
Sore yang kelabu untuk seorang Danteleon Janson. Entah bagaimana pikirannya merajut sel sel garis garis tak beraturan dalam otaknya sehingga dia tidak bisa menuruti istrinya atau bahkan membohonginya . Cukup waktu dia hendak mendapatkan Lexa dia menyesali segala perbuatannya yang terlalu mengulur ulur waktu untuk menjadikan Lexa pasangannya. Hampir saja waktu itu Leon terlambat. Sedikit saja salah melangkah habislah kisah cintanya. Leon terlalu meremehkan istri nya itu. Merasa Lexa teramat mencintainya padahal dirinyalah yang tenggelam akan ketegasan Lexa. Jika tidak seperti itu, Leon tidak akan menyukainya.
Leon memukul mukul setir mobilnya. Dia memutuskan baiklah akan menuruti kemauan Lexa untuk saling mengoreksi diri sendiri sebentar. Dia pun melajukan mobilnya sambil berpikir cara apa yang harus ia lakukan untuk Lexa. Tetapi karna pikirannya masih mengarah mengenai kebodohannya dia malah menuju tempat yang bisa membuatnya sedikit tenang.
Sementara seperjalanan menuju apartemen Viena, Lexa terus memikirkan Leon. Dia sedikit cemas kalau kalau Leon mungkin saja melupakan dan tidak mengurusinya lagi. Lexa menggelengkan kepalanya.
'apa peduliku?! Biar saja jika dia tidak mencintaiku lagi! Musang bodoh aku benci padamu sangat dan mendalam!' dengus Lexa dalam hati dan mengusap kedua mata nya kasar.
Seketika muncul kenangan kenangan ketika pertama kali dirinya hamil. Ya, dia memang menemukan suaminya berpelukan dengan wanita lain. Hal itu sudah merupakan peringatan akan kegagalan kandungannya. Dia menyesal waktu itu sempat tidak percaya pada suaminya. Kalau saja dia bersabar sebentar. Suaminya bahkan tidak ada maksud dengan wanita itu, dia terlalu perasa. Lexa menjadi ikut andil dalam keguguran ini. Belum lagi ayahnya meninggal. Itu ayahnya bukan ayahnya Leon malah Leon juga mengkhawatirkan ayahnya. Mengapa jadi sampai tega begini dia dengan Leon. Belum lagi ketika sempat Lexa merasakan ngidam yang membuat Leon melakukan apa yang ia inginkan. Lexa tersenyum kecil. Hem namun semuanya sirnah menjadi harapan palsu juga yang dibuat Leon padanya.
Pengakuan itu tidak sengaja Lexa dengar ketika Ben mengantar Abby. Leon sangat dekat dengan Ben dan dia yang mengatakan sendiri kalau suaminya sudah tidak ingin membuatnya hamil. Ben hanya berbicara pada Abby. Abby yang merasa salah pada Lexa sejak Ben menceritakan masa kritis rumah tangga Lexa dan Leon, Abby tidak pernah lagi menyindir dan merasa hebat pada Lexa. Namun, tetap rasanya sakit sekali kalau ternyata suami kita sendiri, pria yang sangat ia cintai tidak mau membuatnya memiliki anak dari nya. Ironi!
Lexa menopang dagunya sambil menatap matahari yang sebentar lagi terbenam. Hari ini langit tidak begitu indah baginya walaupun dia bisa melihat matahari turun dan membuat warna jingga bercampur biru yang cukup eksotis. Ya begitu juga perasaan Lexa kini. Sedikit cerah berwarna jingga karna cinta kasih nya pada suaminya tetapi juga menjadi biru menerima kenyataan yang ada. Berkelit sekali, Lexa dapat mentolerir tetapi bagaimana jika seterusnya dan berani beraninya orang yang menjadi kepercayaannya membohonginya.
Dengan lemah dan lunglai Lexa menaiki apartemen Viena dan Dion. Memang ini tujuan nya pulang. Sekali ini saja dia berpisah dengan Leon. Mungkin saja dia menjadi rindu sehingga dia bisa memaafkan Leon. Lexa menekan bel kamar apartemen Viena dan Dion.
Tak berapa lama Viena membukanya. Viena juga baru saja tiba dan hendak membersihkan dirinya.
"Kenapa kau malah kemari?" Tanya Viena sedikit terheran. Dia melipat tangannya di depan dadanya.
"Bisakah aku bertemu dengan Dior?" Tanya Lexa kembali masih di luar kamar apartemen Viena.
"Dia sedang tidur bersama dad nya. Lihat saja!" Viena mempersilahkan Lexa masuk. Pintu apartemen mereka langsung mengarah ke arah tempat tidur besar mereka. Kamar apartemen itu memang tidak memiliki sekat sama sekali kecuali ke arah dapur dan kamar mandi.
"Hem, senang sekali Tuan Dion dan Dior tidur bersama. Seperti anak kembar." Lexa tersenyum masam. Andai itu Leon dan Lionel nya.
"Mereka memang anak kembar ku. Duduk lah atau ingin sesuatu? Di mana Leon?" Kata Viena dan menanyakan suami asistennya itu.
"Tidak tahu!" Jawab Lexa menunduk.
"Jadi kau tidak menghampirinya? Mengapa tidak menyuruhku menunggumu?" Viena masih mendukung aksi marah asistennya.
"Tidak apa nyonya! Aku sengaja hendak menyadar kannya terlebih dahulu." Tutur Lexa melemah.
"Kau jangan keterlaluan, alasannya hanya ingin membuat kalian bahagia!" Kata Viena memberi nasihat.
"Tidak ada kebahagiaan jika tidak ada keturunan Nyonya!" Decak Lexa walau masih menundukan kepalanya.
"Oh, jadi jika Leon memang tidak bisa menghasilkan keturunan, kau akan meninggalkannya, begitu? Di mana cinta sejatimu?" Decak Viena yang terkadang membelanya tetapi bisa juga menjatuhkannya dari langit ke tujuh sampai ke dataran. seketika hati Lexa tercubit dengan pernyataan nyonya nya.
"Bukan begitu Nyonya, kalau seperti itu aku bisa mengerti, tetapi ini Leon benar benar tidak mau membuatku hamil Nyonya!!! Dia tidak ingin aku sakit, menderita dan bersedih dan dia takut anak kita cacat seperti anaknya Angel. Masa dia seperti itu?!" dengus Lexa merajuk.
"Hem, i know, tapi percayalah Lexa, dia ingin, dia hanya trauma saja karna kejadian keguguranmu. bukan hanya kau yang mengalami masa mas sulit itu, tapi juga dia." Tutur Viena lagi sambil menggaruk garuk pelipisnya. dia merasa sejak menikah, Lexa menjadi agak kekanak kanakan.
"Entahlah Nyonya, biarkan dia terbeban tanpa adanya diriku." Lexa tetap dalam pendapatnya.
"Tapi kau harus pulang, kau tidak bisa menginap di sini karna ada saja tengah malam yang harus ku lakukan bersama .. "
"Cukup nyonya! Aku tahu, aku pasti pulang. Baiklah, biarkan aku membuat sesuatu untuk mu, sedangkan kau bersihkan saja dirimu." Lexa memotong perkataan nyonya nya sambil berdiri menuju ke dapur apartemen Viena dan Dion.
Viena mengangguk dan tersenyum menggoda Lexa. Sebenarnya bukan karna hal lain, tetapi Viena hanya ingin membantu Leon. Dion sudah menceritakan kalau Leon membantu Renzy menjaga Dior. Leon yang menyuapi Dior dan menggendongnya sampai tertidur.
Tak berapa lama Lexa memasak dan Viena membersihkan dirinya, Lexa mendengar Dion bangun dan memanggil manggil Viena.
"Selamat malam Tuan." Lexa memberi salam dengan membungkukan tubuhnya. Dia agak gugup karna Viena masih belum selesai membersihkan diri.
"Lexa?! Mengapa kau di sini?! Pantas saja suamimu ber ulah!" Decak Dion memegang kepalanya dan menuju ke sofa.
"Ada apa Tuan?" selidik Lexa. sepertinya ada yang tidak beres.
"Dia datang ke bar Club Ben. Ben sudah ketakutan. Di mana nyonya mu?!" Dion tetap harus mencari istrinya.
"Sedang membersihkan diri Tuan." jawab Lexa. tak lama ponsel Dion berbunyi lagi.
"Nih lihat, Ben menghubungi ku lagi, kau angkat ni!" Dior menyodorkan ponselnya.
Lexa segera menghampiri Dion dan meraih ponsel tuan suaminya itu.
"Halo." sapa Lexa untuk orang di sebrang sana.
"Lexa!!! Mengapa kau menolaknya?! Cepat kau kesini dengan Tuan Dion tau siapapun! sepertinya Dia baru menghabiskan satu gelas wine, jangan sampai ada berbotol botol! Kau tega ya kalau bar ku kembali di tutup! dia datang dengan tatapan seperti waktu kau meninggalkannya yang hendak menikah dengan Tuan Jerry. ah aku trauma sekali!! mata lancipnya itu keluar bagai rubah menjadi satu dengan musang Lexa!! Kau tahu kan, aku sudah berpisah dengan orang tuaku dan harus membiayai semua rumah tanggaku sendiri hanya dari gaji dan usahaku. Gaji Abby cukup untuknya, jadi kau cepat bawa suami mu dari sini! aku tidak mau ada tutup menutup bar lagi, MENYUSAHKAN!!" Decak Ben di sebrang sana dengan nada suara marah, kesal tapi juga ketakutan. Lexa sampai menjauhkan ponselnya.
"Kenapa kau jadi bercerita keluh kesahmu Ben?" Lexa sedikit bergurau agar tidak terlalu tegang tetapi Ben malah semakin geram.
"LEXA!! KAU SAMA SAJA SEPERTI SUAMIMU, MENGESALKAN! CEPAT KAU BAWA DIA DARI BAR KU SEKARAAAANGGGG!!!" Ben berteriak.
"Iya Ben, kau seperti wanita berteriak teriak!"
"CEPAT!!"
Panggilan di matikan. Tak berapa lama kemudian, Viena keluar dari kamar mandi.
"Ada apa Dion?" tanya Viena .
"Leon pergi ke Bar Club' Ben dan Ben takut." jawab Dion singkat merebahkan dirinya di sofa.
Lexa menghela napas. Mengapa terus seperti ini suaminya. Mengapa tidak ada pembenahan diri. Lexa masih menunduk dan Viena menyadari kalau asistennya itu lagi lagi kecewa dengan suaminya. Viena sejenak berpikir.
"Begini saja, aku dan Dion yang akan menjemput Leon. Kau jaga Dior Lexa." kata Viena memberi arahan .
"apa Tidak apa apa nyonya?" Lexa memastikan dan melirik nyonya nya sesaat.
"Tidak, kau santai saja. Sebentar aku akan mengganti pakaian." kata Viena lagi segera ke ruangan ganti nya.
"Baiklah, aku tidur lagi sebentar! Kau masak yang banyak Lexa, aku akan makan dulu sebentar, siapa tahu aku akan menetap di sana menikmati wine juga." gumam Dion kembali memejamkan matanya namun Viena mendengarnua dan teriakan itu terdengar.
"DIOONNN!!"
"Bercanda!" saut Dion lagi.
Setelah Viena, Dion dan Lexa makan malam sebentar, Viena dan Dion segera menjemput Leon. Semoga belum terlambat. Sebenarnya Lexa memikirkan suaminya tapi dia pasti akan emosi di sana. Hal ini juga yang ditakuti Viena. Bersamaan dengan Viena dan Dion hendak pergi, Dior pun bangun dari tidurnya. Lexa sudah tahu apa yang harus ia lakukan sementara Viena dan Dion sudah berangkat menjemput Leon.
"Mengapa kau ingin kita yang menjemputnya sayang?" Tanya Dion sambil mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Lihat saja apa yang nanti akan kuperbuat dengan mereka. Sepertinya malam ini kita tidur di hotel saja Dion." kata Viena menatap suaminya.
"Hem, tumben sekali kau ingin suasana baru. Baiklah aku akan menggunakan ruangan presidential suit ya?" Dion menyempatkan diri menoleh dan memasang wajah menggoda istrinya.
"Berlebihan! Gunakan kamar pribadimu saja! Kau jangan berpikir macam maca Dion!" saut Viena serius.
"Bukankah kau juga menginginkan adik untuk Dior?" Kata Dion menaik turunkan alisnya menggoda Viena. Viena pun tersipu namun bukan saat nya sekarang bermesra mesraan begini.
"Mengemudi yang benar, urus dulu asisten mu." decak Viena dan Dion hanya kembali tersenyum . dia suka menggoda istrinya itu. Viena jadi tampak menggemaskan.
Mereka pun tiba di bar Club Ben. Dion sudah menggandeng tangan Viena agar tidak ada yang menggodanya. Hari semakin malam, bar tersebut tampak semakin ramai.
"Di sana sayang!" Kata Viena melihat Leon sedang duduk di kursi membelakangi meja bartender dan memegang gelas wine. Dion lalu mengajak Viena menghampiri Leon.
Dion dan Viena langsung berdiri di depan Leon. Leon melihat pasangan bos nya itu namun hanya menatapnya datar.
"Sudah berapa botol kau menghabisi wine itu?" Tanya Dion
"Satu gelas ini saja belum habis!" Jawab Leon berbalik menaruh gelas wine nya.
"Ikut ke apartemen kami Leon!" ajak Viena.
"Untuk apa? Lexa ada di rumah Lucy, nyonya, aku juga bingung bagaimana menjemputnya. Dia pasti sudah berbicara berlebihan pada Lucy sehingga dia akan mengusirku dan tidak boleh menemui Lexa." kata Leon melemah dan pasrah.
"Sudah ikut saja!" Dion meyakinkan.
"Jam kerja ku sudah berakhir Tuan. Biar lah aku menghibur diri dulu." pinta Leon yang beranggapan pasti tuannya mu membahas soal proyek atau saham. Leon sedang tidak berselera dan memberanikan diri untuk menolak.
"Ikut atau ku pecat?" akhirnya Dion mengeluarkan ancaman itu.
Leon menghela napas dan berdiri.
"Biarkan mobilmu di sini saja, besok kau ambil, sekarang kau ikut dengan mobilku saja dulu!" kata Dion.
Leon mengangguk berjalan di depan Viena dan Dion. Leon memperhatikan pasangan bos nya. Andai saja dia memiliki anak, pasti akan mesra seperti ini. Rasanya sulit sekali meminta maaf dari Lexa.
"Berikan kuncimu Tuan, biar aku yang mengemudi!" pinta Leon tetapi Dion menolak.
"Aku saja. Kau diam saja duduk di belakang!" kata Dion.
Leon mengalah dan tidak mau memaksa. Dia sudah sangat frustasi. Dia terus memikirkan Lexa. Di mobil dia hanya terdiam. Dia pun tidak menanggapi Viena dan Dion yang bercengkrama atau sesekali saling menebar gurauan.
Sekitar tiga puluh menit mereka tiba di apartemen Dion dan Viena. Ketika Viena membuka pintu, Leon masih bersandar di dinding samping pintu apartemen. Viena sudah masuk dan melihat Lexa sedang bermain dengan Dior. Lexa mengajari Dior memegang crayon untuk di Corat coret di sebuah lembaran putih. Dior tampak senang melihat warna warni di atas kertas putih itu.
"Leon, ayo masuk!" Kata Dion pelan, Leon segera memasuki kemar apartemen tuan nya itu dan sangat sangat terkejut. Di sana dia melihat Lexa juga tampak bergembira menyaksikan kebisaan Dior yang kini sudah bisa duduk dengan baik.
"Dekati istrimu dan bantu aku menjaga Dior sebentar. Aku dan Viena ada urusan dengan Nyonya besar mu mengenai cluster kecil yang sedang kurancang. Nyonya besar mu mau memberikan lahannya untuk kami. Bisa kan?" Kata Dion dan Leon hanya mengangguk tersenyum. Sama seperti ketika ia bangun tadi di lobby kantor Lexa, kali ini Leon merasakan embun pagi yang menyegarkan pikirannya. Pikiran yang hanya berisi bayang bayang kelabu dengan wajah Lexa yang samar samar. Apa kali ini tindakannya sangat salah. Namun kesempat sekarang tidak boleh melakukan kelalaian lagi. Dia harus ikut berusaha bersama istrinya itu.
"Lexa, aku dan Dion harus kembali pergi!" Ijin Viena dan Lexa barulah menyadari kalau Leon ikut bersama mereka. Lexa mengira akan pulang ke apartemen mereka. Lexa lalu berdiri menatap suaminya di sana juga berdiri dan tersenyum kecil.
"Sudah sana! Aku pergi dulu, ayo Viena!" Kata Dion dan mengajak istrinya. Viena pun bergi bersama Dion setelah mengecu kening Dior.
Pintu di tutup. Lexa hanya bersama Leon dan Dior. Mereka saling bertatapan dan Lexa tersadar kalau dirinya masih kesal dengan Leon. Dia langsung kembali duduk di depan Dior yang masih sibuk mencorat coret. Leon pun bergabung bersama mereka namun mimik Lexa tidak tampak berseri seperti sebelum mengetahui datangnya Leon.
"Dior, lihat, apa yang ku buat untuk mu!" Kata Leon dan dia mulai menggambar sebuah mobil. Dior memperhatikannya. Namun karna Dior penasaran, Dior malah mencoret mobil tersebut.
"Yah Dior? Mengapa kau mencoretnya?" dengus Leon. Lexa memperhatikan wajah menggemaskan suaminya. tetapi dia harus bersabar.
Dior malah tertawa melihat Leon yang sedikit cemberut.
"Baiklah, aku akan menggambarnya lagi!" tiba tiba Leon kembali sumringah dan semangat menggambar lagi.
Namun Dior kembali mencoretnya.
"Ada apa dengan gambarku Dior?!" dengus Leon kini menampilkan wajah tidak enak pada Dior. Dior malah kembali tertawa karna dia merasa Leon sedang membuat wajah lucu.
"Gambar jelek seperti itu pasti di coret oleh Dior." Celetuk Lexa tiba tiba. Leon melirik ke atas istrinya. Dia tersenyum kecil.
"Baiklah Dior, kalau jelek, aku akan menggambarkan yang lain. Apa mom mu pernah memberikan kau makan ikan? Lihatlah, aku menggambar ikan besar untukmu. Ikan ini beeessaaarr sekali. Kau suka tidak?" Kata Leon dengan nada suara yang cukup menghibur sehingga membuat Dior kembali tertawa menampilkan giginya yang baru saja menumbuh dua. Tak lama Dior bertepuk senang atas gambar Leon yang besar itu. Namun setelahnya Dior malah mengambil crayon lagi dan di coretkan ke wajah Leon. Lexa terkekeh sambil menutup mulutnya. Leon mendongakan kepalanya dan tersenyum pada Lexa. Dia lalu kembali mengubah posisinya menjadi duduk bersila di antara Dior dan Lexa. Dior lalu kembali mencoret coret buku gambar itu. Leon lalu mendekati Lexa perlahan. Dia memberanikan diri mendekati bibirnya ke samping Lexa.
"Lexa, kau masih ingin menerima benihku kan? Aku janji aku akan membuat seperti Dior, kau masih mau kan?" Bisik Leon membuat Lexa membuka matanya dan menatap suaminya. hatinya berdesir dan jantungnya berdebar tak beraturan. Leon sedang tersenyum menggoda dan luluh lah hati sekeras baja jika sedang marah itu.
"Leon, kau jahat sekali!" Pecahlah tangis Lexa. Leon lalu memeluknya.
"Sudah sudah. Aku minta maaf sayang. Aku tidak akan seperti ini lagi. Aku akan terus memasukannya ke tubuhmu tidak akan ada lagi penundaan atau pembuangan di luar. Aku berjanji! Kalau perlu kita program hamil, bagaimana?" Kata Leon di puncak kepala Lexa sambil mengusap punggung Lexa. Lexa mengangguk angguk menanggapi perkataan Leon. Lexa berharap Leon benar benar meluruskan apa yang menjadi perkataannya.
Lexa pun mengajak Leon untuk makan malam bersama Dior. Lexa juga sudah membuatkan jus alpukat kental untuk Dior. Dia juga menambahkan bubuk coklat di dalamnya. Leon pun memakan masakan sederhana Lexa. Lexa hanya memasak sayatan dada ayam menggunakan kecap dan saus teriyaki. Hanya itu yang ada di kulkas Viena. Leon pun sambil memperhatikan istrinya yang sangat cekatan memberi makan Dior.
"Tadi, aku juga menyuapi Dior, Lexa." kata Leon berbangga diri dan supaya Lexa tahu kalau dirinya sudah serius.
"Ah, kau serius?" Lexa sedikit melirik Leon.
"Benar! Tadi Tuan Dion membawa Dior ke kantor. Masa kau tidak tahu. Bukannya Nyonya Viena pergi sendiri bersamamu?" kata Leon
"Oh iya, aku pikir dia menitipkannya ke Nyonya Besar Prime." saut Lexa masih fokus dengan Dior.
"Tidak. Dia juga ingin bertanggung jawab atas Dior jadi aku yang menyuapi dan meniduri Dior. Jadi sebenarnya aku yang bertanggung jawab bukan dia! Hem, atasan yang menyebalkan! Dia akan tetap baik di mata istrinya padahal bawahannya yang menjaganya." dengus Leon tanpa mengalihkan dengan makanannya.
"Jadi kau keberatan? Dia yang menggaji kita." Lexa memperingati.
"Tidak, aku tidak keberatan, Dior anak yang baik. Dia jarang menangis. Kurasa Tuan Dion terlalu berlebihan mengatakan Dior sering menangis. Sekarang saja dia tenang sekali bersamamu." kata Leon tersenyum lalu mencupit pelan pipi tembam Dior.
Lexa mengangguk tersenyum . Dia kembali menyuapi Dior dengan senang hati.
"Leon, berapa banyak kau meminum Wine?" tanya Lexa sedikit takut takut. entah mengapa dia takut kalau Leon menjadi sensitif.
"satu gelas saja tidak habis. aku ingat pesanmu sayang untuk menjaga kualitas nya. kau tenang saja. aku kesana hanya ingin menenangkan diri sesaat. aku masih nekat ingin ke rumah Lucy. untung saja Tuan Dion dan Nyonya Viena datang tepat waktu, hehe." jawab Leon tersenyum lebar. dia sangat senang akhirnya Lexa menerimanya.
"terimakasih sayang. aku harap kau tidak seperti kemarin lagi." ucap Lexa tersenyum.
Leon mengangguk tersenyum sambil mengusap puncak kepala istrinya.
"Baiklah, Dior, sudah habis, good boy! Padahal ketika Nyonya Viena dan Tuan Dion menjemputmu aku sudah memberinya makan, tapi dia menghabiskan lagi alpukat ini." kata Lexa memuji Dior. Dior tampak diam saja sambil terus memainkan teether pesawatnya.
__ADS_1
"Karna semua yang kau sentuh akan terasa enak sayang." puji Leon mencolek dagu Lexa.
Lexa tersipu menatap suaminya.
"Sudah jam sepuluh malam Lexa, kau tidak meniduri Dior?" Leon mengingatkan.
"Dia baru saja bangun pukul 7 tadi bersama dad nya. Mungkin membaca cerita bisa membuatnya kembali mengantuk?" kata Lexa mencari cara agar Dior kembali tertidur.
"Kau sudah mengerti sekali ya?" Leon menopang dagunya di atas meja makan dengan satu tangannya. dia menatap kagum istrinya.
"Aku hanya sering melihat social media Solane, Lucy dan tentu saja Nyonya Viena. Mereka sering melakukan ini." kata Lexa membersihkan sisa sisa tetesan alpukat yang berceceran.
"Lakukanlah, aku ingin melihatmu membacakan Dior cerita. Mungkin aku juga bisa ikut tertidur." saut Leon.
"Hem, kau ini sudah mulai muncul hawa kekanak kanakannya."
"Tapi kau suka kan?"
Lexa hanya tersenyum kecut. Dia lalu menggendong Dior, namun Lexa merasa ada yang aneh dengan Dior. Dior menggaruk garuk lehernya dan suhu tubuhnya agak menghangat.
"Dior, kau kenapa?" Pertanyaan reflek Lexa yang pasti tidak akan di jawab oleh Dior. Leon juga berdiri mendekati Dior dan Lexa. Dia juga memperhatikan Dior. Leon pun menyipitkan matanya karna melihat sesuatu yang aneh muncul di sekitar leher Dior. Karna kulit tubuh Dior sangat putih, sangat terlihat jelas oleh mata lancip Leon yang langsung menajam.
"Mengapa dia merah merah seperti ini Lexa? Sepertinya tadi tidak ada." selidik Leon.
"Iya, bagaimana ini Leon?" Lexa mulai cemas.
"Cepat hubungi Nyonya Viena dan Tuan Dion, sini biar Dior ku gendong!" Kata Leon dan mengambil alih Dior. Lexa dengan panik langsung menuju tas nya yang ada di sofa. Dia merogoh tas nya untuk meraih ponselnya. Lexa menghubungi nyonya nya. Namun Viena tidak mengangkatnya.
"Nyonya Viena tidak mengangkat Leon!" kata Lexa semakin panik.
"Tuan Dion, cepat hubungi dia!"
"Oh iya sebentar!"
Lexa kembali menekan nekan ponselnya untuk menghubungi Dion namun sama saja seperti istrinya. Mereka berdua tidak mengangkat panggilan Lexa. Tak lama Dior menangis karna merasa tidak nyaman dengan leher dan sekarang menjalar ke dadanya.
"Sstt sstt jangan menangis Dior, tenang ya?" Leon berusaha menenangkan Dior dengan mengelus elus punggung Dior.
"Bagaimana ini Leon? Dia terus menggaruk lehernya." Lexa tak kuasa dengan semua ini. dia hendak menangis.
"Bawa ke rumah sakit saja, ayo cepat!!! Sabar Dior sayang, kau akan membaik!" Kata Leon juga panik namun dia berusaha menguasai diri karna Lexa juga ikutan panik dan sudah meneteskan air matanya.
"Kau tenang Lexa, Dior pasti baik baik saja." Leon terus menenangkan istrinya juga.
"Bagaimana kalau dia begini karna kesalahan yang tidak ku ketahui Leon?!" Lexa mengusap air matanya.
"Sebelumnya Dior pernah seperti ini?"
"Tidak pernah!" Kata Lexa dan menutup pintu kamar apartemen setelah keluar. Pintu itu akan otomatis terkunci jika tertutup dari Luar. Lexa sudah mengenakan Dior baju hangat dan celana panjang juga kaos kaki dan topi. Lexa kini kembali mengambil alih gendongan Dior. Dia mendekap nya dengan dangat Erat. Leon dan Lexa berjalan menuju ke pintu gerbang utama Apartemen karna mobil Leon masih di bar Club Ben. Leon pun menghentikan taxi. Sepanjang perjalanan nyatanya Dior mengantuk namun masih terus menggaruk lehernya. Leon pun terus menghubungi atasannya. Mereka berdua dalam masalah.
...
...
...
...
...
Nah lho Lexa, lu apain anak orang? 😁😁
.
Next part 48
Apa yang terjadi pada Dior?
Apa ada yang tahu?
Aku sering ngalamin ini 😂😂
Belajar jadi mom and dad yang siaga ya Lexa Leon biar ga galau galau lagi 😁😁
nanti mami Lexa dan papi Leon co cwett 😍😍
Viena Dion kemana sihh?? hadeehh 😅😅
.
jangan lupa kasih LIKE dan KOMEN nya juga RATE dan VOTE nya .. tiap akhir bagian akan diundi lagi siapa pengirim Vote terbanyak yaa hehe
.
so thanks for read and i love you ..♥️
.
baca juga yukkss novel baper lainnya :
💌 Love & Hurt (Kisah cinta dan kehidupan Alvern dan Alice)
💌 Deja Vu : Jasmie & Chest (Kisah cinta dan nasib Jasmie dan Chest)
💌 Tak Dianggap (Kisah anak Broken Home dan ketidak Adilan seorang Agischa)
💌 Tetaplah Bersamaku
💌 Love in Friendship (Pengorbanan cinta dan sahabat antara Stella dan Albert)
💌 Hot Daddy (kehidupan tiga pria tampan)
💌 Mantan Terindah (Mantan Terindah Seri 1, kisah cinta Viena & Dion, beserta anak anaknya)
__ADS_1
💌 Satu-satunya yang Kuinginkan (Mantan Terindah Seri 3, kisah cinta Egnor dan Claudia)