Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 26. Worried


__ADS_3


Biasanya rasa percaya diri kurang jika apa yang diinginkan tidak tercapai. Perasaan yang gundah dan khawatir menjadi pemicu untuk lebih dekat dengan orang yang kita sayang. Namun, apa jadinya jika orang tersebut terlihat senang bersama orang lain? Apalagi kita di pihak yang mungkin tidak diperlukan. Apa kita akan terus memperjuangkannya atau membiarkan? Bagaimana Xelino menanggapi tentang rasa sakit yang Carolyn alami? Berbagai hal tidak diketahui Xelino sampai dia merasa bukan dia yang dibutuhkan untuk membuat majikannya itu bahagia. Apa yang ia lakukan selanjutnya?


...


Mereka berempat masih menunggu dokter yang memeriksa Carolyn keluar dari ruang gawat darurat itu. Semuanya cemas. Xelino terus berdiri di depan pintu ruangan. Dia hendak menghubungi Gilbert dan Jennifer tapi lagi lagi Rietha terus melarangnya. Rietha masih ragu dan sedikit takut bagaimana respon kakaknya itu.


"Rietha, dokter yang memeriksa lama sekali. Mungkin Carolyn butuh penanganan. Cepat katakan pada Tuan Gilbert atau Jennifer!" Decak Deborah khawatir dengan keadaan Carolyn.


"Sebentar Deborah, kita tunggu sebentar lagi. Kakakku dan Jennifer juga tidak bisa melakukan apapun!" kata Rietha yang masih menenangkan dirinya.


Xelino terus melihat ke arah pintu mengapa sang dokter lama sekali. Membuatnya ingin measuk ke dalam dan melihat apa yang terjadi dengan wanita yang mulai ia cintai itu.


Akhirnya tak berapa lama seorang suster keluar dari ruangan itu. Xelino sedikit menjauh.


"Suster bagaimana keadaan Carolyn?" Tanya Xelino to the point. Rietha, Deborah dan Grizel tentu ikut menghampiri sang suster.


"Nona Carolyn harus dipindahkan ke ruang ICU, dia membutuhkan sterilisasi dan obat untuk menetralkan racun yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Dia belum sadarkan diri dan dia demam, harus membutuhkan penanganan khusus," jawab Suster memberitahu kondisi Carolyn.


"Lakukan suster, segera katakan pada dokter untuk langsung menjalankannya," kata Rietha memutuskan agar dilakukan tindakan lebih cepat.


"Baik nyonya kami akan mempersiapkannya," kata sang suster menyetujui.


"Bagaimana keadaannya sekarang sus?" Tanya Xelino lagi sangat cemas.


"Masih tak sadarkan diri tuan, kami sedang mencoba menyadarkannya karena sepertinya nona Carolyn juga harus melakukan nebulizer," kata suster lagi.


"Apa aku bisa melihatnya?" tanya Xelino yang sangat ingin melihat Carolyn.


"Dokter belum mengijinkan siapapun masuk karena kekebalan tubuh nona sangat sensitif. Mohon tunggu sebentar tuan. Saya harus menyiapkan ruang ICU untuk nona, permisi." Kata sang suster meninggalkan mereka untuk menyiapkan ruang ICU.


Xelino tampak frustasi dan kembali bersandar di pintu menunggu kabar selanjutnya.


"Tenang Oppa, Carolyn pasti baik baik saja," kata Grizel menghampiri Xelino.


"Seharusnya aku melarang dia untuk menghirup cat itu karena waktu membukanya saja sudah tercium bau tak enak," kata Xelino merasa bersalah. dia tidak bisa peka dan menjaga Carolyn dengan baik.


"Tidak ada yang bisa disalahkan, Xelino. Aku yang lupa memberitahu Deborah. Aku tidak tahu akan seperti ini," kata Rietha mendekati Xelino dan Grizel.


"Sebaiknya kita beritahu Tuan Gilbert, Nyonya Rietha," ujar Xelino memberanikan diri.


"Aku, aku," saut Rietha yang masih takut dengan terbata.


"Aku saja, biar aku yang menghubungi beliau. Aku yang bertanggung jawab," kata Xelino meyakinkan dirinya.


"Baiklah!" Balas Rietha mengelus lengannya sedikit ngeri akan kemarahan kakak laki laki nya nanti.


Xelino pun merogoh saku celananya untuk meraih ponsel dan menghubungi tuannya. Entah apa yang terjadi, yang terpenting tuannya tahu apa yang terjadi pada anaknya.


Benar saja ketakutan Rietha. Gilbert berteriak pada Xelino mengapa sampai terjadi.


"Tenang tuan, aku sudah memberi peringatan orang yang mengganti cat tersebut!" kata Xelino menambahkan Gilbert.


"Bagaimana keadaannya sekarang Xelino? Aku tidak mau sampai terjadi hal itu lagi, dia anakku satu satunya!" pekik Gilbert sangat cemas di seberang sana.


"Masih dalam penanganan tuan, nona masih tak sadarkan diri," saut Xelino melemah.


"Memang begitu, setelah itu dia akan sesak napas, oh Tuhan mengapa Rietha begitu ceroboh sih?" decak Gilbert menyalahkan Rietha.


"Ini salahku tuan yang membiarkan Nona Carolyn menghirup aroma cat tersebut," tutur Xelino bersedih.


"Sudahlah! Aku akan kesana bersama Jennifer. Tunggu kami!"


"Baik tuan,"


Xelino mematikan panggilan. Rietha sudah tampak cemas dan duduk di bangku penunggu. Tak lama dokter keluar dari ruangan. Xelino dengan cepat menghampirinya.


"Siapa di sini bernama Aciel?"


Deg!

__ADS_1


Pencarian sang dokter untuk orang yang bahkan sudah di alam lain membuat Xelino malah sedikit sesak karena Carolyn tidak menanyainya.


"Apa dia memanggil nama Aciel?" Tanya Rietha kemudian.


"Ya, nona Carolyn menyebut nama kak Aciel dan dia semakin demam nyonya. Nona Carolyn harus segera dilarikan ke ruang ICU," jawab sang dokter memberitahu igauan Carolyn.


"Dokter, aku Aciel, biarkan aku bertemu dengannya!" Celetuk Xelino kemudian. Dia begitu cemas sampai kembali membohong untuk melihat Carolyn. Sontak semua mata tertuju pada Xelino tapi tidak berkata apa apa.


"Oh, baiklah, silahkan masuk dan gunakan pakaian steril juga masker," perintah sang dokter.


"Iya iya," saut Xelino dan dia masuk ke dalam ruangan. Xelino segera mengenakan pakaian steril juga masker. Dia lalu menghampiri Carolyn dan memegang tangannya.


"Carolyn, ini aku Xelino, kau harus sadar Carolyn! Dengarkan aku, jangan mengikuti Aciel. Dia sudah berada di alam yang berbeda. Percayalah aku akan membuatmu bahagia. Jangan ikuti dia aku mohon, aku menyukaimu Carolyn, terserah kau mau menganggapku rubah busuk licik, terserah padamu, aku berjanji Carolyn akan membuatmu bahagia. Kumohon sadarlah. Semua mengkhawatirkan mu. Aku yakin, arwah Aciel sedang mendatangimu dan mengajakmu ikut bersamanya kan? Ku mohon jangan ikuti dia, ikut bersamaku saja. Aku yakin kau mendengarku, Carolyn!" Kata Xelino pelan sambil mengecupi tangan Carolyn. Dia begitu panik sampai tidak tahu apa yang ia katakan.


Tak lama Carolyn malah menghentak hentakan dadanya seperti sesak napas. Xelino makin panik dan mengingat kata kata Gilbert tadi di telepon.


"Oh Tuhan, Nona, mengapa kau jadi begini? Nona, Carolyn!" Panggil Xelino dan suster sudah mendatangi mereka.


"Ada apa tuan?" tanya sang suster.


"Dia sesak napas sus, tolong sus," pinta Xelino memohon.


Dan tak lama terdengar suara mesin pendeteksi jantung dengan Rima yang cepat.


"Maaf tuan silahkan keluar terlebih dulu," kata sang suster dan Xelino mengikutinya. Suster memeriksa nadi Carolyn yang begitu cepat. Dokter pun tiba memeriksa dan melakukan penanganan. Dia mempercepat pergerakan oksigen yang masuk. Xelino melihatnya di dekat pintu. Dia tidak kelur karena sangat mencemaskan Carolyn. Hanya sebentar Carolyn merasakan sesak setelah itu dia kembali tenang dan dokter memeriksa suhu tubuhnya menurun serta detak jantungnya kembali stabil.


"Ruang ICU sudah siap dok, Nona Carolyn bisa segera dipindahkan kesana dan dialirkan obat," ujar sang dokter memberitahu pada sang dokter.


"Ya, segera lakukan," kata sang dokter pada suster lalu dia menghampiri Xelino.


"Tenang saja tuan, sepertinya nona Carolyn sudah melewati masa kritisnya tapi masih belum sadarkan diri hal ini wajar. Semoga setelah dialirkan obat penetral tubuhnya dia dapat kembali sadar. Maaf, apa anda kekasihnya?" tanya sang dokter .


"Ya, aku kekasihnya," jawab Xelino menunduk.


"Nona sangat beruntung memiliki kekasih yang penuh perhatian seperti anda," puji sang dokter tersenyum.


Xelino hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan sang dokter. Dia hanya tidak mau terjadi apa apa pada Carolyn. Xelino pun keluar ruangan karena sudah tenang dengan keadaan Carolyn. Tak lama Xelino keluar, Carolyn dipindahkan ke ruang ICU.


"Rietha, mengapa sampai lupa mengatakan pada Deborah atau Xelino?" tanya Jennifer pada adik iparnya.


"Aku tidak tahu Xelino bisa bersama mereka sementara aku lupa mengatakan pada Deborah, aku minta maaf Jennifer," ucap Rietha menundukan kepalanya menyesal.


"Kalau kejadian waktu itu terulang lagi bagaimana?!" kata Jennifer lagi sangt cemas.


"Sudahlah, besok Carolyn tidak usah bekerja lagi!" Decak Gilbert memutuskan dengan gegabah.


"Ini semua salahku! Seharusnya aku langsung saja memberikan dia perusahaan!" Kata Gilbert lagi duduk melemah sambil menutup wajahnya menyesal.


"Tenang tuan, Nona Carolyn tidak apa apa. Sebentar lagi, jika obatnya sudah masuk ke seluruh tubuhnya, dia akan sadar," tutur Xelino menenangkan tuannya.


"Benarkah Xelino?" Gilbert menoleh ke arah Xelino.


"Percaya padaku dan sebaiknya biarkan Nona Carolyn terus bekerja. Dia sudah berubah, tuan, dia juga pasti akan menolak jika kau melarangnya bekerja. Jangan sampai menelan ludah sendiri tuan!" Xelino memperingati.


Gilbert makin menatap Xelino. Xelino benar benar sudah membuat anaknya berubah.


"Maaf kalau perkataan saya kasar. Saya hanya menjalankan perintah, tuan," ucap Xelino merasa ada kata katanya yang salah.


"Terimakasih Xelino. Tidak sia sia aku menitipkan dia padamu," ucap Gilbert merasa beruntuk mempekerjakan Xelino menjadi asisten Carolyn.


Xelino mengangguk tersenyum. Mereka lalu menunggui Carolyn sampai tersadar tapi tak kunjung juga sadar. Kata dokter memang Carolyn membutuhkan istirahat agar obatnya bekerja dengan baik. Gilbert dan Jennifer sudah menyuruh Xelino untuk pulang dan beristirahat tapi dia tidak mau. Dia mau melihat wanitanya sadar. Akhirnya hanya Gilbert dan Xelino yang menunggui Carolyn. Gilbert juga tidak tenang meninggalkan anaknya. Sementara Jennifer dan Rietha pulang lalu akan kembali keesokan paginya.


Xelino sudah membelikan makan malam untuk Gilbert. Mereka makan di ruang tunggu khusus di samping ruangan kaca ICU Carolyn. Setelah makan, Xelino sudah melepaskan jasnya dan tetap melihat kondisi Carolyn dari luar ruangan yang dibatasi dinding kaca bening itu. Gilbert sudah beberapa kali masuk memastikan kondisi anak perempuannya itu. Sampai keesokan harinya, Carolyn masih juga belum sadar. Gilbert dan Xelino harus ke kantor terlebih dulu. Mereka pun bertukar dengan Jennifer dan Lilian yang sudah datang


Xelino mengantar Gilbert ke rumah terlebih dahulu dan Xelino juga kembali ke apartemennya. Dia membersihkan diri dan hanya ada Carolyn dipikirannya. Untung saja Lexa dan Claudia masih ada di desa sehingga dia bisa saja tidak pulang dan menunggui Carolyn. Xelino sudah siap untuk kembali menjemput Gilbert dan ke kantor terlebih dahulu. Xelino tampak diam saja selama bekerja. James sampai bingung dan mengetahui kalau Carolyn sakit dari Lidya.


Ketika jam makan siang, Xelino langsung menuju ke rumah sakit ingin mengetahui kondisi Carolyn. Sementara Gilbert harus menghadiri rapat dengan direktur inti ditemani James. Xelino sudah membelikan roti ikan dan Japanis Cheesecake kesukaan Carolyn. Dia berharap Carolyn sudah sadar.


Sesampainya di sana, Xelino tidak menemukan Carolyn di ruang ICU. Carolyn sudah dipindahkan ke ruang perawatan karena sudah sadar dan hanya perlu istirahat yang ekstra selama beberapa hari ini. Xelino menarik napas lega kalau akhirnya majikannya itu sudah sadar.


Xelino segera menuju ke ruang perawatan yang diberitahukan oleh sang suster. Baru saja Xelino hendak berbelok, dia bertemu dengan Grizel dan Lila yang disuru Rietha dan Deborah menjenguk Carolyn dengan membawa sup ayam jamur kesukaan Carolyn.

__ADS_1


"Xeli oppa!!! Kau dari mana?" Tanya Grizel menghampiri Xelino.


"Hai Grizel, dan??" Xelino memicingkan matanya karena belum tahu siapa nama gadis di samping Grizel.


"Lila," kata Lila sendiri.


"Ok Lila," balas Xelino tersenyum ramah.


"Kau dari mana oppa?" tanya Grizel.


"Aku tidak tahu kalau Carolyn sudah dipindahkan di ruang perawatan, jadi tadi aku mendatangi ruang ICU terlebih dahulu," jawab Xelino menggaruk belakang kepalanya.


"Ah iya, kami juga baru diberitahukan Nyonya Rietha. Yasudah, ayo kita bersama sama. nyonya Rietha menyuruh kami mengantarkan sup ayam jamur ini," kata Grizel lagi.


Xelino hanya tersenyum tipis. Mereka bertiga bersama sama menuju ke ruang perawatan Carolyn di lantai 5 ruang super VIP.


Xelino jalan lebih awal. Namun, baru saja Xelino hendak membuka pintu kamar yang terdapat kaca bening di tengahnya, terlihat dari luar Carolyn tampak sedang menerima suapan dari seorang pria. Ya, Ansel sudah datang menjenguk Carolyn dan menyuapi Carolyn. Carolyn pun tampak menikmati mereka yang sambil bicara.


Xelino tentu agak cemburu, tapi dia mengesampingkan perasaannya agar bisa menemui Carolyn. Xelino pun membuka pintu nya perlahan.


"Carolyn, sepertinya kau dekat sekali dengan asistenmu sampai dia mengerahkan semua penjagaan untuk melindungimu. Apa kau nyaman di dekatnya?" tanya Ansel.


"Biasa saja," jawab Carolyn tersenyum tipis.


sesaat hati Xelino bergetir mendengarnya. sepertinya dirinya belum sepenuhnya mengisi hati Carolyn.


"Oh, aku pikir kau malah menyukainya?" gumam Ansel lagi.


"Menyukainya?" saut Carolyn menaikan alisnya.


"Ya, aku pikir kau menyukainya dan sepertinya dia menyukaimu," kata Ansel lagi.


"Hahaha, mana mungkin aku menyukai seorang asisten, Ansel. Aku menjadi asisten Nyonya Deborah saja sudah sangat menjatuhkan diriku dan sekarang kau mengatakan aku menyukai seorang asisten seeprti Xelino yang tinggalnya di desa? Tidak masuk akal! Otakku pasti sudah rusak dan mungkin aku bisa mati suri lagi kalau sampai hatiku memutuskan untuk menyukainya," saut Carolyn yang tidak mungkin mengatakan persaan sebenarnya di depan Ansel.


Namun, sayangnya Xelino mendengarnya. Entah mengapa perasaannya sakit sekali. Satu harian dia mencemaskan majikannya tapi sepertinya jabatan memang masih berpengaruh dari Carolyn. Berbeda mungkin kalau Xelino diketahui anak dari Leon Janson, pasti Carolyn dengan senang hati mengakuinya. Xelino merasa sepertinya Carolyn tidak membutuhkannya. Buktinya kemarin saja Carolyn malah menyebut nama Aciel. Seketika hati Xelino bergetir. Dia tidak sanggup melihat Carolyn dekat dengan pria lain. Sepertinya dia harus menjaga jarak terlebih dulu sebelum yakin akan perasaannya. Benar kata ibunya kalau kedudukan itu sangat berpengaruh. Seperti dirinya yang pernah menyukai Zhavia dulu sementara Zhavia tidak pernah menunjukan ketertarikan padanya.



Akhirnya Xelino mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia kembali keluar. Ternyata Grizel dan Lila juga mendengar perkataan Carolyn. Grizel menangkap kesedihan pada wajah Xelino. Grizel tahu kalau Xelino menyukai Carolyn dan sepertinya Carolyn mengatakan itu karna di depan Ansel saja.


"Oppa, kau baik baik saja?" tanya Grizel dengan wajah ikut bersedih.


"Ya, aku baru ingat kalau aku harus menjemput ibuku, dia baru kembali dari desa. Lagipula sudah ada yang menemani Carolyn. Lila, katakan saja kue ini darimu. Berikan padanya!" kata Xelino memberikan bingkisan kue pada Lila.


"Apa kau tidak akan kembali?" selidik Grizel merasakan apa yang Xelino rasakan.


"Entahlah, aku juga masih banyak urusan di kantor. Ok? Ingat jangan katakan aku datang ya? Nanti dia tambah kesal dan tidak sembuh sembuh. Baiklah, sampai jumpa beruang kecil dan bunga lilac, salah satu bunga kesukaan bibiku. Kalian berdua cocok sekali, bye!" Kata Xelino masih membuat orang lain tersenyum.


Xelino pun melangkah pergi. Dia yakin kalau Ansel tidak akan menyakiti Carolyn selama ada Grizel dan Lila juga para suster.


"Lila, oppa kasihan sekali, dia patah hati," tutur Grizel yang masih melihat punggung tegap itu menjauh.


"Iya, Carolyn keterlaluan," dengus Lila ikut kesal.


"Tidak Lila! Aku yakin kalau Carolyn terpaksa mengatakan itu, sudah ayo kita jaga Carolyn dari Tuan Ansel mata keranjang itu!" ajak Grizel yang tidak akan membiarkan kedekatan Ansel dengan Sahabatnya.


Lila mengangguk dan mengikuti Grizel masuk ke dalam ruangan.


...


...


...


...


...


jangan lupa like dan komen


thanks for read and i love you 😍

__ADS_1


__ADS_2