Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 65


__ADS_3

Lexa terpelanting dengan sangat cepat ke bawah sungai sana. Dia sudah memejamkan matanya dan dia sudah berpikir kalau dirinya pasti akan mati.


Byur! Dia terjatuh di air sungai itu. Lexa masih sadar hanya kepalanya agak sakit karna terjatuh dan terbentur air sungai meskipun benda cair namun di kepalanya sangat terasa. Lexa agak terbawa arus sehingga Angel yang melihat nya dari atas tidak melihat keberadaannya lagi. Lexa lalu mencoba menengadahkan kepalanya ke atas air sungai dan melihat sekitar meskipun agak samar dan rabun. Langit sangat mendung dan penerangan di sungai maupun di jembatan tadi tidak terlalu baik.


Lexa lalu melihat sebongkah kayu yang mengambang di sungai. Dia mencoba berenang meraih kayu tersebut. Dia berpikir pasti akan ada binatang binatang air di sungai ini. Dia harus segera ke permukaan sungai. Untung saja Lexa bisa berenang, kalau tidak, dia sudah mati tenggelam.


"Lexa! Kau harus ke permukaan! Leon pasti mencarimu! Dia tidak akan membiarkanmu mati kedinginan di sungai ini! Memalukan jika kabar berita meninggalku karna jatuh dari sungai, lagipula aku masih harus melihat anak Nyonya Viena. Ah aku jadi merindukannya! Aku harus berenang ke pinggir pantai, harus! You can do it Lexa!!!" Gumam Lexa dalam hati sambil terus berenang menepikan dirinya.


Hujan semakin deras dan angin semakin kencang berhembus. Lexa semakin sulit berenang menepi mengingat arus sungai juga ikut kencang. Namun, Lexa tak menyerah, dia terus berusaha menepi sampai ia melihat akar pohon yang melintang ke sungai dan beberapa serabut serabut pohon bergelantungan. Dengan pikiran yang cepat, dia meraih akar pohon dan serabut pohon tersebut sehingga dia tidak ikut arus sungai lagi.


Lexa agak terbawa jauh dari lokasi jembatan. Akhirnya dia bisa menepi ke daratan. Semua tubuhnya basah dan dia kedinginan. Hutan disekitar sungai tersebut sangat gelap. Dia meraih ponselnya yang ia bawa dan ia letakan di saku celana jeans nya. Ponselnya mati bahkan agak retak di bagian LCD nya. Mungkin terkena benturan pada benda benda yg ada di sungai.


"Sial!" Decak Lexa dan ia bergidik. Seluruh tubuhnya kedinginan. Dia berjongkok sesaat disamping pohon rindah di pinggir sungai.


"Apa aku akan mati?" Gumam Lexa dalam hati.


"Hemm, Leon, kau dimana? Apa kau mencariku? Apa Angel mencari bantuan atau dia diam saja sama seperti dia meninggalkanku waktu itu? Hem, mengapa jadi seperti ini lagi? Tuhan, aku sudah menjadi baik, mengapa aku malah yang nelangsa seperti ini? Aku heran dengan Mu Tuhan, apakah begini kau menguji orang orang baik? Kalau saja dia tetap menjadi baik, kalau sebaliknya bagaimana? Ah, ini semua tidak benar!!" Lexa berkata kata pelan dan terbata untuk mengusir rasa dinginnya.


"Lexa! Ayo berdiri, cari cahaya dan ikuti cahaya itu!" Gumam Lexa yang merasa dia tidak akan mendapatkan apa apa jika hanya diam berjongkok. Dan lagi, dia mulai mendengar auman auman srigala kecil yang mendengung di telingannya.


Mata Lexa membelalak


"Ahh!! Sakit sekali kepalaku, dan paha ku? Ya Tuhan, kenapa bisa berdarah seperti ini?" Lexa terkejut mendengar lolongan srigala lagi dan hendak berdiri namun kepalanya pening dan penglihatannya agak buram. Dia juga merasakan perih pada pahanya yang ternyata sudah berdarah. Lagi lagi, mungkin tersayat ranting tajam di sungai tadi.


Lexa akhirnya berjalan agak terseok seok menghindari suara lolongan srigala yang dia takuti ada di sekitarnya. Dia akhirnya melihat sebuah cahaya yang berasal dari sekitar daerah di bawah jembatan tadi.


"Tolloongg!!!" Lexa berusaha berteriak namun gagal. Suaranya tiba tiba habis. Suaranya serak dan tenggorokannya ikut sakit. Benar benar kondisi yang sangat tidak mengenakan bagi Lexa. Namun, Lexa tidak menyerah. Dia terus berjalan terbata bata dan mencari cahaya terus menerus. Matanya sesekali menyipit dan terpejam karna merasa darah dari pahanya yang keluar sedikit demi sedikit dan keadaan tubuhnya basah. Lexa terus menggigil karna dinginnya hujan dan malam menjadi satu sampai menembus tulang tulangnya.


Untung saja hujan tidak kembali deras, hanya rintik dan angin masih berhembus. Kalau saja hujan deras dan air sungai meluap, Lexa benar benar pasrah. Dia terus berjalan sambil menyebut nama Leon di dalam hatinya. Dia sangat yakin kalau Leon akan mencarinya. Tidak lupa, Lexa juga memanjatkan doa sampai akhirnya dia sudah tidak kuat lagi. Semua tubuhnya tak karuan. Kepalanya semakin pusing. Pahanya semakin perih dan akhirnya Lexa tak sadarkan diri.


"Leon, aku mencintaimu.."


hanya itu yang Lexa katakan dan ia terjatuh di pinggir pohon yang letaknya agak jauh dari pinggir sungai.


...


Sementara itu Leon berlari ke jalan kecil untuk menuruni bukit rumahnya sehingga dapat sampai ke sungai curam itu. Sewaktu kecil Leon selalu bermain di sini. Leon juga masih ingat semua kawasan kawasan Desa Serena ini yang sebenarnya agak terpelosok. Leon berlari tergesa tanpa memikirkan dia nanti akan jatuh atau tidak. Dia harus menemukan Lexa. Secepatnya sebelum tengah malam. Leon tidak mau ada pencarian hari kedua ketiga. Memikirkannya saja dia tidak mau. Dia ngeri. Dan, bagaimana lagi kalau majikannya dan Viena tahu kalau Lexa jatuh dari sungai dan tidak diketemukan.


Semua keluarga Viena khususnya Egnor pasti akan menyuruhnya kembali mencarinya. Sebelum semuanya menjadi kasus yang membuatnya gila, Leon harus menemukan kekasih jiwanya itu. Air mata Leon sudah terjatug. Dia membayangkan bagaimana Lexa sendirian di hujan seperti ini. Dia sudah membayangkan, Lexa pasti menunggunya. Berjongkok di bawah pohon memeluk kakinya karna kedinginan.


"LEXAA!!!" Teriak Leon sambil menuruni bukit. Dia berteriak terus memanggil nama Lexa.


Akhirnya dia tiba di sungai yang airnya pasti akan mengalir ke arah jembatab itu. Leon menyenterkan ke arah air dan hutan. Dia melihat dengan sangat teliti. Dia belum menemukan keberadaan Lexa. Leon terus berjalan di bawah rintik hujan. Leon juga tidak mengenakan apa apa. Bahkam jas hujan pun Leon tidak mengenakannya. Dia sudah sangat panik dan dengan segara ingin menemukan wanitanya.

__ADS_1


"Argh, LEXAAAAAA!!!! Seharusnya aku benar benar tidak boleh membiarkanmu sendiri. Harus terus bersamaku! Kalau sudah ketemu, aku tidak akan mengijinkanmu kemana mana lagi!! Akan kukurung kau kelinci!!! Biar saja ku kurung kau dan kuberikan wortel setiap hari agar kau menjadi gendut dan kau tidak bisa kemana mana! Argh, Lexa!!!!! Kau dimana?!!!" Decak Leon sambil terus mencari Lexa sampai ia tiba di kerumunan pria pria tua dan beberapa yang muda di bawah jembatan itu.


"Leon?" Panggil seorang pria tua.


"Iya Tuan! Apa kalian sudah menemukan kekasihku?" Tanya Leon dengan tetesan air hujan dari rambutnya. Rambutnya sudah menutupi semua dahinya.


"Belum Leon, kami tidak menemukan tanda tanda, kami takut gadis itu sudah hanyut terbawa arus. Karna tadi sempat hujan sangat deras." Jawab pria itu.


"Tapi Leon, sepertinya memang nona itu terjatuh ke sungai, ini seperti koyakan sebuah celana jeans yang tersangkut di batu batu karang itu." Seseorang menghampiri Leon dan pria tua itu lalu memberikan koyakan celana jeans biru dongker.


Leon lalu mengambilnya.


"Iya, ini Lexa! Tolong Tuan, semuanya, cari terus disekitar sekitar sini, aku mohon!!! Hanya kalian yang dapat membantuku!!!" Leon tersungkur dan memohon pada orang orang itu.


Pria tua itu sangat kasihan. Pria itu mendirikan Leon.


"Jangan seperti ini nak, kami akan terus mencarinya sampai tengah malam ini ya? Biar bagaimanapun ayah ibumu juga sangat baik kepada kami. Hanya ini pembalasan kebaikan kedua orang tua kalian. Sudah, ayo kita cari lagi, kalau kau yakin kekasihmu akan ketemu, pasti akan ketemu! Ayo!!" Sang pria tua itu memberi semangat.


Pria tua itu sudah kembali mencari sekaligus mengomandokan kepada teman temannya untuk terus mencari.


"Leon, tolong aku!" Tiba tiba Leon merasakan seorang wanita berbicara di kupingnya. Dia sangat yakin itu Lexa. Batinnya membuncah, dia seperti mendengar Lexa di arah berlawanan dengan yang Leon tapaki tadi.


Dia lalu berlari ke arah sana sambil terus meneriaki nama Lexa. Tak lupa dia terus menyenteri bagian bagian pinggir sungai seperti hutan hutan dan pohon pohon rindang. Dia akhirnya agak masuk ke dalam hutan. Hatinya terus bergemuruh. Dia agak lelah. Akhirnya dia berdiam diri terlebih dahulu.


Leon mendengar suara itu lagi dan dia langsung berdiri. Jantungnya berdegup. Dia benar benar takut terjadi sesuatu pada Lexa. Hatinya kalut. Dia belum melihat tanda tanda keberadaan Lexa. Dia melihat ke kanan dan ke kiri.


"Leon, aku mencintaimu!"


Kali ini seperti hati kecilnya yang berbicara.


"Lexa, aku juga mencintaimu, kau di mana, Lexaaaa!!!! Aku di sini!!!" Leon berteriak di tengah hutan, namun tetap tidak ada keberadaan Lexa.


"Apa dia benar benar hanyut?! Tidak, aku merasa dia di dekat sini! Aku yakin!!!!" Kata Leon dan terus mencari mancari dan mencari.


Kini kepalanya juga pening karna cahaya yang kurang, hujan rintik dan senter yang ia bawa hendak redup.


Leon menarik napas dalam dalam. Dia akhirnya berjongkok di sebuah pohon rindang. Dia berdoa kalau saja ada hari baik suatu saat nanti baginya yang dapat ditukar dengan hari ini dalam menemukan Lexa? Dia mau tukar saja. Dia mau Lexa sekarang dan tidak peduli dengan hari baik yang paling membahagiakan dalam dirinya nanti. Dia mau Lexa sekarang.


"Tuhan! AKU MAU LEXA SEKARANG!!!!" Teriak Leon menyugar rambutnya ke belakang.


Dan tak lama ..


Sebuah tangan putih, langsing, mungil yang sangat lemah dan agak rapuh menggerayangi sepatu Leon.

__ADS_1


"Leeeooonnn ..."


...


...


...


Duerrr siapa itu?


**** vii kok jd horor?


Ya pikir aja sendiri lahhh dah masa iya buat setan setanan aku hahaha itu setannya uda nenangisan nyesel mo jadi angel di rumahnya wakakak 😝😝


.


Next part 66


Apakah itu Lexa?


Em, apakah Leon benar tidak akan mengalami hari baik setelah doanya?


Stay tune guys


.


Jangan lupa LIKE dan KOMEN YAAA


Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil


Dukungan kalian merupakan semangat besar akuu 😍😍


.


Selamat membaca


Selamat hari minggu


And?


I love you in the morning and everytime


Good to me ayaya 😁😁

__ADS_1


__ADS_2