
Leon merangkul Lexa memasuki rumahnya. Sebelum sampai ke ruang makan, Lexa lebih dulu ke kamarnya untuk menaruh flower crown itu. Dia ingin pura pura tidak tahu kalau flower crown itu sudah dibuang. Dan, lagipula Jane tadi tahu kalau anak keduanya menerima pemberian Lexa. Lexa tidak mau seperti perusak suasana keluarga. Dia akan mencari waktu untuk bisa berbicara pada Angel secara pribadi.
Seketika dalam permasalahan seperti ini, Lexa mengingat nyonya nya. Dia lalu merogoh tas kecilnya. Sejak semalam dia tidak melihat ponselnya. Dia mengambil ponselnya dan melihat ternyata tidak memiliki signal. Dia mencoba mematikan dan menyalakan kembali ponselnya namun juga tetap tidak ada signal. Dia ingin meminjam ponsel Leon, tapi Leon sudah berada di meja makan. Akhirnya dia akan mencobanya lagi nanti. Dia mengisi energi ponselnya terlebih dahulu. Akhirnya Lexa menuju ke ruang makan.
Di sana sudah ada Leon, Jane, Juan, Larry dan Angel pastinya. Lexa tersenyum melihat kehangatan keluarga ini. Dia lalu mendekati kursi kosong di samping Leon. Angel menatapnya sinis.
"Aku lupa ada tayangan konser boyband kesukaanku mom, aku akan makan di kamar!" Kata Angel ketika melihat Lexa datang. Lexa sungguh terkejut karna Angel langsung pergi ketika dirinya datang. Wajah Lexa berubah menjadi muram ketika tadi dia terus tersenyum.
Leon merasakan kekecewaan Lexa.
"Angel!" Panggil Leon sebelum Angel meninggalkan kursi makannya. Angel menoleh ke arah kakanya.
"Aku mau makan siang bersama keluargaku, duduklah! Kau ini tidak rindu denganku ya?!" Kata Leon akhirnya dengan sangat tajam. Dia menatap adiknya dengan mata lancip khas sehingga Angel bergidik melihat tatapan kakaknya yang mematikan itu.
"Iya Angel! Duduklah! Kau ini apa apaan? Tidak sopan!" Tambah Larry yang merasa tidak enak dengan Lexa yang sudah menundukan kepalanya.
"Haiz! Baiklah! Sudah cepat kau makan, jangan kebanyakan drama!" Sungut Angel dan kembali duduk di meja makan.
Namun, nampaknya Leon sudah sangat kesal dengan kelakuan adiknya, terlebih kata kata yang dikeluarkan adik perempuannya itu.
Brak! Leon menggebrak meja.
"Siapa yang mengajarimu seperti ini Angel?! Aku menyekolahimu untuk membuat attitude mu baik, bukan seperti ini! Kuperingatkan ya?! Kalau kau tidak bisa menghargai aku maupun Lexa, kau lebih baik keluar dari sini!" Bentak Leon.
"Leon!" Lexa lalu meneriaki Leon pelan.
"Tidak Angel, kau jangan salah paham! Kakakmu sedang lapar, kau jangan mengambil hati ya?" Kata Lexa menenangkan suasana yang sudah menegang. Larry dan Jane diam saja karna Angel memang sudah keterlaluan. Sementara Juan asik makan karna dia sudah terbiasa mendengar ayah ibunya suka memarahi Angel.
"Diam kau! Semua gara garamu!" Bantah Angel menghentikan pembelaan Lexa terhadapnya. Angel lalu berdiri dan menuju kamarnya.
Lexa juga berdiri dan sepertinya ini saatnya dia berbicara dengan Angel, namun Leon menahannya.
"Biarkan saja dia! Kukatakan padamu Lexa, jangan pernah kau dekati dan kau bicara pada adikku itu! Kau tidak pantas dekat dengannya! Dia seperti bukan adikku!" Decak Leon menyuruh Lexa duduk. Lexa bergidik mendengar ucapan Leon. Dia terdiam karna agak ngeri dengan Leon yang sangat jarang marah seperti ini.
"Mom, kau salah memberikan nama Angel padanya!" Tambah Leon dengan wajah yang penuh amarah dan kecewa.
...
Malam hari, Leon tidak bergeming di kamarnya. Dia di dalam kamar yang membuat Lexa menemaninya. Lexa tidak berani menanyainya. Leon terus merebahkan dirinya dan berbalik ke arah dinding. Sampai ponselnya berbunyi. Leon melirik Lexa dengan maksud Lexa mencari ponselnya yang entah diletakan dimana.
"Di mana ponselmu?" Tanya Lexa mencari cari di meja kerja Leon yang ada di kamarnya.
"Di saku ku!" Jawab Leon yang benar benar lupa kalau ponselnya ada di saku celananya karna tidak bergetar.
"Heng, musang busuk! Seharian mendiamiku jadi agak membusuk otaknya!" Decak Lexa yang kesal karna Leon menyuruh mencarinya.
"Diam kau! Ini Tuan Dion!" Kata Leon dan menegakan tubuhnya untuk duduk.
Percakapan telepon Leon-Dion
Leon : malam bos!
Dion : ada apa dengan suaramu?
Leon : biasa, Angel berbuat ulah pada Lexa
Dion : perlu diriku dan Viena turun tangan
__ADS_1
Leon : tidak Tuan karna nyatanya kelinciku ingin menghadapinya
Dion : waw sungguh kelinci liar seperti majikannya
Leon : kau jangan terlalu liar Tuan! Nyonya sedang mengandung kan?
Dion : lalu aku harus bagaimana Leon? Viena tambah membuatku ingin bermain terus!
Leon : tidak waras! Mengapa aku mempunyai bos mesum sepertimu!
Dion : oh come on Leon! Hanya bersama wanita bernama Viena Gloria Jovanca
Leon : ya ya aku mengerti, jadi bagaimana kandungan nyonya viena Tuan?
Kemarin sewaktu di bus, Dion sudah memberitahu kalau Viena tengah mengandung.
"Leon, aku ingin bicara pada Nyonya ku!" Bisik Lexa ingin bicara pada majikannya.
Dion : baik Leon, dia selalu kujaga dengan baik. Kau bagaimana?
Leon : Lexa ingin bicara pada istrimu Tuan
Dion : dia sedang membersihkan dirinya Leon. Nanti saja. Baiklah aku hanya memastikan kalian baik baik saja karna Viena juga khawatir dengan Lexa. Kami susah menghubungi kalian
Leon : iya Tuan signal tidak memadahi
Dion : baiklah, jaga diri kalian
Leon : iya Tuan selamat malam
"Mengapa tidak memberikan padaku Leon?" Lex memukul lengan Leon karna langsung mematikan panggilan.
"Ah Leon aku sangat merindukan suaranya." Lexa menundukan kepalanya. Leon menoleh ke arah Lexa dan duduk di sampingnya.
"Lexa, jangan bersedih. Sudah kukatakan, Angel tidak penting! Dia saja masih makan dan minum di bawah kakiku. Kau jangan lagi membuat dirimu bersedih karnanya. Karna aku pun tak suka jika ada orang yang membenci malaikat tak bersayap sepertimu, Lexa sayang.." kata Leon lembut dan mencoba membuat wanitanya mengerti.
Seketika hati Lexa bergetir mendengar pernyataan Leon. Leon memang selalu membuat hatinya luluh dengan kata kata rayuannya yang cukup romantis.
"Leon, kau ini sebenarnya menganggap ku apa hah? Kau terus membuatku semakin menyukaimu namun -- "
"Ssttt, jangan lanjutkan, aku tahu apa yang harus kulakukan padamu. Kemarilah!" Leon menutup mulut Lexa dengan telunjuknya dan menarik Lexa dalam pelukannya.
"Janjiku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan membuatmu bahagia nantinya, tenanglah." Ucap Leon lagi membuat Lexa juga memeluk pria yang sangat ia cintai itu.
...
Keesokannya, dari pagi sampai siang begini Angel benar benar mengurung dirinya di kamar. Dia tidak mengambil makan atau minum karna di kamarnya dia suka menyimpan makanan dan minuman instant. Jane dan Larry sudah merasa terbiasa dengan sifat Angel yang selalu ngambek tidak jelas. Jane juga tahu kalau Angel menyediakan makanan di kamar jadi ibu tua itu tidak cemas. Semakin Jane dan Larry merayunya keluar, semakin Angel senang di kamar. Sementara Lexa yang tidak mengetahuinya terus mencemaskan Angel.
"Mom, Angel tak apa?" Tanya Lexa mendekati Jane.
"Tidak apa apa, memang kenapa dia?" Saut Jane biasa saja.
"Dia belum sarapan atau makan siang!" Lexa mengingatkan.
"Biarkan saja! Sifatnya tidak pernah berubah!" Decak Jane sudah sangat kecewa dengan Angel yang sangat kekanak kanakan. Jane pun sudah memperingati Angel kalau dirinya juga tidak setuju kakaknya dengan Solane.
"Lexaaaaa.... Berapa kali sudah kuperingatkan?" Leon yang mendengar kekhawatiran Lexa pada Angel menjadi ikut geram dan lagi lagi mengingatkan perkataannya semalam. Leon sedang bermain mobil mobilan bersama Juan.
__ADS_1
"Benar Lexa, kau tenang saja. Lebih baik kau membantu mom Jane membuat kimchi. Kau suka tidak?" Saut Larry yang sedang menikmati kopi dan beranjak menepuk bahu Lexa yang berdiri di samping Jane. Jane sedang mengiris iris sawi putih.
"Iya Lexa, kemari sayang, biar kutunjukan cara membuatnya!" Sambung Jane. Lexa akhirnya mengikuti perkataan calon mertua pria nya.
Sementara itu Larry mengajak Leon melihat perkebunan sayur mayurnya dan ladang pertanian padinya. Larry mempunyai rencana ingin membuat argo bisnis dengan apa yang dimilikinya, jadi dia perlu meminta pendapat pada si empunya modal. Leon menyetujuinya. Dia lalu ijin dengan Lexa, Jane dan Juan yang masih bermain mobil mobilan. Lexa kembali membantu Jane sekalian dia mencuri ilmu memasak ibu dari Leon itu.
Setelah semua bumbu dibuat untuk menyirap irisan sawi putih itu, Jane meng-fermentasikanbya agar bumbu meresap lebih dalam. Sekitar pukul tiga sore mereka menyelesaikan kimchi mereka.
"Mom, aku akan ke rumah kaca." Tiba tiba Angel turun dari kamarnya dan meminta ijin pada ibunya.
"Ya, hati hati, bawa makan siang ini, kau belum makan kan?" Saut Jane membersikan meja dapur.
"Tidak usah! Nanti malam saja aku makan!" Jawab Angel berbalik hendak pergi.
"Eng, Angel, aku ingin melihat rumah kacamu, bisakah aku ikut?" Tiba tiba Lexa dengan semua keberaniannya dan niat hatinya ingin membuat Angel menyukainya, dia meminta ikut bersama Angel. Angel cukup terkejut dengan Lexa yang tidak marah karna prilakunya selama ini.
Jane juga terkejut dengan keteguhan hati Lexa. Angel lalu memutar bola matanya malas.
"Menyusahkan! Tidak boleh! Mom, aku pergi!" Angel menolaknya namun Lexa tidak menyerah. Dia lalu menghampiri Angel yang sudah menjauh dari ruang makan. Lexa menghampiri Angel tanpa diketahui Jane karna Jane sudah mengira dengan jawaban Angel. Jane sudah ke pekarangan belakang mengurusi jemuran pakaiannya. Ketika Jane kembali, Lexa sudah tidak ada dan dia mengira Lexa memuji kamarnya.
"Angel, aku mohon, biarkan aku ikut denganmu. Aku berjanji aku tidak akan menyusahkanmu!" Lexa akhirnya dapat menyusul Angel dan menyentuh lengan Angel.
"Don't touch me!" Angel terdiam memperingatkan Lexa.
"Sorry! Aku ikut ya?" Lexa menjauhkan tangannya pada diri Angel.
Angel tidak menanggapi Lexa dan kembali berjalan menjauh dari rumahnya. Lexa terus saja mengikutinya.
"Pokoknya aku akan mengikutimu Angel. Kau tidak tahu kan kalau aku juga menyukai bunga? Aku menanam bunga mawar merah di depan pekarangan flatku. Aku juga merawat bunga dandelion ku di jendela dapur belakangku." Kata Lexa terus memberitahu Angel dan mengikutinya.
Angel agak geram karna Lexa bersih keras mengikutinya, namun dia agak terenyuh ketika Lexa mengatakan bunga kesukaannya, dandelion. Angel akhirnya mengabaikan Lexa yang terus mengikutinya dan mulutnya malah menyeringai.
"Heng, biarkan saja dia mengikutiku, akan kukerjai dia sekali agar dia tahu, dia berhadapan dengan siapa?! Keras kepala! Lagipula, malam ini aku ingin makan malam tanpa melihat wajahnya!" Gumam Angel sangat pelan merencanakan sebuah kejahatan pada Lexa. Dia benar benar membiarkan Lexa mengikutinya.
Sementara Lexa yang merasa sikapnya akan membuat Leon marah, malah juga berjaga jaga terhadap dirinya. Dia sudah meraih satu bunga sepatu yang ditanam Angel di depan rumahnya. Lexa memetiknya dengan cepat sekitar dua sampai tiga kuntum. Dia lalu merobek setiap kelopak bungannya dan menyebarkannya satu per satu ke tanah agar kalau kalau Angel meninggalkannya, dia dapat mengetahui jalan pulang. Dia sudah membawa ponselnya yang berada di sakunya sejak pagi tadi.
"Hanya berjaga jaga, oh God, mom, lindungi aku!" Gumam Lexa pelan sambil terus mengikuti Angel dan terus berceloteh tentang bunga di belakang Angel.
...
No comment kita nantikan saja selanjutnya ya 😂😂
Komenin musang ngambek aja nohhh sampe ga tau hape nya dimana haha 😂😂
.
Next part 62
Angel, matekoooo!!!
Kzell juga wakakak 😂😂
.
Jangan lupa LIKE dan KOMEN yaaa siiiisssscinn
Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil novel
__ADS_1
.
Oke selamat membaca n i love you in the mowning and in the afternoon hihii 💕🎄