
Mata Lexa terbelalak merasakan ciuman leher Leon. Mereka sama sekali belum ada hubungan dan status, namun nampaknya Lexa senang dengan prilaku lembut Leon yang satu ini. Leon terus mengendusi leher dan bahu Lexa. Dia terus melakukannya karna tidak ada penolakan dari Lexa. Lexa belum pernah mempunyai hubungan dengan pria lain manapun dan menaruh hati sedikit pun pada mereka. Karena, Lexa berpikir mereka tidak peka dengan dirinya. Namun, Leon selalu tahu apa yang ia butuhkan. Bukan hadiah atau pujian melainkan tindakan nyata.
Mereka sudah cukup dekat cukup lama dan Leon selalu memperhatikan Lexa. Leon tidak pernah memanfaatkan kepolosan ataupun ketika Lexa diam membiarkan apa yang ia perbuat. Dan, katika mereka harus berpisah, mereka merasa ada yang kurang. Leon pun begitu. Dia merasa Lexa yang paling mengerti dan menghargai dirinya. Wanita itu tidak pernah menuntut atau memaksa Leon. Wanita itu selalu menerima Leon apa adanya.
Lexa terus merasakan kelembutan Leon sampai dia pun tersadar kalau mereka sedang berada di kantor bukan di rumah.
"Leon, hentikan, kita di kantor," gumam Lexa yang kini memejamkan matanya.
"Tapi sepertinya kau tak menolak, kau juga merindukanku hah?" Gumam Leon lagi masih mengecupi leher Lexa. Aroma tubuh Lexa seperti heroin yang membuat Leon sungguh candu, dan membuat Leon tak kuat jika tidak merasakannya wanginya. Bagi Leon waktu dua hari itu sangat panjang yang biasanya Leon bisa saja menemui Lexa semaunya
"Kurasa kita tidak bisa bersama, Leon, Solane selalu mengikutimu, aku tidak mau berurusan lagi dengannya, mengertilah," ucap Lexa masih merasakan kecupan Leon.
"Kita bisa sembunyi sembunyi, kurasa itu lebih menegangkan dan menggairahkan, bagaimana?" Leon melepaskan ciumannya dan menatap Lexa.
"Tidak, aku tidak mau, sudahlah, kau seharusnya pergi dari sini!" Lexa menggeleng dan ikut menarik diri dari Leon.
"Waktu istirahatku masih banyak, aku akan duduk disini melihatmu bekerja," Leon menduduki kursi putar di sebrang Lexa. Dia menopang dagunya dengan satu tanganya menatap Lexa. Lexa bergidik takut terbuai lagi dengan tatapan dan senyuman Leon yang mematikan.
Dia lalu mencari cara agar terhindar lebih dulu dari tatapan itu.
"Diam dan jangan menggangguku, sebentar akan kubuatkan minum, ice tea or ice coffee ??" Lexa berinisiatif membuatkan Leon minum. Mungkin bisa membuat pikiran Leon sedikit lega.
"Terserahmu saja my life assistant, ting!" Leon mengedipkan matanya pada Lexa. Dia lalu menyandarkan badannya sambil menopang belakang kepalanya dengan kedua tangan.
Lexa memutar bola matanya malas. Kapan dia akan bosan menggodanya dan menyatakan cintanya padaku, pikir Lexa dengan senyum berdecih.
Setibanya Lexa membawakan minuman untuk Leon, Leon sudah terlelap. Leon sudah pindah dan menuju sofa kecil di ruangan Lexa. Dia merasa agak kurang tidur.
"Cih, memang pria tidak bisa diam! Percis seperti musang yang kesana kemari!" Lexa berdecih sebelum dirinya menghampiri Leon. Lexa merasakan aura letih pada wajahnya. Seperti menyembunyikan banyak masalah.
"Banyak hal yang aku tidak tahu akanmu Leon? Mengapa kau masih mau mendekatiku?" Gumam Lexa memperhatikan setiap paras Leon yang menurutnya sempurna. Meskipun sedikit tersirat kenakalan dan sedikit arogan, namun Lexa sangat menikmati setiap jengkal sentuhannya dan setiap prilaku lembut Leon padanya.
Lexa mengelus pelan pipi Leon. Leon agak sedikit terganggu dan memutar posisinya menghadap sisi sofa.
"Tidurlah, cup," Lexa mencuri satu ciuman di pipi Leon karna dia merasa Leon sudah terlelap dan tak sadar akan perilakunya. Dia segera berbalik melanjutkan pekerjaannya, sementara Leon menyeringai di sela sela kantuknya. Merasakan perasaan Lexa yang pasti juga mencintainya.
...
"Aarrrggghh, aku puas sekali!! Sepertinya aku harus tidur siang lagi di sofa ruanganmu, sangat nyamaannn, aaarrgghh!!" Leon menggeliatkan tubuhnya menuruni anak tangga kantor. Lexa melihat lift tampak penuh dan dia malas menunggu. Jadi mereka memutuskan menuruni anak tangga.
"Tidak! Ini terakhirnya kau ke ruanganku! Untung saja Nyonya Viena tidak ada, kalau ada, habislah!!" Decak Lexa.
"Kau yakin Nyonya mu akan menghabisimu?"
"Tidak, hahaha!!" Lexa tertawa lepas. Sementara Leon memperhatikan Lexa yang sangat riang. Sudah lama sekali dia tidak melihat Lexa seriang ini sejak pertama bertemu.
Leon lalu merangkul pundaknya dan ikut tertawa. Lexa tidak menyadari maksud Leon dan membiarkannya sampai mereka tiba di lobby bawah.
"Baiklah, Lexa, aku pulang, selalu hubungi aku!" Kata Leon melepas rangkulannya dan berlalu meninggalkan Lexa perlahan. Sebenarnya sangat berat Leon seperti ini. Leon ingin mengantar Lexa pulang atau berjalan jalan sebentar. Namun, keadaannya tidak memungkinkan. Dia bukan siapa siapa di Legacy ini. Dia harus perlahan menghilangkan Solane atau menyadarkan Solane sebelum wanita licik itu menyakiti Lexa terus menerus.
"Leon.." panggil Lexa lirih.
Leon menoleh tanpa membalikan badannya. Hati Leon sakit sekali. Sakitnya memang seperti dulu Solane menghianatinya, namun kali ini lebih seperti menderita dan kehilangan. Dia sedih karna membiarkan wanita yang ia cintai sendiri dan tidak bisa merasakan pelukannya. Leon juga tahu perasaan Lexa karna biasanya dia selalu mengantar Lexa.
"Hati hati," Lexa tersenyum menahan air matanya yang hendak membuncah. Leon mengangguk dan melangkah menjauh. Lexa mengerti apa yang dilakukan Leon padanya. Lexa pun menyadari dirinya yang mau menjauh dari Leon. Jadi untuk apa dia menahan Leon atau meminta mengantarnya pulang.
...
Keganjalan mengenai iklan itu semakin menari nari di otak Lexa. Lexa sudah mengatakannya pada Viena, namun Viena masih menganggap wajar. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Nyonya nya itu. Apa dia benar benar sudah jatuh cinta pada Tuan Revo, pikir Lexa.
__ADS_1
"Sekarang dia makan siang bersamanya. Ada yang tidak beres. Aku harus menghubungi Leon! Hanya Tuan Dion yang bisa membantu kami!" Dengan sigap Lexa memgambil ponselnya dan menghubungi Leon.
Percakapan Telepon Lexa - Leon
Leon : "Aku tahu, kau tidak bisa jauh lebih 24 jam dariku Lexa!! Haha! Ayo cepat katakan kalau kau merindukanku!"
Lexa : "Ada hal yang lebih penting dari sekedar kegombalanmu itu!"
Leon : "Ada apa? Kau mengkhawatirkan nyonyamu?"
Lexa : "Bagaimana kau tahu? Ada apa dengannya?"
Leon : "Ya, aku sedang menyaksikan sebuah drama cinta segitiga antara nyonyamu, tuanku dan tuannya hahaha!"
Lexa : "Jangan bercanda! Apa yang sedang terjadi?!"
Leon : "Aku serius, kau tahu kan Tuannya Asisten Eric, Tuan Revo, tuannya kan? Dia memang agak tampan sepertiku, tapi kau tidak menyukainya kan Lexa, dia sudah punya tunangan! Aku sangat cemburu kalau kau sempat ada rasa padanya! Maka akan menjadi drama lagi antara aku kau dan nya!" (Leon berceloteh membuat Lexa sedikit geram.)
Lexa : "Leon! Berhenti bercanda! Kau sedang dimana?"
Leon : "Aku sedang di bawah kantormu mengantar Tuan Dion menemui nyonyamu yang mau berkencan lagi dengan Tuan Revo,"
Lexa : "Apa Tuan Dion berhasil menghentikannya?"
Leon : "Sepertinya tidak, sudah dulu ya nanti ku hubungi lagi, mereka mau berkelahi,"
Tut! Leon menutup panggilan dan membuat Lexa hendak mati penasaran. Dia lalu melangkahkan kakinya keluar ruangannya hendak melihat keadaan di bawah yang dibilang Leon. Dia terburu buru sampai tidak melihat depannya. Dia menabrak Abby yang membawa secangkir kopi panas. Kopi tersebut mengenai tangan Lexa membuat Lexa terlonjak kaget dan merintih.
"Lexa! Tanganmu! Kau ini tidak pernah hati hati jika terburu buru!" Gertak Abby segera meraih tangan Lexa yang kian memerah karna sangat putihlah kulitnya. Abby lalu mengipasinya dan meminta Susan membawa kotak p3k.
"Kau bilang sore nanti kita ke stasiun TV, mengapa kau jadi sangat terburu buru??" Abby masih mengipas ngipas tangan Lexa.
"Apa tanganmu tidak sakit?" Teriak Abby cemas.
"Tidak, tenang saja!!" Lexa terus berlalu dengan tangannya yang mulai melepuh. Dia tidak perduli. Dia hanya mau melerai perkelahian dan tidak membiarkan nyonya nya pergi.
Namun, semua perjuangannya sia sia. Viena sudah pergi bersama Revo. Lexa tidak melihat keberadaan bosnya. Dia hanya melihat Leon yang sedang menepuk nepuk pundak bos nya.
"Tuan Dion, selamat siang.." Lexa menundukan badannya memberi hormat pada Dion. Dion hanya menganggukan kepala pelan.
"Leon, dia sudah pergi?" Tanya Lexa pelan sambil memegang tangannya karna nampak semakin perih.
"Ada apa dengan tanganmu? Mengapa melepuh seperti ini?" Leon tidak menjawab pertanyaan Lexa. Dia lalu menghampiri Lexa dan meraih tangannya.
"Sebaiknya kau antar Lexa ke rumah sakit, sepertinya itu luka bakar. Antar pakai taxi, aku akan kembali ke hotel dengan mobil. Aku bisa sendiri," pesan Dion yang tampak dingin karna memikirkan majikan Lexa dan dia berlalu. (Yang lupa baca di mantan terindah episode 23 kalo ga salah hihi)
"Baik Tuan, terimakasih .. " kata Leon tak mengalihkan matanya pada Lexa.
Lexa merintih karna tangannya semakin panas dan memerah.
"Kenapa bisa seperti ini Lexa? Ayo kita ke rumah sakit, kau ini!" Leon menarik tangan Lexa keluar untuk mencari taxi.
"Tapi, tas dan ponselku di atas,"
"Lupaka! Tanganmu lebih penting!" Leon mengipasi tangan Lexa dan sesekali meniupnya. Lexa memperhatikan wajah Leon yang begitu mencemaskannya. Leon sangat perhatian padanya, tidak seharusnya Lexa selalu agak kasar padanya.
Mereka menaiki taxi dan menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Leon terus memegang tangan Lexa. Leon bertanya mengapa semua bisa terjadi. Lexa menjelaskannya dengan pelan. Leon menarik dirinya kepelukannya. Semuanya salahnya. Kalau saja dia tidak mengatakan yang terjadi dengan nyonyanya pasti dia tidak akan ke bawah atau terburu buru.
"Leon, aku tidak apa, jangan merangkulku seperti ini, kau tidak malu dengan supirnya?" Ucap Lexa pelan.
"Biar, aku lebih nyaman seperti ini, kau diam saja!" Suruh Leon dan terus merangkulnya.
__ADS_1
...
Lexa sudah diberi obat dan sedikit diperban karna kulitnya sudah agak melepuh. Dia berpikir, dia harus mengenakan pakaian lengan panjang agar Viena tidak menanyainya. Dia masih memikirkan tuannya. Lexa tertunduk sambil menekan nekan pelan luka bakarnya. Bagaimana jika iklan yang telah mereka buat hancur dan malah terjadi petaka bagi perusahaan Viena? Pikirnya.
"Lexa, apa yang kau pikirkan? Apa luka mu masih sakit?" Tanya Leon sambil mencari keberadaan wajah Lexa yang tertunduk.
"Hehem," Lexa menggeleng.
"Jadi?"
"Bagaimana cara Tuan Dion menyelamatkan iklan itu Leon?" Tanya Lexa.
"Entahlah, aku hanya menerima perintah, kau tenang saja, semua pasti terkendali. Kau kan tahu bos mu seperti apa," Leon menepuk kecil bahu Lexa.
"Tidak, dia terlalu mudah dipengaruhi, tapi aku pun tak berhak mengaturnya," jawab Lexa seketika.
"Tenang, ada Tuan Dion, dia tahu apa yang harus dia lakukan, kita hanya bisa menjadi bayang bayang mereka. Kita bisa membantu disaat hal itu dibutuhkan. Kita pasangan asisten yang serasi Lexa, kau tenang lah, oke? Dan jangan seperti ini lagi. Ini sangat menyakitkan!" Leon memberikan kata kata yang akhirnya membuat wajah Lexa merona dan mendongak pada pria bermata lancip itu.
"Ya, kau benar, kita hanya perlu terus menemaninya. Nyonya Viena hanya butuh teman, ya benar, aku hanya perlu terus menemaninya agar dia tidak merasa sendiri, karna dia sudah tidak mempunyai i -- " tiba tiba Lexa mengingat mendiang ibu Viena beberapa hari yang lalu. Namun, dia berjanji untuk merahasiakannya. Dia harus menjadi teman yang paling dipercaya oleh bos nya.
"Ada apa Lexa dengan nyonya mu?" Tanya Leon bingung karna Lexa menghentikan perkataannya.
"Ah tidak, itu bukan masalah besar, ayo kita pergi dari sini, bau obat obatan ini membuat hidung ku gatal!" Lexa menggaruk garukan bawah hidungnya dan beranjak dari duduknya.
"Baiklah, ayo," Leon merangkul pundak Lexa yang dibiarkan oleh wanita yang terkadang wajahnya datar.
Leon sedikit tenang karna Lexa tidak menolak rangkulannya. Lexa rindu dengan prilaku Leon yang sebenarnya hanya beberapa hari Leon seperti dingin padanya.
Mereka terus menyusuri lorong rumah sakit menuju keluar. Leon terus merangkul Lexa dan sesekali mencium pelipis Lexa. Mereka seperti pasangan kekasih yang belum bisa mengutarakan perasaan mereka yang sebenarnya.
Ketika mereka hendak menuju pintu rumah sakit dan melewati ruang farmasi, Leon terpaksa harus melepaskan rangkulannya.
Ah, sepertinya Leon belum bisa bersembunyi dari Solane. Pikiran Leon sudah berputar putar memikirkan prilaku kasar apalagi yang akan dia lakukan pada Lexa. Tapi, pada keyataannya Solane sedang menangis di depan ruang farmasi. Mereka bertiga berpapasan. Solane melihat Leon dan Lexa dan mencoba menghapus air matanya.
Lexa menatap Leon dan kembali menatap Solane.
"Dia kenapa?" Bisik Lexa pada dada Leon. Leon hanya menaik turunkan bahunya tidak tahu.
Solane tidak berkata apa apa. Lexa dan Leon masih memperhatikan sikap bekas kekasih Leon itu agak sedikit aneh.
Setelah Solane mengambil obat yang dia beli dari farmasi, dia segera melewati Lexa dan Leon dengan berlinang air mata. Namun ketika agak berjalan sedikit dia menoleh sedikit kebelakang. Dia berharap Lexa dan Leon mengikutinya.
Dan benar saja, Leon seperti penasaran. Dia lebih hanya ingin tahu mengapa Solane ada di rumah sakit.
"Lexa, bisakah kita mengikuti dia? Aku sedikit curiga, kau mau ikut?" Tanya Leon terlebih dahulu agar Lexa tidak berpikir yang tidak tidak. Untungnya Lexa juga penasaran dengan sikap Solane yang diam dan menangis. Biasanya ketika dia melihat Lexa, emosinya selalu meletup letup dan tak jarang memberikan umpatan padanya.
Akhirnya, Lexa dan Leon mengikuti Solane. Mereka mengikuti pelan pelan arah yang Solane tuju. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kekepoan Leon - Lexa lagi ngikutin Solane 😁
...
Haaalloooo apakabar semuanya?
Ketemunya di MANTAN TERINDAH yaa? Hehe gpp lah yaa hehe maav banget aku up lama disini karna belum dapet plot yang enak buat disajikan hehe .. tapi tetep babang leon n mba lexa masih sama yaaa 😘😘
Kita next ya part 25 dijamin makin menegangkan 💋😘
Eh eh like like dan komen ya sama ini author minta tolong dongg promosiin novel aku yang ini kalo kalian merasa novel ini layak dibaca hihi .. makasihh yaa laafff youuu 😘😍
__ADS_1