
Sebenarnya bukan materi yang membuat kita gelap mata tetapi lebih kepada pengakuan diri. Ketika pengakuan diri itu memudar bersama sebuah kepercayaan, biasanya orang akan beralih kepada cara cara menguras habis materi yang ada agar bisa menjadi di atas dan mancapi kedudukan yang diinginkan. Apa yang menyebabkan semua masalah di keluarga Carolyn ini datang silih berganti? Bagaimana seorang Xelino pada akhirnya menanggapi dan membantu Carolyn? Bisakah dia diam saja memikirkan apa yang menjadi cita citanya atau ikut membantu menyelesaikan permasalahan wanita yang ia cintai itu?
...
"Ya, Ansel! Ansel Gellarmo, anak tunggal dari Tuan Besar Gellarmo pemilik perusahaan agribisnis terkenal di Nederland. Kau pasti setuju kan Kak? Kau juga bisa kerja sama dengannya. Ku dengar, keluarganya sudah bekerja sama dengan Casey dan meraup banyak keuntungan. Hal ini juga bisa menunjang perusahaanmu dan Casey di Nederland kan kak?!" Kata Rietha lagi meyakinkan mereka berdua agar segera memberi tahu pada Carolyn lalu dilangsungkan pertunangan ini.
Jennifer sejenak berpikir tentang perusahaan agribisnis Gellarmo itu. Dia pernah mendengar beberapa berita bisnis mengenai kemerosotan perusahaannya. Mungkin saja ini taktik untuk mendapatkan kekuasaan Delins Group yang sesungguhnya.
"Belakangan perusahaan nya sedang tidak stabil, Rietha! Kau jangan melebih lebihkan!" Sela Jennifer yang agak khawatir.
"Tidak Jen, percaya padaku! Ansel pria yang baik. Dia saja mendukung pekerjaan Carolyn dan perusahaanku. Dia juga memiliki saham terbaik di Springfield. Ah, jangan lupakan kalau dia mirip sekali dengan Aciel bukan, Carolyn pasti tidak akan keberatan," gumam Rietha lagi dengan wajah yakin dan agak sumringah.
"Rietha, aku tidak mau ambil resiko! Gilbert, kau yang mengerti bagaimana anakmu! Yang ku tahu dia sedang dekat dengan Lionel dan nyaman bersama Xelino!" Decak Jennifer meyakinkan suaminya agar tidak melakukan hal yang gegabah.
"Siapa kau bilang Jen? Lionel? Siapa Lionel?" Sela Rietha bertanya tanya mengenai pria lain yang dekat dengan keponakannya.
"Lionel Janson, anak Tuan Danteleon Janson," jawab Jennifer sudah acuh dengan adik iparnya yang sangat mengatur suaminya. Jennifer tahu kalau suaminya pasti sedang bingung karena Rietha merupakan adik kesayangannya.
"Nah kau saja setuju Carolyn dekat dengan anak tuan Janson, mengapa kau tidak setuju dengan Ansel. Ansel dan Lionel sama saja kedudukannya," decak Rietha terus membela diri dan sangat mendukung Ansel.
"Ah aku pusing bicara padamu Rietha! Aku terserah Gilbert dan Carolyn saja, tapi aku hanya ingin dia nyaman dan tidak lagi merubah sifatnya!" Balas Jennifer merasa harus meninggalkan mereka dan mencoba mengajak bicara Gilbert baik baik nanti ketika Rietha tidak ada. Percuma jika sebuah batu di adu dengan sebuah kayu rapuh.
"Kak Gilbert, kau harus memikirkannya. Kalau Lionel dan Carolyn baru dekat tidak bisa diharapkan. Kalau Carolyn memiliki tunangan , dia akan lebih bertanggung jawab dengan perasaannya. Aku yakin Ansel tidak akan menyakitinya!" ujar Rietha sekarang meyakinkan kakaknya dengan begitu antusias.
"Biarkan aku berpikir Rietha, sebaiknya kita bertanya pada Carolyn!" saut Gilbert melirik lirih asiknya.
"Kau harus meyakinkannya!" balas Rietha memaksa.
Ternyata, Carolyn mendengar semua percakapan itu. Begitu juga dengan Xelino yang mengantarnya. Mereka hendak masuk ke dalam mansion tapi Carolyn menghentikan langkahnya ketika mendengar kata tunangan dan Ansel. Xelino yang berjalan di sampingnya juga mendengarnya.
Xelino menundukan kepalanya. Namanya kini hanya seorang asisten, bahkan asisten bodyguard yang jabatannya lebih rendah dari ayah dan ibunya dulu. Tidak ada yang tahu kalau dirinya yang merupakan anak tunggal satu satunya seorang Danteleon Janson. Namun, apalah arti semuanya kalau sedari awal aja kedudukan memang menjadi prioritas.
"Baiklah nona, masuklah, beristirahatlah agar besok kau bisa bekerja, aku juga harus ke kantor sebelum ayahmu datang. Permisi," tutur Xelino mencoba menormalkan diri dan berpura pura tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Karena dirinya bukan siapa siapa Carolyn. Xelino merasa, pasti Carolyn berpikir semua prilakunya hanya ingin menjaga dirinya tidak lebih seperti seorang pria dan wanita.
Xelino pun berbalik hendak pergi.
"Xelino," panggil Carolyn menahan kepergian Xelino.
"Ya?" Saut Xelino setengah menoleh.
"Apa kau marah mendengar pembicaraan di dalam? Kau tidak cemburu mendengarnya?" tanya Carolyn ingin memastikan hati Xelino. Kalau sekarang saatnya menyatakan perasaannya, dia tidak keberatan.
Deg!
__ADS_1
Mengapa Carolyn bertanya seperti itu? Tapi kalau sekarang ia ungkapkan, sama saja dia merendahkan diri di depan Carolyn. Dia tidak mau berharap. Dia harus bisa menguasai diri.
"Cih, kau bilang apa? Aku marah? Aku cemburu?" Ujar Xelino dengan wajah datar dan senyum kecut yang tidak enak dilihat tapi menyimpan sebuah makna. Xelino sudah kembali berbalik berhadapan tak jauh dari Carolyn.
"Nona, jangan lupa, aku hanya asisten dan kau majikanku, selebihnya kita tidak ada hubungan apa apa," kata Xelino berusaha tegas.
"Tapi Xelino? Bukankah kau menyukaiku?" tanya Carolyn lagi membutuhkan kejujuran.
"Menyukai apa? Bagaimana bisa aku menyukaimu nona? Kau dan aku bagai langit dan bumi, kau langit bahkan melebihi langit sedangkan aku adalah bumi, tanah yang kalian injak injak. Aku hanya pembantu, lupakan semua kata kata pujian yang ku berikan padamu, kau lebih pantas dengan Tuan Ansel, apalagi dia mirip sekali dengan Acielmu kan? Dan dia juga ingin membuat rumah impian, cocok sekali kan? Lagi pula aku juga sudah mempunyai Zhavia, untuk apa aku mencari wanita lain!" Decak Xelino sudah menolak pinggangnya. Carolyn mencoba mendekatinya.
Hati wanita itu hancur. Dia tidak tahu yang dikatakan Xelino benar atau tidak. Sekalipun tidak benar, Xelino mengatakannya dengan sungguh sungguh dan Carolyn merasa sudah sedikit bodoh menanggapi semua perlakukan manis Xelino padanya.
"Xelino, mengapa kau bicara seperti itu? Lalu mengapa kau menciumku, memelukku dan berjanji melindungiku, kenapa? Itu semua karena kau menyukaiku kan? Katakan Xelino, katakan!" tanya Carolyn mempertegas sambil meraih kerah jas Xelino. Dia benar benar membutuhkan pengakuan sehingga dia juga akan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Oh God! Harus seperti apa aku mengatakan padamu? Aku melakukan itu semua hanya sebatas menenangkanmu. Semua wanita menyukai pelukan, ciuman, maka kau akan tenang kan? Aku asisten bodyguard mu! Aku hanya melakukan itu murni karena kau majikanku dan aku atasanku! Atau kau coba saja meminta pelukan atau ciuman pada Tuan Ansel, aku yakin kau juga akan tenang," saut Xelino melepaskan cengkraman Carolyn pada jasnya dengan perlahan.
Pak!
Carolyn menampar Xelino.
Kini Xelino yang merendahkannya. Seakan akan Carolyn rela dan diam saja jika diperlakukan seperti itu oleh siapa saja. Padahal dengan Aciel walau itu merupakan ciuman pertama tapi Carolyn hanya melakukannya sekali. Setelah itu Carolyn cukup menjaga jarak dari Aciel sampai dia meninggal.
Namun dengan Xelino, semua yang ia berikan mengalir begitu saja. Seperti memang ada perasaan berbeda yang muncul. Kepercayaan kalau Xelino akan terus melindunginya. Tapi semua seraya hancur karena pernyataan pria itu sendiri.
"Aku kecewa padamu!" Desis Carolyn meneteskan air matanya dan masuk ke dalam mansion.
'Apa bicaraku sudah keterlaluan? Maafkan aku nona, aku memang tak pantas untukmu,' ucap Xelino dalam hati. Dia pun meninggalkan Mansion. Sepertinya dia harus menjadi Lionel untuk menghibur wanitanya itu.
...
Di sisi lain, Ansel dipusingkan dengan tuntutan Casey yang menagih perkembangan kedekatan Ansel pada adik tirinya. Casey meminta karena tiba tiba perusahaannya mengalami kemunduran. Banyak panen yang terbengkelai sehingga penjualan menurun. Casey kurang pemantauan karena akhir akhir ini dia malah sering berfoya foya dengan bersama teman temannya .
"Hasil kurang baik adalah salahmu, mengapa kau mengabaikannya?!" decak Ansel pada sambungan telepon ketika Casey menuntut hasil dari Ansel. apa yang Ansel minta padanya sudah dituruti selain dari Erina. sekarang Casey meminta hasil yang sudah ia kerjakan juga sedikit bercerita tentang keadaan perusahaannya saat ini.
"Bisa bisanya kau menyalahkan ku?! Karena aku seharusnya tidak bekerja dan menikmati hasilnya saja! Kalau saja aku mempunyai warisan dari si tua Gilbert itu aku tidak akan lelah lelah bekerja. Bagaimana si Carolyn jal*ng itu? Dia enak enak bisa bekerja atau tidak kan?!" balas Casey kesal mendengar Ansel seenaknya memarahinya.
"Dia bekerja! Dia menjadi asisten bibimu! Dia lebih baik darimu!" kata Ansel lagi memberitahu.
"Ansel! Jangan sampai kau menyukainya, aku akan membongkar kedokmu!" ancam Casey tak senang.
"Kita akan sama sama masuk penjara kau tahu!" balas Ansel ikut mengancam.
"Maka dari itu, cepat dapatkan Carolyn, kau ini lama sekali, ini sudah dua bulan lebih, Masa kau tidak bisa mencuri hatinya?!" decak Casey kembali pada rencana mereka.
__ADS_1
"Dia terus bersama asistennya! Sepertinya asistennya menyukai Carolyn, begitu juga Carolyn, Casey!" keluh Ansel yang sebenarnya bingung menghadapi Xelino yang pandai berkelit.
"Asisten yang mana?" selidik Casey.
"Xelino! Entah siapa nama panjang pria itu! Dia terus menjaga adikmu, menemani adiknya, mengikuti adikmu, lalu bagaimana aku bisa merebut hati adikmu!? dengus Ansel lagi meminta saran pada Casey.
seketika Casey berpikir. mungkin dirinya yang akan mengalihkan perhatian asisten itu sehingga Ansel dengan leluasa mengejar Carolyn. Casey tidak bisa diragukan. Dia punya seribu cara untuk menjerat tikus kecil seperti Carolyn. Casey tersenyum kecut.
"Asistennya ya? Baiklah, sepertinya memang aku harus ke Springfield sekalian meminta bantuan pada Gilbert! Aku juga ingin melihat tanggapannya mendengar perusahaanku saat ini," gumam Casey memutuskan.
"Ya, kau datang saja kemari! Mana tau kau bisa merebut hati si Xelino itu sehingga dia tidak terus mengikuti adikmu terus!" kata Ansel lagi.
"Tenang saja,"
Panggilan dimatikan. Casey tersenyum lebar.
Casey Antoinette Delinsky
cast Casey : Park Shin-hye
----------------------------------
"Adikku Carolyn, how are you?!"
Gumam Casey menyeringai dan dia memanggil Lucas. Dia meminta data data mengenai Xelino serta gambar dirinya.
Ternyata Casey pernah melihat Xelino sebelumnya. Waktu itu Casey pernah ke Legacy dan menginap di hotel Prime. Tanpa sengaja dia melihat Leon berjalan berdampingan dengan Lexa juga Xelino.
"Aaahhh, iya aku ingat sekali, pria ini berjalan di antara Tuan Leon dan Nyonya Lexa. Aku ingat sekali pria ini memanggil Tuan Leon dan Nyonya Lexa, Papi dan Mami. Mereka sedang membicarakan mengenai program akselerasi yang hendak pria ini ikuti. Ya, aku sangat ingat, Lucas!" kata Casey mengingat ingat tentang wajah Xelino yang sejujurnya langsung menggugah hati ketika pertama kali melihatnya.
Ya memang begitu keadaannya jika Xelino berada di Legacy. dia lebih menutup diri tidak mau banyak mengumbar sikap dan prilakunya. berusaha sopan di depan Viena dan Dion tetapi tetap akrab di depan Dior, Zefanya dan Zhavia. selanjutnya dia harus melihat pekerjaan penting ayah dan ibunya.
"Kau jangan asal bicara Nona! Mana mungkin anak Tuan Leon mau bekerja menjadi asisten!" saut Lucas meyakinkan nonanya.
"Pasti ada maksud tersembunyi. Bisa saja dia memang menyukai Carolyn tapi ingin menguji seberapa besar cinta Carolyn padanya. Aaahhh, aku memang tidak mempunyai bukti, tapi aku akan membuktikannya. Ya, sepertinya memang aku harus kembali ke Springfield untuk beberapa minggu dan sepertinya aku yang harus mengambil hati Xelino. Kalau dia suka padaku bisa saja kan aku yang bersanding dengannya. Kekayaanku melebihi si Gilbert tuan dan statusku lebih diakui, Heng! Carolyn, kau tidak ada apa apanya bagiku!" Gumam Casey lagi. Dia keluar dari gedung perkantoran nya menuju ke apartemennya mempersiapkan kepergiannya ke Springfield.
"Siap siap terkejut, my lovely dad, boo!" Decak Casey lagi.
...
bersambung next part 35
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕