Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 38


__ADS_3

"Ada apa dengan matamu Lexa?!" Tanya Viena pada Lexa setelah mereka saling menatap.


"Lexa, aku bisa jelaskan nanti!" Solane berusaha membuat Lexa kembali duduk.


"Selama rapat hari ini, aku tidak mau ada siapa saja yang melakukan provokasi apapun! Kalau sampai berdecih sedikit saja, kita akhiri iklan ini. Atau kita tidak usah bekerja semua! Mengerti tidak? Jawab sebelum aku duduk!" Viena menekankan.


"Mengerti nyonya!" Semua menjawab dalam tundukan kepala mereka.


Sudah lama sekali Viena tidak tegas seperti ini sejak bertemu dengan Dion. Dulu pernah satu kali dia menjadi dingin dan marar marah sepanjang hari karna sebuah kesalahan tentang kerja sama yang sangat minim.


"Mari kita mulai rapatnya! Lexa, jelaskan apa yang menjadi konsep kreatif mu dan beri tahukan pada Solane apa yang harus ia perbuat. Delon, Susan, kalian harus perhatikan perlengkapan yang di butuhkan Lexa. Dan kau Abby, cepat lakukan brain storming bersama Lexa! Jangan ada perdebatan, cukup membicarakan konsep iklan!" Kata Viena membuka rapat yang hanya di hadiri Lexa, Solane, Abby, Delon dan Susan.


Lexa mulai menceritakan konsep yang ia buat bersama Leon. Konsep iklan bercerita tentang seorang traveler yang selalu mengunjungi tempat tempat terbaik di Honolulu dan salah satunya dia merekomendasikan Resort and Motel Prime. Di sinilah sang traveler memberitahukan hal hal yang menarik dan menjadi ciri khas dari Resort and Motel Prime itu sendiri. Awalnya Lexa berusaha netral namun karna menyebut nama suaminya dan Honolulu dia menjadi terpikir sesuatu. Sesuatu yang membuatnya hampir frustasi dan merupakan penyebab dirinya keguguran. Karna kelelahan dan terlalu memaksakan diri. Lexa menjadi terdiam setelah sebentar saja membicarakan konsep yang telah ia buat bersama suaminya.


"Lexa, fokus! Nyonya Viena menunggu lagi!" Bisik Solane dan menyenggol tubuh Lexa.


"Ah iya, ketika di Honolulu nanti jangan sampai kita bertemu dengan Nyonya Bella, nyonya!" Saut Lexa tanpa sadar.


"Bella?" Viena mengernyitkan dahinya. Abby terkekeh sedangkan Solane menepuk dahinya. Lexa sudah menunduk bingung. Dia segera memutar otak mencari jawaban yang tepat untuk nyonya nya.


"Kau memikirkan apa Lexa? Sudah ku bilang tidak ada hal mem provokasi!" Viena mencoba memperingati Lexa.


"Ah iya Nyonya maaf, maksudku bukan begitu. Maksudku di Honolulu kan juga terdapat Belleza Hotel yang juga terkenal. Ini merupakan pesaing unggul yang mana kita harus membuat moto moto terbaik Resort and Motel Prime. Begitu maksudku Nyonya. Jadi, aku butuh bantuan Susan dan Abby untuk mencari tahu apa saja kelebihan dari Resort and Motel Prime. Apakah sangat jelas maksudku Nyonya Viena?"


Piufht! Kelegaan menaungi Lexa. Lexa mencoba mengingat kesukaan Viena dalam mengerjakan konsep iklan untuk memperhatikan pesaing.


Viena mengangguk dan mengerti maksud Lexa juga masalah yang ada di dalamnya. Viena menghela napas dan tidak perlu diperpanjang.


"Ya aku paham! Biarkan Abby dan Susan yang mencari kelebihan serta fasilitas terbaik di Resort and Motel Prime. Dan kalau bisa kau membuat sebuah tagline di dalamnya Lexa." Kata Viena kemudian memberikan arahan mengenai moto yang Lexa maksud.


"Baik Nyonya."


Dan mereka terus membicarakan iklan iklan yang menjadi proyek mereka bulan ini. Viena lebih ke arah mendengarkan karna dia juga harus memikirkan sesuatu. Begitu juga dengan Solane yang hanya menerima tugasnya. Dia masih sangat berat memikirkan ajakan Rico yang mengajaknya menikah dan tinggal di Honolulu. Tak menutup kemungkinan dirinya harus ke Belleza Hotel, tempat di mana Jimmy mantan suaminya meninggal.


Sedangkan Lexa. Lexa sedang mencari cara bagaimana tetap mengerjakan iklan Motel Prime ini namun tidak pergi ke Honolulu bersama suaminya. Kalau wanita paruh baya itu sadar dan benar benar mengingat semuanya, dia pasti dengan penuh obsesinya akan kembali mengejar Leon. Lexa pun harus berkata kata pada suaminya.


...


Di lain pihak, Leon kembali berdiam diri. Dia masih menunggu kabar Jerry. Lagi lagi Renzy dibuat bingung dengannya. Leon terus memandang ponselnya.


"Jangan seperti orang bodoh! Bukannya tadi pagi istrimu yang mengantarmu?" Gumam Renzy risih dengan Leon yang tak bergeming sejak memasuki ruang kantor.


Leon mengangguk.


"Oh kau masih mendengarku. Ada apa Leon?" Tanya Renzy menyandarkan tubuhnya di daun pintu ruangan Leon.


"Adikku mengalami pendarahan Renzy." Jawab Leon berjalan ke arah Sofanya.


"Keguguran?" Renzy menaikan alisnya.


"Entahlah. Aku menunggu kabar Tuan Jerry!" Saut Leon sudah berbaring di sofa.


"Kenapa tidak kau saja yang menghubunginya?" Tanya Renzy lagi memberi saran.


"Kenapa aku jadi bodoh begini ya?" Leon beranjak dari rebahannya.


"Sejak lama! Cepat kau hubungi Tuan Jerry dan periksa semua laporan ini. Tuan Dion tidak masuk. dia tidak enak badan!" Renzy memberikan berkas berkas yang dipesankan Dion pagi tadi.

__ADS_1


"Kau serius? Ada apa dengannya? Aku tahu, ini pasti karna Nyonya Viena menolak pelayanan cintanya atau Nyonya Viena yang tidak memberikan pelayanan cinta terbaik. Hem, pasangan mesum itu ternyata bisa meliburkan diri." Leon terkekeh sambil meraih ponselnya di meja kerjanya.


"Hah, kau kembali senang tidak ada bos mu iya?!" Renzy beedecih.


"Tentu! Entah mengapa dia selalu marah marah melulu!" sungut Leon menekan nekan ponselnya.


"Begitulah jika sudah mempunya anak Leon! Kau sebaiknya lebih menyiapkan lagi, tidak usah terburu buru!" pesan Renzy dan kembali pada meja kerjanya.


Entah mengapa seketika Renzy mengatakan hal ini, dia jadi terdiam dan memikirkan sesuatu. Hem, ternyata mempunya anak tidak seindah yang dibayangkan. Mungkin ketika kehamilan itu terjadi saja akan membuat bahagia dan penuh dengan tantangan yang romantis. Namun setelahnya mungkin akan membuat perubahan perubahan yang mungkin bisa diterima, bisa juga tidak bisa. Karna juga kehamilan ini, ia merasa semua nya jadi menderita. Sesaat pikiran Leon merasa dia tidak ingin memiliki anak saja.


...


Lexa sudah menjemput Leon. Lexa dalam diam nya karna memikirkan Bella sedangkan Leon diam dalam memikirkan adiknya juga tekad nya yang seperti belum siap memiliki anak. Namun hal dalam memiliki anak sepertinya jangan dulu dibicarakan pada Lexa karna istrinya itu sungguh menginginkan seorang bayi.


"Leon!" panggil Lexa kemudian.


"Hem?" Leon menoleh ke arah Lexa. Dia agak sedikit kalau kalau Lexa dapat membaca pikirannya.


"Apa Rico sudah memberitahumu sesuatu?" selidik Lexa.


"Rico? Aku bahkan belum bertemu lagi dengannya. Sepertinya dia sedang di Honolulu Lexa. Ada apa?" Leon menjadi agak pensaran.


"Hem .." Lexa mengelus elus dagunya dengan satu tangannya sambil mengemudi.


"Kau memikirkan apa? Sebaiknya fokus mengemudi atau aku saja yang mengemudi!" Leon memperingati.


"Tidak usah! Aku masih fokus." jawab Lexa yakin. dia harus mengatakannya pada Leon mengenai ketakutannya dan cara menanggulanginya.


"Jadi kau kenapa?" selidik Leon.


"Em kata Solane, Nyonya Bella sudah mengigau menyebut namamu Leon." jawab Lexa sedikit tenang namun cemas dengan respon suaminya.


"Namaku?"


Lexa mengangguk angguk. Leon kembali melihat ke arah luar juga ikut berpikir.


"Jadi bagaimana Leon tanggapanmu?" tanya Lexa hendak mengetahui.


"Kita harus mencari cara agar tidak ke Honolulu untuk sementara waktu Lexa!" gumam Leon membuat istri nya sedikit terkesima.


"Hah? Mengapa pemikiran kita sama sayang?" decak kagum Lexa membuat wajahnya sumringah senang.


"Benarkah? Ya kita memang pasangan asisten yang serasi!" balas Leon tersenyum kecil.


Ketika Lexa benar benar saja terkagum dengan jawaban Leon, dia malah tidak memperhatikan jalan. Hampir saja Lexa akan menabrak mobil lain jika Leon tidak memberitahunya.


Lexa pun akhirnya meminggirkan dulu mobilnya ke samping.


"Kenapa dipinggirkan?" Tanya Leon sedikit terheran.


Lexa melepas sabuk pengamannya lalu berhambur memeluk Leon. Leon terkejut namun dia juga memeluk Lexa.


"Ada apa sayang?" Tanya Leon membelai lembut punggung Lexa.


"Kini aku benar benar yakin kalau kau tidak akan berpaling dariku. Aku mencintaimu Leon." kata Lexa yang merasa Leon mengerti apa yang ia rasakan.


"Apa maksudmu? Aku memang selalu ingin bersamamu, lalu?"

__ADS_1


"Ya karna kau memikirkan hubungan kita di tengah ancaman yang mengintai sayang dan kau memilih hubungan kita ketimbang pekerjaanmu."


Leon mengerti sesuatu. Ternyata Lexa memperhitungkan semuanya. Pasalnya mereka sedang memiliki sebuah pekerjaan yang mengharuskan mereka ke Honolulu akhir akhir ini. Namun sebuah peringatan akan kerusakan hubungan mereka, mereka harus mencari cara bagaimana tidak kesana untuk sementara waktu dan kalau saja bisa untuk selamanya. Leon juga harus menghubungi Rico agar mem blokade kedatangan Bella ke Legacy.


"Anything for you Lexa! I love you too!" Ucap Leon tersenyum. Dia pun menarik dirinya dan memegang wajah Lexa.


"Jangan pernah mengkhawatirkan apapun karna kemana pun aku pergi, aku akan kembali padamu. Hatiku hanya memiliki rumah di sini, Lexa." tambah Leon mengelus lembut pipi Lexa.


Lexa tersenyum.


"Kau selalu menggombali ku!"


Leon lalu mendekatkan wajahnya. Dia menempelkan bibirnya dan menyapukan bibir tipis istrinya itu sampai Lexa pun terhanyut. Lexa pun meraih rambut belakang Leon dan mencengkramnya secara lembut. Leon semakin menikmati setiap bibir Lexa yang menanggapinya. Leon pun menghisapp penuh bibir istrinya dengan decihan indera perasa mereka yang terdengar mengasikan untuk mereka saling melumatt. Lexa pun terus mencium mulut Leon yang menurutnya indah karna terlihat selalu memerah setia matanya terbuka ketika pagi hari.


Betapa mereka terus merasakan decakan dan kecupan bibir mereka sampai mereka tak menyadari keberadaannya di mobil. Leon pun terbawa suasana. Ia menelusup kan tangan tangannya ke dalam blouse yang Lexa kenakan. Meremas lembut punggung mulus Lexa sampai desahaan pun keluar dari mulut Lexa yang masih merasakan lidah lidah Leon. Entah berapa lama mereka saling berpaut. Lexa tak menyadari kalau sudah membuka kancing kemeja Leon perlahan. Merasakan aliran darah Leon yang kian memanas di dadanya dan terdengar suara ketukan kaca mobil dari luar.


Mereka berdua menarik diri terkesiap. Leon menoleh ke arah kacanya dan melihat seorang pria cukup besar dengan pakaian seragam lengkap yang memiliki pangkat keamanan.


Lexa sudah menundukan kepalanya malu sementara Leon membuka kaca mobilnya secara perlahan.


"Selamat sore!" Pria tersebut memberi hormat.


Leon hanya menatap tenang dengan mata lancipnya.


"Saya hanya mengingatkan untuk tidak berbuat mesum di dalam mobil dan di pinggir jalan. Segera jalankan mobil anda atau kalian harus ikut saya ke pos kantor polisi terdekat untuk memberikan laporan!"


...


...


...


...


...


Haiz, lu ngapa Leon??? Wkwkwkk


.


next part 39


sedikit kisah Angel dan Jerry


kisah Rico dan Solane


serta tanggapan Nyonya Viena dan Tuan Dion atas penolakan Lexa dan Leon yang tidak ingin ke Honolulu


apakah Bella berulah atau malah masih dalam keadaan tidak sadar?


.


Bebs .. Jan lupa ya kasih LIKE dan KOMEN nya dongs biar aku smangat 45 ngetik dan up 😊😊


Boleh jika kasih RATE dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.

__ADS_1


thx for read and i love you 💕💕


__ADS_2