
Tanpa banyak bertanya, Leon menggendong Lexa ke tempat tidur. Dia merebahkan istrinya di sana. Lexa masih sadar namun rasa sakit di perutnya benar benar sangat hebat. Belum lagi rasa pening meliputi seluruh kepalanya. Pandangannya kabur dan dia rasanya ingin tertidur, namun dia ingin tahu apa yang terjadi dengan darah yang terus keluar dari daerah keintimannya.
"Leonn .. ada apa denganku? Perutku sakit sekali, anak kita baik baik saja kan?" Tanya Lexa panik.
"Tenang sayang, sebentar kupanggil suster ya, sebentar ya?" Saut Leon dengan nada sangat cemas dan sedikit bergetar. Dia sangat takut. Dalam hati dia seperti mengetahui gejala gejala ini. Sudah sering dia mencari tahu mengatahui kehamilan, entah itu kebaikannya, resiko, sebab akibat dan lain lain.
Leon segera keluar memanggil perawat. Perawat segera datang melihat kondisi Lexa dan ada juga perawat yang memanggil dokter. Untung saja ada seorang dokter kandungan yang sedang melakukan kunjungan. Perawat memintanya sebentar memeriksa kandungan Lexa. Mereka pun di sana melakukan tindakan yang semestinya Lexa dapatkan.
Di dalam sana Lexa sudah menutup wajahnya. Dia merasa semua tubuhnya tak berdaya dan perutnya begitu sakit. Dokter yang menangani sudah menyerah. Darah yang keluar sudah terlalu banyak dan sesekali muncul seperti daging segar berwarna coklat pekat. Suktikan anti kontraksi dan semacamnya sudah tidak berguna karna darah dari rahim sepertinya sudah terlalu banyak keluar. Ketika rasanya darah itu berhenti keluar, Lexa di alihkan ke ruangan operasi melakukan proses lahiran sesar. Leon yang melihat Lexa keluar dari kamar perawatan langsung mengikutinya. Bagian tubuh Lexa di daerah perut sampai ke bawah telah terselimuti.
Bersamaan dengan itu, Angel dan Jerry datang. Angel terheran melihat Leon yang begitu panik mengikuti tempat tidur berjalan bersama Lexa di atasnya.
"Ada apa kak?" Tanya Angel juga mengikuti Leon dan Lexa. Jerry pun juga menyusulnya.
Leon hanya menggeleng geleng dan terus menatap Lexa. Mereka semua menuju ke ruang operasi sesar. Leon, Angel dan Jerry harus menunggu di luar.
Lexa segera di periksa. Lexa diperiksa di bagian perutnya melalui alat USG. Dan, benar sudah perkiraan dokter, Lexa mengalami keguguran. Sudah tidak ada lagi janin di dalam rahimnya. Semua sudah terkuras keluar bersama darah darah kehamilannya. Lexa pun sudah pasrah. Dia mendengar apa yang dikatakan sang dokter. Lexa tidak bisa berbuat apa apa. Semuanya sudah berakhir. Entah bagaimana lagi dia menciptakan harapan pada dirinya. Dia merasa, orang orang yang ia sayangi pergi satu per satu darinya.
Perawat pun memberitahukan pada dokter mengenai riwayat Lexa sebelumnya. Dokter kandungan menjadi mengerti mengapa akhirnya Lexa mengalami keguguran ini.
"Baik suster, ganti seluruh pakaian Nyonya Janson dan tempat tidurnya. Dia sudah bisa kembali ke ruang perawatan. Kegugurannya tidak perlu melakukan kuretas karna rahimnya tampak bersih." Perintah sang dokter sebelum dia keluar memberitahukan keadaan Lexa. Sang suster segera melaksanakan perintah sang dokter.
Dokter keluar ruangan hendak memberitahu pada Leon. Leon tampak duduk di samping ruang operasi dengan sedikit menunduk. Dia menautkan tangannya dan menempelkan di dahinya. Dia hanya ingin keselamatan istrinya. Jika memang benar anak pertamanya pun harus menyusul kakeknya, dia tidak masalah. Semua memang sudah jalan Tuhan. Angel sudah berada di sampingnya mengelus elus punggung kakaknya. Sementara Jerry juga tidak bisa berbuat apa apa.
"Tuan Danteleon Janson?" Panggil sang dokter bertanya.
"Leon, ini dokternya mencarimu!" Pekik Jerry memanggil Leon. Leon segera berdiri menghampiri sang dokter.
"Dok?" Gumam Leon menerka nerka dengan wajah tertatih.
Sang dokter mengangguk masam.
"Maafkan saya Tuan, pendarahannya tidak bisa dihentikan karna keluar begitu deras dan janin Nyonya Janson sudah hancur. Tapi rahimnya tampak bersih. Semuanya sudah keluar dengan baik. Nyonya Janson sudah bisa kembali ke kamar perawatan tapi dia masih harus membutuhkan bed rest." Jawab sang dokter. Leon sudah menampilkan wajah datar. Dia sudah pasrah. Matanya mulai berkaca kaca namun dia langsung menunduk. Tidak ada gunanya juga bersedih. Sekarang Lexa membutuhkannya.
Angel memeluk kakaknya dari samping. Dia sangat merasakan kesedihan kakaknya yang begitu menginginkan kehamilan kakak iparnya. Jerry juga merasakan kesedihan bertubi tubi yang di alami saudara angkatnya. Baru beberapa hari ayah mereka pergi dan kini keponakannya ikut menjemput kakeknya.
...
Leon memasuki kamar perawatan setelah membayar administrasi rumah sakit di awal. Dia melihat istrinya di sana masih menutup matanya menangis. Angel terus di sampingnya yabg terkadang ikut menangis merasakan pilu yang dirasakan kakak iparnya.
"Apa dia sudah makan?" Tanya Leon pada Jerry. Jerry menggeleng memasang wajah masam.
Leon lalu menghampiri Lexa menggantikan posisi Angel.
"Lexa, kalau kau terus menangis, apa semuanya akan kembali?" Kata Leon menarik tangan Lexa yang menutupi matanya. Mata Lexa benar benar merah dan bengkak. Leon menjadi tak tega dan memeluknya.
"Leon, semuanya sudah pergi. Aku juga tidak bisa menjaga anak kita. Bagaimana ini? Aku takut tidak bisa hamil lagi. Leon, maafkan aku, aku merusak semua kepercayaanmu!" Kata Lexa merajuk dalam tangisnya.
__ADS_1
Leon tidak menjawab. Dia juga tidak tahu apa yang harus ia katakan. Dalam keadaan emosi seperti ini, Lexa pasti tidak bisa mengerti apa saja yang akan dia katakan. Leon hanya bida mengelus punggung Lexa sambil mengecupi lehernya.
"Tenanglah sayang. Masih ada aku. Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kau yang meninggalkanku. Tenanglah, aku di sini." Hanya itu bisik Leon sementara dia membiarkan istrinya menangis di pundaknya. Angel yang melihatnya ikut hanyut dalam kesedihan kakak dan kakak iparnya. Jerry pun sudah merangkul istrinya itu. Betapa berat masalah yang melingkupi keluarga saudara angkatnya itu.
Setelah sudah puas Lexa menangis, dia lelah. Leon dan Angel berusaha menyuapi namun Lexa benar benar tidak berselera. Dia masih merasakan desiran pada perutnya. Masih terbayang bayang rasa sakit perutnya di mana ternyata anaknya juga sedang meronta kesakitan.
"Maafkan Mami, sayang, kau pergi karna mami. Apa kah sekarang kau sudah bertemu kakekmu? Dia memang ingin sekali bermain denganmu. Salamkan sayangku padanya, Lionel .." gumam Lexa memegangi perutnya. Leon yang ada di sampingnya mendengarnya ikut meneteskan air matanya. Dia sedikit melototkan matanya ketika Lexa memanggil anak pertama mereka Lionel.
Heng, ternyata mimpi itu benar benar petunjuk. Mengapa dirinya tidak menyadarinya. Namun ketegasan yang seharusnya dia berikan pada Lexa pun nampaknya juga akan membuat semua pihak bersedih. Mungkin saja mertuanya terus memikirkan Lexa jika tidak bertemu dan berakhir meninggal tanpa melihat anaknya. Dan dengan begitu, Lexa kembali frustasi. Dia pun juga akan mengalami hal pahit ini. Jadi, Leon tidak mempedulikan penyesalan. Leon sudah berusaha menjaga dan mengantisipasi semua yang terjadi. Namun, dia hanya manusia biasa. Semua Tuhan yang sudah menuliskan rencana untuk keluarganya ini.
"Mengapa kau memanggilnya Lionel, Lexa? Kita bahkan hanya memikirkan satu na Xelino?" Selidik Leon.
"Leon Lion dan berakhiran el sama seperti huruf depan nama kita berdua L. Nama itu dari penggabungan semua nama kita, Leon. Lionel sudah ke surga bermain bersama papi. Dia anak pertamaku. Dia memang ingin bersama kakek dan neneknya." Jawab Lexa kembali menangis dan menutup wajahnya.
"Nama yang bagus sayang. Lionel Janson. Dia sudah menjadi anak kita. Sesampai di Legacy kita harus ke kapel itu dan mendoakan Lionel. Sekarang kau tenanglah. Makan sedikit untuk kekuatanmu ya? Aku mohon Lexa. Demi diriku. Kau masih mencintaiku kan?" Kata Leon memeluk Lexa dari samping. Lexa mengangguk dengan semua penuturan suaminya. Dia memang tidak boleh seperti ini. Dia harus bersemangat dan menjadi istri yang baik bagi Leon.
Malam hari, Lexa merasa perutnya membaik walau masih ada sedikit desiran nyeri yang menyelimuti sisi sisi perutnya. Dia hanya mengelusnya. Perutnya memang belum membuncit namun dia sudah selalu mengelus cabang bai nya sebelum mengalami keguguran ini. Angel dan Jerry sudah kembali ke apartemen mereka, Leon mengatakan mereka akan baik baik saja. Leon tidur di sofa setelah sudah memastikan Lexa memejamkan matanya. Lexa memang berusaha tidur namun sangat sulit. Pikirannya masih mengembara sejak dia bertemu dengan Sherry. Sudah merupakan pertanda yang sangat membuatnya terheran heran. Sampai mimpi itu menggeryanginya. Namun, apakah dia dapat menghindarinya? Rasanya dia tidak bisa.
Lexa lelah memikirkan semuanya sampai dia bersenandung sebuah lagu rohani dan dia tertidur.
"Mami? Jangan menyesali kepergianku! Aku sangat bahagia di sini bersama grandpa dan grandma. Kau tenang saja. Masih ada papi dan adikku. Kau tunggu saja. Sekarang jangan lagi kau bersedih. Tunjukan pada papi kalau kau wanita kuat yang tepat menjadi pilihannya. Aku mencintaimu mami. Cup!" Lionel berkata kata dalam mimpi Lexa.
Lexa membuka matanya. Dia merasa ada yang mengecup keningnya dan berkata kata padanya. Dia mendudukan tubuhnya dan mencari Leon yang tidak ada di sampingnya. Leon duduk di sofa sana. Bukan Leon yang mengecup keningnya.
~Anak itu, ya itu pasti Lionel. Dia mendatangi ku dan menyemangatiku. Lionel, mami merindukanmu, huhuhu ..~ batin Lexa meronta. Dia menangis lagi dan memegang dadanya. Tak lama dia beralih ke perutnya. Dia mengelus terus dalam tangisnya.
"Sayang, jangan terus seperti ini. Kau menyiksa dirimu. Ayo kita tidur lagi. Biarkan aku tidur bersamamu ya?" Kata Leon dan seperti nya ini jauh lebih baik. Leon membaringkan Lexa dan dia pun tidur di samping istrinya. Mereka tidur berpelukan dan entah mengapa Lexa menjadi merasa bersalah pada Leon. Dia terus menangis dalam pelukan Leon.
...
Keeseokannya ayah dan ibu Leon datang bersama Juan setelah mendengar kabar keguguran Lexa. Jane memeluk menantunya itu. Dia merasakan kesedihan mendalam pada menantunya.
"Begini saja sudah, kau dan Lexa tinggal dulu bersamaku Leon! Kalian butuh penenangan diri!" Kata Jane memutuskan. Dia tidak tega melihat kesedihan bertubi tubi ini.
"Tidak mom, kami harus kembali ke Legacy. Pekerjaan kami sudah terbengkelai. Ini hanya masalah waktu. Semua akan berlalu." Jawab Leon tegas. Kenyataannya dia harus kembali ke Legacy. Di sana tempat dia harus menenangkan diri.
"Berlalu bagaimana, kau tidak melihat Lexa seperti apa begini?" Decak Jane masih memaksa.
"Tidak apa apa, aku bisa menjaganya. Kau tidak usah khawatir mom. Kami baik baik saja." Ucap Leon lebih tegas lagi.
"Lexa, kau tidak mau ikut dengan ku ke Desa? Kau bisa lebih tenang di sana." Sekarang, Jane berbicara pada Lexa.
"Maafkan aku mom, aku harus mengikuti Leon, dia suamiku. Aku harus menjaganya. Sekarang, hanya dia yang kupunya. Seharusnya, aku mendengarkannya. Aku mengikuti semua kemauannya. Namun, nyatanya aku membantan semuanya, bahkan sebelum aku mengatakan ingin pergi, dia sudah mengantisipasi nya. Anakmu sungguh pria ku yang terbaik mom. Sekarang hanya pria itu yang kupunya. Sementara papi, Lionel sudah tidak ada. Siapa lagi yang harus kuturuti. Kalau saja aku tidak kemari, mungkin papi masih hidup dan Lionel masih ada di perutku.." kata Lexa dengan penuh penyesalan yang mendalam. Namun, hal ini malah membuat Leon geram dan merasa semua perlakuan dirinya untuk membuat istrinya bahagia, tidak ada gunanya.
"LEXA!" Bentak Leon seketika. Semua yang di sana terkejut.
"UNTUK APA KAU MENYESALINYA HAH? KAU INI TERUS BERSEDIH SEPERTI INI, KAU TIDAK MELIHATKU, KAU TIDAK MENGHARGAIKU HAH? BAGAIMANA DIRIKU MEMIKIRKANMU SEKARANG KAU MENYESALI SEMUANYA! KAU BUKAN LEXA YANG KU KENAL! KAU LEMAH!" Kata Leon lagi dengan geram namun memancarkan kesedihan pada mata lancipnya.
__ADS_1
"Leon? Mengapa kau semarah ini? Lexa masih lemah!" Sela Jane tidak terima dan tidak masih berada pada pihak Lexa yang mana sudah menjadi anak yatim piatu.
"Dia itu sebenarnya sudah tidak mencintaiku! Dia juga ingin mati menjemput ayah dan anak kita, kalau tidak dia seharusnya tidak seperti ini! Kalau benar itu yang kau inginkan, pergilah Lexa!" Tambah Leon lagi dengan maksud kesadaran istrinya yang sangat tersiksa melihatnya seperti ini.
"Kak Leon!! Mengapa kau jadi seliar ini?!" Decak Angel menghentikan perkataan kakaknya yang mungkin akan semakin mengumpat kakak iparnya itu.
"Sudahlah, aku lelah!" Decak Leon dan keluar dari kamar perawatan.
Jerry menghela napas. Dia mengerti apa yang Leon rasakan. Sudah sampai sini Leon terus menghibur Lexa namun nampaknya semua penghiburan ini tetap membuat Lexa bersedih.
"Angel, Mom Jane, Lexa, tenanglah, dia hanya lelah dengan semua ini. Hem, Lexa, kuharap ketika Leon membaik nanti kau harus menjaga sikapmu. Jangan terus bersedih dan menangis seperti ini. Dia tidak sanggup. Tenaganya sedikit demi sedikit berkurang ketika melihat air matamu terjatuh. Aku harap kau mengerti maksudku Lexa. Kalian semua di sini saja. Biar aku bicara padanya." Kata Jerry menenangkan ketegangan yang tercipta secara tiba tiba. Jerry pun keluar mendapati ternyata Leon ada di bangku penunggu di samping kamar Lexa.
"Aku pikir kau ke cafe atau restoran rumah sakit?
"Aku tidak bisa jauh darinya. Di sini saja aku masih mau melihatnya. Namun, seperti katamu Tuan, aku terlalu lemah melihatnya terus menyesali semua ini !!" Jawab Leon memejamkan matanya bersandar di sisi belakang bangku.
...
...
...
...
...
Sabar Leon, menjadi wanita ini ga semudah yang kau bayangkan 😭😭
Kau sudah tahu lah ya sisi kelembutan dan cengeng nya istrimu hehe smangat!!
.
Next part 31
Perjalanan menuju perjuangan sejati itu tidak seindah rencana yang di buat namun akan ada hasil yang membuat kita berbahagia. Percayalah 😍😍
Anda siap dengan perjuangan Lexa dan Leon lagi?
Konflik masih betebaran siap siap gaes 👉👈
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤