Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 52


__ADS_3

Leon sudah bersiap di mobilnya bersama Lexa hendak menjemput Dion. Lexa juga sudah tampak mempersiapkan apa yang harus dibawa seperti cincin pernikahan yang dipercayakan Dion pada Leon. Leon sudah menitipkannya pada Lexa.


"Sudah siap Lexa? Tidak ada yang tertinggal?" Tanya Leon.


"Hatiku Leon!" Lexa terkekeh.


"Hatimu? Hatimu tak akan pernah tertinggal, selalu ada di hatiku!" Saut Leon membalas gombalan Lexa yang hendak wanita itu lontarkan.


"Aah, aku akan selalu kalah dengan gombalanmu!" Kata Lexa.


"Haha, kau ini Lexa, kita berangkat?" Saut Leon mulai menarik perseneling untuk menjalankan mobilnya.


"Ya Leon, tapi tidak apa aku ikut denganmu menjemput Tuan Dion?" Lexa memastikan dengan wajah sedikit sendu.


"Tidak apa, memang kenapa?" Leon sudah menjalankan mobilnya.


"Ya, aku takut bos mu menganggapku mau ikut campur saja segala pekerjaanmu." Jawab Lexa sekenanya.


"Ya, pada akhirnya kau akan terus ikut campur dalam semua hampir kehidupanku Lexa. Kau tenang saja." Balas Leon menoleh sesaat ke Lexa dan kembali menatap jalan.


Lexa yang mendengarnya merasa perkataan Leon sungguh menghangatkan hatinya. Lexa tersenyum dan ikut menikmati jalan menuju rumah Dion.


...


Seperti biasa Dion selalu menggoda asistennya jika melihat bersama pujaan hatinya. Lexa hanya terdiam sambil tersipu malu. Lexa tidak terlalu berani berbicara pada Dion, selain menghormati Viena, Lexa terlalu ngeri melihat mata bosnya Leon yang seakan akan mengintimidasi.


Mereka tiba di gereja dan hendak memulai acara pernikahannya. Lexa terus bersama Leon sampai ketika Leon harus mengurus keperluan Dion yang hendak memasuki gereja. Leon juga perlu mengurus Tuan Jeremy. Akhirnya Lexa berpisah dengan Leon.


"Jangan macam macam! Tetap jaga matamu!" Leon memperingati Lexa mengingat banyak kolega Dion yang terlihat jauh sangat keren darinya. Walau tetap saja Leon terlihat sangat keren dengan rambutnya yang tegas ke atas dan earphone Bluetooth di kupingnya menjadikan dia asisten terkeren yang pertama kali Lexa temui.


"Seharunya kau! Sudah sana, aku mau menunggu Nyonya Viena!" Saut Lexa yang merasa malah banyak wanita wanita bening berkeliaran dengan gaun gaun kurang bahan.


Leon mengedipkan matanya sebelum meninggalkan Lexa. Tak lama Egnor yang sudah tiba lebih dahulu bersama Claudia yang saat itu diajak menghampiri Lexa. Johanes dan Anne datang bersama Viena.


"Lexa?" Panggil Egnor. Lexa menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal. Lexa agak terkejut karna Egnor sudah membawa seorang wanita yang sangat ia yakini adalah calon ibu angkatnya.


"Ehem, Tuan Egnor kau sudah datang?" Saut Lexa berdehem menggoda kakak kandung nyonya nya itu.


"Kenalkan, ini Claudia. Tampaknya kalian sudah mengetahui nama kalian masing masing kan?" Kata Egnor memperkenalkan Claudia. Claudia tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Lexa. Lexa juga tersenyum. Claudia yang merasa Lexa sangat ramah dan senang melihatnya menarik tangan Lexa dan mengecup kedua pipi Lexa. Lexa ikut membalasnya.


"Selamat datang di Legacy Nyonya Claudia, ups maksudku Nona Claudia.." sapa Lexa salah memanggil. Dia hanya sudah merasa wanita dewasa yang di depannya ini sungguh cocok dengan ayah angkatnya.


"Kau juga bisa memanggilku Nyonya Jovanca. Dengan senang hati, Lexa!" Bisik Claudia namun terdengar oleh Egnor.

__ADS_1


"Ehem, jaga bicaramu!" Decak Egnor menatap tajam Claudia dan Lexa yang senang sekali menggodanya. Lexa dan kerabat barunya itu terkekeh menanggapi Egnor berdecih.


Akhirnya acara pemberkatan pernikahan Viena dan Dion berjalan dengan lancar (bisa dibaca di Mantan Terindah emm part 53-55, hehe,).


Viena dan Dion pun sudah keluar dari Gereja. Rika, ibu Dion membuat pesta resepsi pernikahan anaknya di taman kecil samping Gereja, sehingga mereka tidak harus repot repot pergi lagi. Lexa mencari cari keberadaan Leon yang sepertinya sangat sibuk mengurusi jalannya acara resepsi. Pria nya itu sudah mengkomandokan Renzy, namun nampaknya Leon tetap harus berperan.


Sementara Lexa, Viena hanya menyuruhnya mengawasi jalannya acara tanpa melakukan apapun. Memgawasi jika ada yang mencurigakan dan ada ketika Viena butuhkan. Sedangkan teman temannya mengurusi katering dan sebagainya. Lexa akhirnya menunggu sampai Leon lenggang dan dia bisa bersamanya.


Tak lama Lexa dihampiri seorang pria yang akhir akhir ini agak mendekatinya dan bertemu secara tidak sengaja.


"Bertemu lagi kan? Mau minum?" Sapa pria tersebut. Pria itu tak lain adalah Jerry yang diundang secara khusus oleh Dion. Ben yang memberikannya, sementara Leon tidak tau menau untuk undangan kolega Dion. Entahlah jika Leon mengetahuinya.


Jerry membawa dua minuman seperti vodka yang ringan alkohol. Jerry memberikan 1 pada Lexa yang sudah ia perhatikan sejak tadi. Sejak tadi memang Lexa berdiri sendiri sambil mengawasi keadaan sekitar resepsi dan melihat lihat Viena. Claudia harus bersama sama dengan Egnor, sedangkan teman temannya sibuk mengurusi tamu.


"Tuan Jerry? Ternyata kau diundang? Selamat datang!" Lexa membungkukan badannya sebelum menerima minuman dari Jerry.


"Ya begitulah. Tadinya aku tidak ingin datang karna harus menemani ayahku memeriksakan keadaannya, namun aku ingat kau pasti hadir, jadi aku hanya mengantar ayahku ke rumah sakit. Kau terlihat berbeda Lexa." Kata Jerry tersenyum.


"Kau ingin bertemuku?" Lexa memastikan karna ada keganjalan yang ia dengar dari perkataan Jerry.


"Oh maaf, maksudku aku tidak enak dengan Tuan Dion, em asistennya selain Leon yang mendatangiku langsung. Dia pasti hadir kan? Aku tidak enak jika dia mengetahui kalau aku tidak ada." Jerry berdalih. Sejatinya dia memang ingin bertemu dengan Lexa namun sepertinya Lexa adalah wanita sensitif yang agak sulit di dekati dengan perkataan perkataan manis.


"Oh begitu? Aku pikir apa. Seharusnya kau menemani ayahmu saja Tuan. Dia pasti sangat membutuhkanmu. Tuan Dion dan Nyonya Viena pasti mengerti." Saut Lexa tersenyum dan menegak vodkanya sedikit. Dia lupa kalau dirinya ternyata belum meminum apapun sejak resepsi dimulai.


"Tidak apa. Dia juga pasti akan mengerti. Em, sejak tadi kau sendiri, dimana Leon? Ah maaf, karna aku merasa kalian selalu bersama." Jerry terkekeh.


"Kau mau makan bersamaku? Tidak banyak orang yang aku kenal di sini." Ajak Jerry menggaruk garuk pelipisnya.


Lexa agak tidak enak dengan Jerry, karna dia juga harus membuat para tamu nyaman. Itulah yang Viena pesan pada breafing terakhirnya. Namun, dia sedikit takut Leon melihatnya dan menganggapnya macam macam. Sementara Lexa menitipkan ponselnya pada Claudia ketika mengurus Viena yang hendak duduk di pelaminan. Lexa menarik napas. Leon pasti mengerti ketika menjelaskan tentang pesan Nyonya Viena. Pikir Lexa.


"Em, baiklah Tuan. Kau ingin makan apa? Biar aku menjadi tour food guide mu karna Nyonya Viena dan Tuan Dion menyajikan banyak makanan enak." Jawab Lexa mempersilahkan Jerry berjalan lebih dulu.


"Heeem, sepertinya aku ingin zuppa soup, Lexa? Kau tahu ada di mana?" Jerry yang merasa sudah cukup akrab dengan Lexa menyentuh dan mendorong bahu Lexa untuk berjalan bersama.


Seketika Lexa merasa risih karna hanya Leon yang selalu menyentuhnya dan membuatnya nyaman. Namun, dia tidak bisa menolaknya karna tidak enak. Akhirnya Lexa hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dalam batinnya hanya berkata kata semoga Leon tidak melihatnya. Tapi sayangnya ketika Lexa diajak melihat makanan oleh Jerry, Leon hendak menghampirinya namun tertahan karna pemandangan yang sangat tidak enak dilihat matanya.


Aura kecemburuannya seketika muncul yang disadari oleh Ben. Ben sudah ada di sampingnya dan merangkul pundaknya.


"Jangan kesal seperti itu, dia belum menjadi siapa siapamu, lebih baik kau bersaing dengan sehat, sir!" Kata Ben menasihati.


"Diam kau! Ini earphone nya, aku mau bersama Lexa, kau yang awasi semuanya!" Decak Leon tak senang dan melepas earphone nya, memberikannya pada Ben. Leon lalu menghampiri Lexa dan Jerry.


Namun, belum sempat Leon sampai pada Lexa dan Jerry, dia mendengar ribut ribut di sisi taman. Seorang wanita tak sadarkan diri dan tersungkur di rerumputan sana. Leon menoleh ke arah ribut ribut. Lexa yang juga bersama Jerry hendak mengambil makanan ikut menoleh.

__ADS_1


Leon dengan sigap malah menghampiri ribut ribut yang sudah membentuk sebuah kerumunan itu. Leon mengesampingkan urusan perasaannya karna acara resepsi tuan nya ini adalah tanggung jawab besarnya.


"Tuan Jerry mohon maaf, ini Zuppa soup anda! Kau nikmati saja dulu aku mau memeriksa keadaan keributan itu!" Lexa pamit setelah memberikan makanan yang diingini Jerry. Jerry hanya menerima makanan tersebut dan tertegun dengan kesigapan Lexa sebagai asisten pribadi Viena. Dia semakin tertarik pada Lexa.


Leon mencoba melewati kerumunan para wanita yang hendak mengetahui keadaan wanita tersebut. Leon agak terkejut melihat wanita yang tak sadarkan ini adalah Pevi, mantan kekasih Tuannya.


"Tuan Anthony? Kenapa Nyonya Pevi tak sadarkan diri?" Tanya Leon mendekati Anthony yang hendak menggendong Pevi. Pevi datang bersama Anthony.


"Leon? Tolong antarkan aku ke ruangan P3K, sepertinya Pevi terlalu lelah!" Anthony meminta tolong dengan wajahnya yang sudah panik.


"Ayo Tuan ikut aku!" Kata Leon cepat.


Anthony lalu menggendong Pevi dan mengikuti Leon. Ketika mereka keluar dari kerumunan dan menuju ke ruang p3k gereja, Lexa tiba dan hendak bertanya pada Leon namun ia sudah melihatnya kalau Pevi sedang digendong oleh Anthony.


"Leon, kenapa Nyonya Pevi?" Tanya Lexa berpapasan pada Leon. Leon berhenti sesaat dan menatap tajam Lexa.


"Mengapa kau tidak mengurusi Tuan Jerry mu saja hah?!" decak Leon terdengar geram dan meninggalkan Lexa menuju ke ruang p3k.


Seketika seluruh tubuh Lexa bergidik mendengar pernyataan Leon. Dia terpaku. Ternyata Leon sudah memperhatikannya.


...


aaahhh up up up thor


next part 53 ya 😁😁


kejadian apa lagi ya setelah ini?


drama kah?


stay tune ya 😍😍


.


jangan lupa LIKE dan KOMEN yaa


kasih RATE dan VOTE di depan profile novel 😁


kasih TIP juga boleh


.


oiya yang kepo pernikahan Viena Dion dan kelanjutannya intip di Mantan Terindah ya

__ADS_1


.


oke thanks all and i love youu ...


__ADS_2