Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 47


__ADS_3

"Jadi bagaimana Leon? Sudah begini kah design undangannya?" Tanya Lexa yang sejak tadi mengikuti perintah Leon membuat undangan di ruang kerjanya.


"Merahnya kurang maroon, Lexa!" Koreksi Leon.


"Daritadi hanya mengurusi merah, putih, merah, putih, emas. Bos mu itu mau seperti apa?!" Decak Lexa yang sudah kesal dengan Leon yang sejak tadi hanya membicarakan warna background dan tulisan undangan.


"Merahnya bukan seperti itu Lexa! Nanti Tuan Dion marah padaku!" Kata Leon yang sangat perfeksionis jika mengerjakan tugas dari Dion.


"Nah, kau sendiri yang memilih! Aku lelah sekali! Cepat disitu ada gradasi warna merahnya. Kau klik saja!" Lexa menyingkir dari kursi kerjanya mempersilahkan Leon untuk memilih warna yang tepat.


"Ah kelinci kecil, kau memang tidak bisa memilih warna. Merah ini yang aku maksud!" Leon dengan cepat mengambil alih posisi Lexa, namun karna terlalu cepat dia tidak men-scroll ke warna yang ia inginkan dan langsung menekan klik mouse yang ternyata berpusat pada tombol X atau keluar. Sedangkan design undangan yang hampir selesai tersebut belum tersimpan.


"LEON!!!! OH MAY, KAU BODOH SEKALI!!!!" Lexa meledak melihat ulah Leon yang benar benar tidak sengaja. Leon terkejut menutup mulutnya.


"Awas awas!! Aku memang tidak bisa bekerja sama denganmu! Kalau undangan ini hilang aku tidak mau membuatnya lagi! Kau memang musang bodoh busuk tengik! Awas!!!" Lexa sangat sangat marah, karna hari pernikahan minggu depan dan undangan ini harus selesai cetak dua hari lagi.


"Lexa, aku tidak sengaja, aduh bagaimana ini?" Leon menyingkir dari posisinya. Lexa dengan teliti dan perlahan mencoba membuka aplikasi design undangan itu lagi. Ternyata datanya tersimpan otomatis, namun Lexa memanfaatkan kesempatan mengerjai Leon. Dia menyeringai sesaat sebelum menjalankan aksinya.


"Leon! Ini hilang! Aku tidak mau membuatnya lagi!"


Brak! Lexa menggebrak meja kerjanya yang membuat Leon terkejut. Lexa lalu duduk di sofa. Semua teman kerjanya sudah pulang. Dia sengaja hanya tinggal bersama Leon. Viena juga mengetahuinya.


Lexa melipat tangannya di depan dadanya dan menekuk wajahnya.


"Lexa, aku minta maaafff.." kata Leon menundukan kepalanya menyesal.


"Tidak! Kau tidak minta maaf!" Balas Lexa sinis.


"Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau klik mouse itu berada pada tanda silang! Kau yang terakhir meletakannya kan?!" Kata Leon lagi kini mendongakan kepalanya.


"Bagaimana bisa kau menyalahkan ku sementara kau yang meng klik mousenya? Sudahlah, aku tidak tahu lagi. Besok undangan itu harus jadi tapi kau malah menghilangkannya! Aku tidak mau membuatnya lagi!" Balas Lexa lebih seram dari Leon.


"Llllleeeeexxxaaa, aku mohon, ayo kita buat sekali lagi, aku tidak akan cerewet lagi! Lexa, ayooo... Tuan Dion bisa membunuhku kalau seperti ini!!!!" Leon merajuk seperti anak kecil. Dia menghampiri Lexa, menarik narik lengan Lexa agar membuatnya lagi.


"TIDAK! Hem!" Lexa memalingkan wajahnya berlawanan dari Leon memandangnya. Leon akhirnya menarik wajah Lexa dengan lembut dengan tangannya agar menatapnya. Dia menempelkan dahinya pada dahi Lexa. Seketika jantung Lexa berdegup menyaksikan mata lancip Leon yang dikeluarkannya sebagai jurus.


"Kau jangan merayuku musang bawel!" Lagi lagi Lexa memalingkan wajahnya tidak mau melihat Leon lalu dia terkekeh sesaat namun Leon tidak melihatnya.


"Lexa, aku minta maaf, aku bersalah. Ayolah kita membuatnya lagi!" Kali ini Leon memeluk pundak Lexa dan menyandarkan dahinya di sebelah pundak Lexa.


"Sudah tahu salah?" Tanya Lexa masih dalam nada sinis.


"Sudah Lexa sayang." Jawab Leon pelan.


"Musang pintar! Sudah awas!" Kata Lexa masih setia dengan nada menggurui. Dia lalu beranjak menuju meja kerjanya lagi. Dia membuka aplikasi tadi dan membuka hasil design yang tersimpan otomatis itu. Leon juga menyusulnya dan melihat apa yang Lexa tekan tekan.


Leon akhirnya menyadari kalau dirinya telah dikerjai Lexa karna Lexa mengeluarkan design yang tadi sudah hampir jadi.


"Jadi, warna merahnya sudah begini?" Tanya Lexa polos seakan akan tidak terjadi apa apa.


"Heng, kau benar benar pintar sekali ya kelinci kecil putihku." Kata Leon menunduk dan berkata pelan namun terdengar menyindir.


"Kalau aku tidak pintar, Nyonya Renzy tidak akan menyuruhmu datang kepadaku. Kau kan musang bodoh, hihi!" Lexa terkekeh.


Leon dengan sangat cepat memutar kursi kerja Lexa yang berputar untuk menghadapnya. Dia lalu mengangkat Lexa dengan sigap ke atas meja lalu mendekatkan dirinya.


"Kau benar benar telah mengerjaiku ya? Kau puas sekali Lexa!" Kata Leon memegang dagu dan pundak Lexa lalu mencium bibir Lexa. Lexa yang mendapat perlakuan dengan cepat Leon hanya bisa menerima. Leon juga membuka blazer yang dikenakan Lexa. Mereka berciuman dan tak lama Leon berpindah mengecupi leher Lexa membuat Lexa mencengkram lembut rambut Leon.


"Leon hentikan! Ini di kantor!" Kata Lexa mencoba menarik kepala Leon namun sulit.


"Kau harus dihukum!" Decak Leon dan kini satu tangan Leon merengkuh salah satu bulatan kenyal Lexa membuat Lexa membelalakan matanya dan seperti terbesit sebuah ingatan buruk. Dia lalu benar benar mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong Leon dan berhasil.


Pak! Lexa menampar Leon.


"Kau gila!" Kata Lexa dan dia meninggalkan ruang kerjanya. Lexa benar benar dibuat kesal oleh perlakuan Leon yang membabi buta menyerangnya. Meskipun dalam lubuk hatinya dia mengingini Leon namun tidak dengan cara seperti ini. Leon benar benar melakukannya dengan cepat dan sedikit kasar.


Leon memegang bekas tamparan pipi Lexa.


"Sial! Kenapa aku sekesal ini?!" Tanya Leon dan bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi. Dion yang menghubunginya.


Leon : Tuan?

__ADS_1


Dion : Bagaimana undangannya? Nyonya besar Rikamu sudah memintanya hendak ia berikan pada kerabatnya!


Leon : besok sudah jadi Tuan


Dion : baiklah, kau jangan berbuat ulah dengan Lexa. Lexa yang dipercayakan Viena mengurus semuanya.


Leon : iya Tuan (melemah)


Dion : ada apa?


Leon : aku baru saja membuatnya marah Tuan


Dion : kau ini! Baru saja aku memperingatimu. Minta maaf sana! Berikan apapun kesenangannya dan jangan membuatnya marah lagi!


Leon : iya tuan. Aku tutup ya


Leon mematikan panggilan dan menyusul arah Lexa pergi. Leon menuruni kantor dan melihat ke lobby tidak ada siapapun. Leon berjalan ke depan gedung perusahaan dan ternyata Lexa sedang berbicara dengan seorang pria di dalam mobil di dekat gerbang masuk. Leon menyipitkan matanya menerka nerka siapa pria tersebut. Leon langsung menghampiri kalau kalau Lexa ikut dengan pria tersebut. Dan, benar saja, Lexa hendak menaiki mobil tersebut.


"Lexa!" Panggil Leon. Lexa menoleh ke arahnya dan malah hendak mempercepat dirinya masuk ke dalam mobil.


"Kalau kau masuk ke dalam mobil itu, berarti kau mengingkari janjimu untuk selalu mendengarkan perkataanku. Tutup pintu mobil itu dan kembali kesini!" Kata Leon lagi dengan nada serius dan Lexa menatapnya. Dia akhirnya tidak jadi menaiki mobil tersebut dan menutupnya.


"Tuan Jerry, maafkan aku menolak ajakan makan malammu, aku masih ada kerjaan karna Nyonya Viena akan menikah." Kata Lexa membungkukan badannya di luar mobil. Jerry tidak melihat Leon. Dia sedang lewat dan tidak sengaja melihat Lexa yang menundukan kepalanya di gerbang gedung kantor. Dia sudah menolak sebelum Leon memanggilnya namun dia masih mau menghindar dari Leon jadi dia hendak masuk namun tertahan lagi.


"Tidak apa Lexa, aku duluan ya?" Kata Jerry dan melajukan mobilnya menjauh dari gedung kantornya.


Leon lalu membuka jasnya dan memakaikannya pada Lexa yang hanya mengenakan kemeja tipis.


"Ayo kembali ke ruanganmu!" Bisik Leon. Lexa menahan dirinya.


"Aku tidak mau!" Jawab Lexa menekuk wajahnya.


"Baiklah, kalau begini kau pasti mau!" Leon menggendong Lexa dengan sangat kuatnya. Lexa benar benar terkejut melihat perlakuan Leon. Leon menggendong Lexa menaiki kembali gedung kantor menuju ruangan Lexa. Lexa memandangi Leon namun Leon terus menatap lurus ke depan jalan.


Sesampainya di ruangan Lexa, Leon menurunkan Lexa ke kursi kerjanya.


"Kerjakan lagi dan kita pulang." Kata Leon singkat. Lexa masih terperangah dengan sikap inisiatif Leon yang memaksanya untuk naik ke atas. Lexa menatap Leon.


"Jangan menatapku, cepat selesaikan design undangan ini dan kita pulang. Kau yang menipuku tapi kau yang menamparku. Aku sudah biasa menyentuhmu, kalau kau keberatan, aku tidak akan menyentuhmu lagi, aku minta maaf." Kata Leon lagi dengan tatapa ke depan layar komputer. Lexa terpaku dengan kata kata Leon yang sudah mulai dingin.


"Hemm." Jawab Leon singkat dengan matanya fokus ke layar.


"Begini sudah ya? Background merah maroon tulisan berwarna emas dan isi undangan berearna putih. Sudah Tuan Asisten Danteleon Janson?" Tanya Lexa melihat wajah Leon yang tersorot hanya ke depan layar.


"Ya sudah! Segera simpan masukan ke flasdisk mu. Sekarang juga aku akan membawanya ke percetakan agar besok bisa selesai." Jawab Leon dan dia hendak mengambil jas yang masih bertengger di pundak Lexa namun Lexa menahannya.


"Aku ingin memakainya Leon!" Kata Lexa memelas. Leon hanya menatap tajam Lexa dan menjauh dari Lexa.


"Sudah cepat beres beres kita ke percetakan lalu pulang, aku lelah sekali." Leon menggerak gerakan lengan dan pundaknya mengingat tadi menggendong Lexa.


Lexa akhirnya melepas jas Leon karna sepertinya Leon hendak mengambilnya dan sepertinya Leon marah padanya. Lexa kembali memakai blazer nya dan dia membereskan semua barang barangnya untuk segera meninggalkan ruangan.


Mereka berdua lalu menuju ke tempat percetakan. Dalam perjalanan Leon hanya diam tidak mengajak Lexa bicara seperti biasanya atau menggoda Lexa. Leon sedang kesal dengan Lexa. Selama ini Lexa rela rela saja dipegang olehnya. Hanya karna dia sedikit merasakan tempat penting Lexa yang hanya dari luar, Lexa menamparnya seperti itu. Dan, Lexa bahkan ingin meninggalkan dia dengan naik bersama mobil yang tidak ia tahu. Sepertinya Leon bukan apa apa di hati Lexa. Lagi lagi Leon seperti takut dan cemas. Sebaiknya dia lebih berhati hati dengan Lexa dan agak menjauh sebentar agar Lexa seperti merindukannya jika benar benar wanita itu mencintainya.


Sedangkan Lexa? Dia merasa ganjal, namun dia tetap diam. Dia takut Leon tidak menjawabnya. Dan, dia memang agak merasa bersalah karna sempat ining mengikuti mobil Jerry. Leon pasti berpikiran yang macam macam dengannya.


Setelah sudah menaruh design undangan, Leon mengantar Lexa pulang. Lagi lagi mereka dalam diam di mobil. Lexa selalu ingin berkata duluan namun betapa sulit ketika melihat mata lancip Leon ke arah depan dan sesekali Leon mengusap dagunya. Lexa terlalu ngeri melihat perawakan Leon yang seperti ini.


Sesampainya di flat Lexa, Lexa belum turun daru mobil.


"Sudah turun, kau mau kemana lagi?" Kata Leon tetap melihat ke depan.


"Kau marah ya padaku?" Tanya Lexa pelan.


"Tidak. Aku hanya tidak ingin mencari masalah denganmu." Jawab Leon menundukan kepalanya.


"Mencari masalah apa. Tidak ada apa apa Leon!"


"Tidak. Aku tidak akan berbicara takut akan menyakitimu. Kita harus menjalankan rencana pernikahan ini dengan baik. Jangan sampai Nyonya Viena dan Tuan Dion kecewa! Sudah sana turun, istirahat, besok masih banyak yang harus dikerjakan!" Jawab Leon jelas.


"Kau tidak ingin mampir?" Ajak Lexa melembut.

__ADS_1


"Kalau untuk dimarahi aku tidak mau! Sudah sana turun Lexa, aku lelah, aku mau tidur di apartemenku!" Kata Leon merajuk.


"Baiklah baiklah! Kau ini tidak jelas sekali, huh!" Akhirnya Lexa menuruni mobil Leon. Leon langsung memasukan perseneling dan menjalanjan mobilnya tanpa ada lambaian selamat tinggal. Lexa bingung dibuatnya.


"Sudahlah! Besok juga baik lagi, aku juga lelah! Leon, kau tidak akan bisa jauh dariku!" Decak Lexa sebelum memasuki flatnya.


...


Ternyata yang dipusingkan Lexa benar terjadi. Leon benar benar mendiaminya. Pria itu menjemput Lexa tepat sebelum pukul 7 pagi, namun Leon lagi lagi diam. Mereka menuju ke tempat souvenir yang sudah diinfokan Viena.


Ketika mereka mencari bentuk souvenir yang Viena inginkan, Lexa bertemu lagi dengan Jerry. Sesuatu yang sangat sangat kebetulan. Sementara Leon mencari di tempat lain tidak bersama Lexa.


"Lexa? Kita bertemu lagi, ya Tuhan memang jodoh ya, hehe!" Jerry terkekeh. Lexa menoleh ke arah Jerry.


"Tuan Atkinson? Selamat pagi." Sapa Lexa terlebih dahulu dengan membungkukan badannya.


"Kau sendiri Lexa?" Tanya Jerry basa basi.


"Tidak, aku bersama Leon. Seperti biasa. Kami sedang berpencar mencari souvenir pernikahan Nyonya Viena dan Tuan Dion yang mereka inginkan." Kata Lexa tersenyum.


"Oh mereka akan menikah? Akhirnya setelah banyak gosip bertebaran, hehe." Jerry menggaruk pelipisnya.


"Benarkah Tuan?" Selidik Lexa.


"Ya, sesekali aku mendengar kedekatan Tuan Dion dengan Nyonya mu tapi setauku Tuan Dion dekat juga dengan seorang wanita. Aku pikir itu Nyonya Viena ternyata bukan." Jawab Jerry menerka.


"Ah iya, itu Nyonya Pevi. Tapi pada akhirnya Tuan Dion mengingini Nyonya ku yang mendampingi hidupnya." Koreksi Lexa.


"Kalau kau sudah memikirkan pendamping hiduo Lexa?" Tanya Jerry sedikit menggoda Lexa membuat dirinya lalu terbatuk.


"Belum belum. Aku masih ingin berkarya Tuan. Hehe. Em, bagaimana kabar Tuan Alexis? Dan kau ke sini sedang apa Tuan?" Jawab Lexa lalu dia mengalihkan pembicaraan.


"Tuan Alexis masih terdiao setelah sudah sadar. Aku tidak bisa memaksakannya. Dia akan berbicara sendiri jika dia ingin. Aku ke sini hendak memesan souvenir untuk acara penggalangan dana minggu depan. Em, sekalian saja, kalau kau tidak sibuk. Kau bisa datang. Undangan khusus, ting!" Kata Jerry lagi lagi menggoda Lexa.


Leon ternyata melihat pembicaraan mereka. Namun, Leon berada di belakang Jerry, sehingga dia tidak tahu siapa yang berbicara pada Lexa. Leon lagi lagi termakan api cemburu. Dia ingin mendatanginya namun sekarang dia sedang mendiami Lexa.


"Ehem, aku sudah menemukan souvenirnya, ayo kita pergi!" Kata Leon pada akhirnya dan dia langsung berjalan ke kasir ketika Jerry menoleh ke belakang.


Lexa yang mendengarnya menjadi agak cemas karna Leon yang agak pencemburu. Tapi yang semestinya Leon tidak berhak cemburu karna mereka bukan apa apa.


"Tuan Jerry maaf aku harus meninggalkanmu lagi. Baiklah kalau tidak berhalangan aku akan datang. Permisi ya, aku masih harus mengambil undangan. Beginilah kami hanya seorang asisten. Permisi tuan!" Kata Lexa membungkuk bungkukan badannya dan meninggalkan Jerry yang mengangguk sedikit heran.


"Hem Lexa, i like you. Kalau kau belum berhubungan dengan asisten si prime itu, kupastikan kau tidak akan menjadi asisten lagi, tapi seorang istri direktur hotel." Gumam Jerry tersenyum sumringah melihat kepergian Lexa.


...


...


...


halo guys hehe 😍😍


maavkan aku update lama karna lupa dengan alur aslinya, tapi setelah ini aku akan update setiap hari yaa 😁😁


.


next part 48


jeng jeng Jerry VS Leon


kucing sama singa/musang


kucingnya direktur


singa/musangnya asisten hihihii 😁😁


.


jangan lupa tinggalkan LIKE KOMEN yang banyak biar aku smangaaattt 😍😍😍😍


kasih VOTE RATE TIP juga boleh monggo

__ADS_1


.


oke thanks for read and I LOVE YOU 💕💕


__ADS_2