Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
AFTER MARRIAGE LEXA LEON PART 20


__ADS_3

"Leon cepat sedikit, perutku sakit sekali!" Kata Lexa yang terus memegang perut bawahnya.


"Iya sayang, aku sudah cepat dan berkonsentrasi membawa mobil. Aku sedang panik ini!" Saut Leon tetap menghadap ke depan agar tidak terjadi apapun sampai ke rumah sakit.


"Ini tidak apa apa kan Leon? Mengapa aku ingin menangis?" Ucap Lexa sedikit panik.


"Kau hanya kelelahan, kau tenang saja. Sabar dulu! Sebentar lagi kita tiba. Kita ke rumah sakit dekat sini saja dulu!" Tutur Leon mencoba menenangkan Lexa namun nyatanya dirinya juga ikut cemas.


"Kita tidak ke rumah sakit dekat Summer? Nyonya Viena ke sana Leon!" Kata Lexa mengingat ada dokter kandungan terbaik di sana yang digunakan nyonya nya.


"Argh kau ini, ini sangat mendadak Lexa dan rumah sakit itu sangat jauh! Sudahlah hanya pemeriksaan awal!" Decak Leon menjelaskan.


"Yasudah cepatt!!!" Teriak Lexa lagi dan menyandarkan tubuhnya ke sisi belakang bangku mobil.


"Tenanglah boy!" Tutur Leon berusaha mengulurkan tangannya dan mengelus perut Lexa. Seketika Lexa merasa agak lebih nyaman dan sakitnya perlahan menghilang.


"Leon, sepertinya kau harus terus mengelusnya. Tiba tiba menjadi berkurang sakitnya, tapi aku seperti mengeluarkan sesuatu di bawah sana. Cepatlah Leon!" Gumam Lexa masih mengernyitkan dahinya.


"Sabar sebentar, setelah belokan ini kita sampai." Ujar Leon terus mengkondisikan dirinya agar tetap tenang.


Sesampainya di rumah sakit, Leon dengan sigap keluar dari mobil dan memapah istrinya memasuki rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang gawat darurat.


"Selamat malam! Istriku sedang hamil dan perutnya sakit!" Kata Leon langsung ke depan meja informasi ruang gawat darurat. Semua mata sontak berfokus pada Leon yang tampak panik sedangkan mereka seperti biasa saja.


"Ada apa dengan mata kalian? Istriku terus kesakitan!" Decak Leon lagi merasa aneh dengan orang orang di sekitarnya. Seketika emosinya agak melonjak tak karuan. Dia merasa semua orang di sini mengintimidasi nya dan merasa kalau yang dikatakan adalah hal yang biasa saja. Padahal, dia sudah hampir mati cemas karna cepat mengendarai mobilnya.


"Leon, tenanglah!" Bisik Lexa pelan.


"Bagaimana aku bisa te .."


"Benar Tuan, rasa sakit pada ibu hamil itu sering terjadi. Biar saya periksa dulu ya?" Kata seorang dokter pria penjaga unit gawat darurat saat itu memoting kecemasan Leon.


Leon langsung menoleh ke pusat suara berat nan serak itu.


"Kau yang memeriksa? Apa tidak ada dokter wanita?" Decak Leon yang berasumsi pasti si dokter akan memegang megang perut Lexa. Lagi lagi dia bertanya tanya, mengapa dia menjadi se sensitif ini.


"Aku hanya memeriksa kondisi awal saja Tuan." Sang dokter berusaha menjelasakan dengan sopan.


"Arghh, tidak tidak!" Leon agak frustasi.


"Leon, seperti kau bilang kan? Hanya pemeriksaan awal." Kata Lexa memegang tangan suaminya berusaha menenangkan.


"Benar tuan. Sebaiknya anda ke administrasi dulu untuk mengisi fomulir pendafataran." Tambah sang dokter mengalihkan kepanikan Leon. Sang dokter mengerti, mereka pasti adalah pasangan muda.


"Nanti saja! Yasudah periksakan dulu istriku! Tidak ada buka buka pakaian!" Decak Leon yang sudah sangat cemburu. Seketika Leon juga merasa mengapa dirinya sefrustasi ini.


Sang dokter tersenyum. Dia lalu menyuruh Lexa untuh merebahkan dirinya di tempat tidur. Sang dokter hanya memeriksa detak jantung Lexa dan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kandungannya.


"Baiklah Tuan dan Nyonya Janson, menurut prediksi saya, sakit nyeri pada perut bawah Nyonya Janson yang baru pertama kali mengalami kehamilan sangat wajar. Sepertinya ini hanya kelelahan saja. Apakah anda baru saja melakukan sebuah perjalanan?" Tanya sang dokter.


"Iya! Kami baru saja pulang dari Honolulu." Jawab Leon ketus. Lexa kembali menyentuh punggung tangan Leon.


"Oh begitu ya? Bemar dugaanku, Mungkin Nyonya Janson lelah. Em, apakah Nyonya Janson pernah mengalami flek seperti bercak darah ketika menstruasi?" Tanya dokter pria itu.


"Hey? Apakah seorang dokter umum menanyakan hal ini?" Selidik Leon benar benar merasa sangat emosi. Mengapa ada kata menstruasi? Hanya dia yang boleh mengetahuinya pikirnya.


"Leon ..." Panggil Lexa melembut.


"Tapi Lexa??" Leon berusaha menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Mohon maaf Tuan, saya hanya hendak mengetahui kondisi kandungan Nyonya saja, tidak ada maksud lain." Sedangkan sang dokter menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Maaf dokter, suamiku memang agak posesif. Em, jadi semenjak aku mengetahui hamil sampai sekarang aku tidak mengalami hal itu." Jawab Lexa juga meminta maaf pada sang dokter.


"Oh bagus Nyonya! Saranku, Jika terlihat segeralah ke klinik terdekat atau rumah sakit. Untuk sementara saya akan memberikan anda vitamin, tapi besok segeralah periksa kandungan anda ke dokter spesialis kandungan. Supaya anda bisa melakukan USG dan mengetahui usia kandungan anda. Jangan terlalu lelah dan makan makanan bergizi. Hanya itu pesanku untuk sementara ini." Kata Sang dokter lagi seperti dokter dokter biasanya karna mereka tidak terlalu mendalami mengenai kandungan. Ini merupakan pertolongan pertama saja untuk mencegah kepanikan bagi pasangan pasangan muda yang masih sangat awam seperti Lexa dan Leon ini. Sang dokter sangat menyadari kesensitifan Leon juga emosi yang disebabkan karna kepanikan akan kandungan istrinya.


"Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi?!" Decak Leon yang merasa sang dokter sangat bertele tele.


"Oh God Leon! Bisakah kau tidak cemburu?!" Akhirnya Lexa menunjukan taringnya karna sejak tadi Leon benar benar agak berlebihan.


"Aku tidak cemburu! Dokter ini yang membuatku kesal!" Decak Leon tak senang dengan pernyataan istrinya.


"Baiklah Tuan Nyonya, mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Saya permisi." Kata sang dokter mengalah dan tidak membalas Leon karna dia sungguh mengerti kondisinya.


"Leon, kau menyakiti hatinya.."

__ADS_1


"Biar saja! Dia menyukaimu! Sangat terlihat!" Saut Leon memotong penuturan istrinya. Di dalam hatinya, mengapa dia menjadi sekasar ini, apa ini bawaan bayinya, begitulah pikirnya.


"Sudahlah, sekarang ayo kita pulang. Aku baik baik saja!" Decak Lexa menyudahi semua kecemburuan dan keanehan Leon.


"Besok kita harus ke dokter kandungan Lexa!" Leon memastikan.


"Iya!!"


Leon dan Lexa pun kembali ke apartemen mereka karna Lexa tidak merasakan sakit nyeri seperti tadi lagi. Namun, ketika Lexa hendak membersihkan dirinya dan menanggalkan semua benang yang melekat pada tubuhnya, ia malah melihat bercak kecil seperti darah namun tidak terlalu pekat dan banyak pada celana dalamnya.


"Aaaahhhh!!!" Lexa tak sadar karna panik langsung berteriak membuat Leon terpaksa harus memasuki kamar mandinya.


"Ada apa Lexa?" Tanya Leon melihat Lexa memegang celana dalamnya.


"Kenapa Lexa?" Tanya Leon lagi ikut panik.


"Sepertinya flek ini muncul Leon?" Kata Lexa menunjukan bercak tersebut. Leon juga sedikit panik namun dia mencoba tenang agar Lexa pun tenang.


"Ini hanya sedikit sayang, besok kita akan memeriksakannya ya? Sudahlah, sebaiknya kau tidak usah membersihkan diri dulu, ganti baju saja. Ayo aku bantu!" Kata Leon yang sudah meraih jubah handuk Lexa dan mengenakannya pada tubuh istrinya. Dia segera menggiring Lexa menuju ke tempat tidur.


"Kau mau makan apa? Biar kubuatkan. Kau harus makan dan meminum vitaminmu." Tanya Leon berjongkok di depan Lexa. Dia benar benar mengkhawatirkan istrinya. Lexa sedikit berpikir dengan pertanyaan suaminya. Dia mengingat ingat sesuatu yang manis yang sangat memanjakan indera perasanya. Tiba tiba sesosok makanan itu muncul. Dulu waktu kecil, ibunya sering membuatkannya.


"Leon, seketika aku ingin sesuatu yang manis seperti bomboloni donat isi coklat, heeemm sepertinya enak!" Jawab Lexa menyapukan bibirnya dengan lidahnya. Leon mengangkat sebelah alisnya. Aneh, pikirnya! Lexa tidak pernah makan donat sebelumnya.


"Dimana aku mendapatkannya?" Tanya Leon beranjak dan duduk di samping Lexa.


"Entah! Kau cari sana! Aku menunggu disini!" Jawab Lexa menoleh tersenyum ke arah suaminya.


"Tapi Lexa.." Leon sedikit bergumam.


"Kenapa?" Selidik Lexa yang seketika hatinya menjadi sedih.


"Aku sedikit mengantuk, besok aku harus kembali bekerja. Bagaimana kalau besok saja? Aku akan menyuruh Renzy mencari tahu dimana toko yang menjualnya lalu aku yang akan mengantarkannya ke kantor mu, bagaimana?" Jawab Leon mencoba memberi pengertian pada Lexa.


"Eehhmm, padahal aku ingin sekarang! Yasudah lupakan saja, aku tidak ingin lagi!" Jawab Lexa murung. Dia lalu beranjak dari duduk nya sambil memegangi perutnya. Dia hendak membersihkan daerah intimnya sehingga bersih dan nyaman.


Leon masih menunggu disana, di sisi tempat tidur. Dia merasakan aura kekecewaan istrinya. Setelah Lexa keluar dari kamar mandi, tampak Lexa masih seperti dirundung kesedihan.


"Lexa, kau marah ya?" Selidik Leon lembut.


"Lexaaa, mengapa kau jadi sesedih ini??" Leon agak terheran dan berdiri merangkul pundak istrinya.


"Aku sedih! Kau tidak mencintaiku dan anak kita, huhuhuu..!!" Kata Lexa mengucek matanya.


"Oh my God! Baiklah baiklah! Mungkin di restoran hotel Prime menyediakan roti bulat itu." Kata Leon kemudian. Dia tidak mau istrinya menjadi kepikiran lagi karnanya.


"Kau yang harus mengambilnya Leon, jangan di antar!" Tambah lagi permintaan Lexa.


"Ya ampun, harus aku benar benar?" Leon memastikan.


"Eeem!" Gumam Lexa mengangguk menunjukan wajah muram dan manjanya.


"Haiz! Baiklah baiklah! Aku akan membelinya! Tunggu di sini dan sebaiknya kau tiduran saja Lexa!" Kata Leon lagi menyerah dan menuruti semua keinginan istrinya.


"Iya!! Terimakasih sayangku! Cup!" Ucap Lexa mendaratkan kecupannya di pipi Leon.


"Heemm.." saut Leon pergi setelah mengecup kening Lexa.


Lexa terkekeh melihat kepergian suaminya. Entah mengapa, Lexa menjadi sangat bahagia hanya karna Leon mau membelikan apa yang ia inginkan. Apa ini yang dinamakan mengidam? Pikirnya.


Lexa lalu meraih ponselnya hendak menghubungi nyonya nya namun Viena tidak menjawabnya. Dia tidak menyerah dan sekali lagi menghubungi nyonyanya. Akhirnya Viena mengangkatnya.


"Lexa .. ahh .. nanti ku telepon lagi , sebentar Dion!" Jawab Viena yang sepertinya sedang melakukan kegiatan atau sebuah kerepotan dengan Dion. Lexa mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia menghubungi di waktu yang salah. Dia melirik jam dinding menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


"Nyonya, kau sedang apa?" Lexa malah bertanya hendak meyakinkan isi pikirannya.


"Tidak ada! Aahhh, Dion tunggu sebentar!" Jawab Viena masih sibuk dengan suaminya. Entah apa yang mereka berdua lakukan.


"Lexa, kau sangat menganggu! Nanti hubungi lagi!" Tiba tiba Dion kini yang berteriak dan tak lama Lexa mendengar desahan atasannya. Seketika Lexa menjadi gugup dan malu.


"Ba, ba, baik Nyonya, Tuan!"


Lexa langsung menutup panggilan. Oh sial! Mereka pasti sedang melakukan sesuatu yang juga ia sukai.


"Salah besar aku menghubungi nyonya! Lagipula mengapa ponselnya ada di dekatnya. Nyonya pasti sengaja karna mengetahui aku sedang hamil! Sial! Sebaiknya kuhubungi Solane saja. Dia pasti sedang tidak bermain dengan Rico kan? Rico sudah kembali ke Honolulu." Pikirnya. Lexa segera menghubungi Solane.

__ADS_1


"Aku sedang memberi Jacklyn buah Lexa! Si Rico itu cerewet sekali! Dia terus mengingatkan ku memberi buah buahan yang dikirimnya tadi pagi. Kau tahu tidak Lexa, dia mengirimiku buah berduri, em durian! Kau tahu tidak buah itu? Aromanya sangat menyengat. Dia menyukainya dan gilanya dia menyuruhku memberikannya pada Jacklyn. Dia mau membunuh Jacklyn hah? Katanya dia sayang! Aneh sekali pria itu! Mengapa aku bisa mencintainya, menyebalkan!" Decak Solane di seberang sana menjawab panggilan Lexa.


"Hahahahahaa! Solane! Mungkin Rico tidak tahu buah itu bukan untuk anak kecil." Saut Lexa mencoba meluruskan.


"Aneh sekali dia! Sudahlah jangan membahasnya, aku jadi merindukannya. Kau kenapa menghubungiku? Apa kandunganmu baik baik saja?" Kata Solane kemudian mengingat Lexa pasti hendak mengetahui sesuatu.


"Entah mengapa aku jadi sangat menginginkan sesuatu sampai aku menangis meminta pada Leon. Ada apa denganku Solane?" Tanya Lexa mengenai kondisinya saat ini. Ini benar membuatnya bingung.


"Kau sedang mengidam Lexa. Masa begitu saja kau tidak tahu?" Jawab Solane.


Belum Lexa kembali bertanya, dia mendengar Jacklyn menangis di sebrang sana.


"Oh Lord, i'm sory Jack!" Sungut Solane yang masih terdengar oleh Lexa.


"What's wrong, Solane?" Tanya Lexa juga ikut panik.


"Bubur pisangnya terkena hidungnya. Sudah dulu ya Lexa. Aku harus mengurus Jacklyn. Nanti lagi, bye!" Jawab Solane dan ia langsung menutup panggilan.


Lexa menarik napas. Lexa harus memaklumi Solane si single parent. Jadi, siapa lagi yang harus ia tanyai. Tapi, ketika Lexa mengingat kata mengidam, dia mencarinya saja pada layanan internet.


"Mengidam adalah Keinginan yang kuat terhadap makanan atau rasa tertentu. Penyebab umum gejala ini dorongan makan dapat disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit. Contohnya termasuk lapar, kehamilan, atau memikirkan makanan. Ohhh begitu, aku tidak mengerti sih, haha tapi ternyata aku sedang mengidam. Baiklah, aku mengerti mengapa ini menjadi sangat sangat sensitif. Dan lama sekali si Leon ini?!" Gumam Lexa.


Tak berapa lama Leon kembali dengan sebuah kotak makanan. Dia segera ke kamar.


"Lexa! Ini bomboloninya! Untung si bibi apartemen menjualnya. Aku membacanya di papan menunya." Kata Leon dengan napas yang sedikit tersenggal.


"Lalu mengapa kau lama sekali?" Selidik Lexa.


"Em, dia harus menggorengnya dulu, sudah ini habiskan! Aku mau membersihkan diri." Kata Leon dan dia segera menuju ke kamar mandi.


Lexa lalu membuka kotak kecil tersebut. Terdapat 4 buah bombolini yang sangat menggiurkan. Lexa lalu meraihnya satu dengan menggunakan alas tysu khusus makanan yang sudah disediakan di kotak itu. Ketika dia memakannya satu gigitan, dia masih merasa nyaman bahkan sangat lezat menurutnya, namun ketika dua sampai tiga gigitan, rasa rasanya Lexa malah sudah tidak ingin lagi. Perutnya menjadi begah dan akhirnya Lexa meletakannya di nakas samping tempat tidurnya


Tak lama Leon keluar setelah membersihkan dirinya. Dia melilitkan satu handuk di bagian bawahnya dan satu handuknya lagi mengeringkan rambutnya. Leon melirik kotak bomboloni yang sepertinya masih ada. Bahkan 3 masih utuh dan 1 nya tinggal setengah.


"Lexa, mengapa tidak dihabiskan?" Tanya Leon mengingat seberapa memelasnya istrinya tadi meminta.


"Sudah tidak mau lagi." Gumam Lexa bersiap untuk tidur dengan merengkuh guling.


"Oh my God! Mengapa seperti ini?" Leon menjadi sedikit kesal.


"Tidak tahu! Kau saja yang memakannya." Saut Lexa sudah memejamkan matanya.


"Tidak waras! Sepertinya aku harus berguru dengan Tuan Dion! Ini aneh sekali! Aku aneh, kau aneh!" Balas Leon yang tidak biasanya Lexa begini. Leon lalu mengambil Vitamin Lexa dan menyuruh Lexa untuk meminumnya dulu.


"Ya benar. Aku juga kurang mengerti dengan kehamilan ini." Gumam Lexa dan setelah Leon memberikan vitaminnya, dia pun kembali berbaring dan tertidur.


Karna Leon merasa sayang, terpaksa Leon yang menghabiskannya sambil sedikit ngedumel sebal.


...


...


...


...


...


Namanya gek hamil mba Lexa!!


Nii tanya sama penggemar klean pakar pakar momski momski storng kece badas 😍😍


.


Next part 21


Apa yang akan di katakan dokter kandungan nanti mengenai kandungan Lexa?


Haha Lexa Leon berguru soal kehamilan , kalo buatnya kaga ya 😂😂


.


Lafyou all ❤❤


Thanks for read 😎😎

__ADS_1


Tinggalkan like dan komen, vote dan kasih rate dan tip juga boleh 😎😎


__ADS_2