
Sepintar pintarnya menyembunyikan sebuah bangkai, maka aromanya akan segera tercium. begitu juga sesuatu yang dilakukan secara diam diam, pada akhirnya akan terbongkar. bukan hanya itu, tetapi juga kepura puraan dan kebohongan juga akan terlihat sedikit demi sedikit. hal yang positif juga akan ketahuan kalau pada akhirnya semua kenyataan itu harus terungkap! Casey, Ansel, maupun Xelino menyembunyikan setiap gerak gerik mereka pada Carolyn. begitu juga sebenarnya Carolyn yang masih menutupi perasaannya pada Xelino. kapankah hal itu terbongkar? kapan semuanya berkata jujur atau diketahui secara tidak sengaja? memang sulit jika kehidupan ini dilakukan secara jujur, pasti ada saja kebohongan kebohongan kecil yang menghiasinya.
...
Casey menggunakan kembali sepatunya dan hendak menghubungi Ansel. Dia bisa membuat sebuah drama kecelakaan ini karena Ansel. Ansel yang menghubunginya kalau dia tidak bisa memaksa Carolyn untuk ikut dengannya ke pinggir pantai.
"Begitulah Carolyn sayang, jika tidak menerima pria yang kuberikan padamu! Kau tunggu saja, sebentar lagi Xelino dan semua milikmu akan menjadi milikku, heng, anak kecil!" Decak Casey angkuh. Dia pun meraih ponselnya.
"Aku akan turun, tunggu di bawah!" Katanya pada panggilan tersebut.
"Cepatlah sayang, aku sudah merindukanmu!" Saut seorang pria di seberang sana.
Casey mematikan panggilan dan menyimpan ponselnya di dalam tas nya. Dia pun keluar dari ruangan tanpa menyadari ternyata ada seseorang yang mendengar gumaman nya. Seseorang itu tampak tak puas dengan apa yang ia dengar jadi ia mengikuti kemana Casey pergi.
Casey sampai di basement parkir bawah tentu saja menemui Ansel yang sudah menjemputnya. Dia berjalan dengan dagu terangkat menghampiri kekasihnya. Ansel membuka tangannya hendak mendapatkan pelukan Casey.
"Hem, bukankah kau sudah menyukai Nona Delinsky yang sebenarnya?" Kata Casey menerima pelukan Ansel dan memain mainkan dasinya.
"Hanya selingan, lagipula mengapa aku menyukai wanita yang tidak ada apa apanya dibandingkan dirimu, Case?" Saut Ansel membelai salah satu pipi Casey.
"Dia seorang arsitek," gumam Casey memuji adiknya.
"Kau seorang pengusaha, sekaligus pengusaha hatiku!" Balas Ansel seakan memiliki gudang kata kata untuk merayu seorang wanita.
"Cih, manis sekali mulutmu!"
"Kau ingin mencicipinya? Sudah lama kita tidak melakukannya, kau tidak merindukanku?" bisik Ansel memancing gairah Casey.
Casey tersipu malu dan menundukan kepalanya sambil membuka dasi Ansel secara perlahan. Ansel sudah tak kuasa melihat Casey dengan kemeja fit body dan rok slim yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Belum lagi beberapa kancing atas kemeja kekasihnya itu terbuka, membuat dirinya ingin menerkam dua bongkahan kenyal di samping kanan kiri belahannya. Ansel pun meraih dagu Casey dan mencium bibirnya. Satu tangannya membuka pintu mobil belakang dan mereka masuk di sana.
Ansel mencumbu dan membuat Casey menikmatinya. Dia mencengkram lembut rambut Ansel karena merasakan sebuah getaran yang memabukan gairahnya. Dan semuanya terjadi dengan cepat karena mereka tahu di mana mereka melakukannya. Namun, baru saja Ansel hendak mencapai pelepasan, ponselnya berbunyi.
"Ouch F*ck it! Who is this?!!!" decak Casey kesal.
"Abaikan! Sebentar lagi Case! Argh!!!" Ansel mengabaikan panggilan itu dan terus menguasai Casey sampai selesai.
Panggilan itu terus berdering dan Ansel salah tingkah ketika melihat nama di layar ponsel itu. Casey melihat ketika dia membenarkan kemejanya.
"Ada apa dengan asistenmu? Mengapa dia menghubungimu terus terusan seperti itu? Beberapa hari yang lalu juga seperti ini, menganggu saja!" decak Casey bertanya tanya dengan ketus.
"Tidak penting! Pasti masalah keluarganya!" saut Ansel asal dan membela diri.
"Kau jangan macam macam ya, kartu matimu ada di tanganku!" Ancam Casey.
"Tenang saja!" Balas Ansel meyimpan ponselnya dan mensugar rambutnya. Dia masih mencuri ciuman dari Casey yang tampak kesal dengan ulah mencurigakan Ansel dan asistennya.
...
Sementara Xelino dan Carolyn sudah berada di mobil. Carolyn masih menekuk wajahnya karena Xelino bertindak seenaknya dan belum meminta maaf. Entah mengapa Carolyn jadi merindukan kata mafa di sertai wajah Xelino yang manja dan menggemaskan. Karena semua kekesalan ini, Carolyn lupa belum memasang sabuk pengaman. Dia hanya melihat keluar sementra Xelino terus memperhatikannya.
"Cepat jalan! Untuk apa kau memandangiku?" perintah Carolyn yang heran karena Xelino belum mengemudikan mobilnya.
"Aku menunggumu mengenakan sabuk pengaman atau kau sengaja menungguku yang mengenakan sabuk pengamanmu, iya?" Saut Xelino sambil meraih sabuk pengaman Carolyn dan memasangkannya. Carolyn tentu terkejut dengan sikap Xelino. Dia diam saja. Dia mengingat kejadian beberapa tahun silam ketika Aciel terus mengingatkannya tentang sabuk pengaman tapi tidak pernah berinisiatif memasangkannya.
"Nona, kau masih cemburu?" Tanya Xelino mendongakan kepalanya masih di depan Carolyn.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya berdegup sangat kencang sampai sepertinya Xelino mendengarnya.
"Nona? Mengapa kau memandangku seperti itu?" tanya Xelino lagi.
"Tidak apa! Sudah sana, untuk apa kau terus berdekatan denganku? Sana sana!" Decak Carolyn tersadar. Xelino malah tersenyum dan memegang pipi Carolyn.
"Maafkan aku," ucap Xelino pelan.
Deg!
Lagi lagi jantung Carolyn seperti dipukul pukul stik drum. Dia mendapat pemandangan menggemaskan ini. Tanpa sadar tangannya pun sudah bertanggar di salah satu pipi Xelino.
"Jangan seperti itu lagi, aku memang ingin bertemu denganmu, tapi kau malah bermesraan dengan wanita lain," balas Carolyn dengan nada pelan.
"Tidak lagi, sekarang jangan cemberut lagi, aku mohon, nona?" Saut Xelino memegang tangan Carolyn yang memegang pipinya. Namun, karena Xelino memanggilnya nona, dia jadi tersadar beberapa hal yang harus dibatasi. Carolyn menarik tangannya dan memalingkan wajahnya keluar jalan.
__ADS_1
Xelino terkejut tapi juga gemas dengan Carolyn yang salah tingkah karena ia kembali menyentuhnya. Xelino pun menegakan tubuhnya di depan kemudi.
"Cepat jalan! Aku sudah lapar!"
"Siap laksanakan, tuan putri!" Pekik Xelino menarik perseneling dengan semangat dan tersenyum lebar.
"Cih!" Carolyn agak menoleh dan berdecih tersenyum tipis.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan ke taman samping gereja itu. Xelino menoleh ke arah Carolyn yang wajahnya masih terlihat datar. Entah apa yang Carolyn pikirkan. Dia sampai tidak sadar kalau Xelino sudah menghentikan mobilnya di parkiran gereja.
"Nona, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Xelino meraih satu tangan Carolyn. Carolyn tentu terkejut dan menarik tangannya.
"Tidak apa apa, kita sudah sampai?" tanya Carolyn kembali.
"Sudah Nona," jawab Xelino yang masih agak asing dengan Carolyn karena sikapnya yang dingin.
"Hem, kau masih marah padaku?" Tanya Xelino pada Carolyn yang hendak keluar dari mobil.
Carolyn setengah menoleh. Hatinya memang masih getir melihat Casey berada dipangkuan Xelino. Mungkinkah Xelino akan menyukai Casey lama kelamaan ? Pikirnya. Carolyn hanya menggeleng dan keluar dari mobil. Xelino tentu menyusulnya menuruni mobil. Xelino kembali memperhatikan Carolyn yang kini berdiri dengan semua penampilannya. Sangat anggun dan cantik. Xelino baru menyadari kalau nona nya kini jauh lebih dewasa dan elegan ketimbang pertama kali bertemu.
"Nona, kita langsung ke taman atau tunggu aku membeli kue ikan?" Tanya Xelino tiba tiba sudah merangkul pinggang Carolyn. Carolyn tersentak dan hendak menghindar tapi Xelino menahannya.
"Mengapa kau terus menghindar dariku hah?" Bisik Xelino dengan nada mendominasi.
"Karena memang tidak boleh bersentuhan! Nanti kau menyindir ku lagi karena dengan mudah menerima semua sentuhanmu, ya kan?" Decak Carolyn menarik diri walau tetap dalam rangkulan tangan Xelino.
"Aku sudah meminta maaf, mengapa kau masih sedingin ini?" kata Xelino menuntut.
"Kau mau aku tidak dingin padamu?" kata Carolyn kemudian.
Xelino mengangguk.
"Lepaskan tanganmu dan jangan pegang pegang aku lagi!" dengus Carolyn menarik dirinya dengan sekuat tenaga.
"Oohh, baiklah, aku tidak akan memegang mu lagi! Kau duluan saja sana, aku akan membeli kue nya dulu!" balas Xelino juga jadi sebal.
"Itu lebih baik, cepat sana!" Saut Carolyn lagi. Namun, ketika Xelino berbalik dan membeli kue ikan, Carolyn jadi bersedih karena semudah itu Xelino menyerah.
"Hem, sudahlah aku tidak peduli! Kalau aku lemah maka dia akan seenaknya padaku! Kalau begini dia pasti akan mencoba lagi walau tidak kali ini, Heng rubah tengik, rasakan jebakanku!" Ujar Carolyn tersenyum licik dan masuk lebih dulu ke taman.
"Hem, ingin sekali aku melukis selain bangunan, mungkin aku bisa bertanya padanya, Xelino juga belum datang," tutur Carolyn tapi ketika dia hendak beranjak, Xelino sudah datang.
"Mau kemana? Ini kue ikan dan es kopi susu nya. Makan selagi hangat," kata Xelino menahan Carolyn yang hendak menghampiri pelukis tersebut.
Karena aroma kayu manis juga terigu dan susu karena kue tersebut sangat menggeliurkan membuat Carolyn lupa akan keinginannya. Dia lalu menerima paper bag coklat itu dan langsung mengambil kue ikan itu. Dia tidak tahu kalau ternyata masih sangat panas.
"Aw!" Pekik Carolyn menarik tangannya dan hampir saja paper bag berisi kue itu terjatuh kalau Xelino tidak menahannya.
"Haiz, panas sekali, tanganku merah, Xelino!" Keluh Carolyn melihat ujung ujung jarinya.
"Kan aku sudah bilang masih hangat bukan berarti tidak panas!" decak Xelino memperingati.
"Aroma sangat menggeliurkan, aku ingin cepat memakannya," sungut Carolyn tak sabar.
Xelino meletakan semua makanan dan minuman itu dan langsung meraih jemari Carolyn. Dia meniup niupinya. Hati Carolyn kembali tak menentu, mengapa Xelino selalu memperhatikannya selembut ini? Dia semakin menyukai bahkan sudah mencintai pria ini. Namun, Carolyn masih takut kalau Xelino benar sudah memiliki kekasih. Selain itu dia takut kalau Xelino masih menganggapnya majikannya. Carolyn belum sanggup mendengar perkataan kasar Xelino lagi.
Selagi Carolyn memperhatikan Xelino, ternyata Xelino juga meliriknya sesekali.
"Nona, bolehkah aku mengecup jemarimu?" ijin Xelino karena takut menerima penolakan lagi.
Carolyn masih tidak sadar.
"Nona!" panggil Xelino lagi.
"Hah? Nona nona, apa tidak bisa kau memanggilku Carolyn saja?" dengus Carolyn.
"Kau tidak marah?"
"Tidak! Sepertinya yang menggajimu daddyku jadi jangan lagi memanggilku nona!" saut Carolyn asal karena dia mulai ingin derajat dirinya dan Xelino sama walau dia tidak tahu siapa sebenarnya Xelino.
"Olyn, apa aku boleh mengecup jemarimu?" tanya Xelino kemudian.
"Cih, Olyn! Tidak usah sok melucu, Carolyn saja Xelino," pinta Carolyn lagi.
__ADS_1
"Kau ini banyak mau! Cup cup cup!" Xelino sudah tidak sabar ingin memberikan kenyamanan dan kesan lagi pada Carolyn jadi dia sudah mengecupinya. Carolyn merasa tingkah Xelino jadi seperti kekanak kanakan. Dia pun akhirnya terkekeh. Xelino kembali mendongak setelah mengecupi ujung jemari Carolyn.
"Kau cantik sekali, Carolyn dengan tawamu, dan penampilanmu hari ini," ucap Xelino kemudian. Mereka pun berpandangan. Xelino tersenyum lebar dan harus menyudahi semua ini. Dia belum siap mengutarakan hatinya. Masih ada yang harus ia buktikan lagi dan lagi. Ini baru awal Carolyn sudah menyuruhnya memanggil nama.
"Baiklah, kalau tanganmu sakit, biar aku saja yang menyuapimu!" Kata Xelino menarik diri dan meraih paper bag coklat kue ikan itu.
Carolyn terkejut dan melipat bibirnya.
'aku pikir dia akan mengatakan perasaannya, hem! Memang rubah tengik, aku benar benar benci padamu, benar benar cinta! Ah menyebalkan!' dengus Carolyn dalam hati melihat kembali ke arah taman dan si pelukis, tapi pelukis itu sudah pergi.
"Aaa, buka mulutmu Carolyn!" Kata Xelino sudah memotong kecil kue ikan itu. Carolyn menerimanya dan rasanya tak puas dengan potongan itu. Dia pun menolah .
"Aku bisa sendiri tapi menggunakan alas atau tysu, Xelino, berikan padaku!" pinta Carolyn memaksa.
"Aku saja yang suapi,"
"Tidak, aku tidak sabar,"
"Seperti kau tidak sabar menunggu cintaku padamu kan?" saut Xelino menaik turunkan alisnya.
Seketika Carolyn mendelikan alisnya. Dia tahu, Xelino pasti menggombalinya.
"Ya ya, terserahmu! Sini!" Pinta Carolyn meraih kue ikan yang sudah Xelino siapkan untuknya.
Mereka pun makan kue ikan tersebut sambil bercakap cakap. Carolyn juga mengatakan tentang pelukis wanita itu. Xelino jadi kembali menceritakan sahabatnya yang pandai melukis ketika high school dulu.
"Sahabat apa sahabat?" seru Carolyn ingin tahu masa lalu Xelino.
"Sahabat! Aku belum pernah memiliki kekasih!" jawab Xelino benar benar tidak sadar dengan kepura puraannya selama ini.
Seketika Carolyn menolehnya. Xelino tidak sadar mengatakan itu. Carolyn memang tahu kalau asistennya ini berbohong. Carolyn tidak mau dibohongi lagi. Saatnya dia menunjukan kecerdikannya.
"Ohh, belum pernah memiliki kekasih?" tanya Carolyn mencoba serius agar bisa mengetahui hal yang sebenarnya.
"Belum! Aku juga tidak tahu caranya mengatakan cinta! Aku tidak seperti papiku!" saut Xelino lagi masih belum menyadari taktik Carolyn.
"Papimu?" gumma Carolyn mencoba mengikuti alur Xelino agar tidak dicurigai.
"Ya, dia pencari cinta kelas internasional, untung saja mamiku terpikat dengan segala usahanya, terjadilah diriku!"
"Oh begitu, jadi kau belum memiliki kekasih?" selidik Carolyn lagi sudah mulai jengkel.
"Tentu belum, lalu kenapa? Kau mau menjadi kekasihku?" saut Xelino menolah tersenyum seperti tidak terjadi apapun padahal Carolyn sudah ingin memarahinya.
"Nanti ya, aku masih ingin bertemu dengan Zhavia dan memastikannya! Heng! Dasar rubah tengik, kau jahat padaku! Kau membohongi majikanku, kurang ajar! Ternyata kau belum memiliki kekasih kan?!! Kau rubah busuk yang sok tampan, aku benci padamu! Benci benci benci!!!" Saut Carolyn sudah sangat gemas dengan semua jawaban yang ia yakin sangat jujur dari hati Xelino. Dia memukul mukul Xelino karena termakan omongan Xelino.
"Aduh sakit Carolyn!" keluh Xelino membiarkan Carolyn terus memukulinya
"Biar saja! Biar otakmu ini berpikir dengan benar dan tidak sok Sok an merasa paling tampan, sampai mengatakan berpacaran dengan wanita secantik Zhavia!" decak Carolyn lagi.
"Memang kau pernah melihatnya?" selidik Xelino.
"Pernah di foto di kamarmu! Kau keterlaluan!" bentak Carolyn lagi.
Kali ini seperti nya Xelino tidak bisa berkelit lagi, tapi bukan si rubah cerdik Xelino jika dia tidak bisa membungkam seorang Carolyn. Hanya satu kali pegangan tangan ke pergelangan wanita itu, Xelino bisa menarik Carolyn ke pelukannya lalu dengan cepat menempelkan bibirnya di depan bibir Carolyn.
Xelino mengecup bibir Carolyn dan membuatnya agak mmterbuka untuk kembali ia lumaat bibir yang agak tebal itu. Awalnya Carolyn menikmati juga sampai memegang pinggang Xelino, tak lama dia tersadar dia hendak menjalankan misinya. Dia menarik diri tapi tak disangka Xelino menahan punggungnya untuk tidak menjauh. Xelino yang menyudahi kecupannya tapi masih memandang Carolyn dengan sangat dekat.
"Sebentar saja, aku rindu memelukmu dan sebenarnya memang aku yang mau menyentuhmu, memelukmu, bahkan menciummu, maafkan aku," ucap Xelino lalu kembali menarik Carolyn masuk dalam pelukannya. Carolyn hanya kembali menerima dan menerima.
...
Cihuy 😍
Kek nya Asikan begini deh ttm-an soalnya kalo Uda pacaran pasti Uda ga greget n pada kaga mau baca dehh wakakaka 😝
Ya kan yakan ngaku aja, i know 😂
Kiding ges kek Xelino kiding mele aku ketularan 😁
Entar ya jadiannya masih h-15 NII wakakak
.
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕