
"Angel beri salam pada Lexa!" Perintah Jane yang melihat Angel terpaku di daun pintu dan menatap Lexa dengan geram.
Leon yang menyadari itu langsung menghampiri Lexa dan merangkul wanita itu.
"Ada apa denganmu? Mengapa kau memandang Lexa seperti itu? Dan, apa kau begini menyambutku yang baru saja pulang bekerja?" Tanya Leon serabutan pada Angel yang diam saja.
Dia tidak menyangka adiknya yang dulu sangat penuh kasih sayang dengan wanita yang dekat dengannya berubah menjadi sinis dan dingin seperti ini.
"Tidak! Aku hanya lelah! Selamat datang kak!" Hanya itu kata kata Angel dan ia menyeruak masuk ke rumahnya.
Dia terus berjalan, meletakan bunga di meja ruang tamu dan menuju ke atas.
Lexa menggabungkan kedua tangannya dan ia letakan di depan dadanya. Hatinya bergetir dan bertanya tanya, mengapa Angel tidak menyukai dirinya. Sepertinya baru kali ini ia bertemu dengan Angel. Sepertinya Leon tidak pernah berkata apa apa tentang keluarganya yang satu ini selain kesukaan Angel.
"Leon, Lexa, jangan kalian pikirkan, Angel memang selalu seperti itu jika lelah di kebun bunga. Sudahlah, ayo kita makan nanti Salmonnya dingin. Kalian ingin salmon kan?" Larry dengan cepat mencairkan suasana. Larry tahu kalau Angel memang tidak menyukai Lexa.
Angel selalu menyalahkan Lexa tentang Leon yang tidak mau kembali dengan Solane. Tentang Solane yang menghancurkan toko bunganya karna tidak mendapatkan kakaknya. Dia benci pada Lexa.
"Iya benar! Ayo kita ke ruang makan, ayo Leon ajak Lexa! Daddy mu yang memasak, kau harus segera mencobanya!" Tambah Jane bergerak bersama Juan ke ruang makan. Larry sudah menuju ke ruang makan.
Sementara Lexa masih menundukan kepalanya. Dia hendak menangis namun ini salah jika hanya karna Angel tidak mau menyalaminya dia seperti ini. Mungkin Angel memang belum tahu dirinya jadi dia bersikap seperti ini. Lexa harus berpikir positif. Tidak sekali saja Lexa diperlakukan seperti ini. Jadi dia harus kuat.
Sedangkan Leon sangat merasakan aura aura Lexa yang langsung bersedih. Mungkin nanti dia akan bicara pada adiknya itu. Suatu kesalahan jika tadinya ia akan menyuruh adiknya berbagi tempat tidur dengan Lexa. Leon akhirnya mendongakan kepala Lexa. Dia sudah memastikan ayah dan ibunya di ruang makan bersama Juan. Mungkin ini bisa menenangkan Lexa ketimbang kata kata.
Leon lalu mencium bibir Lexa. Lexa terperanjat namun tidak menolak. Dia hanya memegang lengan Leon yang tak lama ia dorong pelan.
"Leon .. " panggil Lexa menyudahi ciuman mereka.
"Sudah tenang?" Tanya Leon.
Lexa lalu mengangguk dan tersenyum.
"Kita bisa makan sekarang?" Tanya Leon lagi mengusap punggung Lexa. Lexa mengangguk lagi. Mereka lalu menuju ke ruang makan setelah Leon memastikan barang barangnya sudah di dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.
"Pelacur!"
Umpat Angel yang melihat nanar kakaknya mencium Lexa dari atas.
...
Leon memasuki kamar Angel selagi Lexa sedang membersihkan dirinya. Leon tidak bisa tinggal diam dengan sikap Angel yang tak sopan pada Lexa. Toh, Angel pun sudah besar dan tahu mana yang baik dan buruk. Leon sebenarnya merasa Angel marah karna Leon tidak bisa lagi bersama mantannya, Solane.
"Hay!" Panggil Leon memasuki kamar Angel yang agak terbuka.
Angel sedang memainkan ponselnya lalu ketika melihat kakaknya datang ke kamarnya, dia langsung menghamburkan dirinya ke tempat tidurnya.
"Aku mengantuk kak, besok saja bicaranya!" Kata Angel membalikan tubuhnya menghadap dinding.
"Terserahmu kau mau bicara padaku atau tidak!" Kata Leon bersandar di dinding dengan melipat tangannya di depan dadanya.
"Dengarkan aku ya Angelina Diana Janson! Aku tidak akan pernah kembali dengan Solane. Kau hanya tau luarnya saja tentang Solane. Kau tidak tahu kan kalau dia memanfaatkanku untuk mendapatkan warisan ayahnya." Leon memperingatkan.
"Tapi kan kau juga akan mendapatkannya!" Gumam Angel.
Leon mendelik mendengar pernyataan adiknya. Dia lalu menghampiri adiknya dan membuka kasar selimut adiknya.
"Bangun kau! Bicara yang benar denganku! Apa maksud dengan perkataanmu? Hah, jadi kau sudah tahu rencana busuk Solane itu ya? Hebat sekali adik perempuanku ini sekarang! Kau telah menjual kakakmu sendiri Angel!" Leon sudah sangat kesal.
Pandangan negatif dirinya tentang adiknya sudah sangat lama ia pendam, tidak mau ia ungkit, tapi ternyata kenyataan ini benar adanya. Angel benar benar bekerjasama dengan Solane.
Leon sudah menolak pinggang melihat adiknya yang hendak duduk dan menundukan kepalanya.
"Dia sudah menyesal kak. Dia berjanji akan menjadi istrimu yang baik. Aku tidak bisa menolaknya ketika dia membuatkanku toko bunga dan untuk mengambil hatimu juga mom and dad!" Kata Angel lemah.
"Bullshit! Aku, bahkan Lexa bisa membuatkanmu toko bunga satu, dua atau tiga. Wanita itu bisa memberikannya padamu!" Leon akhirnya memberitahu kehebatan Lexa yang sangat cantik luar dan dalam.
"Tapi Solane jauh lebih bersinar ketimbang wanita kumuh itu kak! Kau juga tahu kan!" Angel mendongakan wajahnya menatap yakin pada kakaknya kalau Leon lebih pantas dengan Solane.
"Angel!" Leon hendak menampar Angel namun dia mendengar suara Lexa berteriak.
"Hah, kau selamat karna wanita itu, calon kakak iparmu yang menyelamatkanmu!" Decak Leon dan hendak meninggalkan Angel menuju ke sumber suara Lexa.
"Kuperingatkan Angel, sampai kapanpun kau merestui atau tidak, aku akan bersama Lexa dan menikahinya!!" Ucap Leon lagi sebelum benar benar pergi meninggalkan kamar adiknya.
"Gila! Dia sudah termakan rayuan wanita kumuh itu! Sialan!" Umpat Angel memukul kasur tidurnya.
Leon menuju ke sumber suara Lexa yang berteriak. Lexa sudah duduk di kursi makan dan Jane memijit mijit kakinya.
__ADS_1
"Ada apa mom?" Leon langsung menghambur mendekati ibunya dan Lexa berjongkok.
"Lexa terpeleset di kamar mandi." Jane memberitahu dan berdiri karna Leon sudah sangat sigap menggantikan posisinya.
"Kenapa bisa begini Lexa?" Tanya Leon mendekati Lexa dan berjongkok di depan Lexa.
"Aku tidak lihat ada mobil kecil di sana, Leon." Jawab Lexa pelan.
"Mobil kecil?" Selidik Leon.
"Iya, ini mobil mobilanku kak Leon, aku sering membawanya ke kamar mandi." Kata Juan yang sudah ada di situ memegang sebuah mobil mobilan berbentuk traktor berwarna merah.
"Ya Tuhan Juan! Lain kali kau harus menyingkirkannya. Semua bisa celaka karna mobil mobilanmu itu sayang!" Celetuk Jane yang menyadari semua ini karna kecerobohan dirinya tidak membenahi mainan Juan ketika anak kecil itu bermain air.
"Tidak apa apa, bibi! Aku juga yang tidak melihatnya!" Lexa mencoba membela Juan.
"Alasan! Bilang saja kau mencari perhatian semua orang di rumah ini!" Tiba tiba Angel muncul berdecih tak pantas. Dia melewati mereka yang mengerubungi Lexa dan mengambil air putih di kulkas.
Leon menatap tajam adiknya. Dia hendak berdiri namun Lexa menahannya. Leon menatap Lexa, Lexa hanya menggeleng dan tersenyum.
"Apa apaan bicaramu, Angel! Jaga mulutmu!" Marah Jane yang terkejut mendengar perkataan kurang sopan anak perempuannya.
"Ah, terserahlah, lama lama kalian pun akan mengetahui bagaimana hati gadis itu. Manja!" Decak Angel lagi dan meninggalkan mereka semua.
"Kau tidak usah menanggapi anak nakal itu Lexa, dia memang seperti itu. Jangankan denganmu, denganku juga suka berkata kasar, aku sampai pusing sebagai ibunya!" Jane menepuk dahinya seperti frustasi.
Leon lalu berdiri. Dia menggendong Lexa. Lexa agak terkejut namun dia diam saja. Hatinya bergejolak kesal bercampur sedih karna sikap dingin Angel padanya, tapi Leon membuat hatinya kembali hangat.
"Mom, aku akan membawa Lexa ke kamarku. Apa sudah dibersihkan?" Tanya Leon menggendong Lexa dengan protektif.
"Sudah sayang, aku dan adikmu ini yang membersihkannya." Jane mengelus rambut Juan.
"Terimakasih Juan." Ucap Lexa.
"Kak Lexa, aku minta maaf." Juan mengucapkan terimakasih pada calon kakak iparnya itu.
"Tidak apa Juan! Nanti kau juga bisa bermain dengan kakak Lexa ini. Dia harus beristirahat dulu, oke?" Kata Leon tersenyum.
"Aku akan ke kamar dulu mom. Biar Lexa tidur di kamarku dan aku di ruang tamu." Ijin Leon.
Leon mendudukan Lexa di tepi tempat tidurnya. Dia lalu berjongkok dan memegang kaki Lexa yang ikut terkilir.
"Lexa, maafkan adikku ya?" Kata Leon kemudian dengan maksud sikap Angel bukan mainan Juan. Hal ini malah membuat Lexa tersenyum.
"Tidak apa Leon, dia hanya belum mengenalku saja. Aku akan mencoba mendekatkan diri padanya. Kau tenang saja. Aku tidak akan marah. Aku tahu, umurnya masih terbilang labil. Tenanglah!" Jawab Lexa mengelus pipi Leon. Leon mendongakan kepalanya menatap Lexa. Dia lalu tersenyum.
"Terimakasih Lexa. Aku harap kau bersabar dan tetap menerima keluargaku yang seperti ini. Tidak seperti bayang bayang mu ya?" Leon melemah.
"Tidak Leon. Tidak apa. Yasudah, aku mau tidur, sana kau tidur di ruang tamu!" Usir Lexa lembut.
"Iya kau tenang saja! Aku pikir aku bisa tidur memelukmu dari belakang!" Leon kecewa bergurau.
"Tidak tidak! Ada mom and dad mu, kau jangan macam macam!" Decak Lexa mulai mundur dan merebahkan dirinya ke kasur.
"Awas kau ya! Malam malam aku suka bermimpi sambil berjalan dan tidur di sini!" Leon lagi lagi bergurau.
"Musang mesum tak waras! Sana pergi! Jangan lupa matikan lampunya!" Lexa melambai lambaikan tangannya mengusir halus Leon.
Leon tersenyum. Leon berharap Lexa tidak menyembunyikan kesedihannya lagi. Dia lalu beranjak dari kamar Lexa.
Leon menghampiri ibunya yang hendak menemani Juan tidur. Leon ikut bersama ibunya menuju kamar kecil Juan. Juan dibiasakan ibunya untuk tidur sendiri agar mandiri sejak kecil, namun tetap saja ibunya harus lebih dulu menemaninya.
Juan sudah di tempat tidur sementara Jane merapikan mainan dan baju baju Juan. Leon menceritakan buku cerita untuk Juan sampai adiknya tertidur.
"Leon, kau pasti bertanya tanya tentang sikap Angel ya?" Tanya Jane sambil melipati baju baju kecil Juan.
"Begitulah mom!" Leon menarik napas dan duduk di sofa kecil milik Juan.
"Maklumkanlah, dia masih sangat menyukai kau dekat dengan Solane. Di mana dia sekarang nak? Belum lama aku dengar ayahnya sudah meninggal?" Kata Jane.
"Ya benar mam, ayahnya sudah meninggal. Aku dan Lexa yang mengurusinya. Kau lihat mom, meskipun itu ayah dari mantan kekasihku, tapi Lexa dengan rela membantuku. Bahkan dia yang menasehatiku untuk berbuat adil terhadap warisan yang diberikan Tuan Reynald untukku. Apa aku salah memilihnya mom? Kau ibuku, kau yang lebih kuinginkan untuk merestuiku ketimbang Angel!" Tutur Leon menatap wanita yang melahirkannya dengan keyakinan.
"Tidak anakku! Aku melihat mata sendu Lexa yang sangat tulus dan sepertinya dia sedang menunggu kepastian darimu. Mengapa kau belum menjadikannya kekasihmu? Atau langsung menjadi istri?" Jane sekarang duduk di hadapan Leon.
"Ya mom, kalau kau dan dad sudah setuju, setelah pulang dari sini, aku akan menjadikannya kekasihku setelah itu aku akan membicarakan pertunangan. Kau datang ke Legacy ya mom?" Saut Leon meyakinkan ibunya.
"Dengan senang hati nak! Yasudah, kau jangan memikirkan Angel. Dia hanya masih labil. Aku yakin dengan Lexa berada di sini, dia akan mengenal dan menyukai Lexa. Percaya padaku. Sekarang beristirahatlah. Tidur saja kau bersama Lexa, aku takut dia agak ngeri karna pertamakali di sini, kau tidak usah tidak enak denganku, pasti di sana kau sudah melakukannya dengan Lexa kan?" Jane terkekeh menggoda anaknya. Leon memang sangat dekat dengan ibunya.
__ADS_1
"Ya Tuhan mommy! Aku belum melakukannya. Dia tidak seperti Solane mom. Dia sungguh murni!" Kata Leon mulai mendeskripsikan kedekatannya dengan Lexa.
"Benarkah? Kau benar benar beruntung dan kau tepat mempertahankannya. Jangan sakiti dia nak! Oke?" Jane menepuk bahu Leon.
"Pasti mom!"
"Baiklah, terserah kau mau tidur di mana. Aku harus beristirahat sekarang. Besok pagi pagi sekali aku harus memetik jeruk di kebun sebelum banyak yang menginginkan." Jane meninggalkan kamar Juan.
"Ya mom, thankyou mom!"
"Kau ini! Selamat malam!
"Malam mom!"
Leon tersenyum melihat kepergian ibunya dari kamar Juan. Dia lalu mengecup kening Juan terlebih dahulu, mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur. Leon mendengarkan kata kata ibunya. Dia akhirnya tidur bersama Lexa.
Keesokannya Lexa terbangun dengan aroma tubuh pria yang sangat ia kenal. Dia tidak terkejut. Dia sudah mengira Leon pasti akan tidur bersamanya. Leon memeluknya dari belakang masih sangat pulas. Lexa beranjak perlahan agar pria bermata lancip itu tidak terbangun. Lexa lalu menuju kamar kecil yang bergabung di kamar Leon itu. Dia membersihkan dirinya, menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Namun, ia merasakan sangat dingin karna daerah pedesaan dan masih sangat pagi sekitar pukul setengah enam pagi.
Lexa lalu keluar dari kamarnya setelah mengganti baju menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Jane pastinya dan Angel.
"Selamat pagi." Sapa Lexa.
"Selamat pagi sayang. Duduklah. Aku akan menyiapkan coklat panas. Apa Leon sudah bangun?" Jane menyapa kembali dan bertanya tentang Leon.
"Belum bibi, dia pulas sekali, aku tidak berani membangunkannya!" Jawab Lexa tersenyum dan duduk bersebrangan dengan Lexa.
"Belum apa apa sudah tidur bersama! Mom, aku akan ke kebun bunga!" Angel menyindir Lexa sekaligus meninggalkan Lexa dan Jane. Lexa menarik napas. Dia harus bersabar.
"Angel!" Tiba tiba Lexa malah memanggil Angel. Angel terdiam menahan langkahnya.
"Kau menyukai bunga ya?" Tanya Lexa antusias.
"Sudah tahu bertanya!
"Sebentar ya, tunggu sebentar saja!" Lexa beranjak dari duduknya dan menuju ke ruang tamu. Hadiah untuk keluarganya Leon masih diletakan di ruang tamu. Lexa lalu meraih paper bag berwarna merah muda. Di dalamnya ada flower crown waktu itu. Hem, memang kalau jodoh takan kemana. Waktu itu ibunya Sherry mengembalikannya pada Lexa yang bertemu di restoran steak. Katanya Sherry sudah dibelikan mahkota yang benar benar berbentuk mahkota berwarna emas seperti seorang ratu.
Lexa tersenyum mengingatnya dan meraih papr bag itu. Dia lalu menghampiri Angel.
"Ini untukmu. Bukan hadiah sogokan untuk kau menyukaimu, tapi hadiah perkenalan." Kata Lexa jujur menyodorkan paper bag merah muda itu pada Angel dan tersenyum. Angel diam saja. Jane segera bertindak. Dia menghampiri anak keduanya itu. Dia yang mengambil hadiah dari Lexa. Jane lalu membukanya dan meraih flower crown yang masih dengan kemasan mikannya.
"Oh Lord! Angel, ini bagus sekali! Bukankah ini flower crown yang kau inginkan? Ini cantik sekali. Kau bisa menggunakannya ketika pesta rakyat lusa nanti! Ini terima!" Jane menujukan flower crown itu pada Angel. Angel sebenarnya takjub namun dia tidak boleh menunjukan kesenangannya.
Jane sudah menempelkan hadiah Lexa pada dada Angel yang terpaksa harus Angel tahan.
"Terimakasih!" Kata Angel masih menatap tajam Lexa. Dia lalu berlalu melewati Lexa membawa hadiahnya itu. Namun ketika dia sudah keluar dari rumah dan memastikan pintu rumahnya tertutup dia malah mematahkan flower crown itu dan membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga kecil di luar rumahnya.
"Aku bisa membuatnya lebih bagus dari ini! Pelacur sialan!" Umpat Angel dan pergi menuju ke kebun bungannya.
...
...
...
Angel, bicara yang benar! Nanti disambelin zhavia lho, lho kok jd sebelah kesini .. belom lahir mak wakakak 😝😝
.
Next part 60
Apakah Lexa akan sabar?
Lexa tau ga ya flower crownnya dibuang? Hihi
Angel angel 😭😭
.
Jangan lupa LIKE dan KOMEN yaaa hehe biar aku smangat beneran lhoo 😊😊
Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa hehe
Kasih ucapan buatku dongss hihi
.
Oke makasih uda mau baca dan sayang klian smuaa 😍😍
__ADS_1