
Dokter memeriksa setiap bagian dari kaki Solane. Dokter menyarankan untuk melakukan rontgen pada kaki Solane untuk pengecekan lebih lanjut. Saat itu juga Solane dirujuk ke bagian rontgen dan ternyata mengalami cedera di bagian pahanya karna terjatuh dari tangga. Untuk sementara Solane mengalami kelumpuhan.
"Tidak! Tidak mungkin! Tidak! Dad! Kau meninggalkan ku dan sekarang kakiku lumpuh! Lexa! Ini semua salahmu, kau yang mengambil semuanya dari awal! Kau wanita kumuh dan jahat! Pergi kau dari sini aku tidak mau melihatmu!" Solane memukul mukul kakinya sambil merajuk hebat.
Dia benar benar tidak terima dengan keadaannya saat ini. Dia juga mengumpat Lexa secara berlebihan. Andai dia bisa meraih Lexa, dia hendak mencabik cabik wajah wanitanya Leon itu. Lexa hanya diam di kursi roda dengan wajah yang kasihan namun tidak menyesal. Ini semua karna hatinya yang licik. Lexa hanya menyesali mengapa Tuan Reynald yang baik memiliki anak yang seperti ini. Leon menepuk nepuk pundak Lexa agar tidak mendengarkan ocehan Solane.
"Sudahlah Solane, ini juga semua karnamu! Kau yang terlalu serakah dan tidak memikirkan perasaan ayahmu! Bagaimana dia bisa pergi dengan tenang?!" Kata Leon pelan namun memendam arti.
"Diam kau! Tidak usah selalu menasihatiku! Aku juga benci padamu! Pergi kalian semua pergiiii!!!" Solane menangis dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur rumah sakitnya.
Beberapa suster yang mendengarnya dari luar mengecek keadaan Solane. Hari sudah pagi dan rumah sakit sudah kembali ramai dengan hiruk pikuk suster dan pasien.
"Tuan, apakah perlu diberikan obat penenang? Keadaan pikiran Nona Solane sedang tidak stabil." Tanya suster pada Jimmy. Suster tersebut yang mengecek kondisi Solane yang terus merajuk dan menangis.
"Bagaimana Leon?" Jimmy meminta saran pada Leon karna sejatinya Jimmy sangat cemas namun takut terjadi kesalahan.
"Ya berikan saja, dia sudah terlalu banyak tekanan." Kata Leon.
Sang suster menyuntikan obat penenang dan tak berapa lama Solane kembali tertidur.
Leon dan Lexa undur diri sebentar untuk mengurus berkas berkas Tuan Reynald. Jimmy tetap di dalam menunggui kekasihnya.
Sang pengacara Tuan Reynald sudah datang ke rumah sakit untuk meminta tanda tangan Leon atas keputusan yang telah ia buat. Leon memutuskan untuk membagi warisan Reynald, yang mana separuh hartanya akan ia berikan ke panti asuhan dan panti jompo. Lalu separuhnya ia relakan untuk Solane. Mungkin dia bisa memulai hidup baru dengan Jimmy.
Lexa menggandeng lengan Leon ketika Leon hendak menandatangani dokumen. Sesaat Leon menoleh ke arah Lexa. Leon menatap Lexa dengan sangat teduh. Dia juga menyunggingkan senyumnya membuat hati Lexa semakin meleleh. Lexa lalu membalas senyuman Leon dan menganggukan kepalanya.
Dia bangga dengan kebesaran hati Leon. Dia pikir, Leon akan memiliki semua warisan Reynald atau membaginya setengah pada Solane. Namun nyatanya, dia benar benar tidak menginginkannya sedikitpun. Dia malah memberinya pada yayasan panti asuhan dan panti jompo. Sepertinya Lexa tidak salah memilih pria seperti Leon. Meskipun agak arogan, cuek, sok dingin dan sok kuat, tapi Leon memiliki sisi lembut yang membuat Lexa selalu merindukannya.
Drrtt drrttt, ponsel Leon bergetar ketika Leon telah menandatangani berkas. Bos nya menelpon. Leon menepuk dahinya seperti melupakan sesuatu.
Percakapan Leon dan Dion :
Dion : kau dimana?!
Leon : Tuan, ada suatu kejadian yang sungguh di luar prediksi ku
Dion : ada apa?
Leon : kau belum mendengar berita Tuan Reynald meninggal?
Dion : benarkah? Aku baru bangun!
Leon : aku pikir kau di kantor
Dion : aku harus menjenguk Pevi, semalam aku pulang terlalu larut, aku mau kau mengantarku ke rumah sakit.
Leon : em, baiklah Tuan. Satu jam lagi aku akan menjemputmu.
__ADS_1
Dion : sudahlah! Aku akan menghubungi Ben. Nanti sore saja kau jemput aku disana
Leon : baiklah Tuan, terimakasih atas pengertiannya
Dion : pesanku, kau harus berusaha netral, jaga perasaan Lexa atau Viena akan membunuhku
Leon : tenanglah, aku tidak akan sepertimu, sampai jumpa!
Leon terkekeh menutup telponnya. Dia takut umpatan yang diberikan oleh Tuannya jika menyindir kehidupan cintanya.
"Ada apa?" Tanya Lexa menepuk bahu Leon. Dia agak khawatir kalau Viena mencarinya. Namun, dia sudah meninggalkan pesan untuk nyonya nya itu.
"Tuan Dion memintaku mengantarnya menemui Nona Pevi." Jawab Leon menoleh ke arah Lexa dengan tersenyum.
"Bosmu tidak menanyaiku atau Nyonya Viena?"
"Untuk apa dia menanyaimu? Kau menyukainya?" Selidik Leon mengernyitkan dahinya.
"Cih, berlebihan! Aku masih memikirkan masalah iklan, kau ini tidak jelas!" Lexa memukul kecil punggung Leon.
"Kan sudah kubilang sudah diurus Tuan Egnor, sudah kau diam saja disini bersamaku." Decak Leon pelan dan melanjutkan mengurus berkas dengan sang pengacara Tuan Reynald.
Setelah Solane bangun dari tidurnya karna obat penenang, Leon memutuskan berbicara padanya empat mata. Lexa dan Jimmy menunggunya di luar. Hal ini juga Lexa yang menyarankan. Sepertinya di waktu seperti ini hanya Leon yang dapat didengarkan oleh Solane, mengingat ayah Solane sangat mempercayai pria bermata lancip itu.
Leon menarik napasnya. Dia berusaha memegang tangan Solane dengan ketulusannya, setidaknya separuh ketulusannya. Karna Leon sudah bersumpah tidak mau berurusan dengan Solane lagi. Apapun itu.
Solane melirik Leon yang telah menggenggam tangannya.
"Solane, aku harus berbicara padamu," ucap Leon dengan menatap Solane penuh arti.
"Solane, kau harus menerima kepergian ayahmu. Kau juga harus menerima keputusannya. Dengarkan, keputusannya memberikan warisannya padaku adalah untuk merubah prilakumu, bukan dengan rela memberikannya padaku. Namun, pada kenyataannya aku tidak bisa membantu beliau merubah sikapmu. Kau tahu kan, aku sudah mencintai Lexa. Dan sepertinya ada pria yang pantas untuk merubah sikapmu melebihi aku. Jimmy sudah menceritakan semuanya padaku. Kau jangan lagi menyuruhnya berbuat macam macam karna dia pasti akan menurutinya, karna apa? Dia begitu mencintaimu." Tutur Leon tanpa melepas pandangannya ke Solane yang kini telah menitikan air matanya.
"Aku sungguh minta maaf, sepertinya aku tidak bisa memberikan semua warisan ayahmu kepadamu karna aku juga harus ikut ambil bagian dalam merubah prilakumu. Tapi, aku akan memberikannya sebagian. Sebagiannya lagi akan kuberikan pada yayasan panti asuhan dan panti jompo. Aku harap kau bisa memanfaatkan apa yang telah diberikan ayahmu." Kata Leon lagi. Kini wajah Solane sedikit menegang mendengar pernyataan Leon.
Namun, air matanya tak dapat ia bendung mendengar alasan dari keputusan ayahnya. Ayahnya sunggung memikirkan kesejahteraan anaknya. Dia lalu menatap Leon.
"Leon .. " panggilnya lirih
"Aku mau melihat dad untuk terakhir kalinya, aku mau minta maaf. Dan .. aku juga minta maaf padamu, pada Lexa, aku memang wanita tidak tahu diri. Maafkan aku.." tangis Solane pecah.
Leon mengelus perlahan punggung tangan Solane. Dia merasa harus menenangkan bekas kekasihnya itu. Dia lalu berdiri dan memeluk Solane yang sudah berusaha untuk duduk.
"Tenanglah Solane, acara pemakaman Tuan Reynald akan segera dilaksanakan, kau bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Sudah jangan menangis lagi." Leon mengusap bahu Solane.
"Untuk kakimu Solane, kau masih bisa menyembuhkannya lewat terapi, Jimmy akan menemanimu. Kau tenang saja." Kata Leon lagi. Solane mangangguk dan melepaskan pelukannya dari Leon.
Solane dibantu Leon menaiki kursi roda untuk menemui ayahnya di rumah duka rumah sakit. Banyak petinggi masyarakat yang datang mengucapkan bela sungkawa pada Solane. Beberapa saudara Solane juga berdatangan.
__ADS_1
Sementara Lexa ijin pulang bersama Leon karna ia harus beristirahat untuk bekerja besok. Leon juga undur diri karna dia merasa tugasnya sudah selesai mengurusi keluarga Solane. Jimmy dan pengacara Solane sudah cukup membantu Solane.
Leon hendak menghilangkan pikirannya untuk mengurusi keluarga orang lain. Dia mau memikirkan masa depannya yang mana usianya hendak menginjak 27 tahun. Dia harus membenahi diri dan serius terhadap Lexa. Meskipun dia belum menyatakan cintanya setidaknya dia harus lebih meluangkan waktu untuk berdekatan dengan Lexa.
Leon menuju lobby parkir dengan memapah Lexa. Lexa sudah menolak menggunakan kursi roda. Bengkak kakinya sudah kian memudar.
"Lain kali, kau harus hati hati kalau mau memata matai orang, Lexa." Leon mulai menasihatinya.
"Aku sudah hati hati, aku tidak tahu kalau suster itu membawa peralatan operasi." Bantah Lexa tidak mau disalahkan.
"Kau sudah terbiasa menabrak orang, jatuh, sepertinya kau harus selalu bersamaku agar bisa berhati hati. Untung saja yang jatuh Solane, kalau kau yang jatuh, aku bisa menghabisi Solane." Kata Leon menatap Lexa.
"Cih, mana mungkin kau menghabisi mantanmu." Goda Lexa berdecih.
Ketika Leon hendak belok memasuki mobilnya seorang pria berlari cukup cepat sambil menelpon tidak sengaja menabrak Lexa sampai Lexa terjatuh. Leon cukup lengah sehingga tidak bisa menahan Lexa.
Ponsel pria itu jatuh dan terbuka berantakan.
"Hey! Bagaimana bisa kau berdiri di pinggir jalan seperti ini?!" Kata pria itu memarahi Lexa yang sedang dibantu Leon bangun.
"Hey! Siapa yang menabrak?!" Leon menatap tajam pria itu. Lexa masih meringis memegang tangannya yang tertindih tubuhnya.
"Lihat ponselku jatuh dan rusak!" Kata pria itu lagi tidak terima.
"Kau yang berlari tidak melihat dengan benar malah bermain ponsel, apa maumu!" Leon hendak memukul pria itu namun Lexa menahannya. Lexa mendongakan wajahnya.
"Lexa?" Panggil pria itu merasa mengenali Lexa. Lexa melihatnya.
"Kau?" Wajah Lexa menegang, dia makin mendekatkan dirinya pada Leon. Leon merasa aura ketakutan dalam diri Lexa.
"Kau masih mengingatku? Gabriel?" Kata pria itu lagi. Dia Gabriel, pria yang pernah melecehkannya dulu.
"Kau mengenalnya Lexa?" Tanya Leon pelan dengan wajah yang masih kesal dengan perkataan tak tau diri Gabriel.
Lexa menggeleng pelan dan seraya tidak mau membahas lagi. Dia lalu mendorong Leon untuk memasuki mobil.
"Lexa, ponselku? Kau berhutang padaku!" Kata Gabriel melihat Lexa masuk kedalam mobil bersama Leon.
...
Apalagi nii hayoo?
Mao ngapain Gabriel ke Legacy?
Next part 32 ya
Staytune 😬
__ADS_1
Like komen jangan lupa tip juga boleh
Thankyou laf you 💕💕