
Perlahan tapi pasti. Mengejar sebuah ketulusan bukan seperti mengejar tujuan yang pasti. Ketika sebuah hati diuji bisa menentukan hasil ketulusan yang diraih. Bisa saja ketika ketulusan sudah didapat tetapi mendapat sebuah gangguan yang mengombang ambingkan perasaan, sama saja ingin mengambil keputusan meninggalkan atau lanjut. Seperti Xelino yang perlahan merangkak mendapatkan hati Carolyn dengan keadaannya yang hanya seorang asisten tetapi ada gangguan atau ancaman yang mampu memporak porandakan kedua hati. Bagaimana akhirnya mereka berdua dapat mengatasinya dan selalu bersama?
Carolyn sudah bersiap dengan dress merah formal yang dipadukan dengan stocking hitam serta sepatu hak tinggi model pimp shoes ankle strap berwarna senada dengan dress dan mengenakan tas tangan hitam. Merah dan hitam merupakan warna kesukaannya. Hari ini dia harus terlihat cantik dan confident karena hendak berkencan dengan Xelino. Entah apa yang dirasakan hati dan pikirannya yang terus berbunga bunga sampai mungkin muncul kupu kupu karena terlalu manis dirinya hari ini. Sudah berkali kali dia melihat ke cermin dan menanti Xelino menganga melihatnya.
"Oh my God anakku, mengapa kau secantik ini? Tidak biasanya mengenakan dress merah seperti ini," pekik Jennifer sudah berdiri di daun pintu kamar Carolyn.
"Yes mom, aku ada meeting klien baru bersama nyonya Deborah dan Bibi Rietha dan diadakan di Hotel Atkinson," jawab Carolyn berbalik ke arah ibunya.
"Oohh begitu. Kau benar benar menyesuaikan penampilanmu, pantas saja Nyonya Deborah menyukai kau menjadi asistennya," gumam Jennifer mendekati Carolyn.
"Menyukai apa mom? Waktu itu dia pernah memarahiku habis habisan sampai aku dihukum hanya karena aku tidak memberitahu kalau ada kaca yang akan mengenainya," dengus Carolyn mengadu pada ibunya.
"Kenapa kau tidak memberitahunya?" selidik Jennifer sambil membelai rambut Carolyn.
"Sedang memikirkan seseorang," jawab Carolyn asal.
"Hem, siapa? Ansel? Lionel? Ataaauu Xelino yaaa??" saut Jennifer menggoda anak semata wayangnya itu.
deg!
seketika hati Carolyn berdesir seperti ada lampu hijau dari keluargannya.
"Mom! Mengapa kau membawa bawa Xelino, bukankah ..." selidik Carolyn penasaran dengan jawaban ibunya.
Jennifer Oniela
cast Jennifer : Lee Il-hwa
Gilberto Delinsky
cast Gilbert : Han Suk-kyu
----------------------------
"Ssstt, aku akan mengikuti kata hatimu, pilihlah pria yang baik dan membuatmu merasakan segalanya. suka duka nyaman sedih gembira terharu, semuanya! Seperti aku dan Daddy mu! Aku hanya dari kalangan rendahan tidak seperti daddymu, tapi dia sangat mencintaiku! Jadi, jabatan atau status bukan penghalang untuk mencari kebahagiaan bersama teman hidup kita. Kau mengerti kan?" ujar Jennifer lagi merangkul Carolyn.
Seketika Carolyn berpikir. Mungkin ibunya mendukung Xelino karena mereka berdua sama sama dari desa. Jennifer memang orang desa tapi dia pintar dan selalu menjadi juara jadi dari hal tersebut bisa membuat seorang yang rendah menjadi yang tinggi bahkan mungkin tertinggi. Seperti Xelino pikirnya.
"Mom? Kau kemari?" sebuah suara dari kembar mandi kamar Carolyn terdengar. Casey tidur di kamar ini.
"Casey? Kau baru selesai membersihkan diri?" tanya ibunya lagi.
"Ya tentu, apa Xelino sudah menjemput?" tanya Casey lagi kemudian.
Sesaat Carolyn melirik kakaknya yang menyebut nama Xelino seperti Xelino adalah asistennya saja. Seperti sudah akrab sekali.
"Oh iya, aku lupa, maafkan aku. Sebenarnya aku kemari untuk memberitahu kalau Xelino tidak bisa menjemput hari ini. Dia harus ke Desa Selena pagi ini untuk menangkap orang orang yang memfitnahnya kemarin. Jadi dia harus kesana bersama James dan Daddy. Seharusnya nanti siang, tapi Xelino sepertinya ada acara yang sangat penting sehingga dia berani mengatakan pada Daddy kalian agar pergi lebih awal," jawab Jennifer malah melirik ke arah Carolyn.
__ADS_1
Ketika cemburu melanda, secepat itu berubah di hati Carolyn karena Xelino mengingat janjinya nanti. Carolyn tersenyum tipis menunduk tapi rasanya Casey menangkap maksud acara yang ibunya bilang. Casey melirik tak suka pada Carolyn dan mencurigainya.
'Oh, acaranya bersamamu ya Olyn ku sayang? Baiklah aku akan membuat acara itu hanya bersamaku! Enak saja!' decak Casey dalam hati.
"Baiklah, tidak masalah mom, Cole bisa mengantar kita kan?" saut Casey kemudian.
"Tentu saja, dia sudah siap di bawah. Sarapan dulu di bawah sebentar dan segera berangkat, jangan lama berdandan, Case!"
"Oke mom!"
Carolyn mengikuti ibunya turun ke bawah sementara Casey masih bersiap. Casey menyunggingkan senyum liciknya dan tidak akan membiarkan Carolyn dan Xelino bersamaan terus.
...
Cole menurunkan Carolyn di Venta Property sementara Casey menuju ke perusahaan ayahnya.
"Kau langsung pulang dengan Bibi Rietha atau dijemput Cole, Carolyn?" selidik Casey di dalam mobil dan Carolyn sudah keluar.
"Xelino yang akan menjemput kak," jawab Carolyn tidak mencurigai apa apa.
"Bukankah dia ke Desa Selena?" kata Casey lagi mengingatkan.
"Entahlah, hanya feelingku saja dia akan menjemputku, memang ada apa?"
"Tidak apa, seingatku dia juga memiliki janji padaku," saut Casey sengaja memainkan perasaan Carolyn.
"Oh begitu, yasudah aku juga tidak peduli, masuk dulu ya," balas Carolyn menampilkan wajah masa bodoh karena tidak mau membuat kakak nya itu besar kepala. Dia bisa menanyakan pada Xelino nanti.
Namun, hal itu tidak berangsur lama karena sebuah pesan chating pada email nya hinggap di ponselnya.
XELINO : Selamat pagi my princess, apa kau sudah sampai di kantor?
Sebuah senyum lebar tentu langsung timbul di sana.
CAROLYN : Sudah! Sepertinya kau ini bukan menjadi asistenku lagi ya? Mengapa jarang sekali menjemput atau mengantarku?!
XELINO : Maafkan aku nona, aku juga harus bekerja dengan ayahmu agar bisa menabung dan menikahi seseorang
CAROLYN : Zhavia maksudmu?
XELINO : Kalau dia tidak mau ke Springfield bersamaku sepertinya aku harus mencari wanita lain. Apa kau mau?
CAROLYN : Kau sudah gila ya?
XELINO : Gila akan cinta memang berbahaya nona, hehe
CAROLYN : Jangan terus bergombal! Nanti sore jadi atau tidak? Kata Kak Casey, kau ada janji dengannya
Xelino mendelikan alisnya. Tidak ada sama sekali janji dengan Casey. Memang hendak membuat gagal lagi. Xelino tidak akan membiarkannya, pantas saja dia merasa ingin sekali menghubungi Carolyn.
XELINO : sepertinya kakakmu mempunyai penyakit Alzheimer. Kau tahu penyakit itu tidak? Aku sangat curiga! Aku punya sahabat yang ibunya merupakan dokter. Kalau aku diijinkan sekali lagi bertemu dengannya, aku akan membawa paksa kakakmu berobat padanya karena seenaknya membuat janji padaku!
CAROLYN : haha, Xelino kau semakin tidak jelas! Kalau kau tidak berbuat janji padanya yasudah tidak usah berlebihan begitu
__ADS_1
XELINO : Baiklah, aku baru saja sampai di Desa Selena, aku akan menyelesaikan ini semua dan menjemputmu, sampai jumpa
CAROLYN : oke, selamat bekerja ❤️
Sesaat jantung Carolyn berdebar karena dengan beraninya memberikan simbol hati itu. Di kejauhan sana Xelino menyunggingkan senyum lebarnya. Mungkin sebentar lagi dia berani menyatakan cinta pada majikannya itu.
"Senyum senyum! Cepat ke rumah kepala desa atau kau tidak diterima menjadi menantunya!" decak James menyenggol bahu Xelino.
"Uuu, aku ingin menjadi menantu Tuan Gilbert bukan menanti Kepala desa!" balas Xelino masih melihat lihat ponselnya.
"Makanya kau asik saja pacaran sampai tidak mencerna kata kataku dengan baik, yang ku maksud menantu tuan Gilbert!" dengus James lagi.
"Kau yang bicara tidak benar, kau menyuruhku ke rumah kepala desa, makanya jangan memberi makan beruang kecil terus, kalau dia sudah membesar, dia akan memakanmu, hati hati!" Balas Xelino menepuk pelan pipi James dan berjalan berlaku menuju ke rumah Kepala Desa. James berpikir dengan kalimatnya. Ya, dia memang tidak pernah benar dari seorang Xelino.
...
Carolyn, Deborah dan Rietha memasuki ruang pertemuan di Hotel Atkinson yang tidak terlalu luas tapi juga tidak kecil. Terdapat beberapa kursi dan meja lalu alat presentasi yang sangat elegan dengan perlengkapan makan di atas nya yang tersusun dengan sangat rapi.
"Nyonya Rietha, di sini!" Panggil seorang pria mengarahkan mereka pada meja yang seharusnya mereka tempati.
Caroly mengerutkan keningnya. Mengapa ada Ansel di sini?
"Nyonya Deborah, mengapa ada Ansel di sini?" tanya Carolyn berbisik.
"Dia yang memperkenalkan pada klien baru kita," jawab Deborah dengan pelan.
"Oh begitu, menang siapa?"
"Salah satu teman ayahmu juga, Tuan Mario Heinze," jawab Deborah lagi.
"Oh oke, Daddy belum berkata apa apa padaku," gumam Carolyn sedikit curiga atau dia saja yang memang tidak mengetahui nama nama pengusaha agribisnis.
"Katanya Tuan Mario kolega dari ayah Ansel yang hendak membuat gedung perusahaannya di sini dan menyerahkan pada kita," tambah Deborah lagi.
Carolyn mengangguk mengerti. Dia terpaksa duduk di samping Ansel. Ansel sesekali terus memandangnya ketika presentasi dari pihak klien dimulai. Terkadang Ansel juga mencuri hendak menyentuh atau memegang tangan Carolyn.
Seketika Carolyn terkejut karena sebenarnya Carolyn tidak terbiasa dipegang pria kalau dia tidak merasa nyaman. Bisa dibilang Carolyn hanya pernah dipegang Aciel dan Xelino saja karena hanya mereka yang membuatnya nyaman.
Carolyn menoleh ke arah Ansel dan menarik tangannya.
"Mengapa kau memegang tanganku?" Tanya Carolyn pelan dan sedikit ketus.
"Kau terlihat terlalu tegang, jadi aku mau membuatmu nyaman Carolyn, maafkan aku," ucap Ansel memasang wajah menyesal.
"Lupakanlah, aku ke toilet dulu," saut Carolyn tidak mau terlalu terlibat banyak pembicaraan dengan Ansel. Carolyn beranjak dan pergi ke toilet.
...
lanjut di bawah ya jealous bagian kedua
tetap LIKE dan KOMEN di part ini ya 😁
thanks for read and i love you 💕
__ADS_1