Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 44. Say Something ...


__ADS_3

Rasa itu muncul karena kedekatan yang terus menerus terjadi. Tidak ada yang bisa mematahkan jika hati itu sudah bersatu menjadi cinta. Namun, bagaimana jadinya kalau perasaan itu tidak diutarakan? Jangankan diutarakan, kalau tidak diketahui? Masing masing menahan sebuah ego untuk menunggu yang kita cintai peka. Kepekaan bukan di dapat dari perkataan saja tetapi perbuatan. Xelino dan Carolyn sama sama menahan diri. Xelino dengan keinginan tulus dari Carolyn sedangkan Carolyn yang malah menunggu Xelino mengatakannya lebih dulu. Kapan mereka akan merasakan kesadaran itu? Apakah masih sempat atau terlambat?


...


"Xelino, yang kutahu perusahaan Gellarmo sedang terlilit hutang. Tapi jika dia mendapat bantuan dari Casey Delinsky, aku juga tidak tahu. Semua beritanya entah mengapa menjadi terkunci di Nederland. Hanya ini yang bisa kuberikan pada Allegra," kata Jerry ketika Xelino menemuinya di apartemen. Allegra sedang ke supermarket terlebih dahulu ketika baru saja Xelino tiba.


"Oh iya Paman Jerry, aku sangat paham. Bukti seperti ini saja sudah sangat membantu. Selanjutnya aku harus memberitahu pada Tuan Gilbert tapi aku tetap sedang menunggu sebuah kepastian, Paman?" saut Xelino menjelaskan maksud hatinya melalukan ini semua. Jerry mengangkat alisnya dan sangat mengerti apa yang Xelino inginkan.


"Aku memang belum melihat perlakuan Carolyn Delinsky padamu, tapi jika kau sudah menyukainya, sebaiknya kau pertahankan. Apalagi kalau kau merasa Carolyn Delinsky juga menyukaimu," balas Jerry menyetujui apa yang ingin Xelino lakukan.


"Benar paman. Biarkan saja. Aku akan menunggunya. Kalau sampai dia juga tidak melakukan apa apa dan pasrah dengan keadaan yang terjadi, maka aku terpaksa yang akan bertindak. Tidak ada yang boleh mempermainkannya!" decak Xelino berapi api. ini hanya masalah waktu saja untuk dia mengatakan semuanya.


"Kau memang seperti papimu! Pertahankan apa yang menjadi keinginan dan keyakinanmu! Hem, dan untuk keluarga Heinze, coba kau tanya pada papimu. Dia dan Tuan Dion Prime pasti memiliki datang perusahaan bermasalah mengenai saham. Aku hanya mengingatnya saja," kata Jerry lagi mengingatkan Xelino.


"Baik paman. Nanti sampai apartemenku, aku akan menghubungi beliau. Katakan pada Allegra, aku harus kembali lebih dulu, besok aku masih harus ke puncak gunung desa Selena. Di sana Tuan Gilbert menanam tanaman kakao. Aku yang harus mengawasinya," ijin Xelino kemudian.


"Baiklah nak, jaga diri mu. Kalau kau sudah tidak sibuk, datanglah ke desa, bibi Angel dan kakek nenekmu merindukanmu," ujar Jerry memberi pesan istri dan mertuanya pada Xelino.


"Ya paman, tenang saja. Oiya paman, katakan juga pada Allegra untuk terus mencari tahu mengenai Ansel," balas Xelino mengingatkan pamannya lagi.


"Pasti, dia sudah tahu apa yang harus ia beritahukan padamu!"


"Baiklah, sampai jumpa paman!"


Jerry melambaikan tangan pada Xelino sebelum Xelino meninggalkan apartemen. Xelino menuju ke basement parkir. Sejak melihat Carolyn dilanda sedih, dia masih memikirkan wanita itu. Xelino tidak kuasa untuk menanyakan kabarnya. Dia terpaksa mengirim pesan untuk Carolyn.


XELINO : Hay nona? Kau sudah makan?


Hanya itu pertanyaan Xelino dan dia menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Hari ini dia di apartemen Allegra seharian. Seleranya sedang tidak baik. Dia sedang mengumpulkan bukti kejahatan Ansel sejak Allegra memberitahu mengenai perusahaan Gellarmo yang sesungguhnya. Xelino jadi juga ingin mengetahui lahan yang dibeli oleh Ansel hasil darimana. Dia terus mencari cara mengetahuinya melalui bantuan Allegra dan Jerry. Dia tidak mau dulu meminta bantuan Leon karena pasti akan diketahui Lexa. Lexa tentu akan ikut memikirkan.


Xelino pun sampai di basement parkir apartemennya dan melihat ponselnya. Carolyn membalas pesannya.


CAROLYN : Kau tidak perlu tahu, memang kau siapa? Apa pedulimu?


Xelino tersenyum tipis membaca balasan pesan Carolyn. Dia tahu bagaimana kondisi perasaan Carolyn yang tak menentu. Namun, Xelino belum mengetahui dengan pasti.


XELINO : Jelas aku peduli! Kalau kau sakit nanti pertunangan mu akan batal! Kau akan membuat malu ayah dan ibumu!


CAROLYN : Itu urusanku!

__ADS_1


Xelino masih tersenyum. Entah apa yang dipikirannya. Dia masih harus mengambil hati Carolyn. Dia memutuskan memutar kembali mobilnya menuju ke mansion Carolyn. Sekitar satu jam perjalanan jarak apartemen sampai mansion Carolyn.


XELINO : Aku ada di depan mansionmu, kalau kau menganggapku teman kau akan keluar. Aku akan mentraktirmu!


CAROLYN : Kau tidak tahu ini pukul berapa? Ini sudan pukul 9 malam, mana ada restoran yang buka?


XELINO : Atkinson de Angel, Restoran Hotel Atkinson. Kau tinggal pilih. Cepat keluar!


Carolyn menarik napas dan mengambil tas kecilnya. Dia tidak peduli dan sudah bersikap dingin dengan semua anggota kelurga nya. Carolyn mengendap endap dan berhasil keluar dari mansionnya. Sementara petugas keamanan tidak masalah jika melihat Xelino yang membawa Carolyn.


"Mengapa kau memaksa sekali!" decak Carolyn membungkukan tubuhnya masih di luar mobil.


"Cepat naik, kau sudah lapar kan?" kata Xelino membuka pintu depan mobil dari dalam.


Carolyn pun menaiki mobil Xelino.


"Mau kemana nona? Resto atau hotel?" tanya Xelino sudah menjalankan mobilnya.


"Hotel saja," jawab Carolyn yang ingin makan sesuatu yang berkelas.


"Kau tidak takut aku akan berbuat macam macam padamu?" gumam Xelino menggoda.


"Hem, seperti punya keahlian saja," balas Carolyn kembali menggoda. rasanya kurang lengkap jika mereka berdua tidak saling melempar umpatan.


Carolyn tersenyum tipis dan Xelino ikut terkekeh. Xelino pun melajukan mobilnya ke restoran hotel Atkinson. Resto di sana memang buka dua puluh empat jam.


Mereka pun duduk berhadap hadapan. Carolyn hanya memesan chicken steak with blackpaper sauce seperti kesukaannya dan segelas orange juice. Xelino juga mengikuti apa yang Carolyn pesan. Selagi menunggu mereka tidak bicara. Xelino menatap Carolyn dengan seksama. Carolyn tampak salah tingkah dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Sampai pertanyaan yang tidak mau Carolyn dengar tersampaikan juga oleh Xelino.


"Jadi, kapan acara pertunangannya?" begitulah pertanyaan yang Carolyn wanti wanti.


"Dua hari lagi!" jawab Carolyn tidak mau menatap Xelino.


"Kau seperti tampak tidak suka!" gumam Xelino seperti memancing Carolyn mengatakan sesuatu padanya.


"Entahlah, aku merasa dipaksa!" keluh Carolyn.


"Kalau begitu jangan lakukan," balas Xelino singkat.


"Semua mengharapkan ku. Ansel memang pekerja keras dan dia memiliki tujuan yang baik. Dia juga menyukaiku!" decak Carolyn ingin membuat Xelino cemburu.

__ADS_1


"Oh begitu? Baguslah, setidaknya kau akan bahagia dengannya kan?" tapi malah itulah yang di dengar Carolyn. Carolyn seperti makan buah simalakama.


"Begitulah," saut Carolyn dengan hati yang getir. Mengapa sampai saat ini Xelino belum peka terhadap perasaannya. Carolyn jadi sebal dengan Xelino sehingga dia kembali diam. Xelino juga terdiam. Dalam hati dia kesal tapi dia merasa mungkin ini isi hati Carolyn yang sebenarnya walau dia pun tidak sepenuhnya percaya.


Akhirnya makanan mereka tiba. Carolyn makan terlebih dulu sementara Xelino masih memperhatikan Carolyn. Carolyn makan dengan cepat karena kesal dengan respon Xelino. Seharusnya dia tidak menuruti permintaan Xelino mengikutinya makan di sini. Setiap hari Carolyn berharap Xelino akan memberitahu perasaannya tetapi lagi lagi tidak. Carolyn sudah kehilangan cara. Mungkin dia akan mencoba mencintai Ansel jika Xelino tetap keras pada pendiriannya.


'Rubah sial! Aku sampai ingin mencintai orang lain lagi! Seharusnya aku tidak terjebak dengan semuanya!' saut Carolyn dalam hati. Tak lama ponsel Xelino berbunyi. Panggilan dari Morgan. Saudara dari Gracia yang merupakan calon istri Dior Prime. Dior Prime adalah anak dari majikan ayah dan ibunya.


Xelino mengangkatnya dan Morgan mengatakan hendak mengadakan kerja sama dengan perusahaan Gilbert. Hal ini merupakan kabar baik bagi Xelino sehingga dia kembali membuat kebanggan bagi Gilbert. Xelino tersenyum menutup panggilan Morgan membuat Carolyn memicingkan matanya.


"Sebentar lagi, aku akan membuat Daddy mu tambah bangga padaku! Kau lihat saja nanti Carolyn, kau akan mengakui kehebatan ku!" Decak Xelino mengetahui apa yang hendak Carolyn tanyakan padanya.


"Untuk apa kehebatan kalau kau tidak memiliki pasangan?" sindir Carolyn yang semakin gemas dengan Xelino. kapan Xelino akan memberi tahu perasaan yang sebenarnya?!


"Pasangan itu mudah kudapatkan tapi yang sesuai dengan hati kecilku belum ada sedikitpun," saut Xelino terpaksa berkata seperti ini.


Deg!


Apa maksud Xelino mengatakan itu? Apa benar selama ini Xelino hanya menganggapnya majikan dan bukan wanita biasa yang bisa saja menyukainya atau sebaliknya?


"Begitu ya?" Selidik Carolyn dengan menunduk dan kembali menghabiskan makanannya.


Xelino memandang sedih Carolyn.


'Tunggu sebentar wanitaku! Kau ini tidak sabaran sekali! Kalau kau berharap aku akan menyukaimu aku pasti akan menyukaimu! Aku akan mencari tahu dulu siapa Ansel dan hubungannya dengan Casey juga bibi mu! Setelah semua terbongkar aku akan mengatakannya padamu! Tenang saja!' gumam Xelino dalam hati sambil tersenyum kecut.


Karena Carolyn hendak menangis tapi ia menahannya, Carolyn tersedak dengan makanannya sendiri.


"Carolyn, kau baik baik saja?" selidik Xelino hendak memegang dahi Carolyn.


"Aku mau pulang, uhuk uhuk!" saut Carolyn masih terbatuk.


"Benar kau baik baik saja?"


"Aku mau pulang, Xelino!" Katanya lagi hendak menangis. Dia sudah berdiri dan berjalan lebih dulu keluar setelah meminum orange juicenya sampai habis. Xelino menarik napas. Dia juga harus bersabar. Setidaknya hari ini dia bisa melihat dan memastikan Carolyn makan.


...


lanjut di bawah ya part 45

__ADS_1


jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊😊


thanks for read and i love you 💕💕💕


__ADS_2