Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 20. Troublemaker


__ADS_3

Kita tidak akan bisa mengikuti kata hati orang lain tanpa mengetahuinya, tapi setidaknya ketahuilah kata hatimu sendiri dan lakukanlah. Jangan karena terjebak suatu hal, kita menjadi seseorang yang tak tentu arah. Mengikuti tapi tidak mengerti makna yang ada di dalamnya. Carolyn merasa sudah memiliki rasa pada Xelino tetapi juga masih meragukan atas status Xelino. Begitu juga Xelino yang sudah menumbuh rasa tapi takut Carolyn menganggapnya orang rendahan. Dari semua kesalahpahaman yang ada dalam hati, mampukah mereka berdua keluar dari zona nyaman mereka dan bertindak jujur?


...


Hari itu merupakan hari terakhir Xelino, Gilbert, James dan Lidya berada di Desa Selina. Besok mereka akan kembali. Sampai malam ini Xelino belum mendapatkan orang yang dengan sengaja menyebar virus penyakit daun membusuk itu. Semua warga tidak ada yang mengetahui. Selain itu, ketika Xelino dan James menunggu, nyatanya tidak ada orang orang yang mencurigakan ketika malam maupun siang hari.


"Bagaimana ini, Xel? Kita tidak menemukan tanda tanda trio kadal itu!" Sungut James sedikit frustasi dengan 3 malam yang tidak mendapatkan hasil apapun ini.


"Mungkin saja bukan mereka, James!" Saut Xelino tidak mau berpikir negatif lagi


"Tidak, aku sangat yakin kalau itu perbuatan mereka!" Balas James meyakinkan.


Xelino sejenak berpikir.


"Apa mungkin dia sudah merencanakan ini semua sehingga Tuan Gilbert mengalami kerugian di tahun ini. Bukan hanya itu, warga akan protes pada Tuan Gilbert karena tumbuh tumbuhan yang kita tanam malam jadi busuk dan menganggu warga sekitar sehingga Tuan Gilbert dan perusahaannya ditolak untuk bercocok tanam di sini," tutur Xelino seketika menerka.


"Wuah, instingmu jauh dan tinggi sekali, Xelino! Aku bangga padamu! Jadi, apa yang harus kita lakukan? Besok kita sudah harus kembali," saut James tetap meminta pendapat Xelino.


Xelino berpikir lagi dan akhirnya mendapatkan ide. Dia berbisik pada James dan dia sangat mengerti. Xelino dan James kembali ke rumah peristirahatan. Di sana tampak Gilbert sedang bicara dengan kepala desa. Benar sudah dugaan Xelino kalau warga mulai terganggu dengan aroma busuk yang ditimbulkan dari kedua umbi-umbian itu.


"Bagaimana menurutmu Xelino dengan keadaan hama ini?" Tanya Gilbert.


"Menurutku dibuat kembali saja tuan. Hancurkan yang sudah membusuk, lalu berikan bayaran lebih untuk para petani agar menjaganya lebih baik. Selain itu kita harus menanam umbi-umbian yang sehat seperti bibit yang terbaik yang bisa dibeli. Kita lihat satu kali lagi periode. Jika mengalami hal buruk ini lagi, sepertinya lahan di sini tidak cocok untuk penanaman umbi-umbian, tuan," jawab Xelino dengan semua pemikirannya.


"Aku juga memikirkan itu, Xelino. Baiklah Tuan Rocky, besok aku akan melakukan pembenahan. Aku akan mengutus orang yang mengurus ini semua. Satu bulan lagi, kami akan datang kembali," kata Gilbert memberi keputusan pada Rocky, si kepala desa.


"Baiklah Tuan Gilbert. Aku akan mencoba membantu untuk memberikan sosialisasi bagi para petani untuk pengawasan yang intensif," saut Rocky dengan ramah.


"Ya, terimakasih tuan Rocky. Aku juga minta maaf karena telah mengganggu kenyamanan warga,"


"Semoga semua berjalan lancar tuan, aku permisi dulu. Kalian harus beristirahat untuk kepulangan besok pagi," kata Rocky lagi beranjak dari duduknya. Gilbert juga berdiri. Mereka saling berjabat tangan. Begitu juga dengan Xelino dan James.


Hem, apa yang Xelino dan James rencanakan?


Kita tinggalkan sejenak


...


Sementara itu Carolyn sedang membuat sketsa ada klien yang akan datang lagi. Deborah kini sudah yakin atas kemampuannya. Bukan karena itu, klien kali ini hendak membuat studio butik eksklusif di sebuah lantai gendung yang ia beli beberapa hari ini. Oleh sebab itu, sangat lah cocok jika proyek kali ini dikerjakan oleh Carolyn. Bukan hanya sketsa, tetapi juga denah, anggaran serta pengerjaannya nanti. Deborah menugaskna Grizel dan Lila membantunya. Carolyn tentu sangat bersemangat karena dia juga menyukai fashion dan akan merancang sesuai imajinasinya jika dia mempunyai sebuah butik.


Kebetulan mereka baru saja menyelesaikan pertemuan akhir dengan Ansel dan Erina sebelum pengerjaan di lapangan. Ansel dan Erina masih di ruangan Rietha. Sementara Carolyn tidak mau berlama lama dengan Ansel. Selain mengingat pesan Xelino, dia juga jadi tidak bisa melupakan Aciel. Jadi Carolyn memutuskan untuk berdiam di ruangannya dan melanjutkan tugas yang dipercaya Deborah.


Tak lama kemudian, terdengar seseorang memanggil Carolyn. Namun, karena Carolyn fokus dengan sketsa yang sudah 70% lagi, dia tidak melihat siapa yang memanggil.


"Carolyn, temui Nyonya Deborah di lantai 8, penting!" kata orang yang memanggil itu.


"Ya sebentar!"


"Sekarang Carolyn!"


"Iya iya," seru Carolyn barulah mendongakan kepalanya. Dia menoleh ke samping melihat ke ruangan Deborah yang hanya menggunakan sekat kaca bening dengan ruangannya. Deborah sudah tidak ada padaha mereka kembali bersama. Carolyn meninggalkan sketsanya dan berjalan keluar. Dia menuju ke lantai 8. Di sana memang sedang ada pengecatan untuk ruangan HRD terbaru.


"Hem, pasti si nenek sihir itu ingin menanyakan cat terbaik dan warna terbaik padaku! Tunggu saja kau, sebentar lagi jabatanku akan sama sepertimu!" Gumam Carolyn terkekeh yang sudah menaiki lift.


Ketika Carolyn sampai di lantai 8, dia lupa membawa ponselnya. Carolyn tidak mau ada kehilangan atau kerusakan lagi. Dia segera kembali ke atas dan menuju ke ruangannya. Namun, ketika dia mendekati ruangannya tampak seorang wanita berpakaian blazer rapi dengan celana panjang bahan berdiri di depan mejanya dan sedang mengerjakan sesuatu. Carolyn memicingkan matanya.


"Asisten Erina? Apa yang kau lakukan?" Pekik Carolyn memasuki ruangannya. Erina terkejut karena aksinya ketahuan oleh Carolyn.


Carolyn makin melebarkan matanya karena melihat sketsa yang ia buat berwarna hitam semua. Erina salah tingkah dan bingung.


'Sialan! Mengapa dia kembali dengan cepat?!' dengus Erina dalam hati.


"Erina! Apa yang kau lakukan dengan sketsaku? Mengapa tinta hitam ini? Kau sengaja atau bagaimana?" bentak Carolyn dengan sangat geram dan menarik sketsa buatannya.


"Tidak tidak, aku tidak sengaja Nona," saut Erina berdalih dan wajahnya sangat panik.


"Lalu sedang apa kau di sini?" selidik Carolyn mengerutkan alisnya.


"Aku, aku, aku ingin memanggilmu," jawab Erina terbata.


"Tapi dari luar sudah terlihat aku tidak ada kan? Mengapa kau masuk? Dan? Sketsaku oh God!" Carolyn memperhatikan sketsanya sudah hitam semua.


"Aku tidak sengaja menyenggol tinta hitam di samping pekerjaanmu Nona," tutur Erina terus mencari alasan.


"Bohong!" Tiba tiba terdengar lagi suara dua wanita yang masuk ke dalam. Grizel dan Lila.


"Dia bohong Carolyn! Dia memang masuk dan membawa tinta hitam itu lalu menyiramnya di sketsamu. Tapi kami lupa merekamnya karena kami fokus mengamati dia," kata Lila lagi menunjuk nunjuk Erina.

__ADS_1


"Tidak nona aku sama sekali tidak sengaja, aku juga tidak tahu mengapa tinta hitam itu ada di samping pekerjaannmu. Aku hendak memberimu pesan, makanya aku masuk," bantah Erina dengan gerakan fisik yang meyakinkan.


"Tidak Carolyn! Kami melihatnya! Buktikan saja dengan rekaman CCTV, dia pasti yang melakukannya!" tuduh Grizel.


"Buktikan saja! Aku tidak melakukan apapun, semuanya tidak sengaja!" Erina terus membela diri.


"Bohong Carolyn! Kau harus percaya pada kami, aahhh jangan jangan waktu itu dia juga yang merusak maketmu tapi tidak ketahuan!" tambah Lila menuduh Erina masalah maket yang roboh waktu itu.


"Iya benar Carolyn!"


"Hey, kalian berdua jangan mengada Ngada ya? Aku bisa mengoyakan mulut kalian berdua!" ancam Erina ikut kesal.


"Nah, coba saja! Kami bicara jujur, dia ingin menyelakai reputasimu Carolyn!" kata Grizel lagi membuat panas suasanya. Erina semakin terpojok.


"DIAM!!!" Pekik Carolyn yang kebetulan Ansel hendak pulang diantar Rietha. Mereka berdua mendengar dan ikut masuk ke ruangan Carolyn.


"Ada apa ini? Mengapa kau berteriak, nak?" Tanya Rietha.


"Lihat ini bi!" Rengek Carolyn memperlihatkan sketsa yang sudah berwarna hitam itu. Carolyn memang sedang asik menggambar di kertas putih .


"Oh Tuhan! Siapa yang melakukan hal ini?!" pekik Rietha meraih sketsa yang sebagian telah berwarna hitam itu.


"DIA!" teriak Grizel dan Lila bersamaan menunjuk Erina. Ansel sudah menggeleng geleng pada Erina sementara Erina menunduk.


"Asisten Erina? Kau yang melakukannya?" selidik Rietha.


"Tentu bukan aku nyonya. Mana berani aku melakukannya. Tadi kan kau bilang hendak mengajak Nona Carolyn makan siang, jadi setelah aku ke toilet, aku berinisiatif memanggil nona Carolyn, tapi dia tidak ada, jadi aku hendak memberi pesan. Aku tidak sengaja menyenggol sebotol kecil tinta hitam di samping sketsa itu, aku benar benar minta maaf, aku tidak sengaja," tutur Erina menundukan kepala seakan akan yang dikatakan adalah yang sebenarnya.


"Bohong nyonya Rietha, kami berdua yang melihat kalau Asisten Erina yang sengaja menuangkan botol tinta itu!" sela Grizel berusaha meyakinkan.


"Sepertinya aku juga tidak mempunyai botol tinta itu," gumam Carolyn mengingatkan.


"Nah kan, Carolyn saja mengatakan tidak mempunyai botol tinta itu," tambah Grizel lagi.


"Erina? Kau bisa menjelaskan?" tanya Ansel kemudian.


"Tuan, masa kau tidak percaya padaku, aku benar benar tidak sengaja," bantah Erina dengan wajah paniknya.


"Sudah sudah, nanti aku bisa melihat rekaman CCTV, jadi Carolyn, ayo kita makan siang dengan Ansel!" ajak Rietha kemudian.


"Tidak! Nyonya Deborah memanggilku ke lantai 8," ujar Carolyn menolak.


"Seseorang merusak sketsa Carolyn, nyonya," kata Girzel.


"Sketsa?"


Deborah melihat sketsa yang sudah berwarna hitam itu.


"Hem, lagi lagi kau terkena masalah Carolyn! Rietha, sebaiknya kau mencari tahu mengapa keponakanmu selalu mengalami kecelakaan seperti ini. Aku perhatikan sejak iPad, maket rusak dan sekarang sketsa tertumpah tinta ini. Hem, atau kau yang sengaja mencari perhatian Carolyn?" decak Deborah malah menuduh Carolyn.


"Mana ada seperti itu? Mana mungkin aku merusak kepunyaanmu sendiri, kau nyonya kadang kadang pikiranmu itu seperti sudah mengambang ambang. Aku yang tertimpa masalah aku juga yang kau salahkan!" dengus Carolyn dengan cercaan andalannya yang keluar kembali karena emosi.


"Carolyn! Bicaramu!"


Deborah sudah melirik tajam Carolyn.


"Ya sudah bubar sekarang, Grizel Lila kembali ke meja mu, Deborah sebaiknya kau berbicara pada Nona Ariana kalau kita membutuhkan penambahan waktu untuk sketsanya. Biarkan Carolyn membuatnya lagi," perintah Rietha pada akhirnya.


"Nah, beginilah, lagi lagi aku yang menjadi korban untuk hal yang tidak kulakukan," sungut Carolyn melirik ke arah Erina yang sudah tertunduk.


"Tenang Carolyn, kau seorang yang jenius, pasti kau bisa mengerjakannya. Bagaimana minum teh besok sore di sebuah cafe untuk menenangkan pikiranmu?" tutur Ansel sudah berada di samping Carolyn dan memegang punggungnya.


Seketika Carolyn salah tingkah mendengar suara lembut Ansel.


"Iya nanti aku akan menghubungi Ariana," tutur Deborah dan berlalu ke ruangannya.


"Carolyn, ayo kita makan siang!" ajak Rietha lagi.


"Tidak mau bibi, aku, aku membawa makanan," kata Carolyn berdalih.


"Tidak usah dipaksa Nyonya, besok saja aq mengajaknya minum teh," saut Ansel tersenyum hangat .


"Nah baik sekali Ansel ini, besok kau harus ikut dengannya!" perintah Rietha.


"Hemm!!" Saut Carolyn asal dan masih kesal dengan Erina. Dia juga mencurigai Erina.


Dan sayang sekali, ketika Grizel dan Lila mencoba meminta rekaman CCTV kala itu, kata petugas penjaga cctv, cctv di tempat Carolyn sedang mengalami kerusakan. Grizel dan Lila tentu mengadukannya pada Carolyn. Carolyn semakin yakin kalau ini pasti campur tangan Erina juga. Entah mengapa Carolyn jadi merindukan Xelino. Kalau dia adukan semua ini, dia pasti akan mencari tahu tanpa Carolyn menyuruhnya.

__ADS_1


...


"Bagaimana bisa kau sampai terlihat Carolyn, Erina? Kau benar benar ceroboh!" bentak Ansel kesal ketika sampai di rumah mereka.


"Banyak orang yang berlalu lalang tuan, aku menunggu agak sepi lalu aku masuk tapi aku benar benar tidak menyangka kalau Carolyn kembali secepat itu!" decak Erina memberikan penjelasan.


"Kau sama sekali tidak berguna! Harusnya aku yang menenangkan dia dan akhirnya bisa mengajaknya makan siang berdua tapi malah semua orang masuk ke dalam ruangannya!" dengus Ansel.


"Apa? Tidak berguna kau bilang? Kau ini keterlaluan tuan! Aku selalu menuruti permintaanmu meski hatiku sakit! Setiap malam kau melakukan phone sexx dengan Casey, setelah itu kau datang padaku, kau curahkan padaku, tapi besoknya kau berbicara pada Carolyn, kau benar benar pria tidak punya hati!" bentak Erina ikut kesal.


"Erina ..." panggil Ansel mulai mendekati Erina yang ternyata kekasihnya juga.


"Sudah cukup! Aku sudah bosan seperti ini, aku pergi saja. Lagipula kau juga akan menikah dengan Casey dan aku yang pada akhirnya kau tinggalkan.


"Erina, sayang, tenanglah. Setelah aku menikahi Casey, aku juga yang akan menjadi pewaris semua harta yang bisa ia kuasai lalu akan kuubah menjadi nama kita berdua. Aku akan meninggalkan Casey dan hidup bahagia bersamamu. Sabarlah sebentar. Dua orang itu hanya alat saja yang ketika sudah tidak berguna, aku bisa merusaknya terlebih dahulu lalu ku buang!" Kata Ansel merayu Erina dengan memeluk Erina dari belakang.


"Jangan lagi membentak ku, aku tidak suka! Ingat, keluargaku sudah membantumu menjalankan ini semua agar kau tetap terlihat kaya di depan Casey dan aku menjadi asistenmu," keluh Erina menundukan kepalanya.


"Tenang saja, aku hanya mencintaimu Erina, yang lain hanya palsu," kata Ansel lagi menolehkan wajah Erina untuk mencium bibirnya.


"Kita lanjutkan di kamar Erina sayang," tambah Ansel sudah membuka blazer Erina menuju ke kamarnya.


Apa lagi yang akan diperbuat Ansel dan Erina untuk mendapatkan harta warisan Carolyn dan juga Casey?


...


Mood Carolyn benar benar tidak baik. Semoga dengan bertemu Lionel sore ini, dia bisa mendapatkan pengalaman yang baik. Lionel anak dari Leon Janson pastilah seorang yang rapi dan sangat berkelas, pikir Carolyn.


Namun, sampai pukul lima lewat lima belas menit, belum ada tanda tanda seorang pria berjas rapi menghampirinya.


"Hem, apa Lionel menipuku?" Gumam Carolyn yang sudah menunggu di kebun bunga samping gereja itu. Dia pun meraih ipadnya hendak memberikan chating pada Lionel tapi status malah tidak terkirim. Carolyn sudah semakin tak berselera. Lima belas menit lagi berlalu.


Langit pun semakin lama semakin berwarna jingga yang sebentar lagi matahari akan terbenam.


"Nona, kau menunggu siapa?" Tanya seorang pria langsung duduk di samping Carolyn dengan mengenakan Coat biru berkerah. Rambutnya dibiarkan menutupi dahinya dan dia tersenyum manis memandang Carolyn.


Jantung Carolyn berdegup ketika pria itu bertanya padanya. Namun, ketika dia menoleh, mengapa dia malah ingin memeluknya dan mengatakan: "Aku merindukanmu, rubah tengik!"


...


...


...


...


...


Nah makin makin deh lu olyn 😂


Yg blom punya gebetan harap bersabar ini ujian nasional 🤣


.


Next part 21


Dah tau ya siapa yg datang?


Apa Carolyn akan membenci Lionel atau ini merupakan sebuah taktik Xelino?


Apalagi kelicikan Ansel dan Erina?


Sanggupkah Xelino membantunya selagi dirinya juga terlibat masalah di kantor ayag Carolyn?


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2