
Mereka telah mendapatkan souvenir yang diinginkan Viena. Leon sudah memesan sejumlah yang diinginkan dan meminta pihak souvenir untuk mengantarnya besok ke Hotel Prime. Leon lalu berjalan menuju mobilnya dengan agak cepat. Lexa mengikutinya dengan berlari lari kecil. Namun, karna ia terus melihat ke depan hendak menyusul Leon, dia bahkan tidak melihat apapun yang ada di bawah jalan.
Ketika menuruni sebuah satu anak tangga kecil, Lexa gontai karna tidak melihat. Dia terjatuh dan tersungkur ke jalan aspal parkir kawasan toko souvenir itu.
"Aw! Mengapa aku tidak bisa melihatnya?!" Teriak Lexa membuat Leon menoleh. Leon melirik sesaat dan melihat Lexa di bawah sambil mengebas ngebaskan tangannya.
"Leon!!" Panggil Lexa. Lexa menyadari kalau sejak tadi Leon diam saja dan sepertinya masih marah karna masalah semalam.
"Leon, bantu aku bangun, aku terjatuh." Kata Lexa lagi mengangkat ke dua tangannya. Leon menarik napas dan mendekati Lexa.
"Kenapa bisa terjatuh?" Tanya Leon sudah berjongkok di depan Lexa.
"Kau jalan sangat cepat. Aku tidak bisa menyusulmu." Sungut Lexa.
"Apa yang sakit? Bisa berjalan tidak?" Tanya Leon menatap tajan Lexa.
"Hanya telapak tanganku lecet Leon." Lexa memperlihatkan telapak tangannya penuh dengan garis garis merah.
"Yasudah bangun kita masih harus ke tempat percetakan undangan."
"Emm, bisa kau menggendongku? Seperti semalam. Sepertinya agak pegal kakiku." Lexa berbohong, dia hanya ingin dekat dengan Leon karna sikapnya yang aneh hari ini.
"Begini Lexa yang ku sebal darimu. Kau merayuku, sementara jika aku merayumu, kau seperti apa, huh!" Decak Leon namun ia menjalankan apa yang diinginkan Lexa.
Leon menggendong dengan wajah yang masih tajam dan dingin. Lexa tersenyum puas mengalungkan tangannya ke leher Leon.
"Senyum Leon!" Pinta Lexa ketika Leon menggendongnya menuju ke mobil.
"Tidak!" Jawab Leon singkat.
"Ya sudah tidak apa apa. Kau terlihat lebih tampan jika diam saja seperti ini." Kata Lexa terkekeh.
Leon diam saja terus menatap ke depan menuju mobil dan menaruh Lexa ke bangku penumpang. Lexa tersenyum namun Leon mengabaikannya. Mereka lalu menuju ke tempat percetakan undangan. Dan lagi lagi Leon diam saja.
"Leon?" Panggil Lexa pelan. Leon diam terus fokus dengan kemudinya.
"Leoooonnnn!!!!!" Akhirnya Lexa teriak.
"Apa sih? Kok kau berisik sekali!" Akhirnya Leon berucap karna sedikit terkejut dengan teriakan Lexa.
"Aku minta maaf?" Tanya Lexa mencari wajah Leon agak ke depan. Dia benar benar bertanya bukan seperti memohon.
"Siapa yang minta maaf? Kau? Untuk apa? Tidak ada yang salah. Aku hanya sedang tidak ingin bicara. Kau diamlah!" Jawab Leon dan satu tangannya sudah memegang dagunya sambil menyetir.
"Itu bicara, hihi!" Lexa malah terkekeh menggoda Leon.
"Sudah diam! Nanti salah bicara lagi kau keluar dari mobil ini kan?! Akan semakin merepotkan!" Kata Leon acuh. Lexa semakin bingung. Dia akhirnya diam dan mereka saling mengacuhkan.
...
Keesokannya Leon tidak menjemput Lexa dan tidak menghubungi Lexa. Lexa jadi semakin bingung. Ya, memang awalnya dia yang mengerjai Leon, tapi Leon juga yang mengerjai dirinya sampai lupa diri kalau mereka sedang berada dimana. Lexa ingin menghubungi tapi takut kalau Leon tidak membalasnya. Membuat sakit hati saja pikirnya.
Lexa menuju kantornya untuk melapor pada nyonya nya kalau semua sudah hampir selesai. Souvenir, Undangan, lokasi pembekatan, resepsi dan semua yang diperlukan. Hanya satu yang belum diurus Lexa yaitu Viena membelikan semua anak buahnya yang terlibat gaun atau kemeja seragam untuk pemberkatan dan resepsinya nanti.
"Lexa, kau pergi ke garment yang di samping Hotel Prime ya? Tanyakan gaun dan kemeja seragam yang sudah kupesan. Tapi untuk mu dan Leon aku membuatnya agak berbeda. Kau cobalah bersama Leon hari ini dan ambil hari Jumat nanti. Oke?" Perintah Viena sambil melanjutkan laporan yang hendak ia setujui karna Viena kembali akan mengadakan cuti karna pernikahannya.
"Eng, iya, tapi Nyonya, eng..." Lexa hendak menjelaskan dirinya dengan Leon sedang bersih tegang.
"Ada apa?" Tanya Viena.
"Aku saja yang pergi sendiri. Untuk ukuran bajuku dan Leon nanti saja." Jawab Lexa sambil tersenyum masam.
"Ada apa kau dengan Leon?" Selidik Viena menghentikan membaca laporan.
"Tidak ada apa apa, hanya sedikit berselisih paham." Jawab Lexa masih tersenyum masam.
"Kau ini! Leon itu pria baik, kau jangan selalu membuatnya kesal. Kalau dia tidak baik, dia tidak akan mau dekat denganmu Lexa! Dia merelakan waktunya untuk selalu dekat denganmu. Kau tidak tahu kan pekerjaannya dengan Dion sangat sulit namun dia tetap menyempatkan diri menemuimu. Jangan seperti ini. Atau kau akan menyesal." Viena sedikit memberi pesan mengingat beberapa kali Dion menceritakan pekerjaan Leon yang cukup rumit.
Sesekali dia harus mengurus hotel, sesekali dia harus mengantar Jeremy, sesekali dia harus menjadi bayang bayang Dion dan tak ayal Leon sering menandatangani apa yang menjadi keputusan Dion. Leon sudah seperti kaki tangan bahkan tubuh Dion jika Dion sangat sangat berhalangan. Bahkan Leon seperti direktur yang sesungguhnya. Sungguh Leon menjadi asisten utama yang patut diacungkan jempol di kancah dunia bisnis di Legacy.
__ADS_1
Lexa menggaruk garuk pelipisnya. Dia menjadi merasa sangat bersalah karna sudah mengerjai Leon. Tapi, dia tidak mungkin mengatakan kalau Leon menjadi membabi buta menggerayangi tubuhnya pada Viena.
"Lexa? Sudah sana pergi, Jumat besok harus diambil! Ini kunci mobilku, kau pakai saja. Dion akan menjemputku!" Kata Viena menyadarkan lamunan Lexa.
Lexa meraih kunci mobil Viena dan pergi menuju garment yang terdapat di samping Hotel Prime. Garment gaun tersebut sangat rapi dan elegan. Lexa memasuki garment tersebut dan melihat beberapa gaun dan kemeja khusus bride maid and groom terpampang dengan sangat indah dengan warna warna pastel yang sungguh menyejukan mata.
"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pegawai menyapa Lexa.
"Ah iya, aku suruhan Nyonya Jovanca menanyakan pesanan gaun dan kemeja untuk seragam pernikahan. Apakah ada kendala? Aku hanya melakukan follow up." Kata Lexa yang masih takjub dengan garment yang seperti butik.
"Oh tunggu sebentar. Mari ikut Nona." Ajak sang pegawai ke sebuah ruangan kecil. Disana Lexa bertemu dengan manager dari garment tersebut.
Sang manager menjelaskan kalau semuanya sudah beres tapi hanya sepasang pakaian yang belum terlalu pasti mereka buat. Yaitu gaun Lexa dan satu set suit Leon.
"Gaun dan suit ini sudah ter-pattern Nona Lexa. Namun, saya agak kesulitan dengan ukuran yang sebenarnya. Bisakah aku mengukur anda sekarang?" Kata sang manager lalu melakukan pengukuran pada Lexa.
"Em, dan bagaimana untuk suit ini Nona? Apakah pasangan anda tidak bisa hadir sebentar?" Tanya sang manager.
"Dia tidak bisa dihubungi. Tapi sepertinya aku mengerti ukuran bajunya." Jawab Lexa yang mengingat beberapa kali dirinya melihat tubuh Leon, perawakan Leon, lengan Leon, pinggangnya. Seketika dia menjadi tersipu. Dia akhirnya merindukan Leon yang hari ini tak terlihat dan tak terdengar kabarnya.
"Nona, jadi seperti apa? Mengapa anda jadi terdiam dan wajah anda memerah?" Selidik sang manager membuat Lexa semakin malu.
"Ah iya, maafkan saya. Eng sepertinya untuk ukuran kemeja dibuat slim fit saja. Sepertinya dia mengenakn ukuran L. Pinggangnya agak sedikit kecil namun bagian dadanya bidang dan lengan lengan pundaknya juga terlihat atletis. Ya seperti pria yang sering berolah raga. Untuk jasnya di atas ukuran kemeja dan celana bahannya gunakan saja ukuran di antar M dan L. Bagaimana Nyonya Manager? Sudah cukup jelas?" Akhirnya Lexa menjelaskan postur tubuh Leon yang dia ingat.
"Waw, kau begitu mengetahuinya. Pasti dia adalah suamimu yang sangat kau cinta, karna kau mengetahuinya sangat detail." Puji sang manager membuat Lexa terbatuk mendengar kata suami.
"Eh Nona kau baik baik saja?" Tanya sang manager menyodorkan air putih.
"Ya, ya aku baik." Jawab Lexa. Sejatinya Lexa benar benar selalu merasakan tubuh Leon yang melingkupinya sesekali. Ketika Lexa juga senang melingkarkan tangannya di pinggang Leon. Apa dia terlalu salah menampar dan hampir saja meninggalkan Leon? Bahkan sebenarnya dirinya penyebab Leon menggerayangi tubuhnya.
Setelah semua tugasnya selesai di garment, Lexa jadi berpikir untuk mendatangi Leon. Toh, Hotelnya tepat di samping garment ini. Leon pasti senang melihatnya mendatanginya untuk makan siang.
Lexa masih ingat pertama kali dia bertemu dengan Leon. Lexa jadi senyum senyum sendiri menaiki lift lantai 8 yaitu ruang kantor Hotel Prime. Dia menyusuri koridor dan menemukan Renzy sedang berkutik dengan komputer.
"Selamat siang Nyonya Renzy." Sapa Lexa. Renzy mendongakan kepalanya dan terkejut melihat Lexa yang sudah lama tidak ia temui.
"Aku juga Nyonya." Jawab Lexa menepuk pelan punggung Renzy.
"Panggil aku Renzy. Kau ini sama seperti Leon. Ayo masuk ke dalam ruangan Leon!" Ajak Renzy membuat Lexa berpikir apa Leon tidak ada mengapa Renzy dengan santai mengajaknya masuk.
Ketika masuk lagi lagi Lexa mengingat di mana Leon menyandarkan dirinya. Merayunya dan mencoba mendekatinya. Sesuatu yang indah menurutnya.
"Renzy, di mana Leon?" Tanya Lexa duduk di sofa bersama Renzy.
"Ya dia sangat sibuk! Pagi ini dia ke Oriental bersama Tuan Jeremy dan Ben. Mengantar undangan kerabat Nyonya Rika dan ada urusan pembelian lahan. Di sana akan kembali dibangun motel kecil Prime." Jawab Renzy.
"Ke Oriental?" Lexa sedikit tersentak. Baru kali ini Leon tidak mengatakan padanya.
"Ya, pagi subuh tadi tapi akan kembali malam nanti. Dan besoknya dia harus rapat dengan seluruh pegawai untuk pernikahan Tuan Dion dan Nyonya mu?" Jelas Renzy lagi.
Lexa menjadi sedikit kasihan namun sedikit merindukan sosok pria usil itu.
"Lalu, dia benar benar akan sibuk?" Tanya Lexa lagi.
"Ya, sepertinya sampai jumat mungkin. Kenapa? Kalian sedang bertengkar ya?" Renzy mengintrogasi.
"Kok kau tahu?"
"Aku sekarang sudah tahu kalau Leon sedang bertengkar denganmu wajahnya menegang. Semua dikerjakan dalam diam. Cemberut, uring uringan dan terkadang Tuan Dion juga terkena rajukannya. Ben selalu dimarahi! Tuan Dion malas menanggapinya, kekanak kanakan, jadi aku dan Tuan Dion hanya mendiaminya saja. Tapi kalau dia sedang baik baik denganmu semuanya diberikan senyuman. Serasa dunia milik kalian berdua, sisanya mengontrak pada kalian. Dan kemarin setelah mengurus souvenir dan undangan dia bertemu Nyonya Pevi. Sudah, Hotel ini hendak ia robohkan! Akhirnya aku menyuruhnya pulang karna masih banyak pekerjaannya. Aku jadi kasihan dengannya. Dia memang asisten teladan!" Kata Renzy menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Pantas saja hari ini dia tidak menghubungiku. Yasudah biarkan saja. Nanti aku hubungi dia kalau sempat." Lexa masih mengkondisikan dirinya agar tidak terlihat khawatir di depan Renzy.
"Sebaiknya cepat, aku takut dia menghancurkan pernikahan bos nya, hihi.." bisik Renzy terkekeh.
"Mengapa kau berbisik Renzy? Ada Tuan Dion?" Tanya Lexa penasaran.
"Ya, dia di dalam sedang membereskan laporan hotel dan saham karna dia akan cuti."
"Oohh, sama seperti Nyonyaku. Baiklah Renzy, kau tidak mau makan siang? Aku yang traktir." Ajak Lexa mengingat sudah banyak info yang diberikan Renzy yang membuat hatinya berdebar. Leon sungguh menganggapnya karna dapat membuat suasana hatinya berubah baik maupun buruk.
__ADS_1
Renzy menyetujui dan mereka makan siang di restoran Hotel Prime. Di sana lagi lagi Renzy menceritakan apa yang Leon rasakan sejak mengenal Lexa. Membuat Lexa semakin mencintai dan menaruh harap pada Leon.
Sementara Lexa mencari tahu tentang Leon dari Renzy, Leon pun terus terdiam sepanjang perjalanan ke Oriental sampai makan minum saja, Ben yang menawarkan.
"Leon, kalau kau begini aku jadi seperti sendiri kau tahu!" Sungut Ben.
"Hari ini aku tidak melihat kelinciku, Ben. Dia pasti sedih karna aku tidak menghubunginya." Kata Leon sedikit muram.
"Hubungi sekarang! Kau ini apa?! Senang sekali menyiksa Lexa. Kapan kau akan menjadikannya kekasih?" Suruh Ben membela Lexa.
"Aku pasti akan menjadikannya pendamping hidupku, kau tenang saja! Aku sedang kesal dengannya!!" Leon sedikit bercerita pada Ben.
"Ada apa denganmu? Kau jangan suka mengasingkannya, nanti dia akan terasing jauh kau menyesal!" Ben memperingati.
"Seenaknya saja dia ingin meninggalkanku dan mengikuti sebuah mobil keren hanya karna aku memegang sedikit buah dadanya!" Cerita Leon akhirnya.
"Kau yang tidak waras!" Decak Ben.
"Tapi Ben, selama ini kita juga berciuman!" Leon membela diri.
"Kau jangan begitu Leon! Lexa wanita yang sensitif, kau jangan lagi memperlakukan buruk padanya!"
"Ya dia memang berbeda!
"Sudahlah sekarang kau fokus menemani Tuan Jeremy. Aku bingung kalau dia bertanya Leon! Ayolah kau membantuku agar aku bisa menjadi asisten pribadinya. Aku butuh dana Leon!" Pinta Ben memohon.
"Mau apa kau?" Leon sedikit penasaran dengan Ben yang akhir akhir ini sangat gencar mempromosikan dirinya menjadi asisten Tuan Jeremy.
"Entah menikahi Abby?" Jawab Ben meminta saran pada Leon.
"Hahaha, bagus bagus, kita bisa berbesan!" Leon menepuk nepuk punggung Ben. Sebenarnya Dion yang mencarikan ayahnya asisten karna sering menggunakan Leon, sementara Dion sangat bergantung pada Leon.
"Maka dari itu bantu aku dulu!" Pinta Ben yang baru menjajaki dunia per-asistenan ini.
"Baiklah!!!"
Leon mencoba fokus membantu Ben dan dia memang harus segera mendapatkan Lexa sebelum banyak sudah musang musang lain berkeliaran mendapatkannya.
Sedangkan Lexa di Legacy?
"Aku harus lebih mengerti Leon. Besok jumat jika dia masih marah, aku akan ke apartemennya." Gumam Lexa sebelum memejamkan matanya malam itu.
...
Bersambung dulu yaaa 😁😁
Next part 49
Eleh brantem brantem tetep aja rindu
Itulah namanya ..... Isi sendiri wakakak
.
Jangan lupa LIKE KOMEN cintaakuuu .. kalian semua dukungann akuu 😍😍
Kasih RATE dan VOTE didepan profile novel
.
Dukung LeLe selalaluuu yaaa 😁😁
Thankyou lafyouu all
.
eh jangan lupa ikut GIVEAWAY NYA ayoo donggg baru 6 jawaban nii hiks 😂😂
di episode dengan judul GIVEAWAY TIME yaa 😍😍
__ADS_1