
Keesokannya, setelah Leon memastikan istrinya sampai pada ruang kerjanya, Leon pun menuju Hotel Prime. Lexa agak risih dengan prilaku Leon yang seperti ini namun tetap terpesona dengan semua kelembutan yang Leon berikan ini padanya. Beberapa teman Lexa sudah mendatangi Lexa dan mengucapkan selamat pada kehamilan nya. Sekitar beberapa jam kemudian Viena sudah datang, dia pun beranjak ke pantry membuatkan green tea latte hangat sebelum menuju ke ruangan atasannya.
"Selamat pagi nyonya." Sapa Lexa membuka pintu perlahan dan membawakan green tea latte hangat untuk Viena.
Viena mendongakan kepalanya sedikit terkejut karna tidak menyangka Lexa sudah masuk ke kantor.
"Lexa? Kau sudah masuk? Kau sudah baikan? Bagaimana pemeriksaannya?" Tanya Viena beruntun karna senang melihat asistennya.
Sampai sekarang, Viena hanya kerasan bersama Lexa atau dengan Lucy saja jika di kantor. Sementata Abby sudah seperti Lexa yang mengurusi semua proyek iklan yang masuk dengan ditemani Susan. Sesekali bersama Lexa jika Lexa masih sehat seperti dulu. Abby dan Viena mengerti kondisi kehamilan Lexa sekarang.
"Iya Nyonya, ada yang ingin ku bicarakan dan aku merindukan Dior, dimana dia? Mengapa kau tidak membawanya?" Tanya Lexa menaruh green tea latte hangat ke atas meja Viena.
"Wah, kau serius sekali. Memang tidak bisa menelepon ku? Em, Dior semalam di bawa grandmom nya menginap, nanti sore aku akan menjemputnya." Jawab Viena.
"Akhirnya kau dengan Tuan Dion mempunyai waktu berduaan saja." Lexa menggoda nyonya nya dengan seringaiannya.
"Hahaha, kami selalu memiliki waktu berdua Lexa, kau tenang saja, kau tahu suamiku kan?" Viena terkekeh sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya, PERCIS bagai anak kembar dengan asisten nya!"
Lexa dan Viena tertawa renyah.
"Nah! Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Viena ke inti tujuan Lexa masuk ke kantor dan menemuinya.
"Emm, malam ini aku harus terbang ke Springfield, Nyonya. Papiku ingin bertemu denganku. Dia baru terlepas dari masa kritis nya, Nyonya." Jawab Lexa dengan nada serius.
"Oh begitu kah? Em, bagaimana dengan kandunganmu? Beberapa hari yang lalu kau baru saja terbang dari Honolulu, Lexa, dan kata Leon kondisimu lemah?" Selidik Viena hanya mengingatkan saja.
"Ya, sebenarnya kandunganku lemah Nyonya. Sudah beberapa kali aku mengalami flek tapi dokter sudah memastikan dengan obat obatan yang ia berikan Nyonya." Jawab Lexa mencoba memberikan pengertian pada nyonya nya agar tidak terlalu mencemaskannya. Namun seketika Viena mengernyitkan dahinya.
"Apa?! Kau mengalami flek? Lalu kau ingin berpergian lagi?!" Tanya Viena dengan nada yang cukup meninggi.
"Tapi papiku ingin melihatku Nyonya. Ini juga sudah sekitar 3 bulan kami tidak bertemu." Lexa bersih keras. Ya, pada akhirnya Viena sepertinya akan mengijinkannya walau ada sesuatu di hati Viena yang mengganjal. Mungkin karna dirinya sudah terlalu dekat dengan Lexa dan menganggapnya saudara jadi dia merasa akan terjadi sesuatu.
"Jadi Kau benar benar yakin akan ke Springfield, Lexa? Apa tidak bisa kalian melakukan video call?" Kata Viena lagi mencoba menahan Lexa untuk tidak pergi.
"Ada apa nyonya? Aku hanya ingin bertemu papiku yang sedang sakit nyonya!" Saut Lexa juga dengan nada yang cukup tinggi namun tetap meninggalkan rasa hormat.
"Bukan begitu sayang, aku sangat mengerti, tapi kandunganmu lemah Lexa. Kau harus bisa menjaganya. Hem, bagaimana kalau menunggu pemeriksaan selanjutnya sehingga kandunganmu sudah semakin kuat." Viena masih berusaha memberi pengertian pada Lexa secara lembut.
"Tapi nyonya, aku tahu kau begitu meng-khawatirkan ku tapi aku hanya menemui papiku bukan berjalan jalan. Setelah itu aku akan langsung kembali kesini, kau tenang saja, nyonya!" Kata Lexa tersenyum berusaha memberi penenangan pada nyonya nya.
"Aku hanya memperingatkan Lexa, aku tidak mau kau menyesal. Kau sudah menunggu semua ini. Aku benar benar mencemaskanmu dan calon bayimu." Gumam Viena menyandarkan dirinya ke sisi belakang kursi putarnya.
"Tenang saja nyonya, aku akan baik baik saja bersama anakku." Saut Lexa terus meyakinkan Viena.
Viena akhirnya mengalah dengan mengangguk anggukan kepalanya. Dia pun berharap semua akan baik baik saja. Dia juga tidak bisa tidak mengijinkan Lexa yang hanya ingin bertemu dengan ayah kandungnya.
Tak berapa lama ponsel Viena berbunyi. Viena kembali menegakan tubuhnya dan melihat Claudia, istri kakaknya yang menghubungi. Viena tersenyum dan mengangkatnya. Lexa masih di sana. Dan Viena pun membuat loud speaker agar Lexa ikut ambil bagian.
"Halo kak?" Sapa Viena mengangkat panggilan kakak iparnya itu.
"Viena? Apa kabar?" Balas Claudia di sebrang sana.
"Baik kak! Bagaimana kandunganmu?" Tanya Viena pada kandungan kakak iparnya yang memasuki usia 4 bulan.
"Luar biasa baik! Tapi kenapa kakakmu begitu posesif padaku, aku agak takut Viena!" Jawab Claudia secara tidak langsung juga ingin menceritakan sesuatu tentang keanehan suaminya yang tidak terlihat sebelumnya. Viena tersenyum.
"Wah sama percis dengan Leon, Nyonya!" Celetuk Lexa sebelum Viena menjawabnya.
"Lexa? Kau di sana? Kebetulan sekali. Oh iya? Kau juga sudah hamil ya?" Saut Claudia mendengar suara Lexa.
"Iya Nyonya! Em Nyonya ada apa? Sepertinya kau mencari ku ya bukan Nyonya Viena?" Selidik Lexa kemudian.
"Begitulah! Tadinya aku memang ingin bertanya padamu, tapi sebaiknya aku hendak menyelidiki nya dari Viena saja." Jawab Claudia menjelaskan mengapa dia menghubungi Viena terlebih dulu.
"Ada apa kak?" Tanya Viena agak penasaran.
"Begini, tadi pagi sebelum Egnor berangkat ke kantornya, dia menyuruhku memastikan pada Lexa kalau benarkah itu Leon suaminya." Tutur Claudia masuk ke dalam maksud dirinya mencari Viena dan Lexa.
"Ada apa Nyonya? Ada apa dengan Leon?" Lexa mulai panik. Bisa apa Leon kalau sampai melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ayah angkatnya.
__ADS_1
"Ya, seseorang membuat laporan mengenai kasus perlakuan tidak baik dan menghancurkan semua toko nya di Legacy. Dia menyewa Frank. Dia menuntut seorang bernama Danteleon Janson. Bukan kah itu suamimu Lexa? Asistennya Dion kan Viena?" Claudia hanya ingin memastikan karna Claudia hanya mengetahui nama Leon tidak dengan nama lengkapnya.
Seketika Lexa berpikir keras dan mengingat masalan tuntut menuntut. Dan kejadian apa yang terjadi selama dia bersama Leon akhir akhir ini. Karna sepertinya Lexa tidak terpisah dengan Leon sejak berada di Honolulu. Seketika Lexa mengingat insiden kemarin.
"Oh my god Nyonya. Apakah usaha orang itu adalah sebuah toko boneka?" Lexa sudah ingat dan memastikan pada ibu angkatnya.
"Ya benar!" Jawab Claudia pasti.
"Jadi dia meminta tolong Tuan Frank, anak buah dad?" Lexa kembali memastikan. Sejenak Lexa berpikir, mengapa tuan pemilik toko boneka itu malah memasuki lubang singa setelah Leon memberinya banyak kesempatan. Sebenarnya, kemarin Leon hanya menggeretak dan tidak mau memperpanjang karna masih banyak yang harus suaminya urus. Namun, malah orang itu yang seperti mendatangi ajalnya.
"Begitulah. Jadi itu benar Leon mu kan?" Claudia masih belum mendapatkan jawaban yang ia butuhkan.
"Ya benar kak!" Jawab Viena karna sepertinya Lexa sedang berpikir.
"Hem, baiklah, aku akan memberi tahu suamiku karna dia akan siap menjadi pengacara Leon, hahahaha!!"
"Kenapa kau tertawa Kak?" Tanya Viena agak bingung.
"Ya, aku sudah membayangkan wajah Frank mengetahui ini semua, karna dia tidak mungkin melawan tuan nya. Katanya lebih baik dia menolak ketimbang tidak bisa bekerja di mana pun karna pasti Egnor sudah mem blokade nya, haha!" Jawab Claudia masih terkekeh di sebrang sana.
"Apa akan bertengkar nyonya Claudia?" Tanya Lexa meyakini karna tidak enak jika harus melibatkan orang lain seperti Tuan Frank yang tidak tahu kronologi yang sebenarnya.
"Tidak! Mungkin suamiku akan menghubungi suamimu dulu. Dia harus nengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya." Gumam Claudia mengingat kebijaksanaan suaminya jika sudah berkaitan dengan keluarga dan pekerjaannya.
"Aku memiliki saksi mata dengan semua ini Nyonya." Kata Lexa lagi hendak mendukung penuntutan ini agar selesai dengan cepat dan tidak bertele tele. Lexa pun berperan untuk memberitahukan keadilan yang sebenarnya.
"Oh iya? Siapa Lexa dan bisakah kau memanggilku jangan nyonya?" Pinta Claudia yang mulai risih dengan panggilang nyonya. Agak terlalu tinggi sekali derajatnya sementara Lexa sudah menjadi anak angkat suaminya.
"Mom?" Tanya Lexa dulu memberi pertinbangan pada kakak ipar Viena itu.
"Silahkan! Jadi siapa yang menjadi saksi mata itu, Lexa?" Claudia kembali bertanya.
"Namanya Sherry Anselmo. Dia sedang di rawat di rumah sakit pusat kota Legacy mom. Dia menjadi korban ke diktatoran pemilik toko bobeka itu sehingga Leon menjadi marah mom." Kata Lexa menjelaskan.
"Oh ya? Ini merupakan informasi penting. Baiklah aku akan memberi tahu dad mu. Baiklah, Viena Lexa, sudah dulu ya? Aku masih harus membuat makan siang Egnor dan ada yang akan mengambilnya." Balas Claudia yang sebenarnya hendak membicarakan masalah Lexa dan Leon ini pada suaminya.
...
"Jadi kapan kau akan terbang ke Springfield hah?" Tanya Dion pada Leon yang telah mengatakan maksud dirinya pergi ke sana.
"Nanti malam penerbangan pukul 8 malam, Tuan!" Jawah Leon sambil membantu tuannya menyusun laporan yang harus di tanda tangan lebih dulu.
"Ooh, kau sudah mengantisipasi semua keperluan Lexa? Yang ia butuhkan selama kehamilan?" Selidik Dion ikut memperhatikan calon keponakannya.
"Sebenarnya, aku sudah mengantisipasi Tuan. Pasti kami juga harus menemui ayahnya Lexa yang sedang sakit bukan? Jadi aku sudah bertanya pada dokter kandungan nya tentang keberangkatan ini. Dia lalu memberikan seperti obat penguat agar kandungan Lexa baik baik saja." Jawab Leon sedikit melirik tuannya.
"Oh god! Baiklah, dengan begini semua aman! Cepatlah kembali jika dirasa Lexa dan ayahnya sudah melepas kerinduan mereka, karna kau juga harus mendampingi orang yang akan bekerja dengan kita kan? Biarkan dia membantu Reginald dalam mengurusi saham, Leon!" Kata Dion lagi mengingatkan asisten nya.
"Bisa ku atur Tuan. Aku akan kembali secepatnya." Saut Leon.
Tak berapa lama, Renzy mengetuk pintu ruangan Dion hendak mengatakan sesuatu pada Leon.
"Leon? Dimana ponselmu hah?" Tanya Renzy to the point.
"Kenapa?" Tanya Leon menoleh ke arah Renzy yang berdiri di daun pintu sambil memegangi tuas pintu
"Tuan Egnor Jovanca menghubungimu!" Kata Renzy menaikan satu alisnya. Dan sontak membuat Dion juga tersentak. Seketika hati Leon bergetir. Mengapa Egnor menghubunginya tiba tiba seperti ini sampai mencarinya ke telepon kantor.
"Leon! Kau melakukan apa pada anaknya?" Tanya Dion menuduh.
"Tidak Tuan!" Jawab Leon yang memang tidak melakukan apapun.
"Yasudah sana cepat angkat!" Perintah Dion yang juga agak ngeri kalau sudah berurusan dengan kakak iparnya itu.
Leon lalu menuju telepon Renzy dengan menggaruk garuk pelipisnya.
"Ha, halo Tuan Egnor?" Kata Leon agak terbata menjawab panggilan Egnor.
"Apa yang kau perbuat kemarin sore?" tanya Egnor tanpa bertele tele membuat jantung Leon sedikit berdetak tak beraturan.
"Me, me, melakukan apa Tu, tuan? Lexa baik baik saja, aku bahkan sudah membuatnya hamil." Jawab Leon yang malah mmebuat Renzy tidak enak dengan kalimat Leon yang mengatakan istrinya sudah hamil, Renzy memukul tangan Leon.
__ADS_1
"Bicara yang benar! Bodoh sekali bicara dengan mertuanya seperti itu!" Bisik Renzy menunjuk nunjuk Leon.
"Ppsstt, maaf Tuan, maksudku sekarang Lexa sedang hamil." Leon kembali berkata kata dengan cepat.
"Hamil?? Oohh, memang kau ini berandalan sekali ya? Bagus sekali gaya mu! Istrimu sedang hamil dan kau berulah! Apa yang kau perbuat di Toko Boneka itu?" Selidik Egnor yang mana di sebrang sana dia juga bahagia karna akhirnya anak angkatnya juga hamil seperti istrinya.
Seketika Leon berpikir tentang toko boneka. Kemarin sore dan toko boneka? Aahh, dia mengingat Sherry dan Manuel ayahnya. Oohh, dia mengerti sekarang.
~oohh, si gendut boneka beruang itu ternyata bisa bisa nya menggunakan Tuan Egnor sebagai pengacara nya ya?? Oohh, pintar juga diaa, iyaa iyaa, tambah ku hancurkan kau ya?!!!~ batin Leon dan dia malah menyeringai.
"Dia menggunakan jasamu Tuan?" Tanya Leon kemudian.
"Iya, tapi dia menghubungi Frank, bawahan ku! Jadi apa yang kau perbuat? Ceritakan semuanya dengan jelas dan runtut!" Perintah Egnor kemudian.
Dan Leon menceritakan kronologinya. Sampai ancaman ancaman yang Leon keluarkan, dia ceritakan pada Egnor. Leon juga menceritakan mengenai Sherry dan Manuel, serta rencana kepergiannya ke Springfield. Egnor pun jadi mengerti mengapa Leon bisa semarah ini sampai orang itu menuntut dan menggubakan jasa pengacara di luar kota. Egnor mengangguk angguk dan memutuskan sesuatu.
Di ruangannya sana, Frank sudah tertawa terbahak bahak mendengar kebodohan klien nya yang menurutnya bak orang terhebat di dunia ini tapi juga dungu. Frank sangat mengetahui tabiat atasannya dan ternyata hampir semua yang berhubungan dengan atasannya adalah orang orang hebat. Yang benar membela keadilan dan cukup posesif. Rasanya Frank harus berkenalan dengan asisten hebat ini.
"Baiklah aku akan menjadi pengacaramu! Kau pergi saja ke Springfield, aku yang akan mengurusnya!" Kata Egnor kemudian setelah mendengar cerita Leon dan Leon bertanya apa yang harus ia lakukan.
"Terimakasih Tuan Egnor, mohon maaf merepotkan anda! Ini benar benar di luar dugaan saya." Tutur Leon.
"Tenang saja, aku dan Frank yang akan mengurusnya. Sampaikan salamku pada Lexa dan berhati hatilah kalian ke Springfield!" Ujar Egnor mengakhiri panggilan.
"Baik Tuan, saya akan sampaikan! Selamat siang!" Ucap Leon.
Panggilan terputus. Leon menyeringai dan Renzy sebal sekali melihatnya.
"Tidak usah berbangga diri, aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan padaku!" Decak Renzy sebelum Leon melebih lebihkan dirinya, padahal beberapa menit yang lalu dia seperti seekor ****** yang di siram air.
"Kau sudah tahu kehebatanku Renzy!" Dan itulah yang keluar dari mulut sahabatnya lalu menuju ke ruangan Dion lagi.
"Cih, Lexa pasti sangat frustasi memiliki suami seperti dia!" Dengus Renzy.
Leon kembali ke ruangan Dion dan Dion sudah menaikan alisnya. Dion yakin beratus ratus persen kalau sebentar lagi, asistennya ini akan berkata kata sombong.
"Sudah kubilang Tuan, kita ini mempunyai senjata, oh bukan, tapi bom nuklir, ketika dia dilempar dan diledakan, boam!! Dia bisa menghancurkan satu kota! Satu kota Tuan! Kau tahu kan luas kota Legacy ini?!"
Benar sudah, itulah kata kata Leon pada tuannya sambil menaik turunkan alisnya. Dion berfirasat Egnor akan berada di pihaknya dengan semua ulah yang asistenya perbuat.
...
...
...
...
...
Hahahaha! Aku mau ketawa aja sama frank haha, aku ni team frank dimana mana 😂😂
Di mantan terindah ga bs ketemu Frank, frank nya uda tuir, ketemunya Louise anaknya haha 😁😁
.
Next part 26
Part 25 ini sebenernya semalem, tapi aku ngantuk berat meennn!! 😴😴
Baeklah kita akan ke Springfield ya, masalah tuntut2an Leon biar diserahkan babang eg 😁😁
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤
__ADS_1