Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 51


__ADS_3

Pagi pagi subuh sekitar pukul lima pagi, Leon membuka matanya. Dia merasa malam ini adalah tidurnya yang sangat hangat baginya. Dia memeluk Lexa dalam tidurnya. Kini mereka telah berpelukan berhadapan.


Leon mengendusi pundak Lexa dan memeluknya lebih erat lagi. Dia menarik dirinya sedikit dan memandang wajah Lexa yang begitu tenang. Dia lalu memegang dahinya tidak hangat lagi.


"Terimakasih kelinciku, bisa bisa nya kau siap siaga membawa obat itu!" Leon terkekeh.


~Argh, rasanya aku ingin begini terus!! Sampai sampai aku ingin menerkam wanita ini! Tidak! Tidak boleh Leon, belum saatnya! Sebaiknya aku mandi saja, sepertinya di bawah sana juga sudah bangun, gawat!~ pekik Leon dalam hati.


Dia lalu menyingkirkan tubuh Lexa perlahan agar Lexa tidak terbangun. Dia lalu menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri. Kamar mandinya bergabung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai, dia tidak menemukan Lexa di tempat tidur dan mendengar kebisingan di dapur. Dia langsung menghampirinya hanya mengenakan handuk di pinggangnya.


"Lexa?" Panggil Leon seraya menyapa.


"Leon? Kau sudah selesai mandi?" Lexa menoleh ke belakang sesaat dan dirinya langsung terpaku melihat tubuh Leon yang cukup athtletis itu.


"Awas ngiler!" Leon memperingati sambil tersenyum menyeringai. Dia lalu duduk di kursi makan.


"Ngiler apa?! Mengapa kau tidak mengenakan bajumu Leon? Nanti kau bisa sakit lagi!" Decak Lexa melanjutkan membuat seperti isi roti lapis dengan persediaan makanan yang Leon miliki di kulkas.


"Selama kau merawatku, aku tidak akan sakit!" Guman Leon menuang air putih di gelas panjang beningnya.


"Gombal! Yasudah, pakai dulu bajumu sana!" Perintah Lexa lagi.


Sebenarnya dalam hati Lexa agak berdesir melihat wajah Leon yang semakin tampan ketika selesai membersihkan dirinya. Dan lagi tubuh Leon yang ingin sekali Lexa sentuh namun adalah kesalahn terbesar jika ia melakukannya terlebih dahulu.


Setelah Leon meneguk habis air putihnya, .ia menghampiri Lexa. Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Lexa dari belakang. Dia menenggerkan kepalanya di pundak Lexa.


"Kau membuat apa?" Tanya Leon layaknya suami yang menanyakan apa yang istrinya kerjakan.


"Harus memelukku ya? Lepas Leon!" Decak Lexa yang hatinya semakin tak karuan. Tubuh Leon telah menempel di sisi belakangnya.


"Aku ingin memelukmu, sebentar!" Kata Leon lagi kini memberanikan diri mengecup leher Lexa namun tak lama.


"Aku mau membuat roti lapis isi chicken mayo Leon. Sudahlah, kau membuatku sulit bernapas. Lepaskan Leon aku mohon" Lexa yang sudah mencuci tangannya berusaha melepaskan pelukan Leon pada pinggangnya.


"Aku mau mencumbuimu Lexa. Aku ijin, apakah kau mengijinkannya?" Tany Leon kemudian. Dia menatap wajah Lexa yang sudah memerah.


"Emm .. emm .. " begitulah jawaban Lexa yang dia dihadapkan pada pilihan yang agak berat baginya. Lexa agak panik. Dia sebenarnya ingin namun masih sangat takut. Leon tersenyum merasakan kecemasan Lexa yang seperti bingung ingin melakukan apa. Dalam hati sangat ingin tapi mengapa raganya masih takut menerima sentuhan pria yang mendalam seperti yang Leon lakukan beberapa hari yang lalu.


"Just kidding Lexa! Baiklah aku akan mengenakana pakaianmu. Kapan kau mandi hah?" Akhirnya Leon melepaskan pelukannya dan berlalu ke kamarnya.


Lexa menarik napas. Dia merasa Leon seperti kecewa. Tapi Lexa berjanji jika Leon sudah menginginkan dirinya menjadi tambatan terakhirnya, Lexa akan memberikan seluruhnya untuk Leon. Dia kembali melanjutkan membuat roti lapisnya lalu beranjak membersihkan diri karna waktu terus berjalan.


"Lexa, celananya agak sempit!!" Sungut Leon menghampiri Lexa yang sudah siap dengan roti lapis dan teh hangat lemon nya. Lexa kembali menoleh ke arah Leon menghampirinya.


"Kau serius? Apa kau tambah berisi Leon?! Coba kulihat!" Lexa langsung menghampiri Leon dan secara tidak sadar memegang panggul Leon. Seketika Leon jadi ingin mengerjainya.


"Benar Lexa! Lihat saja resletingnya tidak mau naik! Sejak tadi aku sudah berusaha! Coba kau bantu aku!" Perintah Leon tetap tenang dan mencoba membuat Lexa tidak merasakan apapun.


"Kau ini menyusahkan sekali!" Decak Lexa namun tetap mengerjakannya. Dia meraih resleting celana Leon. Dia sama sekali tidak menyadari apapun sampai tangannya sendiri yang menyentuh kepemilikan Leon.


"Lexa! Apa yang kau sentuh?!" Teriak Leon sesaat ketika merasa punggung tangan Lexa mengenai inti gairahnya meskipun dari luar.

__ADS_1


"Ah. Maaf Leon, aku tidak sengaja!" Lexa sedikit terlonjak mendengar teriakan pelan Leon dan dia memang merasakan ada yang menonjol di antara resleting celana Leon yang terbuka itu


"Kau hanya perlu menaikan resletingnya tidak usah menyentuh yang lain!" Decak Leon agak terkekeh namun tidak disadari Lexa.


"Tidak Leon, aku tidak sengaja, siapa suruh punyamu besar seperti ini jadi celananya tidak muat!" Lexa langsung menutup mulutnya. Di tidak menyangka akan mengatakan hal ini.


"Em Leon!" Lexa ingin menjelaskan namun Leon memotongnya.


"Apa? Besar kau bilang?! Emmm, kau tidak sedang memancingku kan Lexa?!" Tutur Leon menaik turunkan alisnya.


"Bukan, maksudku mengapa sampai resleting ini tidak muat pasti kau sedang berpikiran yang macam macam sehingga punya mu menegang jadi resletingnya tidak bisa terpasang! Kau ini Leon! Aku malu!!!!" Teriak Lexa akhirnya. Wajahnya sudah merah padam dan dia membalikan badannya.


Leon tersenyum sumringah melihat Lexa yang sangat malu dibuatnya.


"Lexa? Tidak apa apa, aku tidak marah!" Leon lalu menghampiri Lexa dan memegang pundak Lexa. Seketika Lexa kembali berbalik. Lexa takut kalau mereka akan perang dingin lagi. Jadi, Lexa merendahkan dirinya.


"Sini aku bantu lagi, tapi jangan menggodaku, diam saja, aku tidak akan membuatmu tersiksa Leon." Kata Lexa pelan dan membuat hati Leon melembut. Akhir akhir ini dia merasa Lexa pandai mengatur hatinya. Akhirnya Leon terdiam melihat apa yang diberbuat wanita pujaan hatinya itu.


"Begini Leon?! Lain kali kau harus ikut denganku! Apakah nyaman?" Akhirnya Lexa berhasil menaikan resleting celana Leon seperti seorang ibu yang membantu anaknya mengenakan celana. Dengan wajahnya yang masih tersipu malu, ia mendongakan kapalanya menatap Leon.


"Kau lucu sekali Lexa!" Leon mencubit pipi Lexa.


"Tapi ini sangat tak nyaman bagiku! Aku pakai celanaku saja ya? Sepulang dari acara pernikahan, kita kembali ke garment itu dan menyuruhnya untuk memperbaikinya, bagaimana?" Kata Leon lagi mencari cari wajah Lexa yang menunduk karna agak kecewa, dia belum terlalu mengetahui semua ukuran tubuh Leon. Padahal, dia sangat yakin, hanya dirinya wanita yang paling dekat dengan Leon.


"Leeexxaaa... Sudah jangan bersedih! Nanti kita perbaiki, bagaimana?" Leon kini memegang kedua tangan Lexa. Lexa akhirnya mengangguk walau masih menekuk wajahnya.


"Lexa, sebaiknya kau bersiap. Ini sudah pukul 6, kita masih harus menjemput Tuan Dion!" Kata Leon lagi mengingatkan.


"Celana baru? Ah, aku punya segudang celana seperti ini yang terlihat baru dan lebih bagus Lexa! Kau tenang saja! Memang kau lupa pekerjaan priamu ini apa?! Sudah sana bersiap. Aku akan sarapan terlebih dahulu!" Leon mengusap pangkal rambut Lexa dan dia menuju ke meja makan. Tak lupa dia membuka resleting celananya dulu yang sepertinya memang kepemilikannya yang tegang karna sejak tadi membayangkan Lexa.


Lexa akhirnya membersihkan dirinya dan bersiap mengenakan gaun halter neck nya berwarna maroon senada dengan warna kemeja Leon. Viena dan Dion memang sengaja membuat kedua asistennya terlihat berbeda dengan pegawai lainnya. Sehingga mereka yang datang pun tahu, seberapa pentingnya dua asisten itu bagi sang pengantin.


Dan sekarang, Lexa yang merasa kesulitan mengancingkan tali gaun pada lehernya dan resleting belakang gaunnya. Lexa menghambur keluar menuju ke meja makan dengan rambut yang sudah ia tata rapi seperti sanggul modern alanya. Dia juga sudah merias tipis wajahnya. Lexa menolak untuk Viena menyewakan make up artist karna sangat tidak sesuai dengan kepribadiannya.


"Leon, sekarang tolong bantu aku! Seharusnya aku tidak memilih model gaun seperti ini, sangat menyusahkan! Untung aku menginap di apartemenmu, apa jadinya kalau aku harus sendiri di flat!?" Sungut Lexa menghampiri Leon yang sedang meneguk teh hangatnya.


Leon menoleh ke arah Lexa dan terbatuk.


"Uhuk uhuk!" Leon terbatuk karna terkesima melihat Lexa yang begitu cantik dengan gaun yang cukup formal namun memperlihatkan sisi lembut dan manisnya Lexa.


"Leon, kau baik baik saja?" Tanya Lexa menepuk punggung Leon dengan satu tangan kirinya karna tangannya memegang dadanya. Tali pada leher gaun itu harus segera dikancingkan atau buah dada Lexa akan terlihat.


"Tidak apa apa! Aku hanya terkejut, warna baju kita sama?" Leon melambai lambaikan tangannya berkata menipu perasaan yang sesungguhnya. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan warna, tapi perawakan Lexa yang terbilang tomboy dan asal asalan, kini berubah menjadi wanita yang cantik dan anggun.


"Ya, Nyonya Viena dan Tuan Dion yang menginginkan kita berbeda. Sudahlah Leon, cepat bantu aku memasangkan tali gaun ini dan resletingnya!!" Jawab Lexa dan mengingat tujuannya. Leon lalu beranjak ke sisi belakang Lexa.


Dan lagi lagi Leon harus menegak ludahnya. Dia menyaksikan punggung Lexa yang begitu putih dan bersih. Dia sedikit mengendusnya dan ternyata aroma tubuh Lexa harum namun tidak terlalu menyengat sehingga orang yang menciumnya sangat tenang. Leon dengan agak gemetar meraih tali leher gaunnya dan mengancingkannya pada leher Lexa. Dia juga meraih resleting bawah gaun Lexa dengan pelan sambil terus memandang punggung Lexa. Ingin rasanya ia belai dan kecupi.


"Sial! Lexa!" Tiba tiba Leon berteriak membuat Lexa terkejut dan menoleh menatap Leon yang wajahnya menegang dan sedikit tersipu.


"Ada apa?! Mengapa kau berteriak?!" Lexa memegang kupingnya.

__ADS_1


"Tidak apa apa! Lain kali jangan suruh aku membantumu seperti ini, bikin kepalaku pusing! Argh, lama sekali aku harus mengajakmu ke Springfield! Rasanya ingin hari ini saja aku menikahimu bersama Tuan Dion dan Nyonya Viena!" Decak Leon berceloteh menuju kamarnya mengganti celananya. Tak lupa dia membasuh wajahnya dengan air di washtafel kamar mandinya karna selalu membayangkan bersetubuh dengan Lexa.


Lexa menggeleng gelengkan kepalanya merasa Leon sungguh aneh. Dia lalu menyantap sarapan pagi buatannya setelah memastikan gaunnya sudsh terpasang dengan sempurna.


Setelah Lexa merasa cukup mengisi perutnya, ia menghampiri Leon yang terus saja di kamarnya. Leon tampak sedang mengenakan kaos kaki dan sepatunya.


"Leon! Kau tampan sekali! Tapi, mana dasi kupu kupu nya?!" Selidik Lexa berdiri di depan Leon.


"Tidak ada dasi kupu kupu! Pakai ini saja! Cepat, pakaikan!" Kata Leon yang sudah menyelesaikan memakai sepatunya dan berdiri. Dia menyerahkan dasi simple berwarna hitam metalik.


"Hem, kau ini! Baiklah! Kali ini kau lolos! Lain kali kau harus benar benar mengenakan dasi kupu kupu supaya hatimu selalu lembut seperti kupu kupu yang terbang kian kemari, hihi.." balas Lexa yang malah mengibaratkan Leon menjadi kupu kupu. Sesuatu yang sangat mustahil! Leon terkekeh mendengar penuturan Lexa yang meledeknya.


Akhirnya Lexa dan Leon siap dengan sudah melewati semua drama pemakaian outfit yang Viena dan Dion pilihkan untuk mereka. Leon lalu mengajak Lexa untuk berdiri di depan kaca panjang lemari Leon.


"Bagaimana Lexa? Kita sangat serasi bukan?" Kata Leon tersenyum sangat manis. Wajah Lexa memerah ketika melihat penampakan dirinya bersama Leon.


Lexa merasa sudah benar memilih Leon sebagai pria pertama kali yang singgah di hatinya. Leon lalu mengarahkan tangan lexa untuk menggandeng lengannya seperti sepasang kekasih atau suami istri. Jantung Lexa berdegup dan menunggu kata kata manis apa lagi yang akan Leon katakan.


"Lexa, pegang janji ku! Suatu saat, kita akan berdiri seperti ini lagi bukan menjadi pengiring, pendamping atau pembantu pengantin atau pasangan asisten, tetapi sebagai raja dan ratu, sepasang pengantin!"


...


...


...


Makanya cepetan lamar Leooonnn!!!


Jadi ga sabaarr 😍😍


Next yookk part 52


Kejadian nya jadi ketunda dan di part selanjutnya deh haha.. kejadian apa sih vii?


Stay tune ya, pokoknya kejadian yang membuat Lexa menjadi kelinci rabies atau Leon yang menjadi musang tak tentu arah? 😁😁


.


Jangan lupa LIKE KOMEN setiap part menarik bagi kalian di tiap episode Lexa Leon ini yaa 😍


Kasih RATE dan VOTE di depan profile novel


Kasih TIP juga boleh 😊


.


Oke arigato gozaimaass hehehe maap kalo salah 😝😝


Aisiteruuuu 💕💕


Semoga suka dengan tulisan aku dan mohon maaf jika ada kesalahan typo dalam pengetikan karna sejatinya kesempurnaan hanya milik yang di atas 😁😁

__ADS_1


__ADS_2