
Kita terlahir di dunia mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kesuksesan yang di dapat juga tidak melulu dari kelebihan yang kita miliki. Ada waktunya kita jatuh yang terjadi karna kekurangan kita. Ada kalanya kita berada di puncak kejayaan karna ketika itu, kita sadar akan kelebihan kita. Tapi bagaimana dengan rasa percaya diri yang terlalu berlebih. Ketika menginginkan apa yang kita pikirkan akan mendapatkannya, kita menjadi lupa diri dan meremehkan orang orang disekitar kita. Namun, hal ini menjadi bumerang bagi kita jika ketika apa yang kita inginkan tidak tergapai maka yang ada hanyalah putus asa yang enggan untuk dibangun kembali.
Lalu bagaimana dengan perasaan. Ketika perasaan bermain dengan status yang dimiliki sebelum menjalin hubungan. Hal ini dapat menjadi benalu atau menjadi awal kebahagiaan. Berharap mendapatkan apa yang terbaik dalam menjalani hubungan dengan kelebihan yang dimiliki nyatanya malah menjadi kehancuran. Hal ini yang dialami Solane. Solane berusaha merubah dirinya dan menjadi yang terbaik bagi suami, anak dan keluarganya namun kenyataannya hal ini beluk cukup malah suaminya terjerumus dalam lingkaran cinta segitiga.
Semua sudah berakhir. Kini Solane berdiri sendiri bersama anaknya. Mertuanya juga sudah menilai dia sebagai istri yang tidak bertanggung jawab yang seharusnya lebih ditunjukan pada anaknya. Solane memaklumi karna dia sudah tua. Di tengah semua rasa bersalahnya yang seharusnya tidak ia rasakan, Solane sudah memupuk cinta yang sangat mendalam untuk seorang Rico. Pria dengan segudang kepercayaan diri yang mendalam. Namun, dia tetap manusia biasa. Ketika semua pikiran dan tenaganya bercampur menjadi satu bersama perasaan, dia akhirnya lelah. Semua tubuhnya letih karna terlalu memaksakan kehendak dan perasaannya serta keyakinan bahwa Solane membutuhkannya.
"Baiklah Nyonya Solane. Saya sudah memeriksa suami anda." Kata Sang dokter wanita yang memang dekat dengan Solane namun tidak tahu kisah cinta bahkan rumah tangga Solane.
"Suami?!" Solane menaikan alisnya.
"Ya, dia suami anda kan?" Sang dokter memastikan.
"Bukan dok! Saya hanya teman yang berkunjung dan ternyata saya tidak enak badan." Jawab Rico yang bergabung dalam percakapan.
"Oh begitu? Kalian sangat serasi, maafkan saya.".ujar sang dokter. Dia lalu menuliskan resep untuk Rico.
"Jadi ada apa dengan Rico, dok?" Solane kembali bertanya.
"Ya, Tuan Rico terlalu lelah dan sepertinya terlambat makan. Tidak ada asupan yang masuk dalam tubuhnya sehingga kepalanya pusing dan tubuhnya melemah. Ini resep obat yang harus kau tebus ke apotek, Nyonya. Semoga cepat sembuh." Kata sang dokter menyerahkan resep obat yang telah ia tulis.
"Oh begitu. Baiklah dok, aku akan akan menebusnya. Terimakasih sudah menyempatkan diri memeriksa suamiku." Ujar Solane yang benar benar tak sadar mengatakan Rico adalah suaminya. Rico menutup matanya dengan lengannya sambil tersenyum kecil.
"Hah?" sang dokter menatap bingung Solane.
"Oh Lord! Maksudku temanku! Makanya kau jangan mengatakan suami dok!" dengus Solane dengan wajahnya yang sudah memerah bak tomat
"Jika benar tidak masalah Nyonya, kau masih berhak bahagia." kata sang dokter tersenyum sumringah dan berjalan keluar kamar.
"Sudahlah dok, kau tidak usah menghiburku." saut Solane menunduk menyusul sang dokter.
"Baiklah aku masih ada urusan. Permisi." kata sang dokter lagi meminta ijin.
"Ya sampai jumpa." Kata Solane mengantar sang dokter wanita yang cukup dekat dengan Solane. Solane menutup pintu dan kembali ke kamar. Jacklyn sudah tidur siang. Rico terpaksa kembali lagi ke tempat tidur Solane karna tubuhnya semakin lemah. Solane membuatkan bubur terlebih dahulu karna Rico tampak tertidur ketika Solane kembali melihatnya.
Sekitar tiga puluh menit Solane memasak bubur daging sapi. Bubur ini cocok untuk pemulihan karna Solane menambahkan sedikit parutan gingseng. Solane lalu menyiapkan bubur tersebut dalam satu wadah mangkuk kecil dan membawanya ke kamar. Sepertinya Rico sudah terbangun dan memainkan ponselnya.
"Rico, aku sudah membuatkanmu bubur." Kata Solane terus mendekati Rico. Rico meliriknya dan menyimpan ponselnya. Dia merubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap Solane.
"Kau bilang, kau membenciku, kenapa kau memanggilkan dokter dan membuatkanku bubur hah?" Tanya Rico mencari cari wajah Solane yang menunduk. Hati Solane berdesir. Wajahnya pasti sudah sangat memerah.
"Tunjukan wajahmu!" Kata Rico lagi memegang pipi Solane dan mendongakan kepalanya untuk menatapnya.
"Kau mencintaiku kan? Katakan sejujurnya!" tanya Rico .
Solane menggeleng dan mencoba mengalihkan pandangannya.
"Baiklah aku tidak akan memakan buburmu jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya!" gumam Rico kembali merebahkan tubuhnya.
"Habiskan dulu bubur ini maka aku akan jujur padamu!" Solane malah meminta lagi.
"Oke, ini hal yang mudah. Jangan mencoba berbohong atau melarikan diri! Kau akan tahu apa yang terjadi jika aku sudah memakan ini semua!" kata Rico memperingati dengan senyum nakalnya.
"Habiskan, jangan sampai ada yang tersisa!" pinta Solane tanpa melihat Rico.
"Oke sayang!" Kata Rico meraih mangkuk bubur itu sambil melirik menggoda Solane membuat Solane semakin salah tingkah. Dia pun beranjak dan meninggalkan Rico untuk mengambil minum. Bukan hanya itu, perasaannya jadi tak menentu. Jantungnya berdebar tak beraturan.
"Tenang Solane! Kau harus tegas pada Rico agar dia tidak meremehkanku lagi. Tenang Solane, tenang .. cukup memberikan teh hangat ini dan pergi lagi dengan alasan melihat Jacklyn, ya benar!" Gumam Solane. Namun belum saja ia mengambil teh hangat itu, Rico sudah berada di belakangnya.
"Sudah habis! Sekarang aku menagih janjiku!" Rico menyerahkan mangkuk bubur yang sudah tak bersisa itu. Kenyataannya Rico sangat menyukai semua masakan yang Solane buat.
Solane kembali salah tingkah. Dia benar benar terpaku. Apa yang ia perbuat. Dia harus konsisten namun hati kecilnya berkata memang sangat mencintai Rico. Dengan sejumlah permainan dan pergulatan cinta mereka, Solane malahan terus menginginkan Rico. Namun, bagaimana dirinya menerima kota tempat meninggalnya suaminya itu.
Rico tidak sabar. Dia membalikan tubuh Solane untuk menatapnya. Rico lalu meraih dagu Solane.
"Mengapa wajahmu agak takut Solane?" tanya Rico pelan dan lembut.
__ADS_1
"Ya aku memang sedang takut Rico!" gumam Solane.
"Takut apa?"
"Aku takut, aku tidak bisa melupakanmu jika kau benar benar meninggalkankuu. Karna.." kata Solane akhirnya berusaha menundukan kepalanya namun gagal.
"Karna apa? Karna kau mencintaiku kan?" Rico melanjutkan .
Solane tidak menjawab. Dia benar benar malu.
"Aku sudah tahu jawabannya. Kau memang sangat mencintaiku!" Kata Rico lagi tidak menunggu jawaban Solane. Dia lalu mendekatkan bibirnya di depan bibir Solane. Rico mencium bibir Solane dengan lembut dan pelan. Awalnya Solane diam namun dia memang menginginkannya. Solane sampai melingkarkan tangannya di pinggang Rico. Rico terus merasakan bibir kenyal nan merah itu dengan penuh penghayatan. Sesekali memainkan indera perasa Solane sambil tangannya terus mengukuhkan pipinya.
Tak lama Solane menarik dirinya. Dia menundukan kepalanya dan memeluk Rico. Rico pun membalas pelukannya dengan mendekapnya. Merasakan sekujur tubuh wanita yang paling ia cintai itu.
"Rico, aku tidak ingin berpisah darimu, aku ingin selalu bersamamu. Hanya kau yang bisa menjadi penyegar hidupku. Maafkan aku meremehkan mu padahal aku benar membutuhkanmu. Jangan pergi dari sini, aku masih merindukanmu!" Solane mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya sambil sedikit terisak.
"Aku juga tak ingin berpisah darimu sayang. Jangan pernah katakan itu lagi ya? Maafkan juga perkataanku kemarin. Aku benar benar ingin menyadarkanmu kalau kau harus segera meresmikan hubungan kita. Jangan lagi suatu saat nanti kau mengandung anakku tapi aku belum menikahimu Solane. Aku sudah memikirkan semua itu." balas Rico juga harus meminta maaf pada Solane.
"Beri aku waktu, sedikit lagi. Aku akan mempersiapkan segalanya. Hati dan pikiranku. Aku akan memusatkannya hanya untukmu Rico. Aku ingin membuat diriku benar benar hanya jatuh cinta padamu saja. Beri aku waktu. Satu bulan. Aku berjanji, aku akan mengikuti semua permintaanmu." pinta Solane mendongakan wajahnya dan menatap serius Rico.
Rico mengangguk. Dia kembali meraih dagu Solane dan menatap tersenyum wanita nya itu dengan seksama. Bola mata Solane yang berwarna hitam kecoklatan itu membuat Rico damai melihatnya. Pipinya yang tirus tapi sedikit menyembul dan bibirnya yang juga selalu memerah membuat Rico sulit melupakan atau meninggalkan Solane. Solane sudah merupakan separuh jiwanya. Dia merasa kebahagiaan akan menaungi mereka.
Karna sudah saling berpaut satu sama lain dan Rico kembali mencium Solane, semua jadi terbawa suasana. Rico dan Solane saling berciuman sambil berjalan ke arah kamar. Rico pun sudah menangkap lembut salah satu buah dada Solane dan memainkannya. Sesampainya di kamar mereka melanjutkan aksi cinta mereka dengan sedikit erangan dan desahan yang terus bersautan.
"Kenapa kau selalu melakukannya seperti ini Rico?!" Tanya Solane di tengah permainan mereka. Posisi Solane berada di bawah dan kedua tangannya di atas kepalanya ditautkan dengan Rico yang memegang nya. Rico terus menghentakkan tubuhnya memasuki Solane dan sesekali mencium bibirnya.
"Kau jauh lebih seksi dan sangat menggoda sayang! Aku juga sangat puas melakukannya!"
"Aku bisa saja berontak." Solane menantang.
"Coba saja!"
Solane lalu melepaskan kedua tangannya dari cengkraman Rico. Dia lalu mendorong tubuh Rico sehingga kini Solane berada di atas. Rico dalam posisi duduk memegang panggul Solane yang memasukan dirinya pada kepunyaan Rico yang sangat mengeras itu. Mereka sambil berciuman dan merasakan peluh keringat yang bercucuran menambah gairah birahi mereka. Dan mereka terus bermain sampai puncak menyembur walaupun agak lama karna Rico masih belum terlalu pulih.
...
"Aku pergi dulu menebus obat ya? Kau tidur lah yang nyenyak." ijin Solane.
"Hemm, apa Jacklyn masih tertidur?" selidik Rico.
"Ya, dia akan tertidur tiga sampai empat jam, kau tenang saja." kata Solane membuat Rico tenang.
"Baiklah, hati hati sayang, aku tidak bisa mengantarmu." kata Solane lagi.
"Ya aku tahu! Sebentar ya?" Ijin Solane mengecup kening Rico dan pergi membeli obat.
Sekitar satu jam Solane pergi membeli obat juga membeli keperluan makannya selama satu Minggu ini. Solane juga hendak mengadakan makanan kesukaan Rico karna sudah banyak membantunya dan memberikannya cinta setiap saat.
Sesampainya di apartemen, belum saja Solane membuka pintu, dia mendengar suara suara Rico sedang bermain dengan Jacklyn.
"Sayang, kalau sudah besar, kau harus seperti mommy ya?" suara Rico di dalam.
"Mom mi be sar." Jacklyn menyautinya.
"Yes, mommy wanita terhebat yang pernah ku temui, Jacklyn. Aku tidak peduli kalau dia sudah memiliki mu. Aku juga mencintaimu Jack! Mommy mu seperti ibuku. Ibuku juga merawat anaknya sendiri. Bayangkan Jack, ibuku merawat tiga anak sekaligus tanpa seorang ayah. Tapi, kau tenang saja Jack, aku akan menjadi ayahmu dan kau akan menjadi anak kandungku. Tidak boleh ada yang mengatakan kalau kau adalah anak tiriku, tidak boleh. Dan kau tenang saja. Aku akan memberikanmu adik. Kau ingin adik laki laki atau perempuan?" tanya Rico sangat senang.
"Ki la Ki an!"
"Laki laki atau perempuan, Jack?"
"La Ki!"
"Laki laki? Baiklah, itu sangat mudah! Aku akan memberikan mu adik laki laki dan kau adalah anak pertamaku! Give some kiss pliss?"
Begitulah suara suara itu yang membuat Solane memegang dadanya. Dia menangis dan menyesal telah mengatakan kata berakhir pada Rico sebelumnya. Seharusnya dia tahu kalau Rico benar benar tulus padanya. Kali ini dia tidak boleh lagi menyakiti Rico. Dia harus menjaga perasaan Rico dan tidak akan menolak ketika lagi lagi Rico hendak melamarnya.
__ADS_1
...
Kembali pada kisah Leon yang sudah menyadari kalau keinginan istrinya itu memang penting adanya. Leon terlalu mengedepankan kesenangannya sendiri tanpa memikirkan masa depan apa yang akan terjadi padanya.
Dan di tempat yang berbeda, Leon sudah menanyakan keberadaan Lexa pada Ben. Leon menyuruh Ben menanyakan pada istrinya. Sebelumnya, Ben sudah menikah dengan Abby dan kini usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan.
Ternyata Lexa pergi bersama Viena ke Summer. Lexa akan kembali ke kantor karna masih akan ada rapat. Lexa benar benar tidak membalas pesan Leon. Leon merasa Lexa sangat marah dan tidak mau menemuinya. Leon juga takut kalau Lexa tidak akan kembali ke apartemen.
Tepat pukul 6 sore, Lexa dan semua team iklannya termasuk Viena akhirnya menyelesaikan rapat. Benar saja, ternyata Lexa hendak ikut pulang bersama Viena kalau saja dia tidak menemukan Leon tertidur di lobby gedung perusahaan iklannya.
"Leon pasti sudah tahu apa yang menjadi kekeliruannya. Temui dia, jangan sampai kau menyesal!" Viena menepuk bahu Lexa yang masih memandang Leon dari kejauhan.
"Kalau kau terus berkeras hati, kau tidak akan sepertiku Lexa!" Decak Abby keluar dari lift dan melihat Lexa tampak gundah. Lexa hanya mengacungkan jari tengah pada Abby tanpa berbalik ."
Lexa menarik napasnya. Dia akhirnya menghampiri suaminya itu. Sebenarnya Lexa bukan tidak membalas tetapi ponselnya tertinggal ketika hendak menuju ke Summer.
...
...
...
...
...
Dah dah pada baean.. kocak kocak lagi dah Jan bersih tegang Mulu mending bersih bersih tangan tubuh biar terhindar dari cv19 wkwkwkwkwkk #kaboorr 😁😁
.
Next part 47
Bagaimana perjuangan Lexa dan Leon kali ini dalam memiliki momongan?
Apakah pada akhirnya Lexa akan menyerah dalam artian menyerahkan semua pada sang maha kuasa?
Bagaimana kabar Lil Angel ya?
Rico Solane nya aku skip dulu ya kan sbulan tuh mata jeng Solane 😂😂
.
Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍
.
Happy reading, thanks for read and love you somuch all 💕💕
.
baca juga yukkss novel baper lainnya :
💌 Love & Hurt
💌 Deja Vu : Jasmie & Chest
💌 Tak Dianggap
💌 Tetaplah Bersamaku
💌 Ada Cinta Untuk Sahabat
💌 Hot Daddy
__ADS_1
💌 Mantan Terindah
💌 Satu-satunya yang Kuinginkan