Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 7


__ADS_3

Leon memasuki ruangan Dion yang sedang menandatangani para perusahaan perusahaan kecil yang mempercayakan bergabung dengan Prime Group. Hotel Prime sejak Dion menikah dengan Viena, dia bersama ayahnya memberanikan diri bermain pada pasar saham dan membentuk grup tersendiri. Ini semua juga berkat semangat dan dukungan yang diberikan istrinya. Tentu saja Leon sangat menyetujuinya. Selain gajinya pun akan naik, dia juga tetap menjadi asisten kebanggan Dion.


"Tuan Dion, Nyonya Bella datang." Kata Leon memberitahu tuannya. Dion langsung menghentikan pekerjaannya dan mendongakan kepalanya beranjak hendak memberikan salam pada Bella dan Rico.


"Selamat siang Tuan Prime." Sapa Bella tersenyum ramah. Rico hanya membungkukan tubuhnya.


"Tuan, ini berkas perusahaan hotel Nyonya Bella. Karna salah satu perusahaan besar, kita harus mengadakan survei ke perusahaan hotel pusat mereka Tuan." Kata Leon lagi menyerahkan beberapa lembar lembar yang baru saja Bella dan Rico antar dan sudah diperiksa Leon.


"Ah iya benar. Em, Nyonya Bella silahkan duduk. Jadi, kita harus melihat sejauh mana perkembangan hotel anda agar menunjang saham yang hendak anda tanam agar terus berangsur panjang." Tutur Dion menjelaskan maksud dari survei ini.


"Tidak masalah Tuan Dion. Hotel pusat dan terbesar kami terdapat di Honolulu. Kalau anda tidak keberatan, Leon saja yang melakukan survei itu." Kata Bella yang sudah duduk bersebrangan dengan Dion.


Seketika hati Dion bergidik. Dia merasa Bella sepertinya menyukai Leon. Alisnya sedikit terangkat dan menyunggingkan senyum khasnya. Leon melirik dan ikut merasakan apa yang tuannya rasakan.


"Ya kau benar Nyonya Bella. Aku harus mengakui kinerja Leon sebagai asisten ku yang sangat luar biasa. Terkadang dia juga yang memimpin rapat bulanan jika aku berhalangan, namun untuk masalah saham sepertinya Leon harus tetap bersamaku dan Jimmy. Ah, kau tahu Jimmy kan? Jimmy Choi sudah kutunjuk sebagai asisten ku untuk mengurus divisi pelayanan pelanggan dan saham. Jadi, dia harus mengetahui bagaimana tata cara kerja sama saham yang diterapkan." Jawab Dion memberikan alasan yang sungguh masuk akal.


"Ooh iya? Jadi siapa saja yang akan melakukan survei ke hotel pusatku?" Bella memastikan.


"Tentu saja aku, Jimmy dan Leon. Leon, coba kau lihat jadwalku minggu depan. Apakah jadwalku kosong karna aku juga sudah berjanji pada Viena akan menemaninya ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin kesehatan Dior?" Tanya Dion pada Leon.


"Sepertinya kosong Tuan, sebentar aku akan memeriksanya lagi." Kata Leon dan dia keluar dari ruangan Dion untuk mengambil ipadnya.


Sementara Bella menatap Dion dan menyunggingkan senyumnya. Dion juga menatapnya hendak mengatakan sesuatu.


"Nyonya Bella yang terhormat, aku hanya ingin mengingatkan dengan status Leon yang sudah beristri. Jangan sampai berita berita yang tidak sedap juga menerpa kalian. Saya sah sah saja anda dekat dengan asisten saya tapi tolong tetap mengetahui batasan. Anda mengerti maksud saya kan?" Ujar Dion yang membuat hati Bella agak tersindiri. Dia tetap harus menormalkan dirinya.


"Hahahahaa! Tuan Dion Tuan Dion, kau begitu menyayangi asisten anda ya? Kalau saya ingin mencari seorang pria seperti Leon, mengapa saya tidak menyukai asisten saya saja? Dia tidak kalah menarik dari Leon, jadi anda tenang saja. Ini semua hanya masalah kerjasama saja. Saya lihat Leon sangat berkompeten seperti asisten saya ini. Saya juga mohon untuk anda menjaga tutur bicara anda mengenai rumor tentang saya. Anda tidak tahu luar dan dalam saya." Saut Bella dengan sedikit penekanan namun tetap dalam keadaan normal. Rico sudah berada di belakang Bella hendak mengingatkan jika atasannya terpancing emosi.


"Hahaha, ya ya, ucapan anda sungguh berlogika. Baiklah saya minta maaf dan semoga kerja sama kita membuahkan hasil dan tidak terjadi rumor yang tidak baik." Kata Dion tertawa renyah.


Tak berapa lama Leon datang memberitahu kalau jadwal Dion kosong di hari jumat sabtu dan minggu karna Viena meminta waktunya di hari kamis.


"Baiklah Tuan Dion, kalau begitu saya permisi. Tetapkan penerbangan yang bisa dibicarakan oleh Rico." Kata Bella yang sudah agak tidak enak dengan Dion. Wajahnya sedikit dingin mengingat kejadian yang memang mengusiknya di Honolulu. Dia lalu pergi tanpa berjabat tangan dengan Dion.


"Mohon maaf Tuan Prime atas sikap Nyonya Bella. Anda tahu sendiri bagaimana yang terjadi di Honolulu sana. Semoga tidak akan memperburuk kerja sama kita. Segera kabari penerbangan nanti Tuan." Kata Rico membungkukan tubuhnya.


"Ya Rico, tenang saja. Aku mengerti semuanya." Balas Dion tersenyum.


"Baiklah, permisi Tuan, Leon, aku pamit dulu." Kata Rico lagi ijin pergi.


"Ya, silahkan Rico."


Rico pun pergi dan Leon menoleh pada tuannya yang sudah tersenyum senyum geli melanjutkan pekerjaannya.


"Ada apa Tuan? Apa yang kau katakan pada Nyonya Bella sampai dia agak kesal begitu?" Tanya Leon sedikit terheran.


"Memperingatinya agar tidak terlalu mendekatimu! Aku jadi jijik! Aku benci wanita wanita seperti Bella, seperti tidak ada pria lain saja, kau tahu kan terakhir kali apa yang kulakukan pada Pevi? Karna dia, hampir saja nyawa anak ku tiada. Kau berhati hatilah Leon!" Jawab Dion memperingatkan.


"Aku bingung dia menyukaiku, seharusnya dia menyukaimu Tuan!" Gumam Leon.


"Aku beruntung tidak disukai wanita sepertinya!" Kata Dion terkekeh.


"Ya, ya kau sudah terkontaminasi oleh Nyonya Viena. Aku tahu, jadi semua wanita rasa pria juga kan?" Leon ikut terkekeh.


"Kau yang mengetahuinya Leon. Sudah lanjutkan pekerjaan atau sebaiknya kau memanjakan istrimu agar dia tidak berpikir terlalu banyak." Kata Dion lagi mengingatkan Lexa pada Leon.


"Ide yang bagus Tuan, nanti aku akan menjemputnya ketika dia pulang menemui kliennya. Permisi Tuan." Kata Leon dan meninggalkan ruangan tuannya.


...


Solane sampai di restoran plaza lebih awal dari waktu yang ditentukan Lexa. Solane sudah membuat anaknya tertidur sehingga dia bisa leluasa berbicara dengan Lexa. Tak berapa lama Lexa datang dengan tergesa gesa dan wajahnya sedikit pucat. Solane memperhatikan wanita yang kini menjadi sahabatnya itu. Agak kurusan dan wajahnya putih pucat. Untung saja gaya berpakaiannya masih normal dan tetap fashionable. Jeans fit body dan turtle neck sweater lalu ia padukan dengan coat panjang. Beberapa minggu ini, Legacy agak mengalami musim dingin. Lexa juga mengenakan ankle boat kesukaannya.


"Solane, sory aku agak terlambat!" Kata Lexa dengan napas agak tesenggal.


"Kau selalu terlambat! Ini minum dulu!" Saut Solane dengan santai. Dengan menyandarkan satu tangannya di meja makan dan menyodorkan sebotol air mineral pada Lexa.


"Ah, kau tahu saja! Aku ke sini bersama Abby, tapi Abby harus menemui klien ku lainnya." Kata Lexa setelah menegak setengah botol air. Dia lalu duduk bersebrangan Solane.


"Di mana anakmu?" Tanya Lexa.


"Ini!" Jawab Solane melirik ke kereta bayi.


"Aahhh, dia sedang tidur saja sangat menggemaskan. Tidak bisakah kau meminjamkannya satu hari padaku Solane?" Tanya Lexa menopang dagunya.


"Tidak!"


"Kau ini!"


"Kau harus membuatnya Lexa! Masa Leon tidak bisa! Atau aku yang membuatkannya untuk Leon?" Kata Solane menaik turunkan alisnya menggoda.


"Gila!! Kau mau cari mati lagi padaku, iya?!" Ancam Lexa mencibir.


"Hahahhaa, kau cemburu padaku, lalu kau tidak cemburu dengan janda yang mendekati Leon?" Solane mulai memberitahu.


"Hah? Janda? Apa maksudmu Solane?" Selidik Lexa agak terkejut.


"Renzy yang mengatakannya padaku, janda anak satu itu sedang mendekati Leon. Masa kau tidak tahu menahu. Setiap saat dia datang ke kantor Leon untuk membicarakan urusan bisnis. Kau harus hati hati Lexa." Kata Solane menjelaskan dan menyandarkan tubuhnya di kursi makan itu.

__ADS_1


"Oh Tuhan. Mengapa aku jadi ngeri begini. Janda itu pasti sangat kaya ya Solane?" Saut Lexa yang sedang menerka nerka.


"Lexa! Aku serius! "


"Ya, aku juga serius. Waktu itu aku pernah menghubungi Leon dan yang mengangkat seorang wanita. Apa itu dia ya?" Lexa masih menerka nerka dan mengingat wanita yang dekat dengan Leon.


"Bisa jadi Lexa, kau harus waspada Lexa. Dan tunggu dulu!" Jawab Solane dan menghentikan bincang bincangnya karna ia mengingat sesuatu untuk ditanyakan pada sahabatnya ini.


"Mengapa akhir akhir ini kondisimu begini Lexa? Wajahmu pucat dan kau lebih kurus. Apa kau hamil?" Tanya Solane kemudian. Dia kini menopang dagunya dengan tangannya.


"Tidak! Aku sudah memeriksanya bersama Nyonya Viena. Garis satu! Menyakitkan Solane, dan aku tidak mau test test begitu lagi. Hatiku remuk karna belum bisa merasakan hal sepertimu!" Jawab Lexa muram.


"Sabarlah! Tuhan pasti memberikannya Lexa. Kau banyak berusaha dan berdoa." Balas Solane memberi semangat.


"Iya Solane, aku terus berusaha bersama Leon. Kau kan tahu mantan mu itu seperti apa?"


"Memang seperti apa? Apa seperti Jimmy? Hem, walaupun lelah dia juga sering memintanya padaku bahkan satu malam bisa dua ronde Lexa!" Solane betapa bersemangat membicarakan hal seperti ini. Pasalnya dia sudah lama juga tidak berhubungan dengan Leon.


"Oh my! Teman serekan sama saja ya tidak ada bedanya haha! Leon hampir setiap hari meminta hemm!!" Jawab Lexa agak tersenyum.


"Hahahaha! Aku curiga Ben juga sama pada Abby!"


"Menjijikan kau Solane!"


"Hahaha! Lexa, pesanlah makan siang mu jangan sampai sakit! Kau harus tetap mengawasi suamimu! Aku tidak rela jika dia dekat dekat dengan Janda itu." Kata Solane lagi nenyerahkan buku menu pada Lexa.


"Hem, memang siapa janda itu Solane? Kau sepertinya sudah pernah melihatnya ya? Kapan kapan sepertinya aku harus menemui Leon di kantornya." Kata Lexa sambil membuka buka buku menu.


"Benar! Kau harus ke kantor Leon sesekali Lexa. Bawakan dia makan. Sukur sukur janda itu datang dan melihat kemesraan kalian, hem rasakan!" Celetuuk Solane tak senang.


"Sepertinya aku memesan sirloin steak with french fries saja Solane. Minumnya biasa Ice Lychee tea." Kata Lexa memesan dan Solane memanggil pelayan. Dia memesan dua porsi juga untuk dirinya.


"Hah, jadi katakan siapa janda itu Solane? Apa sama dengan yang ada dipikiranku?" Tanya Lexa setelah sang pelayan pergi menyiapkan pesanan mereka.


Tapi, belum saja Solane mengatakannya, sesosok pria yang sempat membuatnya jengkel di kantor Leon tadi sudah bertandang di belakang Lexa sedang masih bermain ponsel. Solane mendongakan menatap pria itu lalu mencibirnya.


"Mau apa lelaki ini di belakangmu Lexa!" Tanya Solane tak senang. Lexa lalu menoleh.


"Oh my God! Rico! Mengapa kau tak bilang sudah tiba?! Membuat aku kaget saja! Duduk kau sini!" Kata Lexa memukul perut Rico karna Rico asik berkutat dengan ponselnya.


"Ah, iya tunggu sebentar Lexa, aku harus memesan tiket." Jawabnya sedikit melirik ke arah Solane dan dia terkejut.


"Kau? Kenapa kau disini?!" Tanya Rico menunjuk nunjuk Solane.


"Apa?!! Seharusnya aku yang bertanya untuk apa kau disini?!!!" Celetuk Solane santai.


"Kalian sudah saling kenal!" Tanya Lexa tak menyangka dan sedikit tersenyum.


"Dia ini tidak sopan! Masa dia bilang diriku pria kesepian!" Sela Rico yang sudah kesal terlebih dulu memotong perkataan Solane yang hendak mengatakan tentang Bella.


"Memang!!" Saut Solane kembali menjulurkan lidahnya.


"Sudah sudah! Kalian seperti anjing dan kucing! Rico, duduklah! Kenapa kau bisa mengenal Solane?" Kata Lexa terkekeh menarik jas Rico untuk duduk di antaranya dan Solane.


"Aku bertemunya di kantor hotel prime." Tambah Rico duduk di kursi.


"Oh iya, perusahaan hotelmu juga bekerjasama dengan hotel prime?" Tanya Lexa mengingat omongan Leon semalam.


"Iya! Tapi wanita ini sungguh merusak moodku!" Jawab Rico dengan wajah kesal memandang Solane.


"Diam kau! Kau yang tak senang dengan mataku! Kau tidak lihat bagaimana riasan mataku yang sempurna ini hah?!" Decak Solane tak mau kalah.


"Aku tahu, kalau semua hitam hitam di matamu itu tidak ada, matamu itu kecil hampir tidak memiliki mata!" Umpat Rico.


"Oohhh!!! Kau penjual make up ya jadi kau tahu baik bibit bobotnya iya?!"


"Sudah sudah! Kalian jangan bertengkar seperti ini. Kalian ini akan menjadi partner, jangan begitu!" Lexa mencoba melerai.


"PARTNER??!!" Solane dan Rico berkata bersamaan.


"Hehem, Solane, kau akan jadi model iklan untuk Belleza Hotel yang mana Rico ini merupakan asisten dari pemilik Belleza Hotel." Jawab Lexa tersenyum manis.


"Aaahh, kalau begitu aku tidak ..."


Belum Solane menyelesaikan kata katanya, Jacklyn menangis karna terkejut dengan suara ibunya dan Rico tentunya.


"Hah, anakmu menangis, ibunya terlalu berisik!" Umpat Rico terkekeh dan Solane sontak berdiri dan meraih anaknya itu.


"Sudah jack, its oke, mommy is here! Lexa, aku akan menenangkannya dulu. Hey asisten hotel, urusan kita belum selesai!" Kata Solane meraih anaknua dan menggendongnya.


"Urus saja anakmu dulu!! Berisik!!" Umpat Rico lagi. Lexa terkekeh melihat pertengkaran mereka.


"Lexa, kau benar akan menjadikan dia model iklan ku?" Tanya Rico meyakinkan.


"Hehem!" Lexa mengangguk pasti.


"Ya, dia model baru atau bagaimana? Bentuk tubuhnya memang bagus, tapi .."

__ADS_1


"Kau tenang saja, dia model papan atas. Dia sempat berhenti terlebih dulu karna hamil dan melahirkan. Sekarang dia akan melebarkan lagi sayapnya. Dia model terbaik kok, sudah ada dua iklan ku ku yang bersamanya. Kau tenang saja." Jawab Lexa yakin.


Bersamaan dengan itu datanglah pesanan makanan Lexa. Sebelumnya Lexa lalu memberikan kontrak kerja antara perusahaan iklannya dan hotel nya. Rico lalu membacanya sebelum ia memberikan cap tanda tangan bos nya. Lexa pun menikmati makannya. Tak lama Solane datang dengan anaknya yang sudah tenang dan sesekali tertawa sumringah. Dia juga sudah memegang mainannya.


"Jack, Jack, come here with aunty baby!!" Kata Lexa menyambut Jacklyn yang sudah tidak menangis lagi. Solane lalu memberikannya pada Lexa dan masih menekuk wajahnya pada Rico.


"Bibirmu jangan seperti itu, nanti kucium baru tahu rasa kau!" Decak Rico terkekeh sambil terus mempelajari kontrak kerja samanya.


"Cih, dasar krokodail kesepian! Diam lah dulu kau disitu, aku ingin makan!" Decak Solane lagi dan Rico hanya tertawa tipis.


Mereka bertiga di sana tampak akrab. Rico juga merasakan kekerabatan yang membuat hatinya hangat. Sebelumnya dia hanya sendiri di apartemen setelah ibunya meninggal. Dan jika dia tidak di Honolulu, dia tidak bisa bermain bersama Athena. Dia ikut tersenyum melihat Jacklyn bercanda dengan Lexa dan sesekali Solane memperhatikan cara Rico melihat Lexa. Pancaran matanya terlihat seperti Leon yang menggebu gebu membela Lexa waktu itu. Solane menjadi mengetahui sesuatu.


Solane dan Rico tampaknya tidak ribut lagi karna Jacklyn kembali tertidur di gendongan Rico. Rico menggendongnya karna Jacklyn selalu tersenyum pada pria itu. Rico jadi mengingat Athena. Solane menyetujui Rico untuk menggendong Jacklyn setelah Lexa merayunya.


"Lexa, aku benar tidak mau bekerjasama dengannya. Aku bisa bertengkar dengannya juga dengan atasannya." Kata Solane kemudian mengingat kata partner yang tadi Lexa katakan.


"Kau sudah mengetahuinya?" Tanya Lexa dan dia merasa ponselnya bergetar. Leon memberi pesan. Leon mengatakan sudah di jalan menjemput Lexa. Lexa membalasnya dan tersenyum.


"Sudah, dia seperti singa betina yang liar!" Umpat Solane dengan wajah garangnya.


"Seenaknya saja kau Solane, dia yang membayarmu! Aku sudah menidurkan anakmu, kau seharusnya suka rela menjadi model iklanku!" Sela Rico membela atasannya.


"Cepat taruh anakku ke kereta bayinya. Aku akan membayar makan dan minummu!!" Perintah Solane dan Rico segera meletakan Jacklyn di kereta bayinya.


"Solane, lihatlah berapa yang akan kau dapat!" Kata Lexa kemudian memberitahukan rincian anggaran untuk seorang model iklan perusahaan bersar.


"Semuanya sampai selesai shooting dan penayangan mencapai 625 juta Lexa? Kau serius? Ini sangat besar!! Belum lagi jika dimuat di bollboard, majalah dan koran?" Solane membaca rincian tersebut dan membelalakan matanya.


"Ya, ini kontrak jangka panjang Solane. Jadi, kau bersedia kan? Jimmy juga tidak akan keberatan kan?"


"Semoga dia tidak minder padaku." Gumam Solane masih membaca rinciannya.


"Sebentar lagi gajinya sama seperti Leon." Kata Lexa yang akhirnya menyebut nama suaminya. Rico mendengarnya. Alisnya agak mendelik. Apa Leon yang dimaksud temannya? Pasalnya Lexa juga menyebutkan nama Jimmy.


"Tunggu! Kau menyebut siapa Lexa? Leon?" Akhirnya Rico bertanya. Penasarannya telah membuncah.


"Iya Leon, lalu siapa? Leon asisten Tuan Dion Prime kan? Rekan kerja dengan Jimmy, suaminya Solane." Jawab Lexa yang merasa benar dengan hubungan Jimmy dan Leon.


"Iya benar, kenapa kau kenal?" Selidik Rico lagi.


Dan belum Lexa menjawab, seorang pria memanggilnya.


"Lexa!"


Rico menoleh. Perasaannya tidak enak.


"Heng, kau akan tahu siapa Leon bagi Lexa, krokodail kesepian!" Decak Solane yang mana dia paham, Rico belum mengetahui siapa suami dari Lexa.


"Siapa Solane?" Tanya Lexa ikut menoleh ke belakang.


"Lexa, jangan bilang Leon adalah suamimu!" Rico langsung bertanya pada Lexa.


"Hah? Dia memang suamiku, kau mengenalnya?"


Dan lagi lagi Rico harus memupuk cintanya karna sejatinya sejak perkuliahan pun dia tidak bisa mengalahkan Leon.


...


...


...


...


...


Sudah terjawab Rico, dialah Leon sang asisten maha besar 😝😝


.


Next part 8


Jeng jeng jeng


Drama smakin menegangkan


Drama smakin sengit bertambah lagi hewan hewan bertebaran


Krokodail apaan sih? Wakakak


.


Jangan lupa LIKE KOMEN yang banyak


Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa


.

__ADS_1


Thnks for read and i love you always!!


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2