
Danteleon Janson
________________________
Leon menatap nanar Gabriel yang terkejut melihat kedatangan pria yang selama dekat dengan Lexa itu.
"Leon, kau mengagetkan saja!" Kata Gabriel seperti tidak terjadi apa apa.
"Kenapa? Kau tak senang? Aku yang boleh menari dengan Lexa dan begitulah seterusnya!" Decak Leon benar benar tak ingin ada pesaingnya.
"Tapi aku dulu yang mengajaknya menari, kau bukannya sibuk bekerja? Sebaiknya kau mencari uang yang banyak untuk menghidupi istrimu nanti! Ayo Lexa kita ke lantai dansa!" Gabriel debgan keberaniannya malah mendorong sedikit tubuh Leon yang agak lebih pendek darinya dan hendak meraih tangan Lexa.
Leon memukul tangan Gabriel dengan kencang agar tidak jadi meraih tangan Lexa.
"Sudah kubilang hanya aku kan?! Kau ini tuli ya?! Jadi kau tidak usah berusaha lagi! Sebaiknya kau pergi, sudah ada aku yang menemani Lexa!" Kata Leon lagi menghalau Gabriel dan sedikit mundur bersama Lexa yang mengikuti.
"Baiklah! Suruh saja Lexa yang memilih! Lagipula kau ini siapa nya hah? Tingkahmu sangat kekanak kanakan!" Decak Gabriel tidak mau kalah.
"Ya suruh saja, Lexa siapa yang kau pilih untuk menemanimu berdansa? Ingat Lexa, aku benar benar kesini meninggalkan rapat sialan itu demi bertemu denganmu! Sementara Gabe tengik ini hanya kebetulan saja!" Leon memberi peringatan dengan menatap tajam Lexa dengan mata lancipnya. Seketika Lexa bergidik mendengar pernyataan seekor musang yang Lexa yakini kalau Leon sedang cemburu.
"Siapa bilang? Aku memang tahu kalau hari ini ada pesta dansa dan siapapun berhak menari kan? Tentu saja aku akan menari dengan Lexa yang lebih dulu menemuiku ketimbang kau!" Kata Gabriel sombong membuat Leon naik pitam.
Dia sudah kesal bukan kepalang dengan pria yang ada di depannya ini sejak pertama bertemu.
Leon lalu melepaskan genggaman tangannya ke Lexa lalu menghampiri Gabriel. Dia meraih kerah baju Gabriel yang polos.
"Mengapa kau berbual hah?! Kau mau berbuat macam macam dengan Lexa ku kan? Jelas jelas aku melihatmu melintasi jalanan tadi! Kau jangan berbohong kau pasti kebetulan kan, sialan!" Leon hendak menghajar Gabriel dengan segala umpatan yang ada dipikirannya.
Lexa terkejut dengan emosi Leon yang meluap luap. Dia lalu menghampiri Leon membelai punggung pria itu agar tenang dan tidak membuat keributan. Leon sesaat menoleh ke belakang mendapatkan wanita idamannya tersenyum.
"Lepaskan Leon, aku akan bersamamu." Kata Lexa tersipu. Entah karna kekuatan cinta atau panah cupid yang mengenai tubuh Leon, Leon lalu melepaskan cengkaramannya pada Gabriel.
"Kau berhasil lolos lagi pria busuk!" Decak Leon dan merangkul Lexa.
"Hah! Itu hanya karna Lexa sudah tersihir oleh mu! Aku bisa dengan mudah mendapatkan dia , tunggu saja kau! Aku pergi Lexa! Demi kau! Pria sinting!" Gabriel meninggalkan umpatan untuk Leon dan pergi meninggalkan Lexa dan Leon yang sedang berangkulan.
"Pergi sana pria kesepian! Itulah karma karna pernah menyakiti wanitaku!" Leon berteriak membalas umpatan Gabriel, membuat Lexa memukul dada Leon.
"Sudahlah!" Perintah Lexa dan Leon menatapnya.
"Lexa, kau ini bagaimana? Kenapa kau mau menari bersamanya?" Tanya Leon mengintrogasi. Dia sudah melepas rangkulannya dan menghadap Lexa.
"Ya karna aku ingin menari. Tidak ada yang kukenal di sini!" Jawab Lexa asal.
"Kau tidak bisa menungguku? Kalau Gabriel merayumu dan pakaianmu dilucuti lagi bagaimana? Kau tidak memikirkan perasaanku? Kau tega Lexa!" Leon berlagak sangat kesal dan dia memang sedang emosi.
"Bagaimana aku tahu kau akan ke sini? Kau kan sibuk, ada rapat, aku tidak mau menganggumu!" Lexa tidak mau kalah dan benar apa yang ia katakan.
"Aku mau membuat kejutan, tapi bukannya kau yang tersanjung akan kehadiranku jadi aku yang kau buat ber api api seperti ini! Hah.. tidak masuk akal!" Leon mengebas ngebaskan tubuhnya dengan tangannya karna emosinya memuncak, hawa tubuhnya ikut memanas.
__ADS_1
"Yasudah aku minta maaf, sudah sudah ayo kita menari." Lexa menarik narik kemeja Leon yang ia rasa cukup memikat hatinya untuk kembali dipeluk pria bermata lancip itu.
Alexa Luxurio
________________________
"Tidak usah pegang pegang, aku sangat kepanasan!" Leon merajuk.
"Kalau kau merajuk seperti ini, ketampanannya akan hilang, bagaimana kau nanti menggodaku, aku jadi tidak suka kalau kau buruk rupa seperti ini .." Lexa menggoda Leon dengan nada nada yang sangat merayu agar tidak marah lagi.
"Halah! Kau saja mau dirayu Gabe tengik busuk itu, argh Lexa! Aku tidak suka kau dekat dengannya, aku tidak mau!" Teriak Leon frustasi.
"Iya Leon, sekarang ayo kita menari? Atau aku akan mengejar Gabe, bagaimana?" Lexa menaik turunkan alisnya membuat Leon makin geram dengan ucapan Lexa.
"Kau akan membayarnya Lexa!" Leon menarik tangan Lexa ke lantai dansa.
Di sana Leon memeluk Lexa dengan sangat erat. Dia merengkuh pinggang wanita itu dengan sangat posesif. Alunan salsa mengalir dengan penuh semangat. Leon memutar tubuh Lexa sesekali lalu mengulurkan dengan tanganya, sedangkan Lexa menelentangkan tangan satunya yang bebas. Leon kembali menarik tubuh Lexa dan mereka kembali berdekatan sampai kedua badan mereka menempel.
Tangan Leon beralih pada punggung Lexa untuk menelentangkan tubuh Lexa di atas satu tangannya yang kuat lalu bibir Leon menghampiri leher jenjang Lexa dan mengecupinya perlahan. Lexa bergidik merasakan kecupan Leon yang begitu lembut. Dia memejamkan matanya dan membukanya ketika Leon kembali menegakannya. Wajah Lexa tersipu melihat wajah Leon yang penuh aura cinta menatapnya dengan tatapan yang menggoda dirinya kalau ia ingin merasakan bibir Leon.
Seakan akan lantai dansa itu milik mereka seketika lagu salsa itu berhenti dan menggantinya dengan musik romantis yang mengalun lembut dan pelan. Leon tidak bergaya macam macam dengan iringan dansa mereka. Leon hanya memeluk Lexa dengan sangat erat. Leon memeluk pinggang Lexa dan tangan Lexa dikalungkan pada leher Leon. Kepala Lexa disandarkan pada dada Leon.
Lexa benar benar merasakan sebuah perlindungan yang tidak ingin ia lepas. Begitu juga Leon merasakan depakan hangat seorang wanita dengan ketulusan dan kasih. Leon ingin seperti ini terus dan dia semakin yakin kalau Lexa lah tambatan hatinya yang terakhir. Tujuan cintanya dan tidak mau mencari lagi.
Ketika mereka berdua hanyut dalam kehangatan cinta, sahabat mereka Abby dan Ben menghampiri.
Leon yang kepalanya diletakan di atas puncak kepala Lexa mencari asal suara Ben.
"Kau tenang saja, aku dan Tuan Besar bersahabat!" Jawab Leon sekenanya dan kembali menyandarkan kepalanya pada kepala Lexa. Sementara Lexa sudah malu bukan kepalang dan hendak melepaskan diri namun Leon menahannya.
"Diamlah!" Perintah Leon dan memejamkan matanya. Lexa terkekeh ke arah Abby yang memperhatikannya dengan seksama.
"Sombong sekali kau! Seharusnya kau mendekatkanku dengan beliau!" Decak Ben cemburu.
"Makanya kau jangan mencari pacar terus. Abby kau hati hati dengan Ben, mulutnya melebih bisa, hihi.." Leon terkekeh menggoda Ben.
"Ya, seperti kau kan?! Kalian kan saudara kembar, suka berbual terhadap wanita!" Abby yang menimpali.
"Tidak, aku sudah serius, lihat Lexa memelukku sangat erat, heemmm kelinci kecilku jangan lepaskan ya?" Kata Leon dan menggoyang goyangkan tubuh Lexa seakan akan boneka kelinci berukuran besar saja.
"Sudah Abby, semakin kita menganggunya malah dia yang akan mengganggu kita, kau kan tahu kan dari sahabatmu kalau Leon adalah siluman musang, ayo kita tinggalkan!" Bisik Ben yang tetap didengar oleh Leon. Leon hanya tersenyum masa bodoh dan terus memeluk Lexa sampai iringan lagu tersebut yang merupakan lagu terakhir selesai diputar.
"Lexa, aku lapar, kita makan dulu lalu kuantar kau pulang." Kata Leon ketika mereka hendak keluar dari alun alun kota. Lexa mengangguk.
Mereka berdua bergandengan tangan tanpa disadari kalau mereka belum memastikan status mereka.
Mereka berdua memutuskan ke sebuah kedai makan bertenda biru karna Leon sudah sangat lapar tidak sempat mencari restoran yang jaraknya agak jauh dari alun alun. Lexa menyetujuinya. Sudah lama juga Lexa tidak makan ke tempat seperti ini.
"Kau sama sekali tidak keberatan aku mengajakmu makan ke tempat seperti ini Lexa?" Tanya Leon di sela sela mereka menyantap makanan.
__ADS_1
Lexa menggeleng dan terus menyuap nasinya bersama salad sayur yang begitu segar.
"Kau suka sekali sayur? Pantas kau seperti kelinci, hihi.." kata Leon lagi terkekeh. Lexa menghentikan makannya dan menatap ke arah Leon tajam.
"Bercanda bercanda, hehe, makan daging bulgogi ini, kapan hari kau harus memasakannya untukku ya? Aku suka sekali dengan daging Lexa.." Leon memberikan satu sayatan daging sapi itu ke atas nasi Lexa.
Lexa lalu mengambilnya dengan sumpit dan melahapnya.
"Heeemm, ini enak sekali Leon, kau yakin aku bisa memasaknya?" Kata Lexa meyakinkan.
"Tentu, kau kan pintar masak, wanita sepertimu idaman semua pria Lexa, tapi hanya boleh untukku tidak boleh untuk Gabe busuk itu. Lain kali kau jangan menghalangiku memasukan hidungnya ke dalam wajahnya, auraku penuh amarah jika mengingatnya!" Decak Leon dengan nasi yang masih penuh di mulutnya.
"Cih, kekanak kanakan! Makan yang benar nanti tersedak!" Lexa melipat lipat bibirnya.
"Mengapa kau menyukai sayur Lexa? Sewaktu kau memasakan ku juga kau memasak omelet daun bawang dan sup tahu, apa kau takut gemuk ya? Hihi" Leon lagi lagi menggoda Lexa.
"Iya, kalau aku gemuk, musang sepertimu mana mau kan?!"
"Kau salah! Malah semakin kau gemuk, musang ini akan semakin kenyang, karna setiap hari kau akan kumakan hahahahaa... Uhuk uhuk uhuk!!" Akhirnya Leon pun tersedak.
"Sudah kubilang Leon, makan yang benar, makan yang benar, mengapa kau sulit sekali mencerna apa yang kukatakan hah?" Lexa menepuk nepuk punggung Leon dan memberikannya minum.
"Uhuk uhuk uhuk" Leon terus terbatuk sampai dia bisa meneguk air yang Lexa berikan.
"Kau seperti ibuku Lexa. Kau tidak pernah bosan memberitahu yang baik padaku. Terimakasih ya?" Kata Leon kemudian dengan lembut dan tenang.
"Tidak usah sungkan, itulah gunanya sahabat kan?" Kata Lexa tersenyum. Seketika hati Leon kembali suram. Dia belum juga menyatakan cintanya yang begitu dalam pada Lexa. Namun, dia mempunyai niat untuk mengenalkan Lexa pada ibunya. Mungkin setelah itu dia akan menyatakan cintanya setelah ibunya melihat wanita baik yang ada di sampingnya ini.
"Em, Lexa, kau pernah ke Springfield?" Tanya Leon tiba tiba. Jantung Lexa sesaat berdegup. Apa maksud dari pertanyaan Leon padanya? Apa Leon akan mengajaknya ke kampung halamannya? Pikir Lexa.
"Mana pernah aku ke sana, ke sini saja dengan bantuan Tuan Egnor bagaimana bisa aku pergi ke kota yang jauh itu." Jawab Lexa agak meninggi karna memikirkan tujuan Leon.
"Kau mau ke sana tidak? Aku akan mengenalkanmu ke ibuku, ayahku dan dua adikku. Mereka pasti menyukaimu, bagaimana?"
Benar sudah apa yang dipikirkan Lexa. Sesaat Lexa terdiam dan menunduk. Dalam lubuk hatinya dia takut karna dia adalah wanita sebatang kara. Dia tidak mempunyai ayah dan ibu seperti Leon apalagi seorang adik atau kakak. Dia selalu dalam kesendirian dan apakah pantas bersanding dengan keluarga lengkap seperti Leon yang juga memiliki karir yang begitu baik. Sangat tidak pas dengannya yang hanya seorang asisten dan tidak memiliki keluarga lengkap seperti Leon.
...
Lexa galau gaes ..
Ingat kah dengan adegan ini di mantan terindah? Apakah mereka akan ke Springfield?
Staytune guys next part 36
.
Jangan lupa like komen
Thankyou lafyou guys 😍
.
__ADS_1
Oiya Novelnya kakaknya Viena si Egnor dan Claudia uda tayang ya dengan judul SATU SATUNYA YANG KUINGINKAN .. 💋😍