Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 63


__ADS_3

Kehidupan di dunia beragam. Ada yang terlalu menyakitkan ada yang terlalu bahagia. Ada yang terlalu rasional ada yang tidak masuk akal. Ada yang merasa baik baik saja ada yang penuh drama. Semuanya hanya tangan Tuhan yang bekerja. Lexa lagi lagi harus belajar merasakan nikmat Tuhan yang diberikan. Mempunyai suami seperti Leon adalah suatu kebanggaan dan malah membuat iri kaum hawa. Siapa Leon sebenarnya? Hanya seorang anak petani yang menjadi besar namanya di sebuah kota besar bersama tuannya. Walau hanya seorang asisten namun seorang yang pintar, kuat, dan setia. Lalu, bagaimana Lexa dan Leon akhirnya menerima semua kejanggalan pada pernikahannya? Kembali lagi, mencoba terus belajar dan bersyukur.


...


"Leon? Kau mau tidak makan siang bersamaku? Aku tidak selera bekerja. Hari ini Abby membawa Beatrice dan Lucy membawa Liam. Semua ini seraya menyindir ku." Dengus Lexa masih dalam sambungan telepon mereka.


"Iya sayang bersiaplah, aku akan menjemputmu 15 menit lagi." Kata Leon menuntaskan segala kekalutan Lexa. Hari ini dia juga renggang. Dion bahkan sudah pulang karna tidak enak badan. Hamil Viena kali ini lebih banyak Dion yang mengidam atau tubuhnya kurang sehat.


"Cepat sekali?" Selidik Lexa.


"Karna aku merindukanmu juga." Balas Leon.


Tut! Panggilan dimatikan Leon. Lexa tersenyum tipis dan akhirnya mendongakan kepalanya. Dia menghapus air matanya dan malah merias wajahnya. Dia tidak mau terlihat sedih di depan Viena ketika ijin nanti dan khususnya di depan Leon. Betapa Lexa juga tidak ingin membuat suaminya cemas melulu terhadapnya.


"Nyonya, aku ingin keluar bersama Leon untuk makan siang." Ijin Lexa pada nyonya nya.


"Tumben sekali kau."


"Ya, aku merindukannya." Lexa tersipu malu menunduk.


"Ya sana pergi. Lagi pula hari ini tidak ada jadwal penting tapi besok kita harus menemui Greta membicarakan promosi sekolah menarinya." Viena mengingatkan.


"Oke nyonya!"


"Lexa?" Panggil Viena sesaat.


Lexa menatap Viena.


"Kau baik baik saja?" Viena hanya memastikan.


"Sangat baik nyonya! Kau tenang saja!" Lexa manarik senyumnya.


"Bisakah kau menolongku?"


"Apa Nyonya?"


"Luangkan waktumu dua hari sekali untuk menjaga Dior bergantian dengan mertuaku. Kau tidak usah bekerja. Kau menjaga Dior saja. Anggap saja dia anakmu. Bagaimana?" Perintah Viena yang sepertinya akan membantu Lexa melupakan ketakutannya.


"Kau serius Nyonya?" Lexa memastikan. Dia tampak antusias.


"Ya, kau tidak keberatan kan?" Viena menaikan alisnya.


"Sama sekali tidak nyonya! Mulai kapan nyonya?"


"Minggu depan saja. Besok grandmom Dior hendak membawanya ke Honolulu beberapa hari."


"Aku senang sekali. Aku bisa berlama lama dengan Dior." Kata Lexa melihat ke arah Dior yang masih tertidur di sofa.


"Sekarang pergilah, Leon pasti sudah menunggu di bawah." Kata Viena.


"Terimakasih Nyonya." Ucap Lexa berbalik dan keluar ruangan Viena.


Viena memperhatikan asisten pribadinya itu. Dia tersenyum. Dia mencoba mengurangi kerinduan Lexa untuk memiliki anak. Agar Lexa tidak terlalu memikirkan dan terbeban karna belum kunjung hamil.


Lexa menuruni kantor dan bertemu dengan Leon. Leon menunggu di depan gedung kantornya.


"Leon, kita mau kemana?" Tanya Lexa memasuki mobil. Seketika Lexa terkejut karna Leon melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan. Leon memasangkan sabuk pengamannya.


"Ke sebuah restoran yang sudah lama tidak ku datangi." Kata Leon lalu mencuri satu kecupan pada bibir Lexa. Walau sudah menjadi suaminya, wajah Lexa tetap merona.


Leon melajukan mobilnya menuju ke perbatasan Legacy dan Summer. Dia menuju ke sebuah kedai rumah makan yang sederhana. Sepertinya menyediakan makanan makanan rumahan. Lexa dan Leon memasuki kedai tersebut. Mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan Muda Janson." Sapa wanita itu dan membungkukan tubuhnya. Leon mengerutkan keningnya.


"Bibi? Leon!" Leon mengoreksi.


"Haha iya Leon, silahkan. Ini istrimu?" Tanya wanita itu tersenyum.


"Ya bi, kenalkan, Lexa." Leon merangkul pundak Lexa.


Lexa membungkukan tubuhnya sebelum mengulurkan tangannya berjabatan tangan dengan wanita paruh baya ini.


"Aku Clarita. Salam kenal. Kau cantik sekali sayang." Kata wanita paruh baya itu sudah berjabat tangan dan menepuk nepuk punggung tangan Lexa.


"Terimakasih bibi." Balas Lexa tersenyum.


"Mari duduklah. Kalian mau makan apa?" Clarita mempersilahkan duduk.


"Nasi kare saja yang pedas, bi! Istriku sangat menyukainya. Juga dua ice lychee tea." Kata Leon menyebarkan senyum manisnya.


"Wah kebetulan sekali, Adrian sedang membuat kare. Aku akan siapkan." Kata Claita dan menuju ke dapur rumah makan mereka.


Leon dan Lexa tersenyum. Lexa lalu bertanya tanya, siapa Clarita karna sebelumnya Leon belum menceritakannya.


"Bibi Clarita adalah sahabat kecil mommy ku Lexa! Aku baru bertemunya beberapa hari yang lalu. Dia mengenaliku. Dulu dia tinggal di Springfield dan ikut pindah ke Legacy bersama suaminya." Leon mulai bercerita.


"Oohh begitu, lalu dimana suaminya?" Selidik Lexa yang mungkin saja sudah tidak bekerja mengingat usia Clarita yang tidak jauh beda dengan mertuanya.


"Dia sudah meninggal." Jawab Leon santai namun tetap penuh kepastian.


Lexa menutup mulutnya. Entah mengapa dia merasa sesak jika mendengar kata meninggal, pergi selamanya atau kematian.


Tak lama seorang gadis berparas masih terlihat muda dengan dagu yang lancip dan pipi yang memerah mengantarkan ice lychee tea untuk Leon dan Lexa.


"Sama sama kak Leon." Gadis bernama Sonya itu membungkukan tubuhnya lalu kembali ke dalam.


"Kenapa suaminya meninggal Leon?" Tanya Lexa penasaran setelah Sonya pergi. Lexa berbisik takut didengar.


"Menjalankan tugas militer. Suaminya tentara." Jawab Leon ikut berbisik.


"Kasihan sekali. Tapi Bibi Clarita tampak bahagia dengan anak anaknya. Adrian dan Sonya anak anak nya kan?" Selidik Lexa lagi kali ini dia bicara biasa saja.


"Bukan!" Tanya Leon lagi dengan sangat tenang sementara perasaan Lexa makin tak karuan.


"Kau jangan bercerita asal Leon! Lalu dimana anak anaknya?" Lexa memukul pelan lengan Leon. Entah mengapa Lexa sangat antusias dan menginginkan Clarita memiliki anak.


"Tidak punya!" Leon kembali memastikan .


"Leon, kau jangan menipuku!"


"Benar Lexa. Aku tidak mempunyai anak. Aku pernah mengandung tetapi aku tidak bisa mempertahankannya karena aku terlalu sedih memikirkan suamiku yang pergi meninggalkanku selamanya." Kata Clarita tiba tiba membantu Leon meyakinkan.


Lexa berbalik melihat Clarita yang menghampiri mereka dengan satu mangkuk besar kare.


"Bibi? Maaf, Leon yang menceritakannya padaku." Ucap Lexa merasa tidak enak.


"Tidak apa apa. Dia sudah ijin denganku. Aku tidak keberatan menceritakan pengalamanku. Sonya dan Adrian adalah anak-anakku yang ku adopsi, Lexa. Aku membesarkan mereka seperti anak kandungku dan baru saja Adrian menyelesaikan sekolah tata boganya. Dia menjadi Chef di Hotel Atkinson baru baru ini. Em, jadi Lexa, kau jangan berkecil hati. Kau masih memiliki suamimu. Leon adalah pria yang baik dan sehat. Kalian sudah memeriksakan diri kalian kan? Kalau tidak ada masalah yakinlah suatu saat kau akan kembali mengandung, Lexa." Clarita bercerita sambil menyajikan kare nya lalu ikut bergabung duduk dengan mereka.


"Tapi bi, mohon maaf, mengapa kau tidak menghadirkan cinta lagi?" Selidik Lexa. Lexa merasa gemas. Dia bertaruh ketika muda dulu, Clarita seorang wanita yang cantik.


"Suamiku terlalu indah bagiku. Tidak ada yang seperti dia. Jadi, aku memutuskan sendiri sampai Tuhan memanggilku dan membuat diriku kembali bertemu dengannya di taman surga sana. Lexa, kau harus bersyukur masih memiliki Leon. Tugas mu sekarang jaga dia dan tetap kasihi dia. Jangan menyerah! Kau masih memiliki suami dan bisa mengandung, bagaimana denganku? Tapi aku tidak masalah, aku yakin setiap manusia memiliki kebahagiannya masing masing. Kau mengerti maksudku?" Kata Clarita membuat perasaan Lexa seketika tentram namun sedikit tertohok.


Lexa tersentak. Lagi lagi dia bodoh dan memikirkan dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak perlu merasa sesedih ini. Dia harus menghargai Leon. Dia masih bisa bersenang senang bersama Leon ada atau tidak ada anak nanti. Lexa mengerti mengapa Leon mengajaknya kesini untuk membuka seluruh pikiran sempitnya.

__ADS_1


'Aku masih sungguh luar biasa bahagia memiliki Leon, memiliki pendamping. Sedangkan bibi Clarita? Sejujurnya dia merindukan suaminya namun dia menahannya dan merubahnya menjadi bentuk kasih sayang yang lain terhadap orang yang disekitarnya. Ya, aku tidak boleh seperti ini. Aku akan menganggap Dior adalah anakku. Dan aku masih memiliki Leon.' kata Lexa dalam hatinya dan memandang Leon. Leon tersenyum lalu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya. Dia yakin akan ada kebahagiaan menaungi keluarga kecilnya.


Mereka pun makan siang di sana dengan Clarita menemani mereka. Mereka banyak bercakap cakap. Clarita menceritakan seluruh pengalaman hidup yang membuat Lexa yakin dia juga bisa menjadi seperti Clarita.


...


6 bulan kemudian ..


Permainan nasib dan takdir ini tidak ada yang tahu. Bisa saja seseorang yang kita cintai dipanggil Tuhan besok atau tiba tiba kita mengalami kegagalan dan keterpurukan. Semua sudah tertanda. Siapa yang tahu kalau ketika Viena telah memasuki bulan melahirkannya , Lexa mendapatkan kabar yang sudah ia nanti nantikan?


Sekedar mengingatkan saja :


"Nyonya, apa sebaiknya kau ini pulang? Kandunganmu sangaaat besar, aku takut kau akan kontraksi di kantor lagi. Kau ini senang sekali kontraksi di kantor!" Kata Lexa melihat nyonya nya mondar mandir dengan perutnya yang sangat besar karna dia mengandung anak kembar.


"Aku mau disini, kau diam saja. Lebih baik kau menjemput Dior untuk kembali ke apartemenku. Aku merindukannya. Biar Dion yang menjemputku." Suruh Viena dan masih mondar mandir. Kandungannya sangatlah sehat sehingga di usia kandungan 36 minggu ini dia masih dapat berjalan jalan. Sebenarnya dia sudah berencana akan melahirkan besok atau lusa dan tiba tiba dia merindukan kantor. Begitulah orang yang mau lahiran, meminta hal yang tidak tidak.


"Tidak tidak, Dior akan aman bersama grandma nya, aku memikirkan kau? Apa tidak lebih baik kita ke rumah sakit saja Nyonya? Ayolah, aku hanya sendiri Nyonya. Nyonya Greta sedang tidak di Legacy. Dia juga sedang hamil dan babymoon ke Springfield. Aku takut kau kenapa kenapa. Mengapa seperti aku yang hamil?" Lexa kembali berkata kata. Dan mengusap dagunya.


"Coba saja kau periksa Lexa, kau sudah menunggunya begitu lama dan hari ini kecemasanmu berlebihan," Viena menyarankan.


"5, 6, 7, oh Tuhan Nyonya, aku memang sudah telat satu minggu. Ahh Leonnn, apa aku hamil, sebentar aku akan menghubungi suamiku nyonya," Lexa berdiri dari kursinya dan mencoba menghubungi Leon.


Sementara Viena sudah rasa rasa curiga dengan perasaannya dan yang pasti perutnya. Biasanya akan terjadi kontraksi palsu seperti yang sudah sudah. Dia lalu menghubungi suaminya untuk menjemputnya.


Tak berapa lama Dion dan Leon datang bersamaan tepat pukul jam lima sore.


"Lexa, ayo kita ke rumah sakit, lebih cepat lebih baik kan," Leon mengajak Lexa ikut menemani Viena sekalian memeriksakan Lexa. Lexa mengangguk dan membantu Dion memapah Viena sampai mobil.


...


...


...


...


...


okeh, ni hamil ga ni? hehe


next next vii 😁😁


oke oke stay tune aja ges 😊😊


.


rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:


---- LOVE & HURT ----


karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍


.


Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤

__ADS_1


__ADS_2