
Leon menyadari kalau istrinya tampak diam di pelukan istri tuannya. Dia menarik napas dan menghampiri pasangan tuan dan asisten kesayangannya itu.
"Permisi Nyonya, sepertinya Lexa tak sadarkan diri." Kata Leon menepuk bahu Viena pelan. Viena akhirnya tersadar. Dia sedikit mendongakan kepalanya dan menoleh ke samping melihat wajah Lexa dan benar. Lexa sudah memejamkan matanya. Viena menarik diri sambil menahan tubuh Lexa.
"Lexa, bangunlah sayang .." panggil Viena pelan dan dia melihat ke arah Leon.
"Berikan dia pada Leon, sayang!" Kata Dion yang juga sudah mendekati mereka. Viena mengangguk dan perlahan menyerahkan Lexa pada Leon.
"Tubuhnya panas sekali Leon, segera bawa ke unit gawat darurat!" Kata Viena sedikit tegas namun sangat cemas.
"Iya Nyonya!" Kata Leon menggendong Lexa ala bridal style. Mereka semua yang mengikuti upacara pemakaman itu kembali bersedih melihat respon Lexa yang begitu terhanyut dalam kesedihan. Ya, mereka semua mengetahui hanya Alexis anggota keluarganya saat ini. Sekarang, tugas suaminya yang harus membahagiakannya.
Rico dengan Solane mengikuti Leon dan menawarkan menemani mereka. Rico dan Solane yang sudah kehilangan kedua orang tua mereka merasakan sedih mendalam yang dirasakan sahabatnya itu. Rico mempersiapkan mobilnya sementara Solane berada di belakang Leon dan Lexa.
Ketika mendekati mobil Rico dan Solane sudah siap membuka pintu belakang, datanglah sebuah mobil hitam bergaya limosin. Leon berhenti sesaat memastikan siapa yang datang.
Ternyata di sana Egnor datang bersama Frank. Leon benar benar terharu karna semua orang orang penting dalam hidup Lexa datang dan ikut merasakan kesedihan istrinya. Seketika Leon menjadi terheran dengan semua ini. Tak lama yang membuat Leon semakin haru, seorang pria bersama anak perempuan yaitu Manuel dan Sherry ikut turun dari mobil itu.
"Leon, maaf aku terlambat." Kata Egnor menghampiri Leon.
"Tidak apa apa Tuan, ketika Lexa sadar nanti, dia pasti senang melihat anda." Saut Leon tersenyum tipis.
"Ya, bawalah dulu dia ke rumah sakit, nanti kami akan kesana. Dia wanita yang baik dan kuat, tidak apa apa jika dia juga lelah dengan semua kehidupan ini. Sana, bawalah dia!" Kata Egnor lagi yang sudah memegang dahi anak angkatnya itu.
Leon pun membawa masuk Lexa ke dalam mobil. Solane duduk di depan bersama Rico sementara Leon terus memangku istrinya itu. Dia mendekap erat belahan jiwanya itu dan menyandarkan kepalanya di puncak kepala Lexa. Lexa berada di depan dada Leon. Tubuhnya benar benar panas. Leon agak takut. Dia terus merapal doa agar semua baik baik saja.
Sementara Egnor, Frank, Manuel dan Sherry mendekati kerumunan. Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan bela sungkawa, khususnya kepada Jerry dan Angel. Jerry senang bisa bertemu dengan Egnor lagi. Saudara angkatnya memang bukan orang sembarangan. Dia bisa kenal bahkan diangkat menjadi anak oleh pengacara hebat ini. Rasa syukur melingkupi hati Jerry, karna Lexa tidak akan selamanya sendiri.
"Kak, kau tidak bersama kak Clau?" Tanya Viena mendekati kakaknya.
"Viena? Iya, dia tidak ikut, dia sedang menjaga kandungannya. Sebulan yang lalu kami baru saja dari Oriental jadi aku mencemaskan jika dia terus berpergian. Kami hanya menjaga baik bayi kami." Jawab Egnor setelah memeluk adiknya yang cukup lama tidak bertemu.
"Ah kau sungguh bijaksana dan selalu memikirkan ke depan kak!" Pekik Viena menepuk lengan kakaknya.
"Kalian tidak membawa Dior?" Tanya Egnor kemudian.
"Tidak kak, dia bersama grandma nya." Jawab Dion juga berjabat tangan dengan kakak iparnya.
Setelah mereka rasa sudah harus meninggalkan makam, mereka semua menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lexa. Sementara Jerry dan Angel masih menunggui semua yang datang sampai pulang.
"Dad, kami semua pulang, kami akan datang besok dan tiga hari lagi. Sekali lagi terimakasih atas kebaikanmu dad. Kau pasti melihatnya dad, karna sayangnya mereka dengan anakmu, kak Lexa, banyak yang datang mengantar kepergianmu ke surga. Kau dan anakmu Kak Lexa memang seorang yang baik. Beristirahatlah dalam kedamaian dan kasih Tuhan." Kata Angel mengelus nisan ayah mertuannya sebelum meninggalkan makamnya.
"Dad, tugasmu di dunia ini benar benar sudah selesai. Terimakasih dad, karna kau bersedia menjadi ayah ku pengganti orangtua ku. Kau mengajarkan ku banyak pelajaran dan nilai nilai kehidupan. Kau terus menemaniku sampai aku menemukan wanita penggantimu untuk menjagaku. Mungkin ini semua memang sudah takdir dan rencana Tuhan yang paling indah. Kau pergi setelah aku menikah dan kini istriku tengah mengandung. Darah dagingku. Kau memang hebat dad. Tidak salah aku menganggapmu seperti ayah kandungku. Sekarang kau bisa bertemu dengan istrimu. Titip salamku pada beliau dad. Biar bagaimana pun, dia juga ibu angkatku, oh tidak, ibuku! Mommy ku! Baiklah dad, kau jangan mencemaskan Lexa, seperti kata Angel, dia banyak yang mengasihi. Sampai jumpa dad di kehidupan berikutnya." Tutur Jerry dan dia menyalakan sebuah lilin di tengah makam sang ayahnya untuk menjadi penerangannya ketika gelap nanti. Jerry pun pergi bersama istrinya melihat saudara angkatnya.
...
Lexa masih tak sadarkan diri, tapi dia sudah bisa di pindahkan di ruang perawatan. Namun, selang selang infus sudah menghiasi tangannya untuk asupan makan dirinya dan sang bayi. Lexa juga mengenakan selang oksigen untuk mendukung pernapasannya. Dokter memastikan, sepertinya Lexa hanya kelelahan dan membutuhkan istirahat karna semua nya normal walau tubuhnya memang masih menghangat. Lexa memang seperti sedang tertidur. Memang satu harian kemarin dia kurang tidur. Leon terus berada di sampingnya. Dia tidak meninggalkan Lexa sebentar pun. Makan pun Leon tidak selera. Dia ingin makan bersama kekasih hatinya ini.
"Leon, sepertinya Lexa memang membutuhkan istirahat. Titip salamku saja padanya. Aku minta maaf, Aku harus segera kembali ke Honolulu. Aku tidak bisa membiarkan Claudia sendiri karna kandungannya." Kata Egnor menghampiri dan menepuk pelan bahu Leon. Leon menoleh ke arah suara tersebut.
"Dan, ini Leon, kukenalkan Frank saja. Ini Frank Leonard. Dia sudah mengurusi kasusmu. Penuntut akan segera menemuimu untuk meminta maaf dan dia mendapat denda tidak dapat membuka usahanya sampai waktu yang kau dan Tuan Manuel putuskan." Kata Egnor lagi yang juga ingin ijin undur diri pulang ke kota nya.
Dia lalu melambaikan tangannya pada Frank. Frank menghampiri Egnor dan berkenalan dengan Leon.
"Tuan Danteleon, saya Frank Leonard, senang bisa berkenalan dengan anda dan turut berduka cita." Kata Frank pada Leon dan mereka berdua berjabat tangan.
"Terimakasih Tuan Frank. Terimakasih juga telah mengurus kasusku dan Manuel." Saut Leon dengan penuh hormat.
"Tidak perlu sungkan Tuan, saya membantu yang benar, namun ternyata sang penuntut tidak sepenuhnya benar. Jadi, saya rasa, saya yang harus bersama anda. Hem, kau tahu kan Tuan ku ini tidak suka ketidak adilan biarpun di berikan banyaknya materi." Kata Frank lagi menyinggung prinsip tuannya namun seperti bergurau.
"Ya benar, tuanmu memang sangat perfeksionis, kau jangan membuatnya marah ya? Kalau membuatnya marah, hanya Nyonya Jovanca yang bisa meruntuhkannya." Saut Leon sedikit terkekeh.
"Ehem!" Egnor berdehem karna dua orang ini sungguh meledeknya.
__ADS_1
Mereka yang mendengar tertawa kecil di sana. Dan Egnor serta Frank ijin pulang terlebih dahulu. Egnor sudah memberikan bingkisan dari Claudia dan juga dirinya untuk Lexa. Mereka juga menulis pesan di dalamnya untuk membuat Lexa mengetahui bahwa dia tidak sendirian.
Sedangkan Manuel dan Sherry tetap di sana. Sherry malah senang sekali bermain dengan Juan. Sedangkan Manuel sudah berkenalan dengan Dion dan juga Ben. Suasana di rumah sakit, di kamar rawat ini menjadi semakin menghangat karna mereka sungguh mencemaskan Lexa. Viena, Abby dan Solane pun tidak mau kembali dulu sebelum Lexa terbangun dari tidur panjangnya.
Meskipun begitu Leon masih di samping Lexa. Dia terus mengelus dahi Lexa agar cepat terbangun dan bergabung canda tawa dengan yang menunggunya. Sampai malam menjelang, Leon belum memakan apapun sedikitpun. Ibunya sudah menawarkannya namun dia tidak ingin. Dia juga ingin merasakan apa yang istrinya rasakan.
"Hey! Makan ini! Kalau Lexa bangun dan dia segar, lalu kau yang sakit! Kau ini drama sekali!" Decak Dion yang menghampiri anak buahnya lalu memberikan roti padanya.
"Tidak Tuan! Aku akan makan bersamanya nanti!" Jawab Leon menolah roti yang diberikan tuannya.
"Cih, kekanak kanakan sekali! Jangan kau meledekku kekanak kanakan karna kau lebih berlebihan!" Balas Dion membalikan tubuhnya dan berjongkok di depan Sherry yang memang diajaknya.
"Nah Sherry, sana berikan ke paman temanmu itu. Dia temanmu karna pikirannya masih seperti anak kecil. Berikan dan panggil bibi itu agar cepat tersadar." Kata Dion pada Sherry. Dion percaya kalau perkataan anak kecil malah lebih di dengar ketika saat saat seperti ini.
"Baik Paman Tuan." Jawab Sherry dengan sangat sopan.
Sherry lalu mendekati Leon dan menarik narik bajunya.
"Paman, makan roti daging ini, jangan menambah beban Aunty Lexa ketika dia bangun nanti!" Kata Sherry yang sebelumnya sudah diberi aba aba pada Dion.
"Beban? Kau bisa berkata beban?" Leon terheran dan sedikit menaikan alisnya menatap Sherry.
"Paman Tuan Dion yang menyuruh." Saut Sherry polos.
"Haha!" Akhirnya Leon mencair. Dia terkikik dan menerima roti daging Sherry. Dia lalu mengangjat Sherry untuk duduk di pangkuannya.
"Coba sekarang kau bangunkan aunty Lexa itu. Aku merindukannya." Bisik Leon kemudian.
"Eh aunty Lexa! Mengapa kau terus tidur begini? Aku sudah datang tapi kau pingsan. Kau seperti mommy ku saja! Tapi dia sudah tidak bisa kembali lagi! Hem, biarkan dia pergi ke surga, aku tidak apa apa. Dia bisa bertemu dengan Kakek Tuan Alexis. Kakek Tuan Alexis sudah tenang dan bahagia bertemu dengan mommyku! Jadi untuk apa kau terus tidur? Bangun aunty, masa kau kalah denganku yang masih kecil ini!! Aku hanya bersama daddy ku, aku tidak apa apa aku kuat. Ayo bangun! Aku dan Juan rindu denganmu!!" Kata Sherry dengan semua kepolosannya. Mereka yang di sana tampak tersenyum. Leon pun ikut tersenyum sambil memakan roti dagingnya.
Dan, memang benar, biasanya kepolosan seorang anak kecil itu merupakan kekuatan dan paling didengarkan yang maha kuasa, karna merekalah yang empunya kerajaan surga. Tak berapa lama, Lexa menggerakan tangannya. Juga mengangkat tangannya perlahan.
"Leon, Lexa sudah bergerak!" Kata Abby melihat Lexa berusaha menaikan tangannya. Dia hendak memegang dahinya.
Leon langsung menoleh dan menurunkan Sherry sesaat .
Dokter memeriksa Lexa yang sudah membuka matanya. Dia memegang perutnya dan mengelusnya.
"Tuan Leon, kondisi istri anda masih lemah. Sebaiknya tidak bergerak terlalu banyak karna aku juga merasa kandungannya sangat lemah. Beristirahatlah di sini selama tiga hari dulu. Besok dokter kandungan akan memeriksa kondisi janin. Tetap jaga ketenagan dan kenyamanannya." kata sang dokter membuat Leon mengangguk.
Leon kembali menghampiri istrinya.
"Bagaimana keadaanmu sayang? Kau merasa lebih baik?" Tanya Leon mengelus dan mengecup dahi Lexa.
Lexa mengangguk mengelus wajah suaminya. Dia tersenyum tipis.
"Lexa, lihatlah siapa yang datang? Manuel dan Sherry." Kata Leon memperlihatkan Manuel yang tengah menggendong Sherry.
Lexa tersenyum.
"Dan ada lagi yang tadi datang tapi tidak bisa berlama karna harus kembali ke Honolulu." Ujar Leon lagi hendak membuat istrinya senang.
"Tu, Tuan Egnor?" Jawab Lexa memastikan dengan sedikit terbata. Dalam tidurnya memang dia mengingat Egnor yang merupakan ayah angkatnya. Dia akhirnya menyadari kalau dia masih memiliki seorang ayah yang sangat hebat dan terpandang.
"Benar sekali! Dia dan Nyonya Claudia memberikan bingkisan untukmu. Oleh sebab itu, kau harus kuat dan semangat. Kandungan anak kita lemah sayang, kau harus berusaha, hanya kau yang dapat mengatur semuanya sayang." Tutur Leon mengecup kembali dahi istrinya.
"Iya Leon, maafkan aku. Aku hanya terlalu sedih." Lexa mencoba mengusap wajahnya.
"Itu wajar sayang, tapi kau harus bangkit. Baiklah, kau sudah sadar. Aku senang sekali. Kau harus kuat. Leon, kau harus menyalakan lagu lagu pujian untuk ketenangan hati Lexa. Dia harus menerima semuanya dengan lapang dada." Kata Viena menghampiri mereka dan memberikan pesan pada bawahannya.
Bukan hanya Viena, semua yang ada di sana memberikan pesan untuk kekuatan Lexa. Mereka pun undur diri menuju ke hotel atau kembali ke Legacy karna Lexa sudah sadar. Lexa sudah merasa baikan meskipun kondisi tubuhnya masih demam dan dia sering menggigil kedinginan. Leon hanya bisa menemaninya sambil terus menghibur istrinya itu.
Lagi lagi Angel juga merawat Lexa bersama Jerry yang sambil mengurus perusahaannya. Jerry sudah lama memindahkan pusat hotelnya ke kota ini. Keesokannya Ayah dan ibu Leon serta Juan juga sudah kembali ke desa. Mereka akan kembali kesini ketika Lexa hendak kembali ke Legacy.
__ADS_1
Hari ini mereka hanya berdua saja. Angel menemani suaminya karna rapat bulanan semua hotel dan Angel juga merupakan pemilik hotel di perbatasan kota dan desa Springfield. Mereka akan datang sekitar malam hari. Leon terus merawat Lexa dengan baik. Mengurusi obat obatan, makanan sampai keadaan emosi Lexa.
Lexa masih dalam keadaan demam. Seluruh tubuhnya sakit dan sesekali perutnya mengeras. Dia terus mengeluh sepanjang hari ini pada Leon. Leon hanya bisa mengelus dan mwmbuat gurauan gurauan pada Lexa. Sampai akhirnya Lexa tertidur. Leon pun ikut tertidur. Karna Leon agak lelah, dia pun tidur di sofa untuk sesekali merebahkan tubuhnya. Dia tidak boleh ikut lemah karna istri dan anaknya membutuhkannya.
Selang beberapa jam, Lexa merasa perutnya kembali sakit sampai ia terbangun. Entah mengapa perutnya menjadi sangat keras dan sangat nyeri. Dia mengelusnya perlahan namun nampaknya tidak bisa mengurangi sakitnya. Dia pun duduk dan mencoba berdiri, mungkin akan lebih nyaman. Namun, nyatanya perutnya semakin bergejolak dan dia merasa mengeluarkan sesuatu di dalam daerah keintimannya. Perutnya semakin sakit.
"Le .. Leeoonn..." Panggil Lexa namun sangat pelan sehingga Leon tidak terbangun. Dia mencengkram perutnya karna sangat sakit. Dia menopang tubuhnya yang hendak lunglai dengan tangannya yang memegang sisi tempat tidur.
Perutnya terus melilit dan kembali Lexa merasakan lelehan aliran entah itu cairan atau apapun yang ada di daerah keintimannya dan ketika dia melihat ke bawah, aliran itu berwarna merah dan sudah menghiasi tungkai, paha sampai betisnya.
"Aahhhh!!! Sakit!!" Rintih Lexa. Lexa teramat penasaran. Dia pun berusaha ke kamar kecil dengan tertatih sambil memegang perutnya. Sampailah akhirnya dia melemah. Dia terduduk di closet yang tertutup dan tangannya mengenai seperti botol berisi sabun pencuci tangan. Disitulah Leon terkejut. Dia melihat tempat tidur tidak ada siapapun.
"Lexaaa?!" Panggil Leon
"Di sini Leon!! Perut ku sakit dan aku berdarah, banyak sekali Leon.." tutur Lexa tidak terlalu terdengar. Leon segera ke kamar kecil dan terkejutlah dia.
Lexa duduk di atas closet. Dia sudah bersandar di dinding sambil memegang perutnya sementara darah mengalir di sekitar closet dan kedua kaki nya.
...
...
...
...
...
Stop stop ya aku tarik napas dulu
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Neng lexa ... Aduh aku ga tau lagi, cepet panggil dokterr Leeeoonnnn 😭😭😭😭
.
Next part 30
Ada apa dengan Lexa?
Sanggupkah Lexa dan Leon menghadapi semua ini?
Hemm, kehidupan itu tidak ada yang sempurna, sekalipun kesempurnaan itu ada, hendaklah tetap bersyukur 😇😇
Orang yang baik saja selalu mendapat ujiannya
Semangat Lexa Leon 😍😍
.
Jangan lupa kasih LIKE dan KOMENNYA
Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil yaa 💕💕
.
Bebs, mampir ke novel baruku yuks :
-- Deja Vu : Jasmie & Chest
-- Love & Hurt
Cek di karya ya 😍😍
__ADS_1
.
Thanks for read and i love you ❤