
Hanya waktu yang bisa menjawab sebuah kejujuran atau kebohongan. Kita sebagai pelaku pun tidak bisa membuatnya melambat atau membuatnya cepat. Biasanya sudah membuat rencana yang matang tapi ketika waktu berkata lain, kita hanya bisa berdalih atau berkata jujur. Bagaimana akhirnya Xelino menjalani penyamaran ini? Apakah akan berakhir atau masih berlanjut sampai apa yang ia inginkan tetapi tercapai? Lalu, bagaimana Casey dan Ansel menjalankan rencananya? Apakah berhasil? Apakah Xelino malah menyukai Casey?
...
Xelino dan wanita itu masih bertatapan. Tak lama Xelino mengalihkan pandangannya pada seorang wanita paruh baya yang akan masuk ke dalam resto Atkinson de Angel.
"Xelino! Kau ini lama sekali! Kau bilang akan membantuku membawa kantung belanjaan ku!" Pekik wanita paruh baya itu yang ternyata Claudia. Claudia tidak datang bersama Lexa.
"Ah iya Nyonya maaf, aku baru saja menabrak nona cantik ini," ucap Xelino mengarahkan pandangannya ke wanita yang menabraknya.
"Siapa?" Claudia menoleh ke arah wanita itu.
"Oh my godness! Sungguh keberuntunganku bisa bertemu dengan Nyonya Claudia di sini," kata wanita itu lebih dulu.
"Anda siapa?" tanya Claudia dengan wajah datar.
"Casey? Kak Casey?" Tiba tiba Carolyn datang dan memanggil nama wanita yang Xelino tabrak.
"Hay Carolyn? Kenapa aku menjadi Kalian semua di sini? Xelino Janson, Nyonya Claudia Jovanca, dan Carolyn Delinsky. How are you sis?" sapa wanita yang ternyata adalah Casey itu. seketika Carolyn mendengar Xelino dengan nama keluarga Janson.
"Tunggu! Siapa kau bilang? Xelino Janson? Dia? Hahaha, dia Xelino Juan, bukan Xelino Janson!" kata Carolyn mengoreksi sesuai yang ia tahu.
"Tidak Olyn! Dia Xelino Janson! Aku pernah melihatnya di Hotel Prime bersama Tuan Leon dan Nyonya Lexa Janson," saut Casey membenarkan yang terjadi.
"Nona? Lepas dulu kacamata hitammu! Kau lihat dengan benar, dia Xelino Janson atau Xelino Juan seperti yang dikatakan Nona ini," kata Claudia menunjuk kacamata hitam Casey yang masih ia kenakan lalu menunjuk Carolyn.
"Cucuku bernama Lionel Janson, bukan Xelino Janson. Dia mungkin benar Xelino Juan," tambah Claudia lagi memainkan perannya dengan baik.
Casey baru membuka kacamata hitamnya. Dia tidak akan salah dan memang sebenarnya Casey tidak salah. Namun, kalau dalam keadaan seperti ini Carolyn mengetahui siapa Xelino yang sebenarnya, Carolyn akan marah besar padanya. Berbeda jika nanti Xelino sudah membuat Carolyn bertekuk lutut padanya.
"Tidak tidak, kau Xelino Janson anak tunggal dari Tuan Danteleon Janson," decak Casey memantapkan jawabannya.
"Haiz, mengapa kau jadi mempermasalahkan nama keluarga terkenal itu nona? Aku hanya seorang manager asisten nona Carolyn. Namaku Xelino Juan. Ahh, aku baru ingat waktu itu aku memang pernah ke hotel Prime waktu pertukaran pelajar dan sempat berbicara dengan tuan Leon. Mungkin kau mengait ngaitkan aku sebagai anaknya. Memang banyak yang bilang kami mirip, tapi Nyonya Claudia, kalau kau tidak keberatan aku menjadi cucumu atau menjadi anak Tuan Leon, aku tidak masalah, dengan begitu aku bisa mendapatkan Nona ini dengan mudah! Ting!" Kata Xelino berceloteh dengan cepat dan lugas sambil merangkul Carolyn juga mengedipkan pada wanita yang ia sukai itu.
Claudia sudah menggeleng dan terkekeh. Anak muda di sampingnya ini benar benar anak Leon. Pandai berkelit, berdalih dan semua seperti kenyataan bukan kebohongan. Claudia pun sudah meminta ampun pada yang Maha Kuasa kalau dirinya membantu cucu angkatnya berbohong demi sebuah cinta yang tulus. Sedangkan Lexa sudah bersembunyi di ruangan resepsionis resto karena mendengar teriakan Casey yang antusias menyebutkan jati diri Xelino yang sebenarnya. Lexa yakin kalau di apartemen nanti, anak semata wayangnya pasti merajuk karena rencananya makan bersama berempat gagal!
Casey pun sedikit tercengang mendengar penuturan Xelino. Xelino berbicara dengan sangat baik. Seketika hati Casey bergetar melihat pria pintar di depannya itu. Lebih pintar dari seorang Ansel.
Sementara Carolyn menoleh menatap Xelino. Di satu sisinya tersenyum senang dalam hati atas pernyataan Xelino, tapi satu sisinya lagi sebal karena memanfaatkan kesempatan merangkul dirinya.
Pak!
Carolyn menepuk punggung tangan Xelino.
"Jangan pegang pegang! Nanti kau mengatai ku lagi!" sindir Carolyn melirik tajam Xelino.
"Nona, dia wanita yang kau panggil Casey ini mengatakan aku seorang Janson, jika itu benar apa kau mau bertunangan denganku?" bisik Xelino masih sempat sempatnya menggoda Carolyn yang masih dingin padanya.
__ADS_1
"Kau pikir aku wanita apa?! Oh iya, aku lupa kalau aku hanya wanita rendahan yang mudah di peluk peluk dan di cium cium kan?" dan begitulah respon Carolyn.
"Nona, mengapa kau terus menyindirku?" bisik Xelino lagi.
"Biar saja, biar kau sadar kau sudah menyakiti hatiku!" dengus Carolyn tegas.
Xelino menundukan kepalanya bermaksud juga mengalihkan pandangan dari Casey yang entah mengapa terus memperhatikannya.
"Kak Casey! Apa mom and dad sudah tahu kau akan kemari? Mengapa kau tidak langsung ke rumah?" selidik Carolyn.
Seketika Casey tersadar.
"Oohhh Carolyn, i'm sorry, aku merindukanmu sayang! Aku juga merindukan mom and dad! Hemm, apa kau sedang makan di sini?" kata Casey memberitahu.
"Begitulah, kau dengan siapa?" tanya Carolyn lagi.
"Aku sendiri, aku ingin makan di tempat terkenal ini, jadi apa aku bisa makan bersama denganmu?"
"Ya," hanya itu sautan Carolyn. Carolyn masih tidak berselera apalagi makan sorenya seketika berantakan karena kehadiran kakaknya. Dia pikir dia bisa berduaan saja dengan Xelino dan sangat kebetulan dia bertemu lagi dengan Claudia.
"Oh, Nyonya Jovanca, halo, aku Carolyn Delinsky salam kenal," kata Carolyn mengulur tangannya. mereka berdua pun berjabat tangan.
"Oh Hay, Carolyn. Maafkan aku, aku harus meminjam asistenmu untuk membawakan kantung belanjaanku di luar ke kamar ku di dalam. Aku hanya mengenalnya karena pernah juga menolongku dan anakku," saut Claudia mengutarakan maksudnya.
"Oh iya Nyonya, apakah anakmua Nyonya Lexa Janson? Di mana dia?" tanya Carolyn ingin bertemu dengan Lexa.
"Salamkan padanya dan anaknya nyonya," pinta Carolyn.
"Tentu, anaknya adalah cucuku, haha, baiklah sebentar kupinjam pacarmu ya, aiz, maksudku asistenmu, maaf karena kalian terlihat serasi. Sayang sekali ya, Xelino tampan begini menjadi asisten. Andai aku memiliki anak perempuan, aku akan menjodohkannya padamu, Xelino!" tutur Claudia kemudian.
Deg!
Jantung Carolyn berdegup. Ternyata ada yang menyadari kecocokan mereka. Sesaat Carolyn menoleh ke arah Xelino yang memang tampan. Carolyn cukup memperhatikan dari samping seperti gambar Lionel beberapa kali dikirimnya. Andai Xelino adalah Lionel, mungkin tidak akan serumit ini. Pikirnya.
"Baiklah nyonya, jangan terus memujimu, nanti aku bisa memintamu untuk mengangkatmu agar bisa kembar dengan Tuan Muda Willy dan Wilson," sela Xelino bergurau.
"Bisa saja, kalau kau mau, ayo cepat bantu aku! Permisi dulu ya semuanya?" Saut Claudia lagi sudah menggandeng lengan Xelino dan mengajaknya keluar resto.
Sementara Casey masih memperhatikan kedekatan Claudia dan Xelino yang sangat mencurigakan.
"Ssstt, Carolyn!" Panggil Casey seketika. Carolyn menoleh ke arah kakaknya.
"Apa kau tidak curiga dengan hubungan mereka berdua dan Nyonya Lexa?" kata Casey mencoba menghasut Carolyn.
"Tidak! Waktu itu memang Xelino pernah menyelamatkan mereka berdua. Xelino memang pria baik," balas Carolyn yang tidak mencurigai apa apa walau sempat terbesit tapi karena cintanya pada Xelino kini dia hanya ingin Xelino saja.
Casey memicingkan matanya mendengar penuturan adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Baik? Hem, sepertinya kau ada rasa dengan asistenmu itu ya?" selidik Casey mulai merancang apa yang akan di lakukan nya nanti.
"Apa? Tidak, memang kenyataan Xelino baik lalu kenapa? Sudah ayo kita makan, kebetulan aku memesan barbeque set. Apa kabarmu kak?" kata Carolyn menggandeng lengan Casey ke meja makannya.
"Hem, ku pikir kau tidak merindukanku!"
Carolyn tersenyum. Sebenarnya dia cukup aneh mengapa kakaknya tiba tiba datang, tapi mungkin saja kakaknya ini merindukan keluarganya. Sangat wajar karena Casey tinggal sendiri di Nederland. Casey dan Carolyn pun makan bersama.
Lalu? Siapa pria yang bersama Casey tadi tetapi melarikan diri? Tentu saja Ansel. Ansel lari dari sana dan tidak kembali lagi. Rencananya bisa kacau jika sampai Carolyn dan Xelino tahu kedekatannya dengan Casey. Namun, ketika dia menunggu Casey di cafe depan motel Atkinson de Angel itu, dia menyaksikan hal yang bisa membuat dirinya menjauhkan Xelino dari Carolyn. Ansel tersenyum licik merekam pertemuan Xelino, Claudia dan Lexa. Walau suaranya tidak terdengar tapi setidaknya bisa membuat sedikit ancaman terkait kecurigaan Casey terhadap Xelino. Sebelumnya Lucas sudah memberitahu Ansel kalau majikannya itu sebenarnya tahu siapa Xelino sebenarnya.
Di sana tampak Xelino memang sedang bercakap cakap dengan Claudia dan Lexa. Xelino kesal karena rencananya membuat Carolyn senang dengan kehadiran Claudia dan Lexa harus gagal.
"Bicaranya nanti saja di apartemen Xelino, kita tidak tahu di sini ada mata mata atau tidak. Tadi yang ku lihat wanita bernama Casey itu datang bersama seorang pria, tapi entah dia ada dimana!" Kata Claudia mengingatkan Xelino yang masih ingin menyusun sebuah pertemuan ibunya dengan Carolyn.
"Pria bagaimana Granny? Siapa dia?" selidik Xelino memang merasa ada yang memata matainya.
"Aku tidak tahu! Ayo Lexa kita kembali ke apartemen!" ajak Claudia.
"Iya mom! Benar kata Granny mu Xelino, kita bertemu di apartemen saja. Sepertinya pria yang Granny maksud ada di cafe itu karena dia memainkan ponselnya mengarah ke kita," kata Lexa mencurigai pria yang sedang mengarahkan kamera ke arah mereka.
Xelino hendak menoleh dan melihat tapi Lexa menahannya.
"Jangan menoleh secara terang terangan, nanti dia tahu!" cegah Lexa menahan kepala Xelino.
"Hem, berarti ada yang disembunyikan dari kakaknya Carolyn yang tiba tiba kembali ke Springfield!" gumam Xelino menerka.
"Mungkin! Baiklah, mami dan granny kembali dulu, nanti kita bicarakan lagi, oke?" Kata Lexa menepuk pundak anaknya.
"Jadi, hari ini batal? Menyebalkan sekali!" dengus Xelino kemudian. tambah satu hari lagi dia harus mencuri hati Carolyn agar memaafkannya.
"Sabarlah, masih ada beberapa hari lagi kami di sini," saut Claudia menenangkannya.
"Baiklah Granny, Mami, aku ke dalam dulu," ijin Xelino.
Claudia dan Lexa mengangguk. Setelah Xelino masuk ke dalam, Lexa dan Claudia saling berpandangan mencurigai pria yang sedang merekam mereka bertiga tadi.
"Mungkin dia paparazi yang hendak menyebarkan berita tak benar, Lexa!
"Ikut aku mom, show time!" Balas Lexa tersenyum tak senang yang berfirasat kalau Ansel akan berbuat buruk pada anaknya.
...
lanjut di bawah ya next part 38
jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕
__ADS_1