
Solane tidak mendapat tiket penerbangan ke Honolulu untuk hari ini. Mereka terpaksa haru terbang besok pagi karna cuaca sore hari yang terlihat mendung dan benar. Malam hari hujan begitu lebat. Namun, Lexa sedikit tenang karna Leon sudah menghubunginya. Sepertinya Bella belum menjalankan aksinya. Pasalnya Leon mengatakan sedang rapat bersama Dion dan Jimmy juga salah satu staff resort Dion. Lexa berusaha percaya dan menunggu besok. Dia tetap harus bertemu dengan Leon. Dia ingin bersama Leon saat ini juga.
Lexa terus memandangi jendela apartemennya. Hujan turun begitu lebat. Langit begitu gelap. Seperti hatinya yang tetap menginginkan Leon. Leon menghubunginya hanya sebentar, karna besok Leon benar benar harus melakukan survei ke beberapa lokasi dan membutuhkan persiapan. Lexa juga sempat mendengar suara wanita. Dia terus berdoa agar tidak terjadi apa apa pada Leon karna sekarang pun dia tidak dapat melakukan apa apa. Sesekali dia menghubungi Viena menanyakan Dion yang apakah benar bersama Leon. Viena mengatakan kalau dia juga tidak bisa berhubungan sering dengan Dion karna cuaca.
Rico sudah pulang dan akan menjemputnya besok, namun Solane tetap bersama Lexa. Dia khawatir dengan temannya itu. Sementara Jacklyn ia titipkan pada Renzy karna tidak mau merepotkan mertuannya. Yang mana Solane jadi mengingat Jimmy.
"Lexa, tenanglah, semoga Leon bisa mengkondisikan dirinya. Aku yakin dia begitu mencintaimu." Kata Solane menepuk pundak Lexa.
"Aku takut Solane. Aku takut tidak bisa menerima semua ini." Tutur Lexa melipat tangannya di depan dadanya.
"Tenang lah, ada aku dan Rico. Kami akan selalu mendukungmu. Lebih baik kau sekarang tidur. Ini sudah sangat larut." Saut Solane.
Lexa lalu berbalik dan memeluk sahabatnya itu. Dia kembali menangis dan Solane mengelus punggung Lexa sambil mengatakan kata sabar.
"Semua akan baik baik saja. Percaya padaku." Kata Solane menenangkan Lexa lebih dalam lagi.
Solane lalu menyuruh Lexa untuk tidur dan dia di sampingnya. Hem, Solane juga memikirkan Jimmy. Leon menghubungi Lexa sementara Jimmy tidak menghubunginya. Lexa sempat menyalakan loud speaker pada ponselnya dan Solane mendengar suara Leon seperti sangat mengkhawatirkan istrinya. Sementara suaminya? Menghubunginya saja tidak.
Sudah, Solane sudah muak dengan semua ini. Sudah berapa kali Jimmy seperti ini. Waktu di kantor bandara itu saja sepertinya Jimmy memang juga menyukai managernya itu. Managernya masih cantik dan tubuhnya terjaga ketika dia sedang hamil besar. Entah mengapa Solane sangat mencintainya. Namun, sekarang entah mengapa dia merasa sudah bosan dengan prilaku Jimmy yang asal janji tapi berulah lagi. Dia bukan wanita yang benar benar setegar karang. Dia tetap seorang wanita BIASA.
Ketika akhirnya dia memaksakan matanya terpejam dan hendak tidur, ponselnya yang berada di nakas dekat nya berbunyi. Bodoh! Batinnya. Dia masih berharap Jimmy yang menghubungi. Ternyata yang menghubunginya Rico. Entah sadar atau tidak, Solane tetap tersenyum melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. Dia lalu beranjak menuju ke luar kamar agar tidak menganggu Lexa yang tampaknya sudah tenang.
Percakapan Solane - Rico di telepon :
Solane : halo!
Rico : seram sekali!
Solane : ini sudah jam berapa?!
Rico : aku memang tidak yakin kau sudah tidur jam segini
Solane : sial!
Rico : bagaimana Lexa? Dia sudah tenang?
Solane : sudah! Dia sudah tertidur setelah terus menangis. Aku baru mengetahuinya kalau Leon menyukai wanita lemah seperti dia.
Rico : cih! Kau cemburu? Kau sudah tidak ada di hati manapun Solane! Kau kasihan sekali!
Solane : ya, aku memang wanita yang menyedihkan, lalu kau mau apa?
Rico : mendoakanmu!
Solane : okeh! Terimakasih!
Rico : Eng Solane?
Solane : apa lagi? Aku mengantuk!
Rico : kau masih memikirkan Jimmy?
Solane : entahlah! Aku bingung! Dia selalu seperti ini Rico! Ya ya, ini memang karma karna dulu aku menyia nyiakan Leon yang sangat luar biasa baik. Tapi aku sungguh tulus mencintai Jimmy agar tidak terulang lagi. Dan aku tidak mau mengkhianatinya, namun nyatanya, aku yang ia khianati. Hidup ini serasa tak adil bagiku. Kau pernah merasakannya?
Rico : pernah! Namun, bagaimana jika takdir yang mengkhianatiku, Tuhan mengambil semua orang yang kucintai termasuk ibu dan seseorang.
Solane : oh, kau pernah mempunyai kekasih?
Rico : pernah, tapi dia meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Solane : itu bisa ditoleransi Rico! Bagaimana denganku? Laki laki itu berulang kali melakukan ini terhadapku. Tapi aku sudah menjadi istrinya dan aku memiliki anak darinya. Aneh ini sungguh aneh! Aku akan mencoba membencinya sampai aku mengetahuinya
Rico : biarlah aku yang menjaga Jacklyn dan dirimu, Solane
Kata Rico di sebrang sana bergumam pelan namun Solane mendengarnya. Seketika hatinya bergetir mendengar penuturan Rico. Dia senang, dia akui. Dia merasa Rico menyukainya apa adanya, namun Solane tidak mau terlalu percaya diri. Dia harus tetap tenang dan mengurusi Jimmy dulu. Jimmy masih suaminya yang sah. Jangan sampai malah dirinya yang dikatakan selingkuh.
Solane : apa? Kau bicara yang benar!
Rico : ah iya benar, aku bicara tidak benar! Maksudku aku akan berusaha menemani Jacklyn. Kau jangan bersedih lagi. Aku yakin akan ada pria yang benar benar tulus mencintaimu suatu saat nanti dan akan membahagiakanmu. (Gugup dan sedikit terbata.)
Solane : kau sedang mendongeng ya?
Rico : begitulah kalau itu yang kau pikirkan. Baiklah. Tidurlah, besok aku akan menjemput kalian.
Solane : oke, bhay
__ADS_1
Rico : solane?
Solane : hem?
Rico : selamat malam. Semoga kita bertemu di mimpi
Solane : tidak waras! Mimpiku menjadi buruk kalau kau datang! Kurasa kau mengantuk. Sudah ya?
Tut !! Solane mematikan panggilan. Dia tidak sanggup. Entahlah, dia sepertinya tenang ketika mendengar suara Rico.
Sementara Rico masih menempelkan ponselnya di kupingnya.
"Aku menyukaimu Solane." Gumamnya dan melihat ponselnya. Dia menghela napas dan tersenyum. Sepertinya dia memang menyukai Solane. Sejak dia melihat pribadi Solane yang begitu bertanggung jawab pada anaknya. Padahal bisa saja dia meninggalkan anaknya dan hidup bersenang senang mengingat Solane adalah model papan atas.
Rico sudah yakin dengan hatinya. Semoga dia bisa menjadi penghibur bagi Solane. Hanya itu harapannya untuk saat ini.
...
Mereka harus terbang siang hari karna lagi lagi pagi hari cuaca sangat buruk. Solane sudah pusing setengah mati karna dia tidurnya tidak tenang. Selain memikirkan suaminy, dia juga memikirkan kata kata Rico yang menurutnya tidak masuk akal namun dia seperti menyukainya. Ketika dia hampir pulas, Lexa terbangun pagi pagi subuh dan menangis. Betapa Solane ingin mengakhiri hidupnya saja saat itu juga. Belum lagi Lexa yang terus merasakan mual dan muntah beberapa kali.
"Lexa, kau jangan menangis terus!" Decak Solane yang ikut bingung.
"Perasaanku tidak enak Solane. Aku harus bertemu dengan Leon, harus!!" Gumam Lexa yakin dan mengucek matanya yang sudah membengkak sejak kemarin.
"Iya! Sebentar lagi Rico menjemput kita! Lebih baik kau mendengarkan ku Lexa. Rico sangat aneh denganku. Dia menghubungiku dan seperti memberikan kata kata yang menenangkanku. Ini sungguh tidak masuk akal!" Dengus Solane yang hendak mengalihkan pikiran Lexa.
"Dia menyukaimu, Solane!" Ujar Lexa menunduk dan menautkan tangannya. Nyatanya pikirannya terus berpusat pada Leon.
"Nah, kau ikut sama tidak masuk akal. Sudahlah jangan membahasnya juga. Apa Leon sudah menghubungimu?" Tanya Solane yang ternyata Lexa berada di team Rico.
Dan ketika Lexa mendengar nama suaminya, perutnya kembali bergejolak. Cairan itu memanjat terus menyusuri kerongkongan dan dia hendak memuntahkannya. Lexa segera berlari ke toilet dan ini sudah yang keempat kalinya.
"Haiz, dia terus muntah muntah begini bagaimana bisa pergi?!" Dengus Solane namun Lexa mendengarnya.
"Tidak! Aku tidak apa apa, aku akan tetap pergi, terserah kau mau ikut apa tidak!" Teriak Lexa dari kamar mandinya.
"Ya! Setelah itu Leon akan membunuhku dan Rico karna tidak menemanimu yang mungkin akan terjadi apa apa!" Sungut Solane geram.
Tak lama Lexa keluar bersamaan Rico juga datang menjemput. Dengan serangkaian drama Lexa dan Solane serta sedikit pertengkaran umpatan antara Rico dan Solane, akhirnya mereka sampai di bandara. Solane melewati toko obat dan kosmetik yang ada di bandara itu. Dia membeli test pack untuk Lexa agar dia bisa menjaga kandungannya selama perjalanan dadakan ini.
"Halo!"
"Ini siapa? Nyonya Bella? Dimana suamiku! Mengapa ponselnya ada bersamamu?" Tanya Lexa frontal. Dia sudah muak berbasa basi.
"Leon sedang mensurvei gedung. Dia kehilangan ponselnya yang ternyata ada di tanganku, haha! Kau mau apa? Hem, Nona Lexa, Leon menyetujui pergi ke sini saja karna dia ingin bersamaku, jadi sebaiknya kau diam saja di sana. Jangan mengangguku dan Leon. Leon lebih nyaman bersama wanita yang lebih dewasa di mana dia sepertinya tidak harus mencari nafkah untuk wanitanya karna semua sudah terpenuhi. Bagaimana?" Begitulah kata Bella. Sungguh, semua kata katanya bagai sebuah silet yang digesek gesekan pada kuping Lexa. Sangat membuatnya mendidih.
Tut! Lexa mematikan panggilan. Jantungnya berdegup dan malah hendak keluar melewati lapisa lapisan kulit dadanya. Mengapa orang ini seperti ini padanya. Batin Lexa membuncah ingin sekali langsung menghilang dan berada di hadapan wanita itu dan mencabik cabiknya.
Lexa memegang dahinya. Kepalanya pusing. Dia belum sempat ke rumah sakit. Dia masih takut karna tranfusi darah waktu itu. Tak lama Solane datang bersama Rico yang baru saja ke toko obat.
"Lexa, kau kenapa?" Tanya Rico cemas.
"Rico, nyonya mu benar benar sudah tidak waras. Dia memang ingin merebut suamiku. Leon juga sepertinya menikmati kedekatannya dengan nyonyamu. Sama sepertimu yang mendapatkan kenyamanan tanpa menjadi tulang punggung kan?" Jawab Lexa masih memegang dahinya.
"Ada apa Lexa?" Tanya Solane berjongkok di depannya.
"Dia sudah memegang ponsel Leon. Dia sudah merencanakan semua ini Solane. Apa sebaiknya aku tidak menjemputnya saja? Biarlah apa yang diinginkan Leon. Kalau Leon tidak mau, dia pasti akan mengusahakan untuk tidak pergi kesana." Jawab Lexa mendongakan kepalanya.
"Lexa, apa kau tidak mencintai Leon? Bisakah kau memperjuangkannya dulu? Kau tanyakan padanya, setelah itu barulah kalian membuat keputusan. Ini juga berlaku untukmu Solane!" Rico memberi saran dan tetap memperhatikan Solane.
Dan bersamaan dengan itu, suara panggilan pesawat yang akan mereka tumpangi berkumandang.
"Serahkan padaku Lexa! Ayo, sekarang kita kesana dulu! Ayo!" Kata Solane menarik tangan Lexa menuju ke pesawat yang diikuti Rico.
...
Hari sudah agak malam. Leon disibukan dengan mencari ponselnya. Perasaannya terus memikirkan istrinya. Hari ini dia belum mendengar suara istrinya. Kemarin malam dia tidur di kamar tuannya karna pembicaraan panjang bersama Jimmy dan juga Bella pastinya. Leon memutar bola matanya malas ketika Bella lagi lagi terus mengajaknya bicara dan sesekali duduk berdekatan di sampingnya. Bella akhirnya kembali ke kamarnya setelah Dion mengatakan dengan tegas kalau mereka harus istirahat. Bella menikmati kebersamaan pembicaraan itu. Sempat pikirannya berkelana bisa dijamah oleh ketiga pria tampan dan gagah itu meskipun sudah memiliki istri dan anak. Pemikiran yang sungguh tidak berkenan.
Setelah pagi menjelang Leon kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Di sana di meletakan ponselnya. Karna Dion sudah memanggilnya untuk segera menuju ke perusahaan perusahaan yang harus mereka kunjungi, Leon sampai tidak sempat meraih ponselnya.
Sekarang dia bingung bukan main. Dia mencaro di kopernya, di sela sela jas nya. Sampai ia mengangkat kasur tempat tidur kamar hotel tidaj menemukan. Leon sungguh bingung. Akhirnya dia hendak meminjam ponsel tuannya. Dia sungguh merindukan istrinya. Sepertinya ada yang terjadi dengan istrinya itu. Dan sejak tadi pagipun kepala Leon pusing setengah mati. Dia juga tidak selera makan.
Dia akhirnya hendak menuju ke kamar tuannya, namun seseorang malah menyeruak masuk ke kamarnya. Bella. Ya, Bella langsung memeluk Leon. Bella yang dalam keadaan mabuk dengan pakaiannya yang agak terbuka.
"Nyonya? Kau kenapa?" Tanya Leon terkejut namun berusaha menghela tangan Bella yang sudah merambat ke dadanya.
__ADS_1
"Aku hendak diperkosa Leon! Aku berlari sampai sini. Kau? Kenapa kau disini?" Katanya seperti tidak menyadari sesuatu. Namun, sebenarnya inilah maksud rencananya menduplikasikan kunci kamar. Benar apa yang dipikirkan Lexa.
"Ini kamarku! Siapa yang mau memperkosamu? Kau sedang berhalusinasi ya?" Selidik Leon masih berusaha menghentikan tangan Bella yang seperti ingin membuka kemeja bajunya.
"Adiknya suamiku! Dia kembali Leon, dia hendak memperkosaku, selamatkan aku!" Kata Bella mengelus dada Leon.
"Jangan begini nyonya! Kau berbaring saja dulu!" Kata Leon dan menggiring Bella ke tempat tidur. Sementara pintu kamar belum tertutup sepenuhnya.
"Diamlah dulu di sini Nyonya, biar kupanggilkan orang kesehatan!" Kata Leon hendak beranjak, namun ..
"Tidak Leon! Aku ingin dirimu! Sekali ini saja Leon! Tolong aku, puaskan aku! Aku akan memenuhi kebutuhanmu!" Kata Bella menahan kencang tangan Leon. Leon mendelik. Ini benar benar gila pikirnya.
"Lepaskan aku nyonya! Jangan sampai aku bertindak kasar! Aku tidak membutuhkan hartamu!" Decak Leon masih berusaha pelan melepas cengkraman tangan Bella.
"Leon! Aku mohon Leon! Tubuhku panas sekali!" Bella mendesah parau.
"Lepas! Kau sudah tidak waras nyonya!" Akhirnya Leon menghempaskan tangan Bella.
Namun, ketika Leon beranjak, Bella ikut beranjak. Dia membalikan tubuh Leon dan memeluknya dengan sangat kencang.
Dan saat itu juga pintu kamar terbuka lebar.
"LEON!!!" Teriak seorang wanita yang sedang berada dalam kecemasan Leon. Wanita itu lalu menghampirinya sementara Bella masih memeluk Leon. Leon hendak melepasnya namun sangat sulit.
"Tadinya aku tidak mau percaya! Tapi!" Kata wanita itu yang tak lain Lexa. Lexa tampak geram dan matanya sudah berkaca kaca.
"Aku tidak tahu ini bagaimana?!!! Kau! Lepaskan suamiku!!!!" Kata Lexa lagi yang dengan sangat kasar menjauhkan Bella dan menghempaskan wanita itu dari Leon.
"Lexa, mengapa kau kemari? Ini tidak seperti yang kau lihat!" Kata Leon memegang lengan Lexa.
"Diam kau!" Saut Lexa dengan matanya yang melotot, napasnya tersenggal dan dia juga menunjukan test pack di depan wajah Leon.
"Jangan kau menampakan diri padaku! Biar anak ini aku yang mengandung, melahirkan dan menjaganya!" Pekik Lexa dan melemparkan test pack bergaris dua itu di depan wajah Leon. Dia lalu pergi menabrak Rico dan Solane yang ada di daun pintu.
Leon meraih test pack tersebut. Dia tertegun dan sangat bahagia melihat benda tersebut.
"Leon, kejar Lexa!!! Dia hamil!!! Jangan sampai kau menyesal!" Teriak Solane menyadarkan lamunan Leon.
...
...
...
...
...
Hadeeeehhhhh pinter bener otakmu bells 😱😱
.
Next part 14
Apa yang akan terjadi dengan semua hubungan ini?
Ada yang ga ngerti?
Boleh di tanyakan yaa?
.
yok yok LIKE dan KOMEN nya
aku lagi rada buntu nii hahaha
kasih RATE dan VOTE nya juga di depan profil novel yaa 😍😍
.
thanks for read and i love you ❤❤
__ADS_1