
Rico menjelaskan konsep yang diinginkan oleh Bella kepada Abby dan Lexa tanpa melepaskan pandangannya pada Lexa. Sementara Lexa malah memperhatikan sekitar taman hotel ini dan juga gedung hotel yang hanya ada sekitar lima sampai enam lantai. Abby mendengarkan dengan seksama sambil mengetik poin poin inti yang disampaikan Rico. Sampai Abby merasa ada yang aneh dengan mata Rico yang hanya melihat ke arah Lexa. Abby jadi seperti orang bodoh saja. Dia mengernyitkan alisnya.
"Ehem, maaf Tuan Rico, kau berbicara denganku atau dengan Lexa?" Tanya Abby kemudian. Rico lalu menoleh ke arah Abby.
"Oh iya Nona Abby, saya sudah selesai menjelaskan. Jadi begitu konsepnya. Kapan bisa mulai shooting?" Jawab Rico tak menggubris pertanyaan Abby yang sebenarnya.
"Hump! Kau tanya saja dengan nyonya asisten di sampingku ini!" Dengus Abby dan memalingkan wajahnya. Dia sudah menekan mati ipadnya dan bangkit dari duduknya.
Rico tak menghiraukan Abby. Dia lalu menatap Lexa.
"Lexa, em bisakan aku memanggilmu Lexa?" Pinta Rico tersenyum manis pada Lexa.
"Kau ini sangat percaya diri!" Lexa berdecih tak suka meskipun kenyataannya Rico terlihat tampan dan juga rapi seperti Leon.
"Begitulah kalau menjadi asisten, ya kan?" Rico menaik turunkan alisnya.
"Ya benar! I like it!" Lexa mengangguk angguk menyetujui pernyataan seorang asisten harus percaya diri untuk melindungi atasannya.
"Kau menyukaiku?" Rico malah menganggap lain.
"Ada alasan apa aku bisa menyukaimu? Aku baru saja bertemu denganmu! Dan kita sedang membicarakan kerja sama bisnis! Jangan macam macam walaupun kita seumuran Tuan Jerico!" Lexa mengetuk meja dengan jarinya.
"Hey Tuan Rico yang sok tampan, dia sudah bersuami, jangan kau macam macam dengan suaminya. Suaminya Bisa jadi gila kalau ada lelaki lain yang mendekati Lexa!" Abby berdecih membuat Rico sangat terkejut.
"Hah? Kau sudah bersuami Lexa?" Rico membelalakan matanya.
"Iya, mungkin kau tahu siapa suamiku!" Lexa menyeringai.
"Tidak usah! Aku sudah tidak selera! Baiklah, begitu saja ya, secepatnya shootingnya ya? Kalau kau butuh sesuatu Lexa, segera kabari aku!" Rico memalingkan tatapannya mengarah ke yang lain.
"Cih, kau ini tidak jelas sekali! Baru kenal sudah menyebalkan seperti dia!" Decak Lexa mengingat suaminya dulu.
"Dia siapa? Suamimu? Jangan menyama nyama kannya!! Jelas pasti aku lebih keren!" Saut Rico.
"Percaya diri!!" Saut Abby juga seenaknya.
"Abby! Baiklah Tuan Rico, aku akan rapat bersama team kreatif terlebih dahulu dan akan kembali menghubungimu. Em, kapan aku bisa bertemu dengan atasanmu?" Lexa memperingati Abby agar tetap sopan dan ia bertanya mengenai pemilik hotel ini.
"Itu dia sedang ke arah sini!" Jawab Rico yang melihat Bella berjalan ke arahnya. Lexa menoleh dan menangkap hawa yang tidak enak. Rasanya Lexa ingin marah saja. Mungkin inilah yang dinamakan kontak batin.
"Rico, aku menunggumu di lobby. Cepatlah, aku harus ke Honolulu, namun sebelumnya aku ingin makan siang di Hotel Prime!" Kata Bella menghampiri Rico.
"Untuk apa di Hotel Prime, mengapa tidak di sini?" Selidik Rico yang mencurigai sesuatu.
"Ada yang ingin kutemui!" Kata Bella singkat dan dia akhirnya menoleh ke arah Lexa dan Abby yang berdiri di sana. Lexa sudah mengernyitkan alisnya mendengar hotel Prime namun Lexa tidak berpikir terlalu banyak.
"Ah Nyonya Bella, sebelumnya ini adalah kedua asisten inti Nyonya Viena Jovanca dari perusahaan iklan yang akan mempromosikan hotel kita." Rico memperkenalkan Lexa dan Abby.
"Oh iya, suatu kehormatan berkenalan dengan wanita wanita cantik. Saya Isabella Mauren, panggil saja Bella." Bella dengan anggun dan sopan mengulurkan tangannya pada Lexa. Lexa dan Abby pun berjabatan tangan dengan nya.
"Lexa, Nyonya!" Kata Lexa tersenyum tipis, begitu juga dengan Abby.
"Wow, nama yang strong! Baiklah, saya masih ada urusan, terimakasih atas kedatangan kalian nona nona yang cantik! Maafkan saya, jika Rico, asisten saya mungkin genit dengan kalian. Dia memang pria tampan tanpa seorang wanita. Kalau kalian masih sendiri, silahkan, dia pria baik!" Kata Bella ramah seraya mempromosikan Rico yang kini sudah menekuk wajahnya sebal.
"Sudahlah Nyonya! Lexa sudah bersuami!" Decak Rico.
"Cih, kekanak kanakan!" Umpat Lexa pelan.
"Oh my God! Sayang sekali Rico! Baiklah, sampai jumpa semuanya!" Bella melambaikan tangannya dengan gayanya yang sosialita dan elegan menunjukan cincin berliannya yang ada dua di sana. Bella pun meninggalkan mereka.
"Kutunggu kabarmu Lexa!" Tuntut Rico merasa belum kalah untuk bisa dekat dengan Lexa. Dia pun segera menyusul Bella.
"Lexa, ayo kita pulang! Aku tidak suka berada di sini!" Ajak Abby kemudian.
"Ya, aku juga! Mereka berdua tampak aneh!"
"Benar!"
Lexa dan Abby segera menuju basement parkir untuk kembali ke kantor.
...
Rico menghentikan mobilnya di basement parkir hotel prime. Bella segera menuruni mobil dan menuju ke resto hotel prima yang biasa dikunjungi Leon dan pegawai lainnya. Dion selalu menyuruh Leon yang membeli makanannya karna hanya Leon yang tahu takaran sesuai untuk bos nya itu.
Ketika Bella sampai di daerah luar restoran tersebut, dia benar melihat apa yang hendak ia lihat. Dia lalu menunggu Rico menyusulnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Rico, ambil gambar ku dengan Leon. Aku agak khawatir dia tidak mau berfoto denganku." Perintah Bella tersenyum.
"Oh God! Nyonya kau jangan gila! Dia sudah memiliki istri!" Rico memperingatkan
"Come on Rico! Aku hanya ingin menjadi temannya! Kau tenang saja! Dan sekarang jalankan perintah ku!" Bella menyeringai.
Rico memutar bola matanya malas dan menyetujui perintah majikannya. Bella tersenyum dan segera menghampiri Leon di sana yang sedang memilih makanan.
"Hay Leon! Kenapa kau makan di sini?" Tanya Bella di samping Leon. Leon menoleh dan sangat terkejut. Mengapa Bella bisa ada di sampingnya secara tiba tiba.
"Nyonya Bella? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Leon kembali terheran.
"Ya, aku sedang menemui temanku. Dia bilang, dia menyuruhku menemuinya di sini. Sekalian makan siang dan tidak sengaja melihatmu." Jawab Bella tersenyum.
"Oh begitu ya? Baiklah silahkan memesan Nyonya." Saut Leon tersenyum tipis dan masih terheran. Seketika dia bergidik mengingat ucapan atasannya.
"Ya, terimakasih." Kata Bella yang kemudian ada seseorang tak sengaja menyenggol Bella sehingga Bella pun mengenai Leon dan ia hendak terjatuh. Karna Leon di dekatnya dan langsung menoleh, dia menahan Bella.
"Hey, hati hati sir!" Kata Leon memegang lengan Bella.
"Maaf Tuan Leon, aku terburu buru." Kata pria yang menyenggol Bella. Bella masih bersandar di depan tubuh Leon sehingga terlihat Leon memeluknya dari belakang.
"Nyonya, kau tak apa apa?" Leon meyakinkan dan menyadarkan Bella yang langsung menegakan dirinya, namun ..
"Iya tidak apa apa Leon, tapi aaahhh kakiku!!" Bella merintih memegang kakinya menunduk karna sepertinya, kakinya terkilir akibat sepatu hak tinggi yang ia kenakan.
"Nyonya! Kau baik baik saja? Duduk lah dulu!" Leon kembali memapah Bella.
"Nyonya! Kau kenapa? Ada apa Leon?" Tiba tiba Rico pun datang.
"Kaki nya terkilir, mungkin karna tersenggol tadi, Rico." Kata Leon berdiri di samping Bella. Rico lalu dengan sigap melihat kaki majikannya itu.
"Mata kaki mu bengkak nyonya, kita ke rumah sakit ya?" Kata Rico segera berdiri.
"Kaki ku sakit, aku tidak bisa berjalan." Sungut Bella.
"Em, di ruang kesehatan hotel kami ada kursi roda. Sebentar akan kuambilkan ya?" Kata Leon segera menuju ke ruang kesehatan dan mengambil kursi roda.
Bella melihat kepergian Leon yang mencemaskan dirinya. Bella menjadi semakin menyukai Leon. Dia merasa Leon sangat perhatian dan sigap padanya.
"Aku tidak tahu Rico, orang itu menyenggolku!" Bella membela.
"Kau pasti menyuruh orang itu kan?" Rico benar mencurigainya. Dia sungguh tahu tabiatnya.
"Tidak! Kapan aku menyuruhnya? Sejak tadi aku bersamamu!"
"Kau ini! Sebentar lagi kau harus terbang ke Honolulu!" Rico mengingatkan.
"Batalkan saja! Minggu depan saja! Kalau bisa Rico, buatlah Leon ikut bersama kita. Alasannya urusan bisnis!" Bella mendongakan kepalanya menyeringai pada Rico serta menaik turunkan alisnya.
"Tidak waras! Tidak! Aku tidak mau!" Rico tidak mungkin melakukan ini pada temannya.
"Ayolaaaahhh, aku akan menaikan gajimu!" Bella memohon seperti anak kecil.
"Tidak!"
"Ricooo.. kau masih berhutang banyak denganku karna menyembuhkan ibumu ya kan? Kalau tidak ada aku, ibumu bisa apa hah?" Bella menyangkut pautkan masalah hutang budi pada keluarganya.
Rico menghela napas. Dia sangat bosan seperti ini, namun tak ada cara lain. Dia menyetujui perintah nyonya nya. Bella memang agak keras kepala dan harus mendapatkan apa yang ia inginkan entah apapun resikonya.
...
Leon sudah menjemput Lexa lebih cepat dari biasanya. Dia menjadi merindukan Lexa hari ini karna hari ini Lexa tidak menghubunginya. Lexa disibukan dengan konsep yang Rico ungkapkan tadi. Lexa bersama team nya berkumpul satu harian ini karna malamnya, Viena hendak memeriksa apakah ada keterkaitan dari konsep kreatifitas yang hendak diciptakan.
"Leon?" Sapa Lexa menemui Leon di mobilnya. Leon tampak tertidur di kursi pengemudinya dengan kaca jendela terbuka.
Lexa tersenyum lalu mengelus dahi Leon. Leon merasakan tangan lembut istrinya dan langsung meraihnya.
"Kenapa hari ini tak menghubungiku?" Tanya Leon masih merasakan kelembutan tangan istrinya.
"Aku sibuk! Aku memiliki klien yang sangat aneh!" Kata Lexa menarik tangannya dan segera memasuki mobil.
Ketika memasuki mobil, Leon langsung meraih wajah Lexa dan mencium bibir istrinya. Lexa mengimbangi dengan pelan namun hendak mengingatkan.
"Lexa, aku merindukanmu!" Kata Leon melepaskan kecupan bibir mereka.
__ADS_1
"Aku juga. Kau kenapa?" Lexa mengelus lengan Leon.
"Entahlah, mungkin karna kau tidak menghubungiku hari ini." Kata Leon muram dan kembali menegakan tubuhnya.
"Ah kau ini, kekanak kanak sekali seperti asisten klien ku itu!" Lexa berdecih.
"Siapa?"
"Klien ku! Dia menggoda ku Leon!" Lexa mengadu karna sengaja hendak melihat wajah cemburu suaminya. Dan benar, wajah Leon agak menegang.
"Kau diapakan?" Selidik Leon.
"Digoda, masa kau tak tahu!" Saut Lexa merasa tak puas dengan respon Leon yang biasa saja.
"Cancel saja, jangan menerima mereka!" Balas Leon.
"Mana bisa! Ini keuntungan besar Leon!"
"Kalau begitu, besok kau tidak usah bekerja lagi!" Kata Leon lagi menopang tangannya di sisi jendela mobil.
"Cih, suamiku benar benar cemburu, tapi rasanya cemburumu biasa saja. Kau ini kenapa Leon?"
"Tidak apa apa Lexa, aku hanya ingin dirimu dan aku percaya, kau pasti sudah mengumpat klien mu itu habis habisan kan?" Kata Leon bersiap menjalankan mobilnya.
"Hem! Dia tau saja! Ayo kita pulang, aku ingin berendam air hangat Leon." Kata Lexa manja.
"Berangkat!" Leon menjalankan mobilnya pulang ke apartemen mereka.
Sesampai di apartemen, Leon benar langsung melucuti semua pakaian Lexa dan juga dirinya. Mereka saling bercumbu dan bermain di dalam bath tub dengan air hangat . Sampai mereka berdua berendam bersama. Leon memangku Lexa di dalam bath tub.
"Lexa, kau masih memikirkan kehamilanmu?" Tanya Leon mengelus lengan Lexa.
"Hehem." Lexa mengangguk menyandarkan kepalanya di dada Leon.
"Jangan khawatir, kau akan hamil, aku yakin! Aku akan memperlakukanmu selalu dengan baik dan lembut." Kata Leon menenangkan.
"Aku selalu menantikan belaian tanganmu Leon, aku mencintaimu." Kini Lexa meraih tangan Leon dan mengecupi punggung tangannya.
"Aku lebih mencintaimu kelinci putihku!!"
"Hem, musang!!"
Mereka pun masih mengingat panggilan sayang mereka. Mereka pun terus mengusahakan kehamilan. Semoga mereka dapat selalu saling mendukung dan menghalau setiap rintangan yang sedang menantangnya di depan mata mereka.
...
...
...
...
...
Heeem, kenapa anda terlalu ekstreem bells 😴😴
Aku jadi takut dehh ..
.
Next part 4
Apakah Lexa akan hamil secepatnya?
Dan apakah Leon menerima ajakan Rico dan disetujui Dion?
.
Jangan lupa ya LIKE DAN KOMEN untuk penyemangat vii biar cepet UP hehe
Kasih RATE dan VOTE juga ya di depan profil novel
Kasih TIP juga boleh aku menerima dengan senang hati 😊😊
.
__ADS_1
Oke thanks for read and i Love you 💕💕