah bingung.


"Kau Xelino Janson kan? Anak Tuan Danteleon Janson, ya kan? Aku pernah melihatmu di Hotel Prime!" Pekik wanita itu menunjuk Xelino membuatnya bingung juga sedikit bergidik. Dari mana wanita itu tahu siapa dirinya yang sebenarnya.


...


Ga tau ah ga ikut ikut


Bersambung next part 37


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


Thanks for read and i love you 💕

__ADS_1


__ADS_2