Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LELE PART 54: Special Angel & Jerry


__ADS_3

Hanya ingin menjadi yang terbaik walau kesempatan tidak terlalu banyak dan menyadari kalau hidup di dunia hanya satu kali. Jangan sampai memikirkan kegoisan sampai mengorbankan sesuatu yang tidak bersalah! Memang dia ingin dilahirkan dengan kekurangan? Jawabannya sudah diketahui. Di sinilah kita bisa belajar bersyukur dan memaknai takdir hidup yang dimiliki. Apakah perjuangan pasangan Angel dan Jerry akan sia sia?


...


"Angel? Kau baik baik saja sayang?" Jerry mendongakan kepala Angel yang sudah memejamkan matanya. Jerry menyadari kalau istrinya sudah tak sadarkan diri. Dia menari dirinya dan mengubah posisinya hendak menggendong Angel, namun di daerah bokong Angel sangat basah, berair namun bukan darah. begitu juga dengan tempat tidur mereka. Jerry tidak mengerti semua ini. Dipikirannya hanyalah ingin menyelamatkan istrinya. Dia meraih kunci mobilnya dan memasukan ke saku celananya.


"MOM!!!" Jerry berteriak sekuat tenaga sambil mengangkat Angel dalam gendongannya.


"MOM!!" Jerry terus berteriak sampai dia berhasil keluar dari kamar.


Jane langsung terlonjak. Dia menyadari ada yang tidak beres dan lekas keluar kamar. Matanya membelalak karna menantunya sudah menggendong anaknya.


"Ada apa dengan Angel, anakku?" Tanya Jane dengan nada yang sangat cemas.


"Daerah bokongnya basah sekali, mom, aku tidak mengerti." Jawab Jerry masih berusaha tenang.


"Air ketuban? Oh Lord! Cepat bawa ke rumah sakit Jerry!" Perintah Jane.


"Cepat bawa Juan mom, aku tidak mengerti apa apa, cepat mom!!!" Kata Jerry lagi menuju ke pintu.


Jane mengangguk cepat. Segera dia kembali ke kamarnya dan menggendong Juan. Mengambil selimut dan baju hangat saja Juan dan Angel. Betapa pikirannya bekerja hanya memikirkan kedua anaknya.


"Ayo cepat Jer!!" Kata Jane menutup pintu kamar dan segera berlari lebih dulu ke lift. Kebetulan ada satpam yang sedang tugas.


"Ada ini Tuan Atkinson?" Tanya sang petugas keamanan.


"Anakku mau melahirkan Tuan Satpam, cepat antarkan kami ke bawah cepat Tuan!" Jane sambil menggendong Juan meminta tolong pada sang satpam karna dia tidak begitu paham dengan lift.


"Ba, ba, baik Nyonya siap!" Sang satpam segera menekan dengan cepat tombol lift. Untung saja hari sudah tengah malam dan tidak ada yang menggunakan lift.


Sesampainya di bawah, Jerry meminta tolong satpam mengambil kunci mobil di saku celananya dan meminta tolong untuk kembali diantarkan. Sang satpam segera juga berlari menuju basement parkir.


"Buka pintu penumpang depan dan belakang, Carl!" Perintah Jerry kepada satpam tersebut.


"Mom, kau masukan Juan ke depan dan kau masuk lebih dulu agar memegang Angel!" Perintah Jerry lagi dengan sangat cepat. Jane segera mengikuti perintah Jerry ketika pintu pintu mobil itu sudah terbuka.


"Thanks Carl! Titip apartemenku, sampai jumpa." Ucap Jerry yang tidak sempat memberikan uang tip seperti biasanya. namun, Carl mengerti apa yang sedang terjadi dan dia pun tidak memikirkan itu.


"Semoga semua nya selamat dan lancar Tuan, Tuhan memberkati." saut Carl ikut menautkan kedua tangannya cemas. Angel selalu baik padanya, khusus nya sering menitipkan sekuntum bunga mawar untuk anaknya karna anaknya menyukainya.


Jerry hanya melambaikan tangannya dan masuk ke kursi pengemudi. Jerry segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit pusat kota. Dia juga segera meletakan earphone bluetooth nya ke telinganya untuk menghubungi Dokter Barley, dokter yang menangani Angel.


"Jerry, kenapa nadi Angel melemah? Jerry cepat Jerry selamatkan anakku!! Jerry nadinya sebentar ada sebentar tidak ada lama sekali. Jerrryyy!!!!" Kata Jane dengan nada suara sangat sangat panik. Dia memegang pergelangan tangan Angel yang mana detak nadinya tak beraturan bahkan kadang tidak terasa sama sekali.


"Mom, tenanglah Mom, dia hanya tak sadarkan diri!" Jerry berusaha tenang dan tidak panik, padahal di dalam hatinya dia hendak menangis dan memeluk istrinya.


"Tidak Jerry ini benar, aku terus memeriksanya. Hembusan napas di hidungnya saja pelan sekali, air ketubannya, si ketubannya sudah memerah! JERRY CEPAT LAJUKAN MOBILNYA, KAU HARUS MENYELAMATKAN ANAKKU!! ANGEL, KAU HARUS KUAT ANGEL, AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU, ANGEEELLLL!!!! BIAR MOMMY YANG LEBIH DULU ANGEELLL AKU MOHOONN ANGEELLL!!!!" Jane benar benar panik. Dia benar benar tidak menyangka akan seperti ini. Jane terus menghentak hentakan tubuh Angel.


Sementara di depan sana Jerry terus menghubungi Dokter Barley sambil terus mengemudi, dia sudah meneteskan air matanya. Kalau sampai ini terjadi, entahlah apa yang terjadi pada dirinya. Seluruh penyesalan akan ada di punggungnya dan dia pastikan tidak akan pernah sirnah.


"Tuan Jerry?" dokter Barley mengangkat panggilannya di seberang sana.


"Dokter Barley, segera persiapkan dirimu, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit pusat kota. Angel, istriku, tak sadarkan diri. Kata ibu mertuaku, air ketubannya sudah pecah dan kini telah memerah. Aku mohon segera persiapkan semua yang seharusnya dilakukan!!" kata Jerry dengan cepat dan lantang.


"Baik Tuan, kami siap menunggu!"


Panggilan di matikan. Jerry melihat Angel dari kaca depan. Istrinya masih terlihat sangat cantik baginya walau begitu pucat pasi dan tak berdaya. Air mata Jerry masih terjatuh perlahan namun tak lama dia menyekanya. Dia tidak boleh kalah dengan perjuangan Angel selama ini. Angel selalu menahan tangisnya sampai air matanya sendiri yang menjatuhkan diri.


'Angel, bertahanlah, kau dan anak kita akan selamat, sebentar lagi sayang, kita akan bersama sama. Bertahanlah sayang. Tuhan, kau sudah mengutus malaikat untukku, jadi aku mohon jangan mengambilnya. Kau sudah memiliki banyak malaikat, biarkan malaikat ini untukku, tidak akan kubuat menderita. Aku akan selalu membuatnya bahagia. Aku mohon kabulkan doaku Tuhan!!' Jerry bergumam terus menerus di dalam hati seperti itu.


Sedangkan Jane sudah menangis di belakang sana sambil memeluk erat kepala anaknya. Dalam kekhawatiran Jane, dia tidak menyadari kalau tangan Angel bergerak dan menuju ke perutnya.


'anakku, kau akan segera lahir, aku ingin kau merasakan dunia meski kau tidak bisa melihat. Daddy mu akan membuat dirimu melihat dunia. Bertahanlah! Jaga Daddy untukku!' pekik Angel dalam hati. Entah apa yang Angel maksud. Napasnya tidak bisa ia kendalikan. Kondisi tubuhnya sangat lemah sehingga sudah tidak bisa merintih lagi. Dia sudah berserah hanya menginginkan anaknya selamat.


Tak berapa lama kemudian dengan kecepatan dan konsentrasi yang mendalam Jerry melajukan mobil, Akhirnya Jerry tiba di depan ruangan unit gawat darurat. Dia segera turun dari mobil menuju ke bangku penumpang dan menggendong Angel, mengambil alih dari ibunya. Tempat tidur berjalan sudah ada di sana. Dokter Barley langsung memeriksa detak jantungnya yang benar apa yang dikatakan Jane, sebentar ada namun sebentar tidak terasa.


"Tuan, aku harus segera mengeluarkan bayinya terlebih dahulu karna aku takut air ketubannya sudah terkuras habis." kata Dokter Barley memberitahu proses awal yang harus dilakukan karna ini menyangkut dua nyawa. Angel pun segera di bawa ke dalam ruang tindakan terlebih dahulu.


"Lakukan apapun yang sudah seharusnya, tidak perlu meminta persetujuanku, cepat dan ingat Barley, aku percaya padamu, kau harus menyelamatkan istriku, Angel! Dia harus HIDUP!!" Jerry menatap tajam dan penuh emosi pada dokter Barley. Dokter Barley pun menangkap rasa cinta yang mendalam dari suami pasiennya itu. Dia sudah menemui banyak pasien namun yang memiliki tekad bulat dan saling percaya satu sama lain seperti ini hanya Angel dan Jerry.


"Dokter, jantung pasien melemah, harus segera dipasang alat bantu pernapasan besar." tiba tiba seorang suster keluar dan memberitahu kondisi Angel ketika di bawa ke dalam.


"Semua persiapan operasi sudah siap?" tanya Dokter Barley berbalik.


"Sudah dokter, bayi harus segera di angkat karna air ketuban telah habis dan pasien mengalami pendarahan ringan." kata sang suster lagi.


"Ya, ya cepat cepat bertindak! Pasang alat bantu pernapasan besar itu dan kita mulai oprasinya!" Barley hendak berjalan masuk ke ruang tindakan namun tangan Jerry menahannya terlebih dahulu.


"Dokter Barley, aku mohon." pinta Jerry dengan wajahnya yang lesu dan berserah.


"Tenang, dan berdoalah Tuan! Tuhan berserta kita." dokter Barley menepuk pelan punggung tangan Jerry dan Jerry melepaskan tangannya.


Jerry tak dapat berkata apa apa lagi ketika mendengar laporan suster pada dokter Barley semua tubuhnya sudah sangat lunglai. Dia tidak tahu harus bagaimana sementara diantidak bisa berbuat apa apa. Sementara Jane sudah meletakan Juan di kursi penunggu. Dia masih tertidur. Jane menghubungi suaminya juga anak tertuanya Leon. Jerry sudah diam saja menunggu hasil. Jantungnya terus bergemuruh. Dia hanya bisa duduk dan menautkan tangannya berdoa yang terbaik bagi istrinya. Dia ingin istrinya, entah mengapa yang ada dipikirannya hanya Angel sementara dia percaya kalau anak nya pasti selamat.

__ADS_1


Dokte Barley segera masuk ke dalam ruangan. Semua tindakan operasi telah tersedia. Kondisi jantung Angel kembali membaik setelah dipasang alat bantu pernapasan namun tetap tak sadarkan diri dan tekanan daranya begitu rendah. Untung saja terdapat kantong darah golongannya.


Setelah beberapa lama berkutat, akhirnya Dokter Barley berhasil mengeluarkan anak pertama mereka yang terpaksa harus prematur. Dengan kondisi yang sangat rentan dan lemah. Anak pertama Jerry dan Angel selamat dan merupakan anak perempuan yang cantik. Dia menangis seketika ketika di angkat oleh Dokter Barley. Suster segera menerimanya agar di beri perawatan intensive karna berat badan bayi hanya 2 kilo gram dengan tinggi hanya 40cm.


Sementara Angel ketika tangisan anak perempuannya menguar, seketika Angel memberikan hentakan. Dan semua mesin yang terpasang berbunyi tak karuan.


Tit Tit tit tit Tit !!


Berbunyi seperti itu terus menerus dan akhirnya tak beraturan lalu kembali mengencang dan semua kondisi Angel menurun drastis. Tekanan darah semakin rendah, detak jantung tak tampak dan muncul garis garis horizontal lalu kembali naik namun datar kembali.


"Dokter, detak jantung pasien menghilang!" kata sang suster dengan nada yang cukup tinggi.


"Damn it! Cepat siapkan alat pemicu jantung CEPAT CEPAT!!!!" perintah dokter Barley sementara team lainnya menjahit bagian operasi sesar Angel.


Tttttiiiiiiittttttt....!!


Suara dari mesin alat bantu dan pendeteksi pernapasan berbunyi panjang menandakan tidak ada lagi hembusan napas yang ada dan oksigen tidak diterima oleh tubuh.


"Ini dokter. Alat bantu pemicu jantung telah siap!" sang suster memberitahu kalau sudah menyiapkan alat pemicu detak jantung yang siap digunakan.


"Baik, siap semua?!" Dokter barley mulai menggesekan kedua alat itu berlawanan.


"Siap dok, satu kali percobaan!" suster memberi arahan.


Deg deg!! Dokter Barley sudah menempelkan alat tersebut pada jantung Angel. Belum ada respon.


"Dua kali percobaan dok!"


Deg deg!! Benar benar tidak ada perubahan.


"Tiga kali percobaan terakhir dok!"


"Baik, Nyonya Angel bertahanlah, jadilah malaikat untuk anak dan suamimu! Tuhan berkati kami!" Dokter Barley kembali menempelkan alat tersebut di atas dada Angel


Deg deg!! Deg deg!!


Dan ... Dokter Barley menggeleng .. suster yang menyaksikannya menundukan kepalanya dan bersiap membersihkan seluruh darah yang sudah sampai pada pegangan alat pemicu jantung tersebut. karna semua tindakan dilakukan dengan sangat cepat.


...


"aku akan segera ke Springfield pagi ini. Katakan pada Jerry dan Angel." Kata Leon juga mematikan panggilan dari ibunya yang sudah menangis tak karuan.


"Lexa segera kemasi barang barang kita, kita ke Springfield sekarang!!" perintah Leon ketika Lexa baru saja keluar dari kamar mandi hendak beristirahat.


"Angel sekarat!" pekik Leon mengusap dahinya kasar.


"Oh God! Aku akan merapikan baju baju kita!" Lexa dengan cepat menuju ke lemari dan mengambil koper mereka yang ada di atas lemarinya.


"Cepatlah!" Pekik Leon lagi. Entah mengapa jantungnya berdebar tak karuan. Sedikit terasa sesak dan begah. Dia seperti juga merasakan penderitaan yang sedang dilawan adiknya. Mungkin inilah kontak batin antara adik dan kakak. Mereka berdua cukup dekat. Leon sempat memikirkan kandungan adiknya ketika Jerry menceritakan semuanya. Leon sampai tidak napsu makan karna takut terjadi apa apa. Dan benar saja, baru saja mereka hendak tidur setelah puas merayakan anniversary mereka dan Lexa, Leon mendapat telepon penuh kecemasan seperti ini.


Leon pun segera menghubungi Rico. Untung saja Rico masih terjaga dan masih di jalan bersama Solane. Jalanan akhir Minggu ke rumah Renzy karna menitipkan Jacklyn dengan ibunya Renzy sangat lah padat.


"Rico aku minta tolong pesankan aku tiket pesawat ke Springfield sekarang juga! Adikku sekarat!" kata Leon meminta tolong.


"Oh iya Leon, aku usahakan, aku akan menyuruh Solane." balas Rico.


Rico pun segera menyuruh Solane untuk mencarikan tiket pesawat ke Springfield. Sementara Leon menunggu, dia menghubungi Dion untuk meminta ijin juga untuk Lexa. Leon benar benar tak karuan. Dia sudah duduk menjambak rambutnya.


"Sudah kukatakan anak itu berbahaya mengapa masih saja dikandung dan hendak dilahirkan, ARGH GOD! selamatkan adikku aku mohon!" decak putus asa Leon dan tanpa sadar kembali menyalahkan anak yang dikandung adiknya itu.


"Leon, kata kata mu! Anak itu tidak bersalah! Dia bahkan mungkin tidak mau dilahirkan jika dia tahu keadaannya!" saut Lexa tidak pernah bosan memperingati suaminya. Lexa tahu kalau Leon sedang terbakar emosi dan ketakutan.


"Tapi Lexa .."


"Sudah! Kau sudah berjanji padaku agar tidak berkata hal yang macam macam lagi. Tuan Jerry dan Angel sudah sangat frustasi. Baiknya kita berdoa agar semua berjalan baik baik saja." kata Lexa mendorong koper nya dari kamar keluar.


"Aahh Lexa, baimanana jika Angel tidak selamat?" decak Leon lagi frustasi. biar bagaimana Angel, dia adalah adik perempuan Leon satu satunya.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Angel. Kau jangan berpikiran apapun. Anak itu keponakanmu juga darah dagingmu." Lexa terus mengingatkan dan menyemangati suaminya.


Saat itulah Leon menyadarinya kalau anak itu juga adalah anaknya. Leon kembali menyesali perkataannya. Dia mengusap wajahnya kasar dan menunggu pesanan tiket dari Rico.


"Leon, kita harus berdoa, semoga Angel baik baik saja!" Lexa mengelus punggung suaminya dan menyemangatinya. Leon langsung memeluk Lexa. Dia tidak sanggup dan merasa kalau dia akan kehilangan. Air mata nya menetes sambil memikirkan Angel.


Sementara Jerry dan Jane juga Juan yang sudah bangun menunggu status jalannya operasi dan kondisi Angel. Tak lama kemudian, seorang suster keluar dari ruang operasi.


"Tuan Jerry Atkinson?" Panggil sang suster. Jerry langsung berdiri dan menghadap sang suster.


"Mari ikut saya, Tuan!" kata sang suster.


Jerry menoleh ke arah ibu mertuanya dan Jane mengangguk. Dia mau di sini saja menunggui anaknya.


Jerry lalu mengikuti sang suster menuju ke ruang NICU bayi. Baru saja Jerry dan suster membuka ruangan tersebut ..

__ADS_1


"Cepat, Brie, bayi Nyonya Angel tiba tiba napasnya melemah!" seorang suster lainnya memberi tahu suster yang mengajak Jerry .


"Ah, kau serius?" suster yang bernama Brie itu langsung mengenakan pakaian sterilisasi nya dan menuju ke dalam sementara Jerry masih terpaku di daerah sterilisasi sebelum masuk ke ruang NICU yang sesungguhnya.


Deg! Seketika jantung Jerry juga seperti berhenti berdetak. Dia belum mengetahui keadaan istrinya namun di depannya, di depan matanya, anaknya yang sangat kecil itu sedang berusaha melawan maut. Beginilah darah dagingnya. Meskipun terlihat dari jauh, Jerry sungguh merasakan ketentraman melihat keturunannya di sana.


ruangan tersebut di design dengan pembatas kaca bening semua sehingg Jerry bisa melihatnya dari kejauhan.


"Jes, Jessie, Jessica Atkinson, selamat datang nak." Entah mengapa nama anak perempuan itu keluar dari bibir Jerry. Dia memanggil nama anaknya dari kejauhan.


"Jessica, maafkan Daddy sempat tidak menginginkan dirimu, tapi saat ini Daddy ingin kau hidup. Ada seorang wanita yang ingin melihatmu, aku mohon. Bertahanlah." Jerry meneteskan air matanya dan menunduk. Apapun yang terjadi, terjadilah.


"Tuan Jerry, apa anda ingin melihat anak anda? Dia kini sedang tertidur, namun mungkin Dokter Barley sudah menjelaskan apa yang akan anak Tuan alami. Untuk itu biarlah Dokter Barley yang menjelaskan nya nanti. Sekarang silahkan temui anak anda. Gunakan pakaian steril ini dan lepas alas kaki anda!" Kata sang suster beberapa menit setelah Jerry terus menunduk dan berdoa yang terbaik bagi keluarganya.


Secercah harapan pasti akan ada ketika berserah, begitulah isi hati Jerry dan hal itu merupakan arti nama dari Jessica. Berharap kepada Tuhan dan pasangan suami istri itu diberikan seorang anak perempuan. Jessica Atkinson.


Jerry segera melihat anaknya. Di sana putri kecilnya sangat kecil dan matanya terpejam. Jerry agak mendekat dan terus memperhatikan tubuh mungil itu. Pipinya merah begitu juga di bawah matanya. Seperti Angel, pikirnya. Jerry lalu tersenyum.


"Berkat dan Harapan Tuhan ada padamu, Nak! Biarpun nanti kau tak bisa melihat, tapi kau memilikiku dan ibumu. Jangan takut." Bisik Jerry. Dia menahan untuk tidak menyentuh karna tidak diijinkan. Jerry sudah yakin kalau anaknya pasti merasakan tutur katanya.


Tak lama kemudian sang suster mempersilahkan Jerry keluar Karna ruangan begitu intensive. Jerry mengangguk dan segera keluar. Dia kembali menuju ke ruang operasi untuk mengetahui keadaan istrinya. Ketika dia berbelok, dokter Barley di sana sedang memegang pundak ibu mertuannya. Sementara Jane menangis tak karuan dan Juan memeluk kaki ibunya.


"Ada apa ini? Kau jangan macam macam Barley!" tanya Jerry dengan tatapan tajam.


"Maafkan aku Tuan Jerry maafkan aku. Aku sudah berusaha sekuat tenaga. Semua sudah kuusahakan." Barley menundukan kepalanya juga memegang dadanya.


"Tidak, kembali lagi, aku yakin dia baik baik saja!" Jerry menunjuk nunjuk dokter Barley sampai di depan ruang operasi.


"Sudah kubilang padanya, Angel pasti kuat, tapi dia terus berkata Angel tak terselamatkan Jerry! Jerry, kau harus menyelamatkan anakku!!! Bagaimana aku mengatakannya pada ayahnya pada kakaknya, Jerry!!!!" Jane sudah tersungkur menangis menutup matanya dengan lengannya sementara Juan juga menangis memeluk kepala ibunya.


Jerry lalu membuka ruang operasi. Di sana Angel sudah sangat rapi dan matanya terpejam. Alat bantu pernapasan masih berbunyi datar dan sebentar lagi hendak dimatikan dan suster lain hendak menyelimuti seluruh tubuh Angel.


"Angel, kau bilang kau pasti kuat, kau yang bilang menginginkan anak kita, dia sedang berjuang untuk bertemu denganmu, tapi kenapa kau malah mau pergi? Kau berbohong padaku, sekarang bagaimana aku menghadapi dunia tanpamu. Bagaimana anak mu bisa melihat jika kau tak ada? Bagaimana jika aku juga tidak bisa melihat kalau mataku ada padamu, mata anakmu ada padamu? BAGAIMANA?!!! JANGAN ADA YANG MENYELIMUTINYA!! JANGAANNN!!!" seketika Jerry menjadi teriak dan dirinya benar benar tak berdaya. hampa mulai menyelimutinya dan dia seakan akan tidak melihat siapapun kecuali istrinya yang terbaring putih dan berkilauan itu.


TIT . TIT . TIT .


suara mesin pendeteksi pernapasan seraya mengeluarkan suara yang semestinya.


...


...


...


...


...


Ketikan TIT nya aja kek orang nangis gak seh?? 😭😭


Selamat hari Senin, dirumahku langit agak mendung dan kelabu 😔😔


.


next part 55


pernah mengalami kek gini gaes?


aku belum pernah tapi kok kyny nyesek banget sihh 😭😭


(sisi Jerry)


malah aku pernah pas operasi kan rasanya ngantuk mo tidur hehe 😂😂


(ini sisi Angel)


.


rekomendasi novel baper lainnya karya aku wkwkwk dengan judul ::


.. DEJA VU : JASMIE & CHEST ..


yang belom mampir, mampir gaes .. ketika mereka pernah bertemu dalam permainan cinta yang tidak mereka sadari lalu bertemu lagi di waktu yang berbeda dan terus merasakan kenangan indah tapi juga pahit .. this like Deja Vu by @viiyovii 💕


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤

__ADS_1


__ADS_2