Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 29. Change Up


__ADS_3

Seperti teh passion flower yang dipercaya bersifat penenang, membantu mengendalikan stres, depresi dan keseimbangan emosional lainnya sehingga siapa yang meminumnya dapat mengurangi ketegangan fisik dan mental. Begitulah yang Carolyn rasakan pada Xelino. Tidak pernah selama ini dia merasa bebas walau dalam menjalankan sebuah pelajaran. Ayah dan ibunya memang tidak pernah mengekangnya tapi dengan semua yang ia punya, Carolyn malah membatasi diri dengan sekitar. Carolyn menjadi menutup diri karena kurang kasih sayang dan hanya mengharapkan kekuasaan untuk mendapatkan semuanya. Namun, setelah mengenal Xelino, dia merasakan semuanya. Dia merasakan sebuah kesederhanaan yang membuatnya tenang dan bahagia. Tidak terlalu terpaku dengan jabatan dan kekuasaan. Carolyn menyadari hatinya untuk Xelino tapi dia masih ingin memastikan dia tidak salah berjalan dan juga ingin memastikan perasaan Xelino padanya. Bagaimana akhirnya Carolyn berani merendahkan dirinya untuk terus mencintai Xelino? Dan apakah Xelino akan terus menjaga jarak dari Carolyn?


...


Guntur menggelegar di langit malam itu. Hujan deras mulai mengguyur pusat kota Springfield membawa embusan angin yang masukp pada celah celah jendela kamar rumah sakit itu. Carolyn semakin memeluk tubuh Xelino karena merasakan dingin malam bercampur derasnya hujan. Xelino pun terpaksa mendekap tubuh majikannya itu. Carolyn telah meneteskan air matanya. Entah mengapa dia merasakan kesedihan dan kerinduan ketika baru malam ini bisa melihat Xelino.


Tak lama Xelino menarik dirinya tapi Carolyn masih memegang lengannya seakan akan takut kalau Xelino akan kembali beranjak dan pergi meninggalkannya. Mereka saling berpandangan. Carolyn merasa wajah Xelino yang begitu tampan dipenuhi kasih sayang dan humor. Dia cukup senang bisa mengamati wajahnya sedekat ini. Xelino juga menatapnya dengan intens dan penuh kecemasan. Xelino menempelkan dahinya pada dahi Carolyn. Carolyn sedikit gugup tapi membiarkannya.


"Nona, kau harus beristirahat, aku tidak akan menganggumu," tutur Xelino dengan nada pelan. Carolyn menggeleng dan malah masuk ke dalam pelukan Xelino. Dia menyandarkan kepalanya di depan dada Xelino. Xelino bingung mengapa Carolyn jadi ingin terus bersamanya padahal siang tadi wanita ini bahkan biasa saja jika dekat dengannya. Xelino masih terdiam dan tidak berani kembali memeluk. Perasaannya masih gundah dan kalut.


"Aku merasa dingin Xelino, apakah kau tidak bisa di sini sebentar menemaniku?" Kata Carolyn memohon.


"Ada ibu dan bibimu, kau bisa bersama mereka," saut Xelino menghadapkan kepalanya pada Carolyn.


"Ada apa denganmu Xelino? Mengapa kau sedingin ini padaku?" Tanya Carolyn mendongakan kepalanya. Mereka kembali berpandangan. Xelino tak kuasa dengan wajah pucat dan membutuhkan kasih sayang itu. Xelino memberanikan diri membelai sebelah pipi Carolyn.


"Aku hanya seorang asisten nona, tidak pantas memelukmu apalagi kau yang memelukku, apa kau tidak sadar? Aku Xelino bukan Aciel atau Ansel atau Lionel. Mereka semua yang sepertinya lebih pantas memberikan pelukan seperti ini," tutur Xelino pelan dan mendalam.


Deg!


Seketika perasaan Carolyn hancur. Xelino tidak menerim pelukannya atau mau memeluknya lagi. Apa dia sudah sehina ini. Akhirnya Carolyn menarik dirinya.


"Maafkan aku, kau boleh pergi! Aku lupa kalau kita hanya majikan dan asisten," ujar Carolyn menundukan kepalanya.


Xelino masih memperhatikan Carolyn yang tak lama meneteskan air matanya. Apa kata katanya cukup menyakiti wanita itu? Xelino menghela napas dan kembali menarik tangan Carolyn untuk menatapnya. Xelino mendekatkan wajahnya dan mencium Carolyn. Dia mencium Carolyn sampai Carolyn membuka sedikit bibirnya. Dia pun melumatt bibir itu dengan lembut sambil menangkup wajah mulus Carolyn. Mereka saling mengecup dan jari jari Xelino menghapus air mata Carolyn. Setelah Xelino merasa cukup, dia menarik diri.


"Beristirahatlah, selamat malam," ucap Xelino dan dia pergi dari sana. Dia harus tahu batas dan lebih menata hatinya. Belum saatnya dia mengungkapkan apa apa. Dia masih ingin melihat sikap Carolyn padanya. Apa kata kata Carolyn tadi siang hanya bualan apa kenyataan? Dia juga ingin terus membuat Carolyn makin merindukan keberadaannya.


Carolyn tidak menahan Xelino lagi tapi dia kembali menangis merasakan setiap perhatian Xelino yang agak asing baginya untuk malam ini. Apa kini dia yang harus memperjuangkan perasaannya atau tetap mengikuti alur yang ada?


...


Pagi hari menjelang, Gilbert menghubungi Xelino untuk menggantikan dirinya menjemput Carolyn dan Jennifer di rumah sakit. Carolyn sudah bisa pulang ke rumah. Kondisinya telah membaik dengan syarat tidak boleh mendekati aroma berbahan kimia. Jangan menggunakan parfum secara berlebihan dan tetap jaga kesehatan, jangan terlalu lelah. Semua juga berpengaruh karena kegiatan banyak yang dikerjakan Carolyn.


Xelino tentu menuruti permintaan tuannya walau dengan hati yang berat. Padahal dia hendak menata dirinya hari ini dengan membiasakan diri tidak melihat Carolyn tapi entah mengapa dewi cinta malah berkata lain. Entahlah apa yang sedang direncanakan Tuhan pada nya. Kalaupun ini jodoh yang Tuhan tetapkan padanya, dia tidak akan berkelit.


Xelino membersihkan dirinya dan bersiap menjemput Carolyn dan Jennifer. Xelino menarik napas panjang melajukan mobilnya. Dia juga menyalakan musik agar tetap bersikap biasa saja tapi bisa menjaga jarak dan tahu batasan akan pekerjaannya. Dia ingin berpikir tenang agar hatinya tidak terlalu memikirkan Carolyn.


Ternyata, sesampainya di sana, dia hanya menemukan Carolyn. Tidak ada Jennifer. Xelino ingin bertanya tapi balik lagi dia ingat untuk tidak berbicara jika hal tersebut tidak sesuai dengan pekerjaannya.


"Selamat pagi Nona," sapa Xelino memasuki kamar perawatan Carolyn. Carolyn tersenyum tipis dan Xelino meneguk salivanya. Carolyn tampak sangat manis hari ini karena tidak menggunakan riasan. Xelino harus tetap menormalkan dirinya. Dia menundukan kepalanya berjalan mendekati Carolyn.

__ADS_1


"Mana yang harus kubawa?" Tanya Xelino kemudian tanpa menanyakan kabar nonanya. Carolyn mengerutkan dahinya dan mengerucutkan bibirnya sebal karena Xelino masih sedingin semalam.


"Nona, mana yang harus kubawa?" tanya Xelino lagi.


"Hanya tas itu!" Jawab Carolyn mendengus.


Xelino segera meraih tas tersebut dan berjalan ke arah pintu.


"Silahkan nona," kata Xelino menatap Carolyn yang masih terdiam di tempat tidur.


"Aku masih lemah dan sedikit pusing," ujar Carolyn dengan maksud menyuruh Xelino memapahnya.


"Oh, baiklah aku akan mengambil kursi roda," saut Xelino dan Carolyn kembali tak senang.


"Tidak usah!" kata Carolyn menaikan nada suaranya.


"Ada apa?" tanya Xelino menoleh ke arah Carolyn lagi.


"Aku berjalan sendiri saja!" Balas Carolyn tidak peduli kalau nanti dia akan terjatuh.


Xelino merasa Carolyn ingin dirinya memapahnya tapi tidak lagi bagi Xelino. Xelino harus menghargai nonanya.


Setelah melintasi Xelino, dia berhasil keluar tapi sekali lagi kepalanya mendapatkan serangan sehingga tubuhnya sedikit gontai seperti hendak terjatuh. Xelino dengan sigap tentu menahannya.


"Biarkan aku mengambil kursi roda dulu, nona," kata Xelino lagi.


"Xelino! Ada apa dengan kau ini? Kau seperti menjaga jarak! Sudahlah, jangan mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri! Sini kunci mobilnya!" Decak Carolyn meraih kunci mobil yang tergantung di saku celana Xelino dan dia berbalik. Dia berjalan cepat meninggalkan Xelino yang juga sebal dengan keadaan ini. Xelino menarik napas dan mengerjar nonanya yang berjalan seperti orang mabuk.


Xelino berhasil mengejar dan meraih pergelangan tangan Carolyn. Dia menariknya dan masuk ke dalam pelukannya.


"Kau kenapa hah? Biasanya kau senang dekat denganku, mengapa jadi seperti ini?" tanya Carolyn hendak menangis.


"Karena aku hanya asistenmu, nona," jawab Xelino datar.


Deg!


Entah mengapa Carolyn merasa tersindir. Dan dia sudah mengambil kesimpulan kalau Xelino memang sudah menetapkan jarak di antara mereka. Carolyn menarik dirinya.


"Kau asistenku?" tanya Carolyn dengan nada lemah.


Xelino mengangguk lirih.

__ADS_1


"Baiklah, maafkan aku, ambilkan kursi rodanya," kata Carolyn yang sepertinya tidak ada gunanya lagi memaksa Xelino. Biarkan dia mengikuti apa yang Xelino inginkan. Xelino juga tidak merayu Carolyn. Dia segera meminta kursi roda pada seorang perawat. Carolyn duduk di sana dan memegang dahinya. Kepalanya benar benar pening apalagi dengan sikap Xelino padanya. Xelino mendorong Carolyn sampai ke pintu utama rumah sakit karena Xelino memarkirkannya menggunakan Vale.


Mobil sudah datang. Xelino hendak membantu Carolyn tapi Carolyn kembali gontai sambil memegang dahinya. Xelino kembali menahan dan membantunya masuk ke kursi penumpang.


Sepanjang perjalanan, Carolyn hanya menundukan kepalanya. Xelino memperhatikannya dari kaca mobil depan cukup kasihan. Xelino tidak tahan untuk ingin sekali lagi memeluknya tapi sudah sangat sulit.


Sesampainya di rumah, Xelino akhirnya membantu Carolyn lagi turun dari mobil karena melihat nonanya tampak pucat. Walau dia harus menjaga sikap tapi dia tetap harus menjaga keamanan nonanya. Jangan lagi terjadi kesalahan sehingga Carolyn harus kembali dilarikan ke rumah sakit.


Xelino memegang lengan Carolyn tapi Carolyn menepisnya. Carolyn tidak mau kalau Xelino seperti terpaksa melakukannya. Xelino tak tinggal diam karena Carolyn masih lemah. Dia merangkul Carolyn dengan sangat kuat dan memasuki rumah. Menaiki anak tangga dan Xelino juga memegang satu tangan Carolyn agar tidak terjatuh sampai Carolyn rasanya tidak sanggup menaiki anak tangga lagi. Akhirnya Xelino menggendongnya menuju ke kamar Carolyn. Carolyn melingkarkan tangannya ke leher Xelino dan terus menatapnya dengan wajah datar. Xelino sesekali melihat tapi tetap diam. Carolyn yang membuka pintu juga menutupnya kembali karena tangan Xelino sudah sangat sibuk menggendong dan membawa tas bajunya.


Xelino merebahkan Carolyn yang masih memegang kuat leher Xelino sehingga Xelino juga terbawa olehnya dan berada di atas Carolyn. Mereka saling berpandangan. Xelino membelai sesaat pipi itu. Cantik.


Gumam nya dalam hati. Entah mengapa, Carolyn masih tidak ingin melepaskan lingkar tangannya pada leher Xelino. Xelino kembali menarik napas dan merasa kalau Carolyn membutuhkannya. Xelino pun merebahkan tubuhnya di samping Carolyn dan memeluk Carolyn. Semua ia lakukan tanpa bersuara. Carolyn masuk dalam pelukannya dan kepalanya sudah berada di depan dada Xelino. Xelino mendekapnya dengan erat.


"Maafkan aku nona, aku hanya ingin memberikanmu kehangatan," tutur Xelino berusaha sopan padahal dia sangat menikmati tubuh Carolyn dalam pelukannya. rasanya tidak ingin dilepas dan rasanya waktu berhenti memberi mereka berdua kesempatan melepas rindu.


"Panggil aku Carolyn, Xelino," pinta Carolyn. Xelino menggeleng.


"Kau majikanku! Diam dan beristirahatlah!" kata Xelino memejamkan matanya.


"Xelino, kalau aku menyukaimu bagaimana?" gumam Carolyn bertanya tapi juga takut dengan jawaban pria ini yang mungkin akan menyakitinya. Xelino membuka matanya dan sedikit terkejut tapi dia tidak mau berharap karena Carolyn masih mengatakan 'kalau'.


"Jangan menggodaku nona! Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini," saut Xelino akhirnya bergurau dan kembali memejamkan matanya.


"Kalau aku serius?" kata Carolyn lagi mulai menyunggingkan senyumnya. Pria itu menarik napas panjang dan mendongakan kepala Carolyn. dia menatapnya terlebih dahulu lalu kembali mencium bibirnya. Xelino sudah kesal dengan semua ini. Perasaannya seperti di dipermainkan tapi dia merasa dia tidak bisa menjauh dari wanita ini. Wanita yang benar benar ia cintai. Xelino hanya berharap, kata kata Carolyn kemarin memang tidak dikatakan dengan sesungguhnya.


...


...


...


...


...


Bersambung, next part 29


Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa


Thanks for read and i love you

__ADS_1


__ADS_2