
Keadaan paling sulit yang tidak bisa diterima adalah rasa serba salah dan hal yang membingungkan. ketika dihadapkan pada hal yang tidak bisa ditolerir lebih dulu maka Hanya kebingungan dan hati tak menentu yang dirasakan. apa yang sedang dialami Xelino dan Carolyn? dan bagaimana mereka meyelesaikannya?
...
"Carolyn, kita pulang sekarang?" ajak Xelino kemudian setelah puas memandang wajah wanita itu.
"Oh iya, Xelino!"
"Kau kenapa tertegun begitu?" selidik Xelino
"Tidak apa, entah mengapa aku merasa aku, kau dan Nyonya Janson memiliki kedekatan dan sepertinya Kalian mirip?" gumam Carolyn memperhatikan wajah Xelino.
"Wah, suatu kebanggaan bagiku menjadi anaknya. Tadi, kenapa aku tidak meminta juga kartu namanya ya?" saut Xelino berdalih dan terus seperti ini.
"Jadi ibumu tidak baik?" dengus Carolyn tak suka.
"Haha, ibu kita tetap paling baik, sudah kau jangan marah terus, ayo pulang!"
Xelino pun merangkul Carolyn menuju mobil. Xelino mengantar Carolyn hanya sampai depan rumah karena sudah malam. Xelino tidak enak dengan Gilbert dan Jennifer. Carolyn sangat mengerti dan memasuki rumah. Dia agak terkejut ketika melihat di sana ayah, ibu dan kakaknya juga Rietha berkumpul di ruang tengah.
"Selamat malam, ada apa ini? Mengapa kalian berkumpul seperti ini?" selidik Carolyn memberi salam.
"Hay nak, duduklah, ada yang harus kami bicarakan. Sejak tadi, kami menunggumu," kata Rietha mengajak Carolyn duduk bergabung bersama mereka . Tampak wajah ibunya cemberut menunduk sedang Gilbert agak menegaskan wajahnya sementara Casey penuh senyuman.
"Ada apa ini?" tanya Carolyn lagi.
"Carolyn, Daddy ingin bertanya satu hal padamu!" kata Gilbert tegas.
"Apa dad?" Carolyn sudah duduk di sofa single di samping sofa panjang yang diduduki ayah dan ibunya.
"Kau menyukai Xelino?" tanya Gilbert memasang wajah menegang membuat Carolyn jadi takut dan salah tingkah.
Deg!
Apa apaan ini?! Mengapa tiba tiba ayahnya menanyakan ini? Apa karena ada yang melihat dirinya bersama Xelino sore tadi dengan cukup mesra karena Xelino menggendong dirinya.
"Apa? Apa maksudmu dad?" Carolyn bertanya kembali.
"Jawab saja, kau menyukai Xelino atau tidak?" tanya Gilbert lagi menegaskan.
"Tentu, tentu tidak, dia kan asistenku, mengapa?" Jawab Carolyn terbata dan terpaksa mengatakan ini karena dia saja belum tahu perasaan Xelino. Dan entah bagaimana dia menjelaskan pada ayahnya. Dia belum siap.
"Nah kan Jen, Carolyn tidak akan menyukai Xelino," saut Rietha.
"Kau yakin adikku? Tapi, mengapa kau tak senang melihatku dekat dengan dia?" tanya Casey memasang wajah ingin tahu.
"Ah itu, itu tadi dia berjanji padaku akan mengantarkan ku memilih bahan bahan maket. Tapi dia tidak datang datang," saut Carolyn sekenanya.
"Sudahlah, Carolyn memang cocok dengan Ansel," kata Rietha lagi membuat Carolyn terkejut.
"WHAT? ANSEL?!"
"Ya Ansel Gellarmo sayang. Hem, kami berencana akan menjodohkanmu dengan Ansel," ujar Rietha tampat santai.
"Really? Dad, are you seriously?!" pekik Carolyn beranjak dari duduknya.
Gilbert hanya mengangguk sedikit bingung. Sebenarnya dia berharap Carolyn menjawab jujur dan benar menyukai Xelino. Dia jadi agak merasa bersalah dengan pegawai kesayangannya itu. Di satu sisi dia juga tidak mau memaksakan Carolyn. Mungkin Carolyn masih melihat jabatannya. Gilbert jadi bingung dengan situasi ini.
"Kenapa? Kenapa aku harus bertunangan dengan Ansel?" tanya Carolyn lagi tidak mengerti dengan kondisi ini.
"Karena perusahaannya sudah membantu perusahaanku, juga mengembangkan perusahaan bibi Rietha kan? Sudah berapa pembangunan yang ia minta pada Venta Property? Jangan lupa, Venta Property juga milik Delins Group kan?" Casey yang menjawab.
"Aku tahu Casey, oleh sebab itu aku mau menjodohkan Ansel dengan Carolyn, kau tidak usah menyindirku! Aku pun sudah berjasa atas Delins Group!" saut Rietha merasa tersindir oleh Casey.
"Aku hanya mengingatkan!"
"Kau juga harus ingat posisimu!"
"Aku sangat tahu, jadi aku harus mempertahankan perusahaan daddyku!"
"Sudah diam! Mengapa kalian jadi bertengkar! Jadi Carolyn, kau setuju kan? Ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Dia jug# sudah mengatakan padaku kalau bukan hanya perusahaan Ansel ingin bertunangan denganmu, tapi juga dia menyukaimu!" kata Gilbert serius.
"Tapi dad aku ..."
"Aku apa? Kau mau memikirkannya dulu?" tanya Gilbert.
Carolyn mengangguk.
"Pikirkan saja nak, jangan terlalu kau pusingkan! Kalau kau tidak mau juga tidak jadi masalah!" Saut Jennifer yang memang tidak menyetujui pertunangan ini.
__ADS_1
Carolyn pun menuju ke kamarnya. Baru saja dia bersenang senang dengan Xelino, tapi mengapa jadi gundah gulana begini? Dia memasuki kamarnya dan membuka ipadnya. Dia melihat foto dirinya bersama Xelino. Dia sangat bingung. Dia serba salah dan dia sangat tahu posisinya. Dia tidak mungkin mempermalukan ayahnya tapi dia juga tidak mungkin menyatakan perasaannya lebih dulu. Hati Carolyn jadi tak menentu dan akhirnya dia tertidur.
Keesokan paginya Carolyn merasa suasananya menjadi sangat Tegang dan diam. Ayah dan ibunya tidak menyapanya. Hanya Casey yang terus tersenyum padanya.
"Mom, dad, you okey?" tanya Carolyn memastikan.
"Hay nak, selamat pagi. Bagaimana tidurmu malam tadi?" Tanya Jennifer
"Tidak begitu baik mom. Dad, ada apa denganmu?" tanya Carolyn mencemaskan ayahnya.
Gilbert hanya menggeleng dan tersenyum tipis. Tak lama dia menyelesaikan sarapannya.
"Carolyn, hari ini kau bersama dengan Cole. Aku, Casey dan Xelino juga James harus ke Desa Selena lagi untuk pengawasan pemberian bibit unggul umbi umbian organik," kata Gilbert kemudian.
"Xelino bersama kalian?" tanya Carolyn memastikan.
"Tentu, jadi? Dan sorenya Ansel yang akan menjemputmu, tidak masalah kan?" kata Golbert memutuskan.
"Oh, iya dad!" Ujar Carolyn menunduk sedih.
Gilbert dan Casey pun berjalan keluar karena Xelino dan James sudah menjemput. Padah Carolyn ingin bicara pada Xelino pagi ini agar dia bisa bekerja dengan tenang. Namun, ayahnya sudah berkata demikian. Carolyn malah ikut keluar sekedar hanya melihat Xelino hari ini.
Xelino berdiri di depan sana bersama James. Dia siap menyambut Casey dan Gilbert. Setelah mempersilahkan semua majikan itu masuk, Xelino menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada Carolyn. Dalam hati mengatakan rindu lalu tersenyum. Carolyn juga tersenyum walau hatinya masih getir.
Hari ini ia lalui tanpa Xelino, dan bukan hanya hari ini, tetapi juga hari hari berikutnya. Seakan akan Gilbert sedang menjauhkan mereka. Carolyn dan Xelino hanya bisa saling mengirim pesan tapi tidak begitu sering karena Xelino sangat sibuk bolak balik Desa Selena dan perusahaan. Sesekali Carolyn sebal karena Casey menunjukan dirinya pada sebuah foto yang di unggah di sosial media nya selalu bersama Xelino atau James.
Setiap hari Ansel yang jadi mengantar jemput nya. Namun, perasaan Carolyn makin membesar pada Xelino. Xelino juga merindukan Carolyn tapi ternyata Xelino sedang meraih sebuah gelar atau penaikan jabatan. Satu bulan ini Xelino bekerja bersama Gilbert dan James juga Casey untuk menduduki sebuah jabatan Direktur Produksi. Gilbert sendiri yang membimbingnya. Gilbert melakukan ini karena dua kemungkinan. Yang pertama sebagai imbalan karena tidak bisa menjodohkan anaknya pada nya karena takut Carolyn benar menyukai Ansel. Dan yang kedua membuat Xelino menjadi tinggi dan cukup pantas untuk Carolyn.
Hari itu kembali Carolyn dihadapkan dengan pertanyaan itu. Carolyn kembali bingung tapi dia juga tidak bisa mengharapkan Xelino. Walau masih ada perasaan dan sering berkomunikasi tapi Xelino masih menutupi perasaannya.
"Kalau Carolyn diam diam begini berarti setuju. Sudahlah lebih baik kita langsungkan pertunangannya. Ansel juga sudah sangat baik padamu Carolyn!" kata Rietha begitu antusias dengan pertunangan ini.
"Benar Olyn! Aku sangat setuju kau bersama Ansel," saut Casey semakin yakin kalau rencananya akan berhasil.
"Bagaimana Carolyn? Kau setuju?" Tanya Gilbert memastikan.
Akhirnya Carolyn menyanggupinya. Bertepatan dengan itu, besoknya Xelino juga mendapatkan jabatan tersebut. Xelino sangat senang dan ingin memberitahu pada Carolyn.
"Nanti sore aku akan menjemputmu!" kata Xelino pada sambungan telepon.
"Kau sudah tidak sibuk?" selidik Carolyn di seberang sana.
"Kau saja sibuk begitu,"
"Haha, jangan marah, ada sesuatu yang hendak kubicarakan padamu!" kata Xelino membuat Carolyn penasaran.
"Apa?"
"Ya nanti, oke nanti aku akan menjemputmu, sekarang aku ingin menyelesaikan sebuah laporan oke?"
"Heeemm!!"
Panggilan dimatikan. Entah mengapa Carolyn merasa mungkin Xelino akan mengatakan perasaannya sehingga dia tidak ragu atau takut lagi. Carolyn jadi bersemangat.
Sore menjelang dan Carolyn tiba di bawah gedung tapi tetap menemukan Ansel yang sedang menunggunya di lobby.
"Carolyn? Kau sudah selesai? Kau tidak lupa kan kalau hari ini kita harus memilih gaun?" kata Ansel menyambut Carolyn.
"Oh iya, tapi apa tidak bisa malam nanti? Aku harus bertemu dengan Xelino, sebentar saja," jawab Carolyn seraya meminta ijin.
"Xelino? Memang dia masih menjadi asistenmu?" selidik Ansel mengernyitkan dahinya.
"Sedikit, aku membutuhkan tenaganya mengangkat beberapa papan yang kubutuhkan," saut Carolyn sekenanya.
"Aku juga bisa, biarkan aku yang membantumu," pinta Ansel.
"Jangan, nanti kau lelah, oke? Sudah dulu ya? Xelino sudah menunggu, sampai jumpa!" Saut Carolyn berjalan keluar gedung.
Ansel menarik napas dan tersenyum licik. Dia harus memberi waktu pada Carolyn dan Xelino untuk bersenang senang lebih dulu.
Carolyn pun menghampiri Xelino. Xelino menatap Carolyn dengan seksama. Sudah sekitar dua Minggu mereka tidak bertemu.
"Ada apa melihatku seperti itu?" tanya Carolyn yang sebanrnya dalam hati merasa senang.
"Aku merindukanmu! Selamat sore Nona Carolyn," sapa Xelino tersenyum.
"Hem, aku lupa kalau kau masih menjadi asistenku," gumam Carolyn menyindir.
"Haha, kalau kau membutuhkanku, aku tetap bisa menolongmu!" saut Xelino menggaruk belakang kepalanya.
__ADS_1
"Jadi, kita mau kemana?" tanya Carolyn.
"Ke taman seperti biasanya," jawab Xelino makin melebarkan senyumnya.
Carolyn mengangguk dan dia meminta untuk duduk di depan. Mereka menuju ke taman samping gereja.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Xelino?" Tanya Carolyn antusias.
"Kau pasti tidak akan percaya tapi memang inilah kenyataannya. Semoga daddymu belum memberi tahu," kata Xelino tersenyum sumringah.
'daddy? Jangan jangan Xelino mengatakan pada Daddy! Oh God aku tidak sabar!'
"Jadi apa?"
Xelino meraih sebuah kertas yang mana menyatakan kalau dirinya telah resmi menjadi Direktur Produksi. Dia yang akan mengepalai semua jalannya proses produksi dari perusahaan Gilbert. Xelino memberikan pada Carolyn.
Carolyn membacanya dan ternyata hal ini yang akan dikatakan Xelino. Carolyn menoleh dan menatap sendu pria itu.
"Kau tidak usah terharu begitu, aku tahu kau mau mengakui kehebatan ku kan?" ujar Xelino membanggakan diri.
"Jadi ini yang ingin kau beritahu padaku?" selidik Carolyn sudah bersedih dan sedikit kecewa.
"Iya, aku hebat kan!"
"Tidak ada yang lain?"
"Apalagi? Hanya ini yang ingin kuberi kejutan padamu!"
Seketika hati Carolyn tersayat karena masih mengharapkan Xelino. Mungkin Xelino memang tidak menyukainya dan akan terus seperti itu.
"Carolyn, mengapa kau sedih? Kau tidak senang?" tanya Xelino kemudian memegang punggung Carolyn.
Carolyn menggeleng dan meneteskan air matanya. Ketika Xelino ingin mendongakan kepalanya, dia menghapus air matanya.
"Kau kenapa?" Tanya Xelino memegang wajah Carolyn.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu!" kata Carolyn memberanikan diri.
"Apa?"
"Sebelumnya selamat kau sudah menjadi direktur, kau hebat Xelino aku akui, selamat!
"Tapi kau sedih begini, kenapa?" tanya Xelino makin penasaran.
"Aku, aku, aku akan bertunangan dengan Ansel!"
Seketika wajah Xelino menegang. Sebenarnya dia sudah mengetahuinya dari beberapa karyawan yang membicarakan Carolyn tapi dia tidak mau percaya. Xelino mencoba menguasai diri. Ada sesuatu yang harus ia perbuat dari laporan Allegra, paman Jerry nya dan ayahnya sendiri.
Xelino melepas tangan Carolyn.
"Kau akan bertunangan?"
Carolyn mengangguk.
"Oh baiklah, selamat! Kau memang cocok dengan Ansel!"
"Begini responmu padaku?"
"Lalu bagaimana? Kalian juga sangat dekat kan selama ini? Dia yang mengantar jemput mu kan? Tidak apa apa Carolyn. Dia seorang yang kaya dan pemilik perusahaan, pewaris tunggal. Kalian sangat cocok! Putri dari Delins Group dengan putra dari Gellarmo group. Selamat!!" Kata Xelino lagi.
Carolyn menjadi sangat kesal karena memang seperti ini keadaannya. Xelino tetap menganggapnya seorang tuan putri dan bukan wanita biasa. Carolyn tidak bisa menahan kesedihan dan kekecewaan ini. Dia pikir hari ini Xelino akan menyatakan perasaannya. Dia pikir dia akan mendapatkan kebahagiaannya, ternyata? Hanya khayalan.
Carolyn pun beranjak dan pergi meninggalkan Xelino sambil menangis. Dia sudah tidak tahu apa yang harus ia katakan. Semua sudah berakhir.
Sementara Xelino membiarkan wanita itu.
"Ternyata benar, mereka akan bertunangan. Carolyn, jika kau menyukaiku, kau akan memikirkannya lagi. Sedangkan kau Ansel, aku akan membiarkanmu di atas terlebih dahulu tapi Sedikitpun, kau tidak boleh ada di kehidupan Carolyn!" Decak Xelino pelan dan meraih ponselnya menghubungi seseorang.
"Kau sudah dapat semua buktinya? -- bagus -- besok aku akan ke apartemenmu!"
...
wohoho tunggu sbentar LG Ansel 😝
next part 44
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thank for read and i love you 💕
__ADS_1