
Lexa memasuki mobil Leon dengan sedikit bergidik. Leon telah melajukan mobilnya. Leon melirik sedikit ke arah Lexa. Dia memegang tangan Lexa sesaat.
"Ada apa Lexa? Siapa pria tadi? Bukankah kau belum pernah punya kekasih?" Tanya Leon berentet membuat wajah Lexa makin menegang.
"Kekasih apa?! Aku memang belum pernah mempunyai kekasih!" Lexa sedikit berteriak.
"Aku hanya bertanya, mengapa kau berteriak seperti ini?!" Decak Leon pelan.
"Maaf, dia - dia, sudahlah Leon tidak penting! Jangan membahasnya aku tidak suka!" Lex merajuk. Dia lalu menatap keluar, memalingkan wajahnya agar Leon tidak lagi mengintrogasinya.
"Lexa, aku mengatakan semuanya padaku. Mengapa kau tidak mau terbuka padaku? Sebenarnya kau menganggap ku apa?" Kata Leon lirih. Dia agak kecewa dengan prilaku Lexa yang seperti ini. Sebenarnya, banyak hal yang hendak Leon ketahui dari Lexa. Dia mau mengetahui latar belakang Lexa. Tapi, Lexa selalu menyimpannya dengan rapi.
Lexa mencoba menutupi masa lalunya dari Leon. Dia takut, kalau Leon mengetahui betapa dia berbeda dengan sekarang. Dia adalah gadia yang selalu menjadi bulan bulanan teman temannya di tempat kuliahnya dulu.
Pada kenyataannya, setelah Egnor memperingati Gabriel yang lainnya, Lexa tetap menerima penghinaan dari teman temannya. Lexa selalu memendamnya. Sampai pada suatu hari ia benar benar dilecehkan oleh Gabriel. Tepatnya ketika acara prom night kelulusan. Sebenarnya Lexa tidak mau hadir, namun kehadiran acara ini merupakan nilai akhir kelulusan untuk mendapatkan nilai terbaik.
Gabriel berusaha menciuminya namun Lexa terus memberontak di area belakang universitas. Akhirnya Gabriel yang dibantu beberapa temannya berhasil menahan semua perlawanan Lexa. Gabriel mulai melucuti pakaian Lexa. Lexa terus melakukan perlawanan dan mencoba menendangi semua teman Gabriel dengan kakinya yang masih bebas. Lexa berhasil melepaskan diri dan melakukan hal nekat. Dia sudah panik bukan main. Seluruh tubuhnya sudah tidak karuan. Dia mengambil batu berukuran setengah lengannya dan memukul kepala salah satu teman Gabriel sehingga menyebabkan darah bercucuran keluar.
Lexa benar benar tidak menyangka melakukan semua kekasaran itu. Dia membuang batu tersebut dan lari dari tempat itu. Sementara Gabriel dan satu temannya masih terpaku dengan apa yang Lexa perbuat. Tak lama Gabriel membantu temannya menuju rumah sakit. Teman Gabriel mengalami gegar otak ringan dan Gabriel memanfaatkan kesempatan untuk menuntut Lexa.
Lexa benar benar kehabisan akal. Sebelumnya dia tidak pernah menghubungi Egnor ataupun mengadukan apapun. Tapi, dia mencari kartu nama Egnor dan segera menghubungi kakak dari Viena itu.
Di malam itu. Malam yang sangat dingin karna cuaca yang tidak mendukung dan hujan rintik membasahi setiap jalan jalan kota Honolulu. Lexa mengemasi semua bajunya, semua perlengkapannya semua ke satu koper besar. Dia harus meninggalkan asrama kampus itu secepat mungkin. Mahasiswa/i lain masih sibuk mengurusi prom night sialan itu. Seharusnya dia tidak masuk ke lubang buaya itu. Seharusnya Lexa sudah memperkirakannya. Banyak pasang mata yang tidak menginginkannya datang kesana.
Lexa mengusap air matanya. Dia lalu menarik kopernya setelah mengganti semua pakaian yang telah dirusak Gabriel. Dia memasukan pakaian yang juga terdapat percikan darah temannya Gabriel ke kantong plastik dan ia bawa. Dia hendak memberitahu pada Egnor. Dia melangkah keluar kampus. Dia memberhentikan taxi dan menyuruh tuan supir mengantarnya ke alamat yang tertera di kartu nama.
Sepanjang perjalanan, Lexa terus mengusap usap tangannya. Dia benar benar takut. Dia tidak mau dipenjara. Bagaimana jika suster Regina mengetahuinya? Dia tidak bisa membayangkannya!
"Aaaahhh!! Tidak! Aku tidak mau masuk penjara! Tidak mau!" Teriak Lexa terbangun dari tidurnya di mobil. Barusan dia tertidur setelah mengalihkan pertanyaan Leon dan dia bermimpi. Mimpi yang mengingatkan dia akan kejadian sekitar dua tahun yang lalu ketika dirinya lulus dari kuliahnnya.
Sekujur tubuhnya berkeringat mengingat kejadian silam itu lagi. Lexa benar benar di luar kendali melakukannya. Napasnya naik turun dan matanya berbayang.
"Ada apa denganmu Lexa?" Leon mulai panik dan memegang kedua lengan Lexa.
"Kau siapa? Tidak! Aku tidak sengaja melakukannya! Kau yang melakukannya lebih dulu! Tidak bukan aku!" Lexa merasakan seseorang mengintrogasinya dan menghentak hentakan tubuhnya, hendak bertanya tentang kejadian pemukulan itu.
"Lexa! Be calm! Ini aku, Leon, lihat mataku, Lexa, ini Leon!" Tutur Leon berbisik pelan di depan wajah Lexa. Leon berfirasat ada yang tidak beres. Dia lalu memegang wajah Lexa dengan penuh kelembutan.
Lexa mencoba mengikuti arah suara Leon. Dia lalu menyadari kalau dirinya tadi sedang dibawa oleh siluman mimpi, merasuki tahun waktu ia melakukan tindak kriminal yang di luar kendalinya. Dia melihat mata Leon. Mata yang selalu membuatnya tenang dan hatinya hancur lebur. Wajah yang selalu membuatnya rindu akhir akhir ini.
"Leon?" Panggil Lexa dan membenamkan dirinya di pelukan Leon. Dan, Lexa pun menangis sesenggukan. Leon merasa ada yang tidak beres sejak bertemu pria yang menyebutkan dirinya Gabriel. Dia memeluk Lexa dengan erat agar kesedihannya berangsur hilang. Sesekali dia mengecupi pangkal kepala Lexa. Mereka masih di dalam mobil di depan flat tempat tinggal Lexa.
...
"Lalu, apa yang Tuan Egnor perbuat Lexa?" Tanya Leon ketika mereka telah masuk ke dalam flat Lexa.
__ADS_1
Setelah Lexa berganti baju dan membuatkan minuman hangat untuknya dan Leon, dia menceritakan semuanya pada Leon. Awalnya dia sangat takut kalau Leon tidak bisa menerima masa lalunya. Namun, ketika Lexa selesai menceritakan semuanya, Leon malah menarik dirinya dalam pelukannya dan berkata kalau setiap orang memiliki kisah masa lalunya sendiri. Entah itu masa lalu baik maupun buruk. Leon tidak akan menjauh dari Lexa, dia malah mau makin menjaga wanita kelincinya itu.
"Aku pergi ke rumah Kak Egnor, hem maksudku Tuan Egnor. Waktu itu dia masih tinggal bersama Tuan Besar Johanes, Nyonya Besar Thres dan Nyonya Besar Annie. Nyonya Viena sudah pindah ke Legacy membuka usahanya. Karna aku sudah lelah, aku tak sadarkan diri tepat di depan rumahnya. Nyonya Besar Thres merawatku sampai ku sadar ketika dia menemukanku pagi hari depan pintu rumahnya. Aku demam Leon." Cerita Lexa perlahan dan matanya mulai berkaca kaca kembali.
"Kau ditemukan ketika hari sudah pagi? Kau tidak mengetuk pintu dulu?" Tanya Leon sedikit tersentak mendengar pernyataan Lexa yang cukup tragis. Leon tidak bisa membayangkan betapa menderitanya wanitanya.
"Untung saja nyawamu tidak lewat Lexa, kau memang wanita kuat, sayang!" Kata Leon lagi mengusap usap kepala Lexa.
"Aahh, kau ini aku sedang cerita serius, kau mau tau atau tidak?!" Lexa menghempaskan tangan Leon dari atas kepalanya dan merengutkan wajahnya.
"Lalu selanjutnya apa yang Tuan Egnor lakukan? Aku geram sekali dengan Gabriel brengsek itu! Jika aku bertemunya sekali lagi, aku akan menghabisinya! Berani beraninya dia membuka bajunya, sementara aku? Kau bahkan tidak mengijinkannya, aku kan sangat baik denganmu!" Kata Leon ikut merengutkan wajahnya.
"Besoknya aku langsung diasingkan ke sini dan bekerja bersama Nyonya Viena. Ternyata benar, teman Gabriel menuntutku karna dia terkena gegar otak, Leon!" Emosi Lexa sudah membuncah menceritakan kisahnya lagi. Dia menutup wajahnya dan terisak.
Leon lagi lagi mengusap punggung wanitanya itu.
"Tuan Egnor menceritakan kronologis yang sebenarnya pada pengadilan dan bersiap membayar uang jaminan ku. Aku berhutang pada Tuan Egnor, semua karna ulah si Gabriel bastard itu Leon! Hem! Aku bahkan jijik melihat wajahnya!" Lexa menghembuskan napasnya. Dia merasa cukup lelah hanya menceritakan masa lalunya yang pahit.
Untung saja ketika datang ke Legacy, Viena menyambutnya dengan sangat hangat dan semua teman temannya di kantor tidak ada yang membullynya. Dan lagi, Viena merubah semua dandanannya menjadi wanita yang modis dan berani tambil beda. Ya, meskipun masih belum bisa mengalahkan kemodisan Solane, tapi stidaknya Lexa bukan perempuan aneh yang sering di cemooh oleh orang sekitarnya.
"Tenanglah Lexa, kalau aku melihatnya mengganggumu lagi, aku akan membuat perhitungan padanya! Kau jangan takut, oke?" Kata kata Leon sungguh membuat Lexa semakin memiliki banyak perlindungan. Dia pun tidak bisa selamanya bersembunyi di belakang Viena. Dia harus mandiri, namun entah mengapa dia malah membutuhkan pria seperti Leon.
Ddrrttt ponsel Leon bergetar, Tuannya menghubunginya.
"Ya Tuan?" Leon mengangkat panggilan bosnya.
"Haiz! Ada apa dengan dia ini! Main menyuruh dan mematikan ponsel! Beginilah, kalau punya kekasih terlalu perfect padahal Nyonya Viena kemana mana menurutku!" Leon merajuk mengenai bosnya. Sejak tuannya berpacaran dengan Pevi, Leon memang tidak menyukainya, karna Pevi lebih sering memerintah tanpa memikirkan kesibukan Dion, sementara Leon tidak bisa berbuat apa apa karna dia hanyalah seorang asisten.
"Sudah sana Leon, urusi bos mu, sejak tadi dia terus mencarimu, aku baik baik saja, kau sudah tau semua tentangku, kuharap kau masih mau berteman denganku." Ucap Lexa menghelakan napasnya.
"Belum semua Lexa, masih ada yang belum kutahu darimu." Kata Leon dan mulai mendekatkan dirinya ke Lexa. Dia menaik turunkan alisnya menggoda Lexa. Dia lalu merangkul Lexa dan memperhatikan bibir Lexa lalu turun ke leher dan bawah Leher Lexa.
"Messuuumm!! Sudah sana pergi bekerja! Aku tidak mau menjadi miskin jika kau mau menjadikanku istrimu, sana sana!!" Lexa mendorong wajah Leon yang sudah mulai menggerayangi tubuhnya.
"Kau mau menjadi istriku Lexa?" Tanya Leon sumringah.
"Dalam mimpimu! Persi sana Leon! Nanti Tuan Dion menghubungimu lagi!" Perintah Lexa lagi mendorong Leon agar berdiri dan pergi bekerja.
"Baiklah calon istriku, kalau nanti malam ada waktu, aku akan mengajakmu makan malam, ting!" Leon meninggalkan kedipan matanya dan masuk ke dalam hati Lexa. Lexa berdecih lalu tersenyum senang. Dia bernapas lega karna tidak harus menutupi hal hal yang tidak berguna. Itu yang Leon katakan agar membuat hati Lexa nyaman.
...
-LEON SI MUSANG-
__ADS_1
Makan siang di kedai sushi dan ramen foodcourt departemen dekat kantormu ya, kita bertemu di sana atau mau kujemput?
Satu pesan dari Leon. Lexa meliriknya ketika sedang rapat bersama Viena dan Lucy di ruang kerjanya. Lexa meredupkan kembali ponselnya setelah melihat pesan yang belum ia buka.
"Baca saja dulu." Kata Viena merasakan bunga bunga cinta menyelimuti Lexa.
"Tidak penting madam. Proyek iklan kali ini lebih penting." Jawab Lexa sopan.
"Pekerjaan bisa digantikan oleh priamu, sedangkan cintamu tidak bisa ditunda, bukankah begitu Nyonya Viena?" Tambah Lucy mendukung perintah Viena. Viena terkekeh setuju.
"Nyonya, mengapa kau jadi bersama Lucy menggodaku?" Decak Lexa cemberut.
"Sudah balas saja sebentar." Kata Viena lagi singkat.
-LEXA-
IYAAAAAAA!!! AKU SEDANG RAPAT DIAM SEBENTAR!!
Lexa hampir geram karna bukan hanya pesan itu saja yang hinggap tapi pesan pesan yang lain sejak ia bangun tidur. Entah mengapa Leon semakin mencintai Lexa karna perlindungan yang wanita itu butuhkan. Bahkan semalam, Leon memberikan sebuah puisi yang membuat Lexa hampir terbang melewati atap rumahnya.
...
Lexa tiba lebih dulu ke foodcourt tersebut dan sudah memesan sebuah ocha dingin. Hari ini sangat terik dan dia sangat menyukai ocha dingin untuk menyejukan tenggorokannya. Harum dari teh hijau yang diciptakan dari ocha tersebut dapat menenangkan pikirannya juga.
Ketika Lexa hendak menyeruput kembali minumannya, sesosok pria yang membuatnya bermimpi buruk lagi sudah berada di depannya. Lexa menganga sesaat sebelum menaruh minumannya. Wajahnya mulai menegang dan hendak meninggalkan Gabriel.
"Lexa, jangan takut! Aku hanya ingin berbicara baik baik padamu, percayalah." ujar Gabriel menghentikan Lexa yang hendak meninggalkannya.
"Bicara apa?! Aku tidak mau lagi berurusan denganmu!" Balas Lexa sinis.
"Aku ingin meminta tolong padamu, ayahku sudah meninggal Lexa dan ibuku? Dia sedang sakit, aku membutuhkan bantuanmu mengingat kau dekat dengan Tuan Egnor. Sekali saja, biarkan aku menceritakannya dan selanjutnya terserahmu, mau membantuku atau tidak." Gabriel mencoba menjelaskan baik baik.
Lexa memperhatikan mimik laki laki yang pernah melecehkannya itu. Mimiknya memang berbeda dari mimik yang sebelumnya ia lihat. Akhirnya Lexa menyetujui Gabriel untuk bergabung duduk bersamanya. Dia merasa Leon tidak akan keberatan mendengar penjelasannya dan Gabriel.
Namun, sayangnya perkiraan Lexa tidak sesuai dengan yang terjadi. Leon sudah datang dan melayangkan satu tinjunya pada wajah Gabriel dan Gabriel terjatuh mengenai beberapa meja yang ada di sekitarnya.
"Leon tunggu dulu, sabar sebentar!" Lexa menahan Leon sebelum Leon kembali memukuli Gabriel.
....
Next next next thooorrr part 33
Hajar Leon hajar !! Lho lho kok jadi disuruh hajar lagi thor? Ups maafff kebawa emosi sama gabe tengil 😁😁
__ADS_1
Mau up cepet? Komen like banyaaakkk aku smangat deehh wkwk 😒😊😍
Oke thankyou lafyouu 😘😘