Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 28. I Don't Know


__ADS_3

Air mata kembali terjatuh jika rindu sulit disampaikan. Tidak tahu perasaan apa yang sedang menghantuinya, rasanya hanya ada rindu dan ingin bersama ...


Xelino mulai merasakan emosi emosi yang muncul dari sebuah rasa yang berubah menjadi cinta. sedangkan Carolyn sudah mengartikan cinta tersebut lebih dulu tapi sulit untuk mengungkapkannya. dia terlalu takut kalau Xelino tidak menerimanya. lalu, bagaimana akhirnya mereka memutuskan hubungan ini? apa semakin menjaganya masing masing sampai ada waktunya tiba?


...


"Sebenarnya dia bukan kekasihku, Ama. Maafkan aku, aku berbohong. Aku menyukai dia Ama dan baru saja ingin menyatakan cinta padanya, tapi aku sadar aku hanya asistennya dan dia majikanku. Sangat bertolak belakang. Mana ada wanita bersama pria yang ada di bawahnya. Aku harus tau diri, Ama," kata Xelino menundukan kepalanya.


Si penjual kue ikan yang dipanggil Ama itu berpikir, mencoba mengerti perasaan Xelino.


"Aku tahu perasaanmu, nak, tapi percayalah akan hati kecilmu. Kalau kau yakin bisa mencuri hatinya, maka dia akan menyukaimu, tidak peduli kau asisten, kau pembantu bahkan pengemis sekalipun. Kalau kau bisa membuatnya selalu bahagia ada di sampingnya, melindungi dimanapun dia berada dan selalu membuat dia tersenyum, aku yakin dia akan mencintaimu bahkan lebih besar ketimbang kau mencintainya! Kata kata wanita jangan terlalu dianggap benar, biasanya lain di mulut lain di hati, apalagi dia seorang majikan. Dia tidak mau merendah takut disepelekan, padahal hatinya sangat rapuh, butuh tangan tangan perhatian seperti dirimu, nak! Ayo berusahalah, jangan menyerah! Tunjukan walau kau hanya seorang asisten tapi kau menempati ruang besar di hatinya!" Kata Ama menepuk punggung Xelino agar tidak menyerah dan berkecil hati. Xelino mencoba memahami maksud dari Ama itu.


"Tapi Ama, jika suatu saat dia tahu kalau aku membohonginya bagaimana? Apa dia masih mau bersamaku?" Tanya Xelino menoleh ke arah Ama.


"Sekarang kau harus mencuri hatinya, kau tarik ulur dia, buat dia merindukanmu, setelah itu kau diam diam memberikan perhatian yang membuatnya selalu ingin bersamamu! Kalau kau sudah menguasai hatinya, apapun yang kau lakukan selama berbohong demi kebaikan, dia tidak akan meninggalkanmu! Semangat, semangat! Kau bicara padaku di depan gereja. Tidak ada yang tidak mungkin," kata Ama lagi tersenyum hangat.


Seketika Xelino menoleh ke belakang. Dia lalu bergidik dan mengingat ibunya yang selalu mengatakan: "datanglah ke gereja atau kapel kecil jika kau menghadapi masalah dan kegundahan karena itu yang selalu kulakukan dengan papimu,"


"Baiklah Ama, terimakasih atas semua saranmu! Sepertinya aku harus melihat dia terlebih dahulu," kata Xelino dengan wajah yang mulai bersinar.


"Ya, semangat! Ini kutambahkan lagi dua kue ikan untuk pacarmu yang manja itu, gratis aku traktir karena kau sedang patah hati," ujar Ama mengambil dua kue ikan yang sudah terpanggang dan dimasukan ke dalam bungkus kertas coklat.


"Wuah, kau baik sekali, kalau besok aku patah hati lagi kau berikan semua gerobakmu ya?" tutur Xelino bergurau.


"Bisa saja, tapi kau tidak akan menikmati kue ikan ini lagi karen aku tidak bisa berjualan," gumam Ama ikut bergurau.


"Hem, kalau sudah bicara realistis aku akan kalah," dengus Xelino mengakui keahlian seorang ibu yang bijaksana mengingat maminya, majikan maminya dan nenek angkatnya.


"Hahaha, sudah sana!" kata Ama penjual ikan itu lagi.


Xelino pun menuju ke taman bunga terlebih dahulu. Dia ingin kembali memantapkan hatinya sambil menikmati kue ikan yang ia dapat secara cuma cuma. Setelah itu mungkin dia akan melihat Carolyn.


"Mona, bagus sekali aktingmu! Kau mengingat apa yang ku pesankan! Lexa, kau jangan menangis! Anakmu sudah kembali kuat!" Kata Claudia yang keluar dari belakang kedai.


Ternyata Claudia dan Lexa menunda kunjungannya ke desa. Mereka berdua ingin mengetahui keseharian Xelino dengan cara mengintai dari jauh. Bertanya dengan orang orang sekitar Xelino dan sempat terjadi sebuah drama ketika Claudia dan Lexa bertanya pada Grizel dan Lila. Hampir saja wajah Claudia dikenali oleh Grizel karena Claudia slalu mendampingi Egnor, Wilson maupun Willy ketika media meliput mereka.


"Tapi dia berbohong demi mencari cinta, mom! Anakku memang tidak pernah melupakan pesanku! Sekarang dia patah hati dia tidak bercerita denganku! Waktu dia menyukai Zhavia, aku bahkan melarangnya! Sekarang dia kembali menyukai anak majikan dan dia tidak mengatakannya padaku, aaaaahhhhh ibu macam apa aku ini, mommm??!!!" Isak tangis Lexa kembali pecah.


"Sabar Nyonya Lexa, sudahlah sekarang Xelino menjadi anak yang kuat, dia akan buktikan kalau Nona bernama Carolyn itu akan menyukainya dan menerimanya, percayalah padanya," ujar Mona mengelus punggung Lexa.


"Mona, kau harus menjaganya di sini ya? Aku tidak bisa mengawasinya terus, dia ingin menjadi anak yang mandiri," kata Lexa lagi menghapus air matanya.


"Tentu Nyonya, kau tenang saja," balas Mona tersenyum hangat.


"Lexa, kau harus bangga kalau Xelino malah bangga menjadi seorang asisten, dengan begitu dia bisa mengetahui isi hati orang yang sebenarnya, kau jangan merendah terus! Kita sudah tahu apa pekerjaan Xelino, jadi ke desa tidak? Daddy mu sudah menyuruh kita menaiki mobil yang ia pesan, aku tidak boleh naik bus! Ayo, nanti keburu malam!" kata Claudia kemudian harus segera ke desa.


"Iya mom!" Saut Lexa mengusap air matanya. Lexa dan Claudia pun barulah berangkat ke Desa Serena sementara tetap menitipkan Xelino pada Mona.


...


Sementara itu di rumah sakit, sejak Rietha Jennifer dan Gilbert datang menggantikan Grizel dan Lila, Carolyn tampak diam. Dia tidak mau makan malam dan hanya melihat ke luar jendela atau sesekali ke arah pintu. Dia menunggu kedatangan Xelino. Satu hari ini dia belum melihat Xelino dan rasanya ada yang kurang jika dia tidak melihat asistennya itu.


"Carolyn, kata Grizel dan Lila kau hanya makan beberapa suap dan beberapa gigitan kue, sekarang makanlah, mommy suapi!" Kata Jennifer yang sudah menghangatkan sup ayam jamur kesukaan Carolyn.


Carolyn hanya menggeleng.


"Bukannya tadi Ansel menemanimu? Dia tidak menyuapimu?" Tanya Rietha. Carolyn menggeleng lagi.


"Kau mau apa Carolyn? Kalau kau seperti ini kau tidak akan sembuh!" decak Gilbert juga membujuk anaknya untuk makan.

__ADS_1


Carolyn menggeleng lagi. Dia juga tidak mungkin mengatakan menginginkan Xelino. Apa kata orang tuannya nanti. Dia jadi serba salah. Carolyn juga tidak yakin kalau Xelino akan menyukainya dengan sikap seperti ini.


"Carolyn, di mana Xelino? Apa dia tidak kemari?" tanya Gilbert kemudian.


Carolyn menggeleng.


"Kemana anak itu? Di kantor juga tidak ada," gumam Gilbert bertanya tanya.


Carolyn makin kalut. Apa benar dugaannya kalau Xelino mendengar perkataannya?


'Xelino, aku tidak sesungguhnya mengatakan itu. Apa kau mendengarnya? Aku merindukanmu, mau di mana?' gumam Carolyn dalam hati dan meneteskan air matanya. Dia memejamkan matanya agar tidak terlihat.


"Carolyn, kau tertidur?" selidik Rietha.


"Sudah biarkan saja, mungkin dia masih lemas. Rietha, aku akan pulang sebentar membuatkan makanan lain untuk Carolyn. Kau bisa menjaganya?" Pinta Jennifer.


"Ya, tentu saja, biar bagaimanapun ini tanggung jawabku," saut Rietha.


Gilbert dan Jannifer kembali ke rumah sementara Rietha menunggu Carolyn. Ketika sudah malam, Rietha pergi keluar untuk makan malam juga bersama Jennifer yang sudah datang. Gilbert tidak bisa ikut karena ada rapat video dengan direktur inti. James melaporkan ada sebuah masalah. Tadinya James ingin melapor pada Xelino tapi Xelino tidak dapat dikabari.


Ketika Rietha dan Jennifer selesai makan dan kembali ke kamar, dia mendapatkan Xelino sudah datang dan ada di depan pintu kamar Carolyn mengintip.


"Xelino?" panggil Jennifer.


Xelino pun menoleh.


"Selamat malam Nyonya Rietha, Nyonya Jennifer," ucap Xelino memberi salam sambil membungkukan tubuhnya.


"Kau dari mana saja? Suamiku mencarimu!" tanya Jennifer.


"Ah iya nyonya, setelah melihat nona Carolyn aku akan menemui Tuan Gilbert," kata Xelino menganggukan kepalanya.


"Ya, masuklah dan temui nonamu, coba bujuk dia untuk makan, sejak tadi dia tidak mau makan," ujar Jennifer yang sebenarnya sudah menerka kalau sepertinya Carolyn mencari pria muda yang ada di depannya. entah mengapa kalau Jennifer sangat menyukai jika Xelino dekat dengan anaknya. Xelino lebih bisa menjaga dan melindungi Carolyn sampai bisa membuat anaknya sedikit demi sedikit berubah.


"Temuilah kami menunggu di sini," balas Jennifer tersenyum.


Xelino mengangguk dan memasuki kamar. Dia memperhatikan Carolyn yang masih tertidur. Dia duduk di samping wajah Carolyn dan memandanginya. Xelino tidak berkata apa apa. Dia hanya memperhatikan wajah Carolyn yang masih tampak lemah. Xelino pun tersenyum mengelus dahi Carolyn. Tampaknya Carolyn pulas sekali sehingga ia tidak mau menganggunya. Xelino merasa Carolyn tampak lelah, jadi Xelino berpikir untuk tidak membangunnya dan hendak pergi.


Xelino beranjak dan hendak berbalik tapi tangan Carolyn menahannya.


"Xelino ... Kau datang?" Panggil Carolyn membuka matanya masih memegang pergelangan tangan Xelino.


Deg!


Hati Xelino bergetar. Xelino belum kembali berbalik. Jantungnya berdebar. Dia harus menjaga sikapnya.


"Xelino, kau dari mana saja?" Tanya Carolyn lagi menarik tangan Xelino. Xelino pun berbalik.


"Hay, aku sibuk," jawab Xelino asal.


"Kata Daddy kau tidak ke kantor," gumam Carolyn.


"Aku mengurus ibuku, dia baru pulang dari desa!" Saut Xelino dengan penekanan.


"Oh, kau tidak membawa ibumu kesini?" tanya Carolyn yang sebenarnya penasaran dengan orang tua dari Xelino.


"Untuk apa? Nanti kami akan mempermalukanmu?" decak Xelino memalingkan wajahnya tak sanggup melihat wajah pucat itu.


"Kau kenapa Xel?" selidik Carolyn bingung.

__ADS_1


Xelino menggeleng dan melepas pegangan tangan Carolyn perlahan. Carolyn tersentak dan bingung ada apa dengan Xelino.


"Aku harus pergi lagi, aku hanya mengantar masakan ibumu, permisi!" Kata Xelino sudah melangkah dengan nada datar seakan tidak mau peduli dengan keadaan Carolyn.


"Aku belum makan!" Ujar Carolyn membuat Xelino berhenti melangkah. Carolyn pun menegakan tubuhnya menunggu Xelino kembali padanya.


Xelino setengah menoleh.


"Makanlah, ibumu sudah memasakan makanan kesukaanmu," kata Xelino pelan.


"Aku tidak mau jika tidak ada yang menyuapi!" Tutur Carolyn lagi. Xelino terjebak. Dia pun menghela napasnya.


"Aku akan mengatakan pada ibumu untuk menyuapimu," saut Xelino lagi.


"Aku mau sekarang!" kata Carolyn memaksa Xelino yang harus menyuapinya.


Xelino benar benar tidak memiliki pilihan. Akhirnya dia berbalik dan mengambil makanan yang dibawakan Jennifer tadi. Dia menyiapkan makanan itu tanpa bersuara. Carolyn bingung dengan sikap Xelino tapi dia juga diam saja. Xelino sudah menuang sup itu ke dalam mangkuk dan duduk di samping Carolyn.


'Mengapa dia jadi sedingin ini? Ada apa dengannya?' tanya Carolyn dalam hati.


Xelino pun menyuapi Carolyn dalam diam. Carolyn menerima suapan demi suapan sambil memperhatikan wajah Xelino yang terlihat lelah.


"Ada apa denganmu, Xelino? Mengapa tampak lelah? Apa kau sudah makan?" Tanya Carolyn memegang pipi Xelino. Xelino benar benar tidak tahu harus membalasnya seperti apa.


Xelino menggeleng saja dan terus menyuapi Carolyn. Carolyn mengerutkan keningnya. Dia tidak nyaman dengan Xelino seperti ini tapi sekilas pria itu juga semakin tampan jika diam seperti ini. Akhirnya sup itu habis dari mangkuknya.


"Sudah habis, beristirahatlah, aku harus pergi!" Kata Xelino setelah meletakan mangkuk di meja.


"Xelino, kau kenapa? Mengapa kau mendiami ku? Kau tidak mau menjagaku di sini?" tanya Carolyn seketika hatinya meringis dengan sikap Xelino.


"Aku banyak urusan! Ada ibu dan bibimu di luar," saut Xelino menolak.


"Aku mau kau di sini!" Pinta Carolyn memaksa.


Xelino menggeleng dan hendak melangkah pergi. Carolyn tidak membiarkannya. Sudah cukup rasa rindunya yang tertahan hari ini. Carolyn hendak beranjak dan mengejarnya tapi dia kehilangan keseimbangan karena kepalanya masih sedikit pening. Xelino menoleh dan langsung menahan Carolyn yang hendak terjatuh.


"Ada apa denganmu, Nona? Infusmu akan terlepas," kata Xelino dengan nada suara cukup tinggi.


Carolyn tidak mempedulikan perkataan Xelino, dia malah memeluk Xelino.


"Aku mau kau di sini Xelino, jangan pergi, aku mohon!" seru Carolyn melingkarkan tangannya kuat pada leher Xelino.


"Kenapa? Kenapa kau ingin aku ada di sini?" tanya Xelino ingin tahu apa yang sebenarnya ada di hati Carolyn.


"Aku, aku, aku tidak tahu, aku hanya ingin kau di sini, aku mohon ..." pinta Carolyn terus dan sudah meneteskan air matanya.



...


...


...


...


...


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa

__ADS_1


thanks for read and i love you 😍


.


__ADS_2