
Leon meninggalkan tempat itu dengan mengepalkan tangannya. Dia begitu kecewa dan sedikit kesal dengan Lexa yang tidak mau mendengarkannya untuk menjauh dari Gabriel. Dia pun tidak kembali ke restoran dan meminta ijin pada Dion melalui pesan. Dia benar benar tidak ingin diganggu. Hatinya berantakan. Dia tidak tahu mengapa dia bisa sesedih ini. Dia menuju balkon atas restoran ini untuk sebentar menenangkan pikiran sebelum dia pulang.
Lexa masih terpaku di sana melihat kepergian Leon. Setelah dia menyuruh Gabriel membawa Mitha ke rumah sakit, Lexa menyusul Leon. Dia bertanya pada pelayan yang masih mengerubungi di luar, apakah melihat pria yang berkelahi itu. Seorang teman wanita Mitha yang mengenal Leon memberitahu kalau Leon mengarah ke balkon atas gedung restoran itu. Lexa langsung berlari menyusulnya. Dengan koyakan salah satu tangan kemejanya, dia mengoyakan satu lagi tangan kemejanya.
Di sana Leon. Menampu tangannya di pembatas balkon pengaman. Dia melihat ke bawah lalu melihat ke atas. Dia menarik napas merasakan rasa sesak yang begitu mendalam.
Bagaimana kalau Lexa benar benar diperkosa? Dia memikirkan hal itu. Rasa sakitnya melebihi dia malihat Solane selingkuh waktu itu. Sepertinya dia sangat sangat mencintai asisten Viena itu.
Lexa tiba di balkon itu dan melihat punggung Leon yang begitu bidang dan memancarkan aura yang dingin. Lexa mendekatinya perlahan. Perlahan perlahan sampai Leon pun tidak mengetahuinya. Lexa menghampiri di samping Leon berdiri. Di situlah Leon menyadari kalau orang yang ia cintai menghampirinya.
"Untuk apa kau menyusulku?" Tanya Leon sangat sangat dingin.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Lexa bertanya kembali.
"Tidak! Kau selalu benar, aku yang selalu keliru! Pergilah, aku mau sendiri!" Kata Leon ketus.
"Apa aku melakukan kesalahan menghubungimu? Mengatakan kalau aku akan bertemu Gabriel, tapi kau tidak mengangkatnya dan membalas pesanku, sementara kau bisa menghubungi polisi." Lexa berudasaha menjelaskan dengan tenang dan pelan.
"Ini ponsel hotel. Ponselku tertinggal di apartemen." Jawab Leon sedikit merasa bersalah namun masih tertinggal guratan kekesalan di dahinya.
"Hanya itu jawabanmu? Baiklah Leon, aku minta maaf aku masih menemui Gabriel, tapi aku tidak ada niat apapun selain membantunya. Dan, aku juga tidak ada niat apapun untuk tidak memberitahumu!" Lexa masih menjelaskan dengan melihat Leon.
"Terserahmu saja Lexa, mulai sekarang, aku tidak mau menyuruhmu, mengekangmu, menasehatimu atau memerintahkanmu, karna benar katamu kita hanya bersahabat. Dan, sepertinya aku tidak ada artinya bagimu. Aku mengalah!" Leon akhirnya menghadap ke Lexa lalu mengangkat kedua tangannya.
Bukan karna Leon tidak mau segera mengungkapkan perasaannya. Leon hanya ingin memastikan dirinya dan wanita yang ia pilih menjadi yang terakhir bagi hatinya. Dia pun juga tidak ingin menyakiti dirinya maupun menyakiti wanita lagi. Dia sudah lelah dengan semua perjalanan cintanya yang tidak bisa berujung pada kata berhasil.
Tapi dia sempat terlintas untuk langsung mengajak Lexa menikah setelah mengenalkan Lexa pada keluarganya. Dia ingin serius dengan Lexa. Namun, Lexa seperti enggan berdekatan dengannya. Atau mengkesampingkan keinginan Leon.
"Leon, jangan begitu.." kata Lexa hendak meraih salah satu tangah Leon namun Leon menghindar.
"Mulai sekarang, aku tidak akan mendekatimu lagi, karna sepertinya Gabriel yang menjadi kepentinganmu. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Kau dengan aktifitasmu, aku dengan aktifitasmu. Selesai! Jaga dirimu Lexa sebelum kita menyakiti diri kita masing masing." Leon menurunkan tangannya. Dia lalu mengelus puncak kepala Lexa sebentar dan hendak pergi, namun Lexa menahan tangan Leon.
Mata Lexa telah berkaca kaca. Dia tahu, kalau dirinya salah. Lexa kadang sangat kasar dengan Leon, padahal Lexa senang digoda oleh Leon. Lexa kadang tidak mengindahkan kata kata Leon namun Leon beribukali tidak bosan berpesan padanya.
Lexa menatap Leon. Dia masih menahan air matanya untuk tidak jatuh. Leon juga menatap Lexa. Tak lama Lexa menarik tangan Leon dan wanita itu memeluk Leon. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Leon.
"Aku minta maaf. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak pernah dekat dengan pria manapun selain dirimu. Percayalah Leon, aku tidak sanggup jika kau tidak menggodaku lagi, jika kau tidak menggangguku lagi. Aku tidak sanggup Leon." Kata Lexa dengan semua kejujurannya.
Lexa akhirnya menangis. Dia sudah sangat lelah dengan apa yang terjadi tadi. Dia membutuhkan Leon untuk kembali menyegarkan pikirannya. Tidak ada pria lain yang sedekat ini dengannya.
Leon akhirnya meluluh. Lexa belum pernah seperti ini sebelumnya. Dia seperti takut namun dia menyerahkan dirinya padanya. Akhirnya Leon memeluknya juga.
"Kau ini terlalu bodoh dan naif Lexa!" Bisik Leon di atas puncak kepala Lexa.
"Terserah! Yang pasti aku tidak mau kehilanganmu! Kau jangan pergi seperti ini lagi, bikin takut aku saja!" Decak Lexa menghapus tangisannya.
Leon lalu mendekap Lexa lebihhh erat lagi. Menyesalkan sedikit hatinya yang hendak meninggalkan Lexa, sementara wanita itu hanya sendiri di kota sebesar ini. Membutuhkan sebuah pegangan seperti dirinya. Leon akhirnya menyadari bahwa dia akan merasakan penyesalan mendalam jika dia menyerahkan Lexa kepada pria lain. Sedangkan wanita ini sungguh baik untuknya.
Tak lama Leon melepaskan pelukannya. Dia membuka jas yang ia kenakan lalu di pakaikannya ke Lexa. Lexa terkesiap melihat prilaku Leon yang penuh kasih sayang dan kehangatan.
Lexa mendongakan kepalanya menatap Leon yang begitu tampan dengan tatapan padanya. Tatapan ingin memilikinya namun belum sanggup menggapainya. Tatapan sedikit takut kekecewaan akan menggandrunginya lagi.
__ADS_1
"Emm, Leon?" Panggil Lexa pelan.
"Ada apa? Jangan suruh aku menciummu karna sekarang memang aku ingin menciummu." Kata Leon.
"Tidak, aku lapar.." jawab Lexa menunduk.
"Si tengik Gabe itu tidak mentraktirmu makan?" Tanya Leon sedikit meninggi.
"Dia pasti tidak akan bisa mentraktirku, jadi aku tidak memesan makan, kalaupun aku yang membayarnya pasti dia memaksakan diri untuk tetap membayarnya." Jelas Lexa.
"Lalu, kau berani meminta padaku?" Leon memastikan dan mendongakan lagi kepala Lexa.
"Untuk itulah, hanya kau yang pantas menemaniku, menjagaku, memberiku makan, dan suatu saat nanti aku yakin, kau yang akan menafkaiku, Leon." Ujar Lexa penuh keyakinan. Matanya berbinar menyimpan sejuta harapan pada Leon.
Leon lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Lexa. Tanpa Leon sangka, Lexa mengalungkan tangannya ke kepala Leon dan ikut mencium bibir Leon. Mereka berciuman di bawah rembulan dan ribuan bintang di langit.
...
"Kau mau makan apa?" Tanya Leon yang sedang melajukan mobilnya disekitaran Hotel Prime dan Apartemennya.
"Aku mau mie instant, Leon." Jawab Lexa memijit mijit dahinya. Tragedi tadi sungguh menguras tenaganya dan dia belum makan.
"Kalau kita ke rumahmu akan membutuhkan waktu 1 jam, kalau makan di apartemenku tak apa?" Leon menoleh ke arah Lexa yang masih memijit mijit dahinya.
"Kau kenapa Lexa?" Tanya Leon lagi yang menyadari ada yang tak enak dari tubuh Lexa.
"Kepalaku pusing, sepertinya karna telat makan. Tidak apa Leon, kita makan di apartemenmu saja. Kau punya mie instant ekstra pedas?" Jawab Lexa menoleh ke arah Leon.
Leon lalu memarkirkan mobilnya di basement parkir. Dia membukakan pintu mobil untuk Lexa yang juga hendak membukanya.
"Lexa, pelan pelan." Kata Leon membantu Lexa dan tersentulah tangan Lexa yang mulai berkeringat dingin.
"Tanganmu dingin Lexa, kau baik baik saja?" Tanya Leon sedikit cemas.
"Tidak apa apa Leon. Aku baik baik saja. Aku hanya telat makan." Jawab Lexa.
"Kau kuat berjalan?" Tanya Leon lagi ketika Lexa sudah keluar dari mobil.
"Memang kalau aku tidak kuat berjalan, kau mau apa?" Tanya Lexa berbalik hendak mengetahui hal apa yang lagi yang akan Leon lakukan yang mengejutkan hatinya.
Leon memicingkan matanya dan menyeringai.
"Ini yang akan kulakukan." Kata Leon sambil menggendong Lexa.
"Leon, kau benar benar ya!"
"Kalungkan tanganmu ke kepalaku dan diam!" Perintah Leon dan Lexa tersenyum mengikuti perintah orang kepercayaan Dion itu.
Sepanjang koridor apartemen Lexa terus menandang Leon. Leon begitu perhatian dan memancarkan sisi kelembutan yang luar biasa. Sementara Leon yang menyadari Lexa terus memandangnya menyeringai.
"Apa yang kau pikirkan, musang mesum!" Tanya Lexa yang menyadari akan seringaian Leon.
__ADS_1
"Tidak, kau jangan berpikir negatif, Lexa!" Jawab Leon masih dalam senyuman jahilnya.
"Turunkan aku! Aku masih bisa berjalan sendiri! Aku tahu apa yang ada dipikiranmu! Turunkan!" Lexa mencoba melepaskan diri dari gendongan Leon. Namun, gendongan Leon sangat kuat sehingga Lexa tidak dapat berkutik.
"Kau sedang memasuki kandang musang, jadi diamlah karna kalau kau bertindak gegabah maka kawanan musang akan langsung menyerangmu!" Leon terkekeh.
"Musang gila!" Umpat Lexa mengerucutkan bibirnya.
Sesampainya di kamar apartemen Leon, dia menuruni gadisnya itu di depan pintunya. Leon lalu menggesekan kartu kunci apartemennya dan mereka masuk. Lexa sedikit menghirup pengharum ruangan yang begitu menyegarkan, lalu dia menyipitkan matanya di daun pintu.
"Masuklah Lexa!" Perintah Leon yang masuk ke kamar duluan.
"Sudah berapa wanita yang kau ajak ke apartemenmu?" Tanya Lexa mencengkram daun pintu.
"Kalau aku menjawab tidak ada, pasti kau tak akan percaya, sudahlah Lexa cepat buat mie instantmu, kalau tidak kau akan sakit." Jawab Leon mengarah ke ruang tidurnya.
Lexa melipat lipat bibirnya mendengar jawaban Leon. Dia akhirnya masuk dan menutup pintu kamar.
Ketika Lexa hendak menuju dapur, dia melewati kamar tidur Leon yang tidak tertutup pintu sepenuhnya. Lexa sedikit melirik dan melihat Leon yang hendak membuka kemejanya. Sesaat hati Lexa penasaran. Lexa pernah beberapa kali melihat tubuh pria tak berpakaian secara langsung ketika dirinya berlibur ke pantai bersama Viena dan para karyawan, namun dia tidak ada ketertarikan ketika melihatnya. Sekarang, dia malah penasaran dengan tubuh Leon.
Hanya dari belakang Lexa melihatnya tapi jantungnya sudah berdetak. Punggung Leon begitu bidang dan sesuai dengan lekuk pinggang dan tangannya. Leon pasti sering berolahraga, pikirnya. Dan Lexa langsung berasumsi kalau bagian depan tubuh Leon pun begitu binaraga.
Ketika Lexa masih memperhatikan, ternyata Leon menyadari dari cermin yang ada di depannya. Dia lalu menyeringai. Dia berjalan seperti hendak ke arah kamar mandi ruang tidurnya, padahal dia memutar melewati kasurnya lalu hendak ke pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.
Dengan cepat dan tanpa disadari Lexa, Leon lalu menarik satu tangan Lexa yang memegang pintu dan mengarahkan ke depan dadanya yang sama bidangnya dengan punggungnya.
"Sedang apa kau?" Tanya Leon menyeringai.
"Ti-ti-tidak. Aku tidak sengaja melihat pintu kamarmu tidak tertutup. Aku mau menutupnya." Jawab Lexa dan memperhatikan tubuh Leon yang benar dalam pikirannya. Dada Leon agak ke depan namun berbentuk, begitu juga dengan perut Leon yang terbilang sixpack.
"Kau sudah melihat tubuhku Lexa, kau harus membayarnya." Kata Leon lagi masih menyeringai dan mengigit bibir bawahnya.
"Baik! Aku akan membuatkanmu mie instant! Hem!" Dengan segenap kekuatan Lexa, dia menghempaskan tangan Leon yang menahannya. Dia lalu menuju ke dapur.
"Kelinci nakal! Tunggu saja pembalasanku!" Leon terkekeh lalu kembali ke kamar memakai baju rumahnya.
...
...
waww hati2 lexa sarang musang
roarr 😁😁
next part 38
siap siap crazy up berentet ❤
.
like like .. tembus 10 comment langsung tak up lagii ❤❤
__ADS_1
thankyou lafyou all 💪